Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 76


__ADS_3

Mahlika tidak bisa tidur setelah mendengar pernyataan cinta Oskar. Dia hanya bisa menatap langit-langit kamar saja. Padahal dia tidak pernah seperti ini biasanya. Hanya karena pernyataan pria itu saja bisa membuatnya sulit untuk tidur.


Sebuah ketukan menyadarkan mahlika dari lamunannya. Dia berjalan mendekati sumber suara. Ternyata Auri sedang berdiri di depan pintu. Entah ada kepentingan apa sahabatnya datang.


“Kamu tidak tidur semalaman mahlika?”tanya Auri padanya mahlika.


“huh semalaman? Bukankah sekarang masih malam.” Ucap mahlika yang tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya itu. Auri menunjukkan jam yang terpajang di dinding kamar mahlika.


Mahlika terkejut saat sadar jam dinding menunjukkan jam 6 pagi. Ternyata sudah pagi. Mahlika tidak sadar waktu berjalan dengan cepat. Padahal dia hanya menghabiskan waktu dengan menatap langit kamar barunya di kediaman marcello.


“Sepertinya sahabatku sedang banyak pikiran. Kamu mau ikut aku olahraga pagi?” tawar Auri yang langsung dijawab dengan gelengan kepala. Mahlika paling tidak suka olahraga. Mengeluarkan keringat adalah hal yang paling dirinya benci.


Tapi Auri tidak suka dengan penolakan. Dia menarik mahlika ke ruang ganti yang tersedia di kamar sahabatnya. Dia langsung memilihkan pakaian olahraga untuk mahlika.


“Gak aku gak mau.” Tolak Mahlika. Dia ingin menghabiskan waktunya dikamar saja. Selain itu mahlika tidak ingin bertemu dengan Oskar.


“Mahlika, kamu tahu aku tidak suka penolakan.” Peringatan Auri dengan tatapan tajam yang membuat Mahlika tidak bisa menolak.


Akhirnya dia hanya bisa melakukan perintah Auri. Apalagi Auri sudah menatap tajam. Dia sudah menduga perkataan apa yang diucapkan setelahnya. Sebelum kata-kata itu keluar Mahlika harus mengikuti ucpaan sahabatnya.


“Baiklah tapi jangan paksa aku berlari.” Ucap Mahlika yang langsung mengambil baju dari Auri. Dia mengganti baju tidurnya dengan celana pendek olahraga dan kaos yang lumayan besar di badannya.

__ADS_1


“Ayo.” Ajak Auri.


“Kamu seharusnya menceritakan kejadian tadi malam. Kamu pulang terlambat bukan?.” Ucap Auri yang membuat mahlika tidak bisa berbohong lagi.


“Oskar menyatakan perasaanya.” Ucap mahlika yang membuat Auri terkejut. Dia tidak menyangka pria itu akan seberani itu untuk menyatakan perasaanya. Apalagi setelah beberapa kali dia ditolak oleh Mahlika.


“Lalu kamu menerimanya?” tanya Auri yang dijawab dengan anggukan kepala. Apakah wanita yang berada di depannya benar-benar sahabatnya. Auri tidak percaya dengan ini semuanya. Bukankah mahlika tidak suka berdekatan dengan seorang pria.


“Kamu sedang tidak demamkan?” tanya Auri sambil meraba kening shabatnya tapi tidak menunjukkan panas. Mahlika menepis tangan sahabatnya dengan kesal. Dia sangat mengerti kenapa Auri bereaksi seperti itu. Bagaimanapun trauma yang diidap mahlika lumayan berbahaya. Apalagi beberapa waktu lalu sisi lainnya bangun kembali.


“Aku hanya ingin memberikan kesempatan untuk oskar. Aku juga tidak menjajikan akan memberikan hatiku padanya. Dia tidak masalah dengan kondisiku saat ini.” Jelas mahlika yang membuat Auri bisa sedikit bernafas lega. Setidaknya pria itu adalah sahabat kekasihnya. Tentu saja Auri tidak akan melepaskan mahlika begitu saja.


“Bukankah kamu mengajakku berolahraga. Kenapa kita hanya berakhir dengan berjalan-jalan saja.” Ucap Mahlika yang melihat sahabatnya seperti tidak berniat untuk lari pagi. Sepertinya olahraga hanya kedok sahabatnya untuk mengajak mahlika keluar dari rumah.


