
Auri berjalan mendekati marcello. Dia mendorong badan pria itu untuk keluar dari ruangan pribadinya. Tidak ada yang pernah diperbolehkan masuk ke dalam ruangan ini tanpa seizinnya. Tapi Marcello yang baru saja pertama kali datang ke rumah masuk begitu tanpa seizinnya.
Badan marcello sama sekali tidak bergerak dari tempat awalnya. Padahal Auri sudah mengerahkan seluruh kekuatannya. Pria itu memutar badannya dan menarik badan Auri ke dalam pelukannya.
Auri membeku saat itu. Dia tidak pernah berdekatan dengan pria sebelumnya. Bahkan dengan kakaknya Antara, Auri tidak semanja Aura. Bisa dibilang dia tidak pernah berdekatan secara fisik dengan seorang pria.
Auri mencoba melepaskan pelukannya marcello. Tapi semua usahanya tidak memberikan hasil. Bukannya pelukannya merenggang tapi marcello semakin mengeratkan pelukannya.
“Lepaskan.”
“Tidak mau, aku selalu nyaman memeluk badan kamu sayang.” Ucap marcello yang membuat wajah Auri memerah.
Bohong kalau Auri tidak merasa nyaman dengan pelukan marcello. Pertama kalinya untuk Auri menemukan tempat yang bisa menenangkannya. Tapi Auri tidak tenggelam dalam kenyaman yang dibuat oleh marcello.
“Bukankah kamu merasakannya.” Ucap Marcello.
Kepala marcello sekarang berada di leher Auri. Sesekali dia menghirup aroma Auri yang sangat membuatnya tenang. Tak pernah dia merasakan rasa nyaman seperti bersama Auri.
Banyak wanita yang datang kepadanya tapi tidak satupun yang bisa merasakan perasaan seperti saat bersama Auri. Hanya gadis kecilnya yang bisa marcello selalu tidak bisa berhenti memikirkannya. Selalu ingin bersama dan berdekatan dengan Auri.
Bukan karena hasrat pria tapi karena rasa yang muncul dari hatinya. Hangat dan membuatnya bisa nyaman berada di sisi Auri. Bohong kalau marcello tidak melakukan hubungan badan dengan Auri. Tapi bukan hal itu yang menjadi alasanya ingin berdekatan Auri.
Marcello merasa seperti sudah menemukan rumahnya yang selama ini dicarinya. Tempat yang tempat untuk dirinya beristirahat jika lelah. Tempat dimana marcello dapat mempelihatkan dirinya sepenuhnya tanpa harus khawatir.
“Auri maukah kamu menjadi kekasihku.” Ucap marcello tepat pada telinga Auri.
Auri merasakan seperti seluruh bulu kuduknya berdiri. Suara rendah dan bass masuk ke dalam telingannya. Bukan hanya itu saja, kata-kata yang mengalun semakin membuat Auri terdiam.
Marcello melepaskan pelukannya. Tapi kedua tangannya masih memegang bahu Auri. Wanita di depannya tidak memberikan respon apapun dengan ucapannya. Auri masih terdiam dan menatap wajah marcello. Pria yang beberapa minggu selalu hilir mudik di kehidupannya.
__ADS_1
Pria pertama yang sangat dekat dengannya selain keluarganya dan sahabatnya yang telah meninggalkannya. Auri menatap mata pria yang menujukkan kalau ucapannya benar-benar tulus. Tapi Auri tidak tahu perasaan yang dirasakannya saat ini.
“Aku tidak bisa.” Ucap Auri sambil membuang mukannya ke samping.
“Kenapa? Apa yang kurang dariku?” tanya marcello yang tidak menyangka Auri akan menolaknya.
“Aku merasa kamu pria yang sempurna. Tapi bukan karena itu aku menolakmu. Ada alasan kenapa aku tidak bisa menerima perasaanmu marcello.” Jelas Auri sambil melepaskan kedua tangan marcello.
Wanita itu berjalan menuju meja kerjanya. Dia sudah tidak memperdulikan kalau marcello tidak ingin keluar dari ruangannya. Toh pada akhirnya pria itu tidak akan menuruti permintaanya.
“Berikan aku jelasan yang pasti Auri.”
“Bisakah kita menjalankan rencana kita dahulu. Aku belum bisa memahami perasaanku. Jadi biarkan aku memahami perasaanku sebelum memberikan jawaban padamu.” Ucap Auri yang membuat senyum tipis muncul di wajah marcello.
