Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 37 :


__ADS_3

Auri masih tidak memperdulikan tatapan tajam yang dilemparkan oleh kedua sahabatnya. Dia merasa tidak ada yang salah dengan apa disampaikan. Selain itu bukankah kedua sahabatnya sudah mengetahui rencananya. Bukankah reaksi mereka terlalu berlebihan.


“Kenapa kalian terkejut? Bukankah kalian selalu memantauku di tempat itu selama 24 jam seperti CCTV. Oh aku lupa kaliankan meretas cctv.” Ucap Auri pada kedua wanita di depannya.


Lyra dan mahlika berekspresi sama. Keduanya kesal dengan sikap Auri. Walaupun mereka memantau kegiatan Auri di rumah marcello. Bukan berarti mereka akan mendengarnya dan melihatnya semua.


Mahlika memang tidak tahu hal itu karena dia sempat pergi ke kamar kecil sedangkan Lyra saat itu pergi ke dapur. Jadi keduanya tidak ada yang tahu tentang rencana gila Auri. Hanya Auri sepertinya gadis di dunia ini yang sangat suka menantang hidup.


“Apakah kamu bosan hidup ?” tanya mahlika.


Mahlika selalu mempertanyakan pergi kemana perasaan takut pada sahabatnya ini. Jangan bilang perasaan takut mati sang sahabat sudah dicuri. Jadi Auri sama sekali takut dengan kematian.


“Aku tidak akan mati jika belum menemukan pelaku pembunuhan Aura.”


“AURi.” Teriak Lyra dan mahlika.


Mereka tidak habis pikir dengan sahabatnya. Kemana kepintaran wanita di depannya jika sedang membincarakan nyawanya sendiri. Apa dia tidak tahu kalau hidupnya lebih penting dari segala hal yang ada di dunia ini. Auri harusnya memanfaatkan nyawanya yang telah diberikan oleh sang pencipta.


“Aku masih suka sholat. Berhenti berpikir aku tidak melakukan tugasku. Hanya saja aku sedikit lelah dengan hidupku beberapa tahun ini.” Jelas Auri sambil menyandarkan badannya ke sofa dan matanya menatap langit-langit kamar.


“Kamu ibadah jalan buat dosa jalan.” Sindir Lyra yang tidak sadar bukan hanya menyindir Auri tapi Mahlika juga. Tapi Auri tidak merasa tersinggu berbeda dengan mahlika yang menatap tajam sahabatnya.


“Apa? Kok kamu yang tersinggung. Kamu merasa ya.” Ucap Lyra dengan tawa yang menggelegar melihat kekesalah mahlika.


“Sudahlah, jadi kamu akan masuk ke kelompok mafia itu?” tanya mahlika yang sudah kembali serius.


“Ya, kamu bisa membantuku untuk membuat data dan mengganti salah satu anggota mafia tiger yang cocok denganku.”

__ADS_1


“huh, akan aku coba. Kamu tahu aku handal dalam hal ini.” Ucap bangga mahlika walaupun dia malas melakukannya.


“Ya kamu memang handal dalam hal ini. Jadi berhenti meretas cctv atau sebuah database.” Jelas Auri sebelum meninggalkan kedua sahabatnya. Dia berjalan menuju dapur karena merasa sangat lapar.


“Jangan lupa buatkan aku.”teriak mahlika yang sudah sibuk dengan laptopnya.


“Aku juga Auri.” Teriak Lyra.


Sedangkan Auri tidak berniat menjawab ucapan kedua sahabatnya. Dia mulai fokus dengan perlaratan masak dan bahan makanan untuk makan malam mereka. Hari ini Auri diizinkan untuk menginap semala saja di apartemennya. Setelah itu dia harus kembali ke rumah marcello atau kedua sahabatnya yang mendapatkan hukuman.


“Relahnya.” Gumam Auri yang sedang fokus memotong beberapa sayur yang akan dibuat capcay. Makanan khas indonesia yang berisi sayuran dan beberapa tambahan daging atau seafood.


Sedangkan di tempat lain, marcello sedang bersenang-senang untuk menyiksa orang yang berniat menyerang kediamannya. Sudah hampir berjam-jam dia melakukan pernyiksaan mereka agar membuka mulutnya. Tapi mereka seperti tidak berniat untuk menjawab pertanyaan marcello meskip sudah mendapatkan berbagai siksaan.


