
Lyra menatap tajam pada kedua sahabatnya. Dia tidak menyangka temannya akan membongkar rahasia pada pria yang berdiri di depannya. Padahal tadi malam dia sudah membulatkan hatinya untuk melepaskan. Ternyata Auri saja tidak bisa menjaga rahasianya.
“Maaf Lyra, Dia mendengarkan pembicaraan kita. Jadi dia mengetahuinya.” Ucap Auri dengan wajah yang menunjukkan rasa bersalah. Dia tidak menyangka kalau pria yang coba dihindari oleh Lyra akhirnya mendengar dari dirinya sendiri. Padahal tadi malam sahabatnya sudah mengatakan akan melupakan perasaannya pada pria di depannya.
“Dia memang sama seperti atasanya yang suka menguping pembicaraan orang lain. Jadi salahkan pria itu saja.” Ucap mahlika yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Auri dan Edgar. Dasar mahlika yang tidak ingin disalahkan. Walaupun yang diucapkannya tidak sepenuhnya salah. Tapi kata-katanya tidak enak didengar.
“Hey kenapa kamu ada di tokoku? Bukankah Auri sudah memintamu untuk diam di kediaman marcello saja dan tidak boleh pergi kemanapun.” Ucap Lyra yang sudah tahu rencana yang akan dilakukan oleh sahabatnya. Dia juga tahu kalau pelaku pembunuh sahabatnya yaitu Royce. Lyra juga tidak suka pria itu karena sikapnya yang suka menggoda wanita.
“Ayolah mana mungkin aku harus menghabiskan waktuku di rumah pria itu. Kalau bukan karena Auri yang meminta saja aku malas tinggal di rumah tuan marcello yang lebay itu.” Ucap Mahlika yang mendapatkan timpukan pot plastik kecil. Beruntungnya dia bisa menangkapnya. Kalau tidak mungkin akan muncul benjola di wajahnya akibat lemparan sahabatnya. Siapa lagi orang yang melemparnya kalau bukan Auri.
“Orang itu adalah kekasihku dan atasan kekasihmu mahlika. Berhenti bertingkah menyebalkan.” Ucap Auri yang kesal mendengar gerutuan mahlika karena diajak tinggal di rumah marcello. Kedua orang itu masih suka bertengkar. Auri saja lelah melihatnya. Sedangkan Oskar tidak berani memisahkan kedua orang itu. Satu atasanya dan satu lagi kekasihnya. Mahlika dan marcello memang orang yang sangat keras kepala.
“Hey kamu tidak membela sahabatmu ini. Setelah kamu pacaran dengan si marcello itu. Kamu jadi menomer duakan aku. Sahabat macam apa kamu Auri.” Ucap mahlika dengan meluap-luap. Tapi saat balasan Auri, dia tidak bisa lagi melawan.
__ADS_1
“Apakah aku harus membuatkan rumah kaca agar kamu mengaca diri sendiri mahlika. Kamu juga melakukan hal itu setelah berhubungan dengan Oskar. Jangan jadi orang munafik yang melarang marcello sedangkan kamus saja senang diperlakukan seperti oleh oskar.” Ucap Auri yang membuat mahlika tidak lagi berani membalas. Dia sudah skak mat dengan satu kali balasan.
“Tunggu, Mahlika sudah berpacaran dengan seorang pria?”tanya Lyra yang langsung mendapatkan tipukan pot yang tadi dilempar Auri.
“Sakit mahlika.” Protes Lyra karena pot mengenai dahinya. Dasar sahabat biadam ini. Apa yang salah dirinya ucapkan. Lyra hanya terkejut sahabatnya berpacaran. Padahal dia bilang tidak lagi berdekatan dengan pria manapun. Apa yang diucapkan oleh Auri benar, kalau mahlika terlalu munafik.
“Kamu pikir aku pacaran dengan wanita huh? Aku masih waras. Aku saja masih suka oppa korea yang menawan.” Ucap Mahlika yang membuat kedua sahabatnya jengah melihatnya.
Sedangkan Edgar yang masih berdiri di depan Lyra. Sejak tadi hanya menikmati perbincangan ketiga sahabat yang terlihat seperti orang sedang bertengkar. Tapi mereka sangat akrab dan solid sebagai sahabat. Meskipun hampir selalu ada pertengkaran kecil diantara wanita di depannya dengan kekasih oskar.
