Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 107


__ADS_3

Hari ini Cherry sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Hal itu membuat marcello sangat senang. Sayang semuanya hancur saat sahabatnya melarangnya membawa kekasihnya ke rumahnya. Dia sangat kesal dengan sahabatnya yang sekarang menjadi calon kakak ipar untuknya.


“Sayang kamu tega memilih bersama dengan kakakmu.” Protes Marcello dengan wajah yang merajuk. Sedangkan Antara mencibir sahabatnya yang sangat manja pada adiknya. Dia saja yang kakaknya Auri tidak semanja itu.


“Kamu sangat tidak cocok dengan wajahmu itu.” Cibir Antara yang mendapatkan tatapan tajam dari marcello. Sedangkan Antara sama sekali tidak memperdulikan tatapan sahabatnya itu.


“Sudahlah, kalian bisa tidak berantem sehari saja. Aku bosan melihatnya.” Ucap mahlika yang membuat kedua pria itu kesal. Sahabat Auri ini memang minta dibuang. Bagaimana bisa seorang Auri yang sangat santai dan kalem bisa memiliki sahabat seperti Mahlika. Mahlika lebih mirip seperti orang gila ini. Mungkin hanya Oskar saja yang bisa menerima hal itu. Tentu saja itu hanya pikiran marcello. Berbeda Antara yang lebih memilih diam.


“Sebaiknya kalian cepat pulang dari apartemen kakakku. Aku ingin istirahat.” Ucap Auri yang sangat lelah melihat tingkah orang-orang terdekatnya. Bisa tidak sehari saja hidupnya damai tentram. Sepertinya itu hanya dalam impian wanita itu saja. Bahkan dalam mimpi saja mereka selalu membuat keributan.


“sayang kamu ikut bersama aku saja ya.” Bujuk marcello pada kekasihnya.


“Marcello pulanglah, ucapan kakak memang benar. Bagaimanapun kita dua orang dewasa yang tidak memiliki ikatan jadi hal itu berbahaya.” Ucap Auri yang membuat wajah kekasihnya cemberut.


“Kitakan kekasihnya”


“Kamu itu tidak mengerti ya. Kamu itu bukan mukhrim Auri.” Ucap Mahlika yang mendapatkan tatapan tajam dari marcello. Tapi dia tidak berniat protes karena semua itu benar. Dia juga tidak yakin bisa kuat iman.

__ADS_1


“Baiklah, nanti malam jangan lupa VC aku yang sayang.” Ucap Marcello sebelum pamit dari kekasihnya. Hal itu membuat orang-orang sebal dengan kemesraan Auri dan Marcello. Sayangnya Mahlika tidak sadar kalau dia lebih menyebalkan dari pasangan itu. Setidaknya Auri dan marcello tidak penuh drama seperti wanita itu.


“Kamu sangat menggelikan. Seakan akan berpisah lama saja.” Ucap Mahlika pada Marcello.


“NGACA” Teriak Auri dan marcello yang kesal dengan wanita itu. Dia tidak sadar sering mengumbar kemesraan yang membuat orang melihatnya enak bukan iri. Mereka terlalu penuh drama.


“Sialan kamu Auri, Kamu jahat pada sahabat sendiri.” Ucap Mahlika yang langsung keluar dari apartement Antara tanpa permisi. Sedangkan Oskar mengikuti kekasihnya tanpa protes. Dia seperti anak itik yang mengikuti induknya.


“ya sudah sayang aku pulang, kalau terjadi sesuatu kabari aku.” Ucap marcello yang membuat Antara kesal. Dia pikir Antara tidak bisa mengurus adiknya. Sebelum bertemu dengan sahabatnya, Auri bersamanya lebih lama. Dia lebih banyak mengenal adiknya dibandingkan pria itu.


“aku lebih handal mengurus adikku dibandingkan kamu jadi pergi sana. Auri masih butuh istirahat.” Ucap Antara yang secara kasar mengusir sahabatnya sekarang. Dia memang tidak suka kedua orang itu bermesraan di depannya. Sedangkan Marcello malah semakin menjadi saja dengan mengecup dahi Auri. Hal itu membuat Antara menatap kesal pada sahabatnya.


“Auri kamu benar mau menikah dengan pria seperti itu.” Ucap Antara setelah Marcello pergi meninggalka kedua saudara itu.


“Entahlah, marcello belum melamarku. Kalau kakak kenapa tidak bersama dengan wanita yang waktu itu.” Ucap Auri yang membuat kakaknya kesal. Saat itu dia hanya butuh tempat untuk bersandar. Sialnya saat itu hanya wanita itu saja. Semoga saja adiknya tidak tahu dengan tawaran gila wanita itu.


“Bukankah dia mengajak kakak menikah. Bukankah tawaran itu menarik. Kakak bisa belajar melupakan Mahlika dengan wanita itu.” Ucap Auri dengan santainya sambil memakan kue yang dibeli kekasihnya sebelum menuju apartemen kakaknya.

__ADS_1


“Kamu tahu aku tidak suka memanfaatkan orang lain hanya kepentinganku.” Ucap Antara.


“kakak tidak memanfaatkannya. Kakak hanya