Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 142


__ADS_3

Kabar bahagia tentang Auri dan Marcello menyebar begitu cepat kepada keluarga dan teman terdekat mereka. Tentu saja mereka juga merahasiakan kondisi Auri dari musuh mereka. Seperti Alan dan Nathasia. Mereka tidak ingin mengambil resiko jika kedua orang itu mencoba melukai Auri yang sedang hamil.


Walaupun Auri pasti bisa menjaga dirinya dengan baik. Tapi keadaan sekarang yang sedang berbadan dua pasti membuat Auri tidak bisa bergerak bebas dalam keadaan mengandung. Hal itu yang menjadi kekhawatiran marcello pada istrinya. Dia tidak bisa membiarkan istrinya dalam bahaya.


Tapi dia juga tidak bisa berlama-lama di pulau ini. Bagaimanapun dia memiliki perusahaan yang harus diurus. Hal itu membuat marcello bingung dalam mengambil langkah selanjutnya.


Edgar dan Oskar sudah mendapatkan perintah untuk menghancurkan perusahaan Alan. Hanya dengan cara itu saja pria yang mengejar istrinya itu akan berhenti. Ketika perusahaannya hancur secara otomatis Alan tidak lagi memiliki kekuasaan seperti sekarang.


Sebenarnya hal itu tidak sulit dilakukan oleh marcello. Bagaimanapun dia memiliki kekuasaan yang besar di dunia bisnis. Tidak hanya itu saja Oskar yang sekarang memegang dunia bawah juga bisa membantunya untuk menghancurkan perusahaan Alan.


Apalagi banyak hal aneh di perusahaan Alan selama beberapa tahun. Seharusnya perusahaan itu telah gulung tikar beberapa tahu dan tidak mungkin bisa bangkit kembali. Pasti ada bantuan dari dunia bawah yang membuat perusahaan alan bisa dengan cepat kembali seperti semula. Hal itu yang membuat Edgar dan Oskar tidak bisa mengambil tindakan secara gegabah. Karena bisa saja serangan mereka berbarik menyerang perusahaan tuannya.


“Marcello.” Panggil Auri yang melihat marcello dengan wajah sendu. Dia tahu sekarang suaminya sedang banyak pikiran. Setelah kabar gembira tentang kehamilannya, marcello lebih sering melamun dan hal itu membuat Auri sedikit sedih.


“iya sayang?”tanya marcello yang baru sadar dari lamunannya. Terlalu banyak pikiran hari-hari ini.


“Kamu sepertinya tidak senang dengan keberadaan anak kita. Kamu terlihat tertekan akhir-akhir ini.” Ucap Auri yang membuat wajah marcello terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan berpikir seperti itu.

__ADS_1


“Tidak sayang, aku bukan tidak senang. Hanya saja banyak yang terjadi akhir-akhir ini.” Ucap Marcello yang tidak ingin menjelaskan isi pikriannya yang sedang beperang.


“Marcello, kita adalah sepasang kekasih. Bukankah kita seharusnya lebih terbuka. Jangan kamu simpan sendiri bebanmu itu. Mungkin saja aku bisa bantu.” Ucap Auri pada suaminya sambil mengelus tangan marcello. Hal itu bisa menenangkan pikirannya yang tadi begitu acak-acakan. Dia bingung harus melakukan langkah mana dulu untuk melindungi istrinya dan perusahaanya. Keduannya sama penting untuk hidupnya. Jika perusahaannya hancur dia tidak yakin bisa melindungi Auri dari Alan yang sedang mengejarnya.


“Aku hanya bingung dengan langkah yang harus aku lakukan. Kehamilanmu tentu membawa kebahagianku. Karena sejak awal aku sangat ingin melihat anak kita. Tapi aku tidak menyangka kedatangannya di saat seperti ini. Kamu tahu kalau Alan dan Nathasia sedang mencoba menghancurkan hubungan kita. Aku takut mereka melakukan sesuatu padamu dan anak kita. Aku juga tidak bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan Alan.” Jelas marcello yang langsung menutup wajahnya yang penuh dengan kecemasan. Auri tidak pernah melihat marcello seperti saat ini. Suaminya itu selalu memiliki kepercayaan diri dalam setiap pilihan yang diambilnya. Dia tahu kalau marcello hanya sedang bimbang dengan pilihan yang terbaik.