“Lyra bisakah kita berbicara sebentar.” Tanya Edgar sambil menatap wanita di depannya. Kenapa Edgar baru menyadarinya kalau Lyra memang sama Rara-nya, Rambutnya dan warna matanya sama. Tidak lupa ada tai lalat di bawah matanya.
Bodoh sekali dia tidak bisa menyadari hal ini sejak awal. Mungkin apa yang diucapkan mahlika benar kalau dia tidak sepenuhnya memiliki rasa pada Raranya. Karena kalau cintanya begitu besar pasti dirinya bisa menyadari kemiripan wanita ini dengan gadisnya.
__ADS_1
“Aku tidak bisa tuan Edgar, bisakah anda meninggalkan tokoku kalau tidak ada kepentingan lain. Aku harus membuka toko bungaku.” Usir Lyra pada pria di depannya. Dia sudah berniat melupakan perasaannya. Meskipun pria di depannya sudah tahu tentang dirinya.
Tapi Lyra sadar kalau pria di depannya tidak pernah benar-benar memiliki perasaan padanya. Jika dia memiliki perasaan padanya pasti pria itu sadar kalau Lyra adalah gadis kecilnya yang menghilang. Tidak ada lagi alasannya untuk menunggu pria itu. Karena Dia sadar kalau pria itu hanya memiliki hati pada sahabatnya saja.
“Rara aku mohon, berikan aku waktu untuk meluruskan semua ini.” Ucap Edgar dengan kedua tangannya memegang tangan wanita itu. Lyra segera melepaskan tangan Edgar.
“Tidak ada yang perlu kita luruskan tuan Edgar. Sejak awal kita tidak ada yang harus dibicarakan. Selain itu saya bukan Rara. Saya Lyra tuan Edgar.” Ucap Lyra yang memilih masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Edgar yang sedang menatap kepergian wanita itu. Apakah dia sudah memberikan luka yang begitu besar padanya. Hingga gadisnya itu sudah tidak lagi memperjuangkannya lagi. Tapi dia juga sadar kalau kesalahannya begitu besar. Tidak ada orang yang bisa bertahan saat melihat orang dicintainya tidak mengenalnya. Apalagi dia lebih memilih berhubungan dengan temannya sendiri.
“Sudahlah Edgar, berikan waktu untuk Lyra menenangkan hatinya. Dia mungkin belum bisa menerima fakta kalau kamu mengetahuinya. “ ucap Auri pada bawahan kekasihnya. Auri sadar kalua edgar sudah terlalu kejam pada perasaan Lyra. Pria itu lebih memilih melupakan perasaanya pada gadis yang dicintainya hanya karena mendapatkan rumor kalau gadisnya telah tiada.
“Hey kamu bawahan si tuan menyebalkan itu. Kamu lebih baik tidak perlu berharap pada sahabatku. Kalau aku jadi Lyra. Tentu aku juga tidak ingin menerima kamu. Meskipun aku mencintai kamu. Lyra bukan wanita bodoh yang harus menerima keberadaan pria yang baru sadar keberadaanya dari orang lain.” Ucap mahlika yang seperti pisau yang melukai hatinya Edgar. Perkataanya benar kalau dia terlalu membuat banyak luka pada gadis kecilnya.
“Jangan terlalu membawa hati ucapan mahlika. Sekarang kamu pergi ke kantor saja. Mungkin kamu harus lebih bersabar lagi untuk bisa meluruhkan hati Lyra. Dia hanya tidak ingin terluka lagi. Cukup dia merasakan rasa sakit karena melihat pria yang dicintainya memilih sahabatnya sendiri. Dia hanya tidak ingin mendapatkan perasaanmu yang tidak sepenuhnya. Mungkin kamu harus menyelesaikan masa lalu dahulu Edgar. “ ucap Auri yang dianggukkan pria itu. Edgar memilih meninggalkan toko bungan milik gadis kecilnya.
__ADS_1
Sedangkan Lyra sejak tadi hanya berdiri di belakang pintu yang menghubungkan dengan rumahnya. Dia sebenarnya senang saat tahu pria itu mengenalnya. Tapi kenapa dia harus tahu daris sahabatnya. Apakah sebegitu tidak penting dirinya bagi hidup Edgar. Sangat miris nasib percintaanya.