Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 118


__ADS_3

Antara menatap tajam pada adiknya dan sahabatnya. Kenapa mereka seperti menyarahkan dirinya. Padahal merekalah yang dengan jahat memaksanya untuk menerima lamaran dari wanita aneh itu. Apakah mereka tidak sadar kalau tindakan mereka tidak memiliki perasaan.


“jadi kakak terima saja.” Ucap Auri dengan sangat tegas.


“Auri, jangan buat kakak marah. Kamu tahu cinta tidak datang hanya karena waktu yang telah dilewati saja. Kamu mengerti tentang hal itu. Jadi sekarang kamu tidak semestinya memaksakan kehendakmu itu.” Ucap Antara sebelum meninggalkan kedua orang yang hanya diam saja. Mereka memang terlalu memaksakan kehendakannya kepada Antara. Tapi Auri dan marcello tidak ingin melihat Antara terus terpuruk.


“Sebaiknya kita berhenti saja. Bagaimanapun caranya kalau Antara tidak suka. Tidak ada yang bisa memaksanya.” Ucap marcello pada kekasihnya yang murung. Dia sangat mengerti dengan maksud baiknya untuk membuat kakaknya lupa dari mahlika. Tapi apapun yang dipaksakan tidak pernah benar-benar baik.


“Aku hanya ingin melihat kakak bahagia. Sudah bertahun-tahun dia menyimpan perasaan pada mahlika. Tapi berujung dengan luka saja. Aku tidak ingin kakak terlalut dalam perasaannya. Bagaimanapun setelah kita menikah, aku tidak bisa berada di sampingnya lagi. Aku khawatir dengan kakak.” Ucap Auri pada marcello yang membuat pria itu ingat sesuatu. Hal yang membuatnya marah beberapa waktu lalu.


“Bagaimana kamu bisa kabur dari pengawasan ibumu?”tanya marcello yang membuat Auri langsung sadar. Dia berdiri dari posisi duduknya. Berniat untuk kabur tapi tangannya langsung di tarik oleh Marcello.


Dia tidak akan melepaskan kekasihnya pergi begitu saja. Setelah menahan rindu berhari-hari karena human yang diberikan oleh kedua orang tua mereka. Sekarang dia harus melihat kekasihnya pergi begitu saja. Tentu saja tidak akan dirinya biarkan.


“Kamu harus jelaskan sebelum pergi.” Ucap Marcello yang sudah membelit badan Auri di dalam pangkuannya. Sedangkan Auri tidak bisa melakukan apapun. Dia harusnya segera mengejar kakaknya agar bisa kabur dari marcello. Sayangnya dia hanya bisa menyesali sesuatu yang telah terjadi. Sekarang dia harus mencari alasan yang tepat untuk membuat marcello percaya.


“Kenapa kamu hanya diam saja?” tanya marcello pada Auri yang masih diam.


“Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu bukan?”tanya Marcello kembali pada wanitanya.

__ADS_1


Auri membuang nafas kasar. Dia tidak bisa berbohong karena kekasihnya itu pasti mengetahuinya. Tapi dia bisa bermain cantik bukan.


“mami memang melarang aku buat bertemu denganmu karena kita sedang melakukan pingit. Tapi mami tidak benar-benar melarangku untuk keluar rumah. Bagaimanapun aku masih memiliki beberapa pekerjaan di perusaan keluarga Alaksana.” Auri berhenti sebentar dan melihat wajah kekasihnya yang sudah ditekuk. Tidak lupa tatapan tajam padanya. Tentu saja siapa yang tidak kesal dengan perlakuan Auri pada kekasihnya.


Sebenarnya Auri masih bisa mengangkat telepon kekasihnya atau memberikan kabar dengan telepon kantornya. Tapi dia saja yang ingin menikmati ketenangan sebentar saja dari kekasihnya. Kalau dia sudah menikah pasti marcello akan lebih gila dibandingkan saat dirinya seorang kekasihnya.


Jadia biarkan dirinya rehat dengan rutinitas melelahkan dengan kegilaan sang kekasihnya. Pria itu memang terlampau jatuh cinta pada Auri. Hal itu selalu membuat Auri bahagia. Tapi satu hal yang membuatnya sedikit lelah adalah sikap possessifnya yang melebihi batas normal. Tidak hanya itu sikap manjanya yang membuatnya sediki lelah. Apalagi marcello selalu ingin dirinya mengabari setiap kegiatanya.


Sedangkan pekerjaanya sekarang sedang banyak-banyak. Dia harus memberikan banyak penyuluhan pada bawahannya sebelum benar-benar melepaskan. Ya tidak benar-benar melepaskan.


