
Auri menatap tajam dokter yang berniat memberikan suntikan anestesi sebelum lukanya di jahit. Tidak ada yang tahu kalau seorang Auri takut dengan jarum suntik. Hanya sang adik saja yang tahu ketakutan Auri. Sekarang Auri bergeser menjauhi sang dokter.
“Ayo nona saya harus memberikan suntikan ini agar saat dijahit tidak sakit.” Ucap dokter Paul yang mengetahui kalau pasien di depannya tidak ingin disuntik.
“Dokter tidak usah menjahit lukaku. Itu hanya luka kecil.” Jelas Auri yang sudah berpindah ke sisi lain yang jauh dari dokter Paul.
Marcello kesal sekaligus gemas dengan gadis kecilnya. Seorang Auri yang bahkan tidak meringis saat beberapa pecahan beling menancap pada kakinya. Tapi sekarang terlihat ketakutan hanya dengan benda kecil yang dipengang oleh dokter.
Kemana jiwa pemberani dari gadis di depannya. Sekarang marcello seperti melihat seorang gadis biasa yang takut dengan jarum suntik. Sangat tidak cocok dengan identitas aslinya.
“kamu takut dengan jarum suntik?” ucap marcello dengan senyum sinis pada Auri.
Auri tidak bisa menyangkala kalau dia sangat takut dengan jarum sunti. Padahal terkena peluru atau pisau sudah hal yang biasa. Dia bahkan sama sekali tidak takut. Tapi dia tidak bisa menghilangkan ketakutan pada benda kecil yang di pegang oleh dokter.
“Aku tidak percaya seorang terkenal sebagai pembunuh bayaran dan agen rahasia sepertimu takut dengan benda kecil itu.”
“Aku tidak takut. Nih suntik.” Ucap Auri sambil menyodorkan kakinya untuk disuntik.
Saat itu kedua matanya ditutup karena tidak membayangkan rasa sakit yang harus di dapatkannya. Tanpa sadar dia berteriak saat jarum suntik itu menusuk kulitnya. Marcello menahan tawanya melihat ekspresi Auri saat ini.
“aaaaaahhhhh. Sakit.” Lirih Auri.
__ADS_1
“Tenang nona lama-lama tidak terasa sakit.” Ucap dokter Paul bersamaan suntikannya di cabut.
Auri meremas bantal yang dipegangnya saat melihat lukanya dijahit oleh dokter Paul. Beberapa kali dia menahan nafas padahal tidak ada yang dirinya rasakan. Tapi melihat hal yang dilakukan oleh dokter Paul membuatnya ikut tegang.
“Hey tenanglah. Kamu tidak akan mati karena lukamu di jahit. Padahal tadi kamu tanpa rasa takut menendang jendela kaca rumahku.” Ucap marcello yang mendapatkan tatapan tajam dari Auri.
Auri kesal karena pria di depannya tidak tahu kalau Auri sedang meanahan takut karena jarum yang beberapa kali menembusnya untuk menjahit lukanya. Rasanya dia ingin bius total saja agar tidak melihat kegiatan dokter Paul.
“makanya kalau tidak mau di suntik jangan melukai tubuh kamu sendiri.” Ucap marcello bersamaan sebuah bantal melayang kewajahnya.
Tentu saja pelaku pelemparan bantal itu adalah Auri yang menatap marah pada marcello. Sedangkan Dokter Paul dan Edgar menahan tawa. Saat melihat ekspresi Marcello yang dilempat bantal. Ini kali pertama seorang wanita membuat marcello marah tapi pria itu tidak memberikan hukuman.
“kamu gila huh. Mau aku bunuh kamu. Kamu harusnya ingat kalau saat ini kamu adalah tahananku. “ ucap marcello pada Auri.
“Aku tidak takut dengan hukumanmu. Jika kamu mau membunuhku silahkan saja. Bukankah itu tujuanmu.” Ucap Auri.
Marcello tidak membalas ucapan Auri. Dia memilih keluar dari kamar gadis kecil menyebalkannya itu. Dia tidak mengerti dengan perasaannya. Akhir-akhir ini dia merasa ada hal aneh padanya. Bahkan dia bisa-bisanya merawat gadis yang harusnya diberikan hukumannya.