“Auri bagaimana rencanamu selanjutnya?” tanya Mahlika yang masih belum diketahui rencana setelah pesta tadi malam. Sebenarnya dia tidak ingin lagi bertemu dengan Royce. Masih tersisa rasa takut jika bertemu pria itu. Bagaimanapun Royce adalah dalang yang membuatnya terkurung dan hampir mendapatkan pelakuan buruk dari beberapa pria yang tidak dikenalnya.


“Kamu tidak perlu bertemu dengan Royce dalam waktu dekat ini. Kamu bisa tinggal di rumah marcello saja. Biar aku yang melakukan sisanya.” Ucap Auri yang membuat wajah mahlika kesal. Dia tidak suka ketika sahabatnya mengorbankan dirinya untuk orang lain. Auri harusnya mengutamankan dirinya dibanding siapapun.


“apa yang kamu rencanakan Auri?” tanya Mahlika dengan tatapan tajam pada sahaabtnya yang dibalas dengan senyuman.


“aku akan bekerja di toko bunga Lyra.” Ucap Auri dengan santai. Mereka berdua sekarang berjalan kembali menuju rumah Marcello. Tanpa mereka berdua sadari. Sejak tadi ada 2 pria yang mentap tajam pada keduanya.

__ADS_1


“Lalu apa yang akan kamu lakukan setelahnya.”


“Mungkin hanya menunggu target memakan umpan.” Ucap Auri yang membuat mahlika tidak mengerti. Apa hubungannya bekerja di toko bunga Lyra dengan memberikan hukuman pada Royce.


“Auri kenapa kamu berkeliaran dengan penampilan seperti ini.” Protes Marcello saat kedua wanita itu tiba di taman samping rumah.  Ada pintu penghubung taman dengan rumah utama marcello.


Pria itu langsung membawa badan Auri kedalam pelukannya. Sedangkan Oskar tidak kalah kesal dengan marcello. Dia tidak suka melihat penampilan kekasih barunya ini. Segera dia menalikan jaketnya di pinggang Mahlika. Hal itu membuat wanita itu tersipu malu dengan perlakuan Oskar.


“jangan menggunakan pakaian yang terbuka. Sayang.” Ucap Oskar dengan suara yang pelan tepat di telinga mahlika. Hal itu membuat wajah mahlika memerah. Dia mendorong badan Oskar agar sedikit memberikan jarak antara badan mereka. Tapi Oskar malah menarik badan Mahlika kedalam pelukannya.


“Kamu tahu aku ingin sekali membuat mereka yang melihat pahamu ini tidak bisa melihat kembali.” Ucap Oskar yang membua mahlika terharu. Pria itu hanya ingin menjaganya dari pria lain saja. Walaupun Oskar terkadang berbuat senonoh padanya.


“Cih, kemarin saja ada yang marah padaku karena berdekatan dengan Auri. Sekarang dia malah senang diperlakukan begitu oleh Oskar.” Sindir Marcello pada mahlika yang membuat wanita itu tersipu malu. Mahlika akui kalau dirinya tidak berpendirian.


Pada saat Oskar memperlakukan hal seperti yang marcello lakukan pada sahabatnya. Dia merasa suka dan nyaman. Karena dia tahu Oskar tidak akan melakukan hal yang tidak disukainya.


Mahlika yang tersipu malu karena ucapan kekasih sahabatnya itu membuat wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Oskar. Sedangkan Marcello menatap sebal pada wanita itu. Auri yang kesal dengan kekasihnya yang malah menggoda sahabatnya. Akhirnya dia mencubi perut kekasihnya yang membuat marcello kesakitan.


“sayang sakit, kenapa kamu cubit aku.” Ucap Marcello dengan wajah yang ditekuk saat ini.


“kamu juga malah menggoda Mahlika. Sudah aku ingin sarapan.” Ucap Auri yang menepis kedua tangan kekasihnya yang tadi melingkar di perutnya. Sekarang dia meninggalkan marcello. Pria itu tidak tinggal diam. Dia mengikuti kekasihnya ke meja makan. Begitupun juga Oskar dan Mahlika. Ternyata di meja makan sudah ada Edgar yang menunggu mereka berempat. Wajah pria itu sangat buruk terlihat dari bawah matanya yang hitam. Sepertinya tadi malam dia tidak tidur nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2