Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 80


__ADS_3

Auri berjalan menuju pintu penghubung dengan rumah sahabatnya. Dia tarik pintu itu dan melihat sahabatnya sedang menangis.  Ditarik badan sahabatnya kedalam pelukannya. Auri mengerti perasaan wanita yang berada pelukannya. Siapapun akan seperti Lyra jika mereka berada di keadaan yang sama. Tidak ada yang orang tidak terluka jika melihat orang dicintainya memilih orang lain.


Saat dia sudah mulai untuk melupakan tapi orang itu malah datang. Bukankah sia-sia Lyra sudah menyusun perasaan hatinya. Jika akhirnya pria itu akan kembali lagi.  Dia hanya lelah dengan takdir yang sedang mempermainkan perasaanya.


Mahlika hanya bisa membuang nafas saat melihat sahabatnya sedang menangis. Hal ini yang membuat dia sangat tidak suka dengan pria. Mereka terkadang tidak bisa memahami hatinya. Mereka terlalu suka menggunakan pikiran mereka dibandingkan perasaanya.


Tentu saja hal itu membuat mereka tidak sepeka para wanita. Mereka tidak sadar kalau ada wanita lain yang menaruh hati padanya. Apalagi pria macam Edgar, mahlika tahu kalau pria itu tidak sepenuhnya menaruh hati pada Aura. Karena itu mahlika memilih menyembunyikan hubungan Aura dari sahabatnya. Dia hanya tidak ingin sahabatnya marah pada adiknya karena rela berhubungan dengan pria yang hanya memiliki setengah hati padanya.


“Sudahlah Lyra, Buat apa kamu menangis pria macam itu. Lupakan saja Edgar, dia bukan pria yang baik untuk wanita sebaik kamu.” Ucap mahlika yang membuat Auri menatap tajam sahabatnya. Bukannya membantu menenangkan perasaan sahabatnya. Mahlika malah menyuruh sahabatnya sendiri untuk melepaskan orang yang selama ini dinantinya.


“Apa Auri? Aku tidak salah. Edgar memang bukan pria baik. Mungkin Marcello dan Oskar adalah pria yang akan mencintai kita hingga akhir dan menyadari seberapa penting kita begi mereka. Tapi berbeda dengan  Edgar. Dia hanya memberikan luka lain untuk Lyra. Pria itu tidak akan bisa benar-benar mencintai orang lain sepenuh hati.” Ucap mahlika pada sahabatnya itu. Dia menarik badan Lyra dari pelukan Auri.


Sedangkan Auri terkejut dengan tindakan mahlika. Selalu saja tindakan mahlika tidak bisa diprediksi seperti saat ini. Dia menarik badan Lyra dan sekarang mereka saling berhadapan.


“Lyra tatap aku sekarang, kamu memiliki dua pilihan. Melepaskannya atau mempertahannya. Tapi kamu tahu bukan kalau kamu mempertahankan Edgar hanya akan memberikan kamu luka lain. Jadi aku lebih menyarankan untuk kamu melepaskannya. Kamu sudah tahu seperti apa Edgar bukan?” tanya mahlika pada Lyra yang sekarang menatap matanya.


Walaupun keduanya seperti kucing dan anjing. Tapi mahlika bisa dibilang lebih dekat dengan Lyra. Dia sudah bertahun-tahun tinggal di negara ini. Saat Auri masih di negara asal mereka. Mahlika memang terlihat seperti wanita yang tidak peduli pada Lyra.

__ADS_1


Tapi semua itu hanya luarnya saja. Lyra tahu kalau sahabatnya yang sering membuatnya emosi lebih mengenalnya. Dia tahu seberapa besar perasaanya pada pria itu. Meskipun Lyra tidak pernah menceritakan orangnya siapa. Tapi mahlika sudah tahu seberapa terluka sahabatnya.


“Jujur aku ingin mempertahankannya mahlika.” Ucap Lyra lirih.


Senyuman terbit di wajah kedua sahabat Lyra. Hal itu membuatnya bingung kenapa mahlika bahagia mendengar jawabnya. Bukankah dia tadi menyarankan melepaskan perasaanya pada Edgar.


“Dasar wanita bodoh” ucap mahlika yang melepaskan tangannya pada bahu sahabatnya.