Dia harusnya membiarkan Auri terluka karena hal itu juga akibat perbuatannya sendiri. Tapi hati kecilnya seakan menolak pikirannya. Dia khawatir jika luka yang di dapatkan Auri menyebabkan gadis kecil itu mati.
“mungkin ini karena dia adalah adik sahabatku. Jadi aku tidak bisa membiarkannya terluka parah karena Antara akan marah padaku.” Ucap marcello pada hatinya.
__ADS_1
Edgar yang berada di belakang marcello sadar dengan kebingungan yang dipikirkan atasanya. Dia sadar kalau marcello memiliki perasaan pada adik sahabatnya sekaligus kakak dari pacarnya. Perlakuan marcello pada Auri tidak bisa dikatakan normal untuk sosok pria dingin yang tidak pernah ingin berdekatan dengan seorang wanita.
Sekarang Edgar tidak berniat untuk memberi tahu perasaan yang dirasakan oleh Marcello. Tentu saja Edgar pernah berada di posisi sang sahabat saat pertama kali Aura. Seorang gadis yang membuatnya menjadi Edgar yang berbeda tapi dia menyukai dengan perubahannya.Tapi kebahagiannya hanya bertahan sementara karena kepergian sang kekasih. Tanpa sadar dia mengcekram tangannya dengan sangat kuat.
“Edgar kamu pastikan ada dua penjaga yang berdiri di depan kamar Auri dan kunci pintu balkon. Kita tidak boleh membebaskannya. Setelah Paul selesai kamu bisa mengantarkannya dan kirim biaya perawatan hari ini.” Ucap marcello sebelum meninggalkan Edgar yang sedang berdiir di depan pintu kamar Auri.
Beberapa saat kemudian Dokter Paul keluar dari kamar Auri. Dia menatap Edgar,Sungguh Paul butuh penjelasan mengenai gadis yang dirawatnya. Paul pernah bertemu dengan Aura sekali saat kekasih sahabatnya sakit demam dan saat sang sahabat meminta untuk membantu melakukan otopsi pada mayat Aura.
Gadis yang dirawatnya memang memiliki wajah dan bentuk fisik yang sama dengan Aura. Tapi sikap dan cara bicaranya sangat jauh beda. Selain itu Aura tidak takut dengan jarum suntik. Paul adalah pria yang memiliki perasaan tersembunyi pada kekasih sahabatnya.
Paul yang pertama kali bertemu dengan Aura tapi Edgar yang mendapatkan gadis kecil itu. Tapi Paul tidak marah pada sang sahabat karena dia sadar Aura mencintai Edgar bukan dirinya.
“Dia adalah kakak kembar Aura.” Ucap Edgar dengan nada yang lirih.
“Kamu tidak pernah menceritakan kalau Aura memiliki kembaran. Lalu kenapa kakak Aura bisa ada di rumah marcello. Bahkan pria gila itu mengkhawatirkan gadis ini?”
Keduanya sekarang berada di depan rumah marcello. Auri tertidur karena obat tidur yang diberikan oleh paul. Sedangkan paul masih penasaran dengan sosok Auri yang terluka. Selain itu sejak kapan seorang marcello sangat memperdulika seorang wanita.
“Aku juga baru tahu kalau Aura memiliki saudara kembar di malam Aura meninggal. Dia mengatakan niatan untuk mempertemukanku dengan kakaknya. Tapi saat itu Auri kakak Aura harus kembali karena ada masalah di perusahaan. Sepertinya marcello tertarik dengan Auri. Tapi aku tidak yakin perasaanya adalah cinta atau hanya tertarik dengan Auri yang berbeda dengan wanita-wanita yang mengejarnya.” Jelas Edgar.
Dia sangat ingat saat Aura menceritakan kesehariannya bersama sang kakak. Kekasihnya juga menceritakan kalau Auri sedikit berbeda darinya. Auri bukan gadis yang suka tersenyum dan ramah pada setiap orang. Aura juga menceritakan kalau kakanya hanya bisa tertawa bahagia saat di dekatnya.
__ADS_1
Rasanya terlalu banyak rahasia pada diri Auri. Wanita yang beberapa minggu ini membuat seorang marcello berubah. Entah hal itu baik atau buruk. Tapi Edgar berharap tidak ada luka untuk keduanya. Karena dia pernah berjanji untuk menjaga kakak kekasihnya di malam ulang tahun Aura.