Tapi dia tidak akan menomor satukan pekerjaanya setelah menikah dengan marcello. Setelah kekasihnya mengucapkan ijab kabul. Auri akan sepenuhnya hanya fokus pada suaminya dan keluarga kecilnya. Dia tidak ingin perhatiannya terbagi-bagi.


“Kenapa kamu tega padaku Auri? Kamu tahu kalau selama beberapa hari ini aku merindukanmu. Tapi kamu malah memilih pekerjaan dibandingkan aku. Kamu tahu kalau kamu saja kalah dibandingkan pekerjaanku ini.” Ucap marcello dengan nada yang meranjuk.


Lihat bukan hal ini yang akan didapatkannya jika mengatakan niatnya untuk tidak bertemu beberapa waktu hanya karena pekerjaanya. Pasti marcello akan membandingkan pekerjaanya dengan yang dimiliki Auri. Kenapa dia bisa mencintai tipe pria seperti marcello. Tapi mau bagaimanapun dia kesal, Auri sudah terlanjur terbiasa dengan segara sikap menyebalkan milik marcello.


Rasanya dia tidak ingin lagi mencari pria lain selain marcello. Cukup pria menyebalkan sekaligus menggemaskan yang selalu mengatakan merindukannya jika baru berpisah beberapa menit saja. Bukankah sikapnya sangat menggemaskan.


“Aku tahu kalau pilihanku ini membuatmu terluka.” Ucap Auri.

__ADS_1


“kamu tahu kenapa dipilih sayang, kamu menyiksaku selama beberapa hari ini.” Rajukkan marcello dengan kepalanya disembunyikan di leher Auri. Dia sangat merindukan aroma khas milik kekasihnya. Rasanya dia ingin sekali membawa Auri ke KUA saja sekarang.


Dia tidak ingin berpisah lagi dengan Auri. Cukup beberapa hari ini dia tidak tahu kabar maupun kegiatan kekasihnya itu. Rasanya dunianya sangat hampa. Dia tidak suka hal itu. Sudah cukup dulu dia hidup dalam kesepiaan karena belum berani menyatakan hatinya pada wanita yang berada di pangkuannya. Marcello tidak ingin tersiksa lagi.


“Aku harus menyelesaikan seluruh pekerjaan sebelum aku ikut bersama kamu tinggal di negeri sam. Setelah kita menikah seluruh duniaku hanya kamu. Tidak ada yang bisa merebutnya. Kamu dan keluarga kecil kita nanti akan menjadi fokus utamaku dibandingkan hal lain. Jadi bertahanlah sebentar hingga beberapa pekerjaanku selesai. Selain itu kalau kita tidak bertemu menjelang pernikahan akan meningkatkan rasa rindu saat di pernikahan nanti. Jadi marcello aku harap kamu kuat menahannya sayang.” Ucap Auri dengan sebuah kecupan mendarat di dahi kekasihnya. Marcello meresapi dari kecupan dari kekasihnya. Rasanya dia ingin waktu berhenti sekarang. Biarkan dirinya bersama dengan Auri selamanya seperti ini. Tapi dia harus mengikuti permintaan kekasihnya.


“Aku akan bertahanan.” Ucap Marcello pada kekasihnya.


“ya kamu memang harus bertahan orang tinggal 1 hari lagi.” Ucap Auri sebal yang membuat keduanya malah tertawa. Kebahagian mereka terlihat sangat indah di mata siapapun yang melihatnya.


“Jadi aku harus kembali dan bekerjalah yang benar jangan merepotkan Edgar. Dia sering mengeluh pada Lyra. Jadinya sahabatku sering berkicau kaya burung beo. Aku pusing mendengarnya.” Ucap Auri yang membuat marcello tertawa mendengar protes kekasihnya.


Kalau diingat-ingat beberapa hari ini dia memang sering membuat Edgar kelimpungan. Dia hanya memikirkan Auri. Sedangkan pekerjaanya menumpuk yang terpaksa Edgar harus mengerjakannya.


“baiklah aku akan bekerja dengan sangat baik lalu menghasilkan uang yang banyak untuk kamu gunakan nanti.” Ucap marcello yang sekarang membuat Auri tertawa mendengarnya.


“kalau begitu aku pergi dulu ya bye.”


“hati-hati sayang.” Ucap marcello bersamaan Auri menghilang dari balik pintu. Dia berjalan menuju meja kerja dan mulai mengerjakan beberpaa pekerjaan yang terbengkalai karena rasa rindunya.

__ADS_1


__ADS_2