“Kita bisa kembali dalam waktu dekat ini Marcello. Jangan memaksakan dirimu untuk bertahan di pulau ini. Aku tahu banyak pekerjaan yang kamu tinggalkan karena kita berada di sini. Aku tidak ingin kamu terlalu memaksakan dirimu.” Ucap Auri pada marcello yang membuat pria itu terdiam.


“Tapi kalau kita kembali, Alan dan nathasia bisa saja melakukan hal buruk padamu.” Ucap Marcello.


“Jangan menyembunyikan perasaanmu lagi Marcello. Kalau ada masalah dan kegundahan katakan padaku. Kita adalah sepasang suami istri. Kita harus menghadapi ini secara bersama-sama. Aku yakin kita bisa melakukannya.” Ucap Auri yang memeluk badan suaminya. Tentu saja marcello tidak menolak pelukan sanga istrinya.


Auri selalu saja tahu bagaimana cara menyelesaikan kegundahan hatinya marcello. Dia tidak salah memilih Auri menjadi pendampingnya. Jika wanita lain mungkin akan ketakutan menghadapi bahaya di depannya.


Berbeda dengan Auri yang tidak pernah ingin membiarkan orang yang dicintainya berdiri di medan tempur sendirian. Seorang Auri selalu ingin membuat setiap disekitanya tidak berjuang sendirian. Karena Auri tidak suka bahagia di atas penderitaan orang tercintanya.


“tapi kamu harus ada di sekitarku atau berada di bawah pengawasan Oskar.” Ucap Marcello yang dianggukkan oleh Auri. Dia tidak mempermasalahkan itu. Semua ini demi kebaikannya dan calon anaknya. Dia juga tidak ingin bertaruh keselamatan anaknya hanya karena keegoisannya.

__ADS_1


“kita pasti bisa menghadapinya Marcello. Semua akan baik-baik saja. Kita pasti bisa berkumpul bersama anak-anak kita.” Ucap Auri pada suaminya.


Seperti permintaan Auri, mereka akhirnya kembali seminggu setelah pembicaraan mereka. Keadaan Auri juga sudah mulai membaik meskipun morning sicknessnya masih bisa dianggap cukup parah. Setidaknya Auri sudah bisa mengomsumsi buah sebagai pengganti komsumsi anaknya dan diriya.


Awalnya marcello sangat khawatir melihat kondisi istrinya yang tidak bisa makan apapun kecuali masakan buatannya. Walaupun hasil buatannya bisa dikatakan sangat buruk tapi di lindah sanga istri seperti masakan chef bintang lima katanya. Padahal marcello saja tidak bisa menghabiskan makanan buatannya sendiri.


Mungkin semua itu karena bawaan bayinya. Jadi lidah Auri seperti mati rasa dan hanya bisa merasakan makanan enak dari tangan sang suami. Bahkan mahlika saja menghina marcello saat mencicipi makannya. Katannya makanannya seperti sebuah obat untuk menghukum mati penjahat. Padahal mahlika saja belum pernah merasakan racun seperti itu. Dia memang suka membuat seorang marcello kesal.


Tapi untuk kali ini marcello memang mengakui masakannya sangat buruk. Bahkan setelah dia belajar masak dari Edgar saja masakannya tetap buruk. Beruntungnya Auri sedang dalam keadaan ngidam yang tidak bisa membedakan makan enak dan tidak.


Lucunya Auri malah menghina makanan buatan Chef bintang lima seperti muntah bayi. Hal itu membuat Marcello sedikit tersanjung sekaligus juga terhina. Karena faktanya makannya lebih buruk dari muntah bayi.


“Aku tidak menyangka seorang wanita hamil bisa sangat bodoh dalam membedakan makanan enak dan tidak.” Ucap mahlika pada sahabatnya.


“kamu saja yang tidak tahu makanan enak. Aku tidak penah merasakan makanan seenak ini. Semua makanan ini buatan suamiku sendiri.” Ucap bangga Auri pada sahabatnya yang sedang membuang muka.


“ya saking enaknya aku bisa mati hari ini juga kalau makan sepertimu.” Ucap Mahlika sebelum memilih meninggalkan sahabatnya yang dengan lahap memakan semua masakan Marcello. Bahkan suaminya saja tidak bisa mengatakan sepatah katapun melihat kegiatan istrinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2