“Sangat menyebalkan.” Gumam marcello yang kesal dengan orang-orang tidak ingin membuka mulutnya.


Saat itu mereka merasakan ketakutan dengan tatapan tajam dari marcello. Tidak hanya itu senyuman yang muncul seperti menandakan sebuah hal buruk akan terjadi pada mereka.


“Kalian masih tidak ingin membuka mulut kalian ini.” Ucap marcello yang sudah berada di salah satu pria yang terkena tembakan Auri.


Pria itu menatap takut saat pisau itu berada di pipinya. Padahal marcello tidak menekannya tapi cukup untuk melukai pria itu. Rasa sakit bercampur panas yang  muncul bersamaan saat pisau itu mengenai pipi mereka.


“hahahha kamu merasakannya? Pisau ini sudah dibalur dengan racun yang membuat rasa panas pada luka kalian.” Ucap marcello dengan senyum mengembang. Tapi bukan senyuman yang menunjukkan kebahagian saat bersama Auri. Saat ini senyum yang membuat siapapun memilih untuk tidka pernah melihatnya.


“Jadi kamu masih tidak ingin mengatakan siapa ketuamu?” tanya  marcello


“Diam berarti kalian menginginkan pisau ini memutuskan lidah kalian bukan.” Ucap marcello bersamaan seorang bawahannya menarik lidah orang di depannya. Sekali tebasan dengan pisaunya, lidahnya terputus begitu saja.

__ADS_1


“aaaaaaaaaaaakkhhhhhh.” Teriak pria itu yang tidak begitu jelas. 5 orang lain menatap takut pada temannya telah mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Sangat mengerikan yang dilakukan marcello.


“Kalian akan yang menjadi selanjutnya.” Ucap marcello dengan senyuman tipisnya. Kelima orang yang lain bernasib sama dengan pria pertama. Mereka berteriak dengan suara yang tidak jelas. Karena lidah mereka sudah tidak ada.


“Urus sisanya, jangan dulu membunuh mereka. Biarkan mereka merasakan sakit secara perlahan-lahan.” Ucap marcello sebelum meninggalkan Edgar yang menatap tajam 6 orang di depannya.


Sebenarnya dia sangat ingin memberikan sedikit siksaan pada ke-enam orang di depannya. Tapi marcello tidak memberikan perintah untuk menghabisi mereka. Mungkin dia harus menahannya beberapa waktu.


“Kalian sudah bermain dengan orang yang salah. Seharusnya kalian memberi tahukan informasi yang diinginkan tuan marcello. Hal ini bukan akhir untuk kalian.” Ucap Edgar pada mereka yang sedang menangis karena rasa sakit dari luka dibuat oleh marcello.


“Kalian masukkan mereka ke penjara. Jangan berikan mereka makan.” Ucap Edgar sebelum menyusul atasannya ke ruang kerjannya.


Marcello sudah sampai ke ruang kerjanya. Dia sudah rindu dengan Auri padahal baru sehari mereka berpisah. Ternyata gadis kecil sangat membuatnya kecanduan walaupun hanya membuatnya kesal.


“Kamu sedang apa saat ini.” Gumam marcello sebelum melanjutkan pekerjaanya yang sudah menumpuk karena menemani Auri beberapa waktu lalu.


Auri baru saja menyelesaikan masakannya. Dia segera membawa makanan itu ke meja makan. Mahlika dan Lyra yang sudah menyium aroma masakan sahabatnya. Langsung mendekati meja makan tanpa permisi mereka duduk begitu saja. Mereka tidak membantu Auri atau menunggu temannya selesai memindahkan semua makanan.


Untungnya Auri sudah sabar menghadapi sikap menyebalkan kedua sahabatnya. Rasanya mereka selalu melakukan apapun sesuka mereka. Tanpa memikirkan pandangan Auri. Sedangkan Auri sudah tidka ingin mempermasalahkannya.


“Wow aku jadi kangen kampung halaman kalau seperti ini.” Ucap mahlika.


“Iya, rasanya sudah lama aku menetap di negera ini.”


“Kembalilah sesekali Lyra.”


Lyra sama sekali berniat menjawab ucapan Auri. Auri hanya bisa membuang nafas kasar. Dia paham alasan sahabatnya memilih menetap di negeri orang dibandingkan harus kembali ke negara asalnya.

__ADS_1


__ADS_2