Saat ini Auri baru sadar kalau pria di depannya sangat tampan. Pria berambut hitam pekat dengan hidung mancung dan mata birunya khas orang-orang eropa. Tidak hanya itu badannya yang bagus dan gagah membuat Auri tanpa sadar tersipu malu.
Marcello semakin senang karena wanita di depannya terpesona dengan dirinya. Setidaknya perlahan-lahan Auri mulai bisa menerima keberadaanya. Tidak ada lagi penolakan untuk berdekatan dengan Auri. Wanita itu sudah memberikan lampu kuning. Setidaknya usahanya selama ini memberikan hasil yang memuaskan.
“Ya kamu tampan.” Ucap Auri yang masih menatap marcello.
Hingga tawa marcello menyadarkan kesalahan Auri beberapa saat lalu. Rasanya Auri sangat ingin bersembunyi di lubang tikus. Wajahnya sudah merah tomat karena tidak sadar sudah memuji marcello.
“tampan kalau dilihat dari menara effel.” Ucap Auri.
“hahahhaha berarti aku sangat tampan sehingga dari tempat jauh saja masih terlihat tampan bukan.” Goda marcello pada Auri yang sudah sangat merah wajahnya.
“marcello kamu tidak pulang ke rumahmu.” Ucap Auri yang mencoba mengalihkan topik.
“Aku sudah pulang ke rumahku.”
__ADS_1
“huh apa maksudmu?” tanya Auri yang tidak mengerti. Jelas-jelas kalau rumah ini adalah rumahnya bukan rumah marcello.
“Rumahku adalah kamu Auri. Jadi dimanapun kamu berada, aku akan tetap kembali padamu karena kamu rumahku.” Ucap marcello yang membuat Auri kembali memerah.
Sejak kapan bule ini menjadi handal menggobal sih. Kalau orang indonesia wajar. Tapi melihat seorang ketua mafia sepertinya sedikit aneh. Walaupun kata-katanya sangat manis.
“Berhenti menggodaku.” Ucap Auri.
“aku tidak sedang menggodamu sayang. Apa yang aku ucapkan adalah sebuah kebenaran.”
“cukup marcello.” Ucap Auri yang tidak bisa lagi digoda oleh marcello. Bisa-bisa pertahannya saat ini hancur.
“Baiklah. Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya marcello yang berjalan mendekati Auri tapi tangan Auri menyuruhnya untuk menjauh.
“jangan mendekat aku harus mempersiapkan peralatan untuk rencana besok. Jadi sebaiknya kamu pulang saja sana.” Ucap Auri.
Auri memakaikan kaca mata untuk menghalau jika ada cair yang mengarah pada matanya. Marcello sama sekali tidak mendengarkan ucapan Auri. Dia menarik kursi dan duduk di sisi lain yang sedikit jauh dari Auri.
Marcello menatap setiap kegiatan Auri. Entah apa yang sedang dilakukan oleh wanitanya. Dia berpikir saat ini Auri terlihat sangat cantik dan menawan. Wanita yang pintar dalam berbagai hal dan sangat menggemaskan ketika marah.
Rasanya marcello tidak pernah bosan dengan kegiatannya. Menonton Auri lebih menarik dibandingkan melihat korban-korbannya berteriak kesakitan. Sepertinya keberadaan Auri bisa membuatnya lupa dengan hasrat gila yang dimilikinya.
Kalau diingat lagi marcello sudah sangat jalan melakukan hobinya. Sekarang hobinya adalah melihat Auri. Melihat semua kegiatan wanitanya bahkan saat Auri tertidur.
“Berhenti melihatku terus marcello.”
“kamu sangat cantik sekarang.”
“jadi bisanya aku tidak cantik.”
__ADS_1
“kamu selalu cantik saat melakukan apapun. Apalagi saat kamu sedang serius kecantikanmu meningkat berkali-kali lipat.” Ucap marcello dengan kedua matanya tetap melihat setiap gerak gerik Auri.
Auri sedikit tersipu malu. Kenapa pria itu sangat romantis selalu bisa membuat Auri tersipu malu. Padahal dirinya sudah terbiasa mendengar setiap pujian yang dilemparkan marcello dari pelanggannya. Tapi semua itu tidak pernah membuatnya tersipu malu. Malahan Auri sering merasa jengkel jika ada pria yang merayu. Tapi berbeda jika marcello yang melakukannya. Jantungnya seperti bekerja ribuan kali lebih cepat. Hanya saat bersama marcello Auri merasakan itu semua.