“kenapa kalian tersenyum saat aku memilih untuk tidak melepaskannya?” tanya Lyra bingung.


“kamu pikir kita bodoh sepertimu. Aku dan Auri tahu kamu akan menjawab seperti itu. Aku hanya menguji perasaanmu saja. Tenang saja Lyra sekarang kamu punya dua teman yang siap memasang badan jika si Edgar bodoh itu melukaimu.” Ucap mahlika dengan senyum lebarnya.


“Apakah kita harus berpelukan teletabis?” tanya mahlika pada sahabatnya yang menatap tajam mendengar sarannya. Tapi akhirnya ketiga orang itu saling berpelukan. Mereka akan saling merangkul dan menjaga satu sama lain.


“Terima kasih kalian selalu ada di sisiku.” Ucap Lyra dengan suara lirih.


“Cukup kamu bermelow ria Lyra. Kamu sangat tidak cocok dengan itu.” Ucap Mahlika saat mereka sudah melepaskan pelukan. Lyra menatap tajam sahabatnya. Setelah itu ketiganya saling tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa.

__ADS_1


“Mahlika sebaiknya kamu masuk kedalam rumahku saja. Kamu tidak boleh berkeliaran di toko bunga saat buka.” Ucap Lyra yang dijawab dengan anggukan kepala. Dia masuk ke dalam rumah sahabatnya. Alasan lain dia berada di toko sahabatnya adalah karena dia harus mengawasi Auri dari dekat.


Setelah kepergian Mahlika, Lyra menatap Auri. Dia tidak enak hati karena sudah menikung sahabatnya sekaligus adik dari wanita di sampingnya. Tapi sebuah tepukan dibahunya dan senyuman dari Auri yang membuat Lyra lega.


“Tenanglah Aura pasti mengerti. Dia lebih menyangi kamu dibandikan aku Lyra. Selain itu Aura bukan wanita yang akan marah karena kamu mencintai prianya. Dia pasti senang karena bisa menitipkan Edgar padamu.” Ucap Auri yang membuat Lyra bisa sedikit bernafas lega.


                                ****************


Sedangkan Edgar yang baru keluar dari toko bunga gadisnya. Dia langsung masuk ke mobilnya. Ada penyesalan yang menghinggapinya. Dia merasa selalu saja melukai orang yang berada di sekitarnya.


Edgar sudah merasa gagal menjaga Aura yang merupakan wanita yang bisa mengajarkannya kebahagia setelah menghilangnya gadis kecilnya. Sekarang dia malah melukai gadis yang dicintainya sejak dulu hingga kini. Kenapa dia selalu melukai orang yang mencintainya.


“akkkkkkh.”teriak Edgar sambil memukul stir mobilnya. Dia sangat marah dengan dirinya sendiri. Apalagi saat melihat tatapan Lyra yang sendu. Sekarang dia barus adar kenapa wanita itu selalu menatapnya seperti itu.


Edgar mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantornya. Beruntungnya hari masih cukup pagi yang membuat jalan masih sepi. Tidak membutuhkan waktu lama, dia tiba di kantor marcello. Dia memakirkan mobilny dan langsung berjalan menuju lift menuju ruang kerjanya.


Dia masuk ke dalam ruang kerja sahabatnya. Marcello menatap bawahannya yang sedang frustasi. Ternyata di ruangan itu tidak hanya ada marcello. Ada Oskar juga yang sedang duduk di depan laptop. Dia sedang mengawasi toko Lyra.

__ADS_1


Kedua pria itu tahu apa yang terjadi di toko Lyra. Tentang penolakan wanita yang selama ini mencintai Edgar dalam hatinya. Hingga melihat ketiga wanita yang saling menghibur. Bahkan perkataan pujian dari mahlika yang membuat kedua pria itu merasa sangat bangga. Karena mereka dicap sebagai pria yang akan setia. Walaupun yang diucapkan oleh mahlika benar. Tapi jarang sekali wanita itu memuji mereka bukan.


“Kenapa? Dia menolak kamu.” Ucap marcello pada Edgar yang membuat wajah sahabatnya semaki frustasi. Oskar dan marcello mengerti keadaan sahabatnya yang penuh dengan rasa bersalah karena tidak pernah menyadari keberadaan gadis kecilnya. Padahal orang itu ada di sekitar Edgar selama ini.


__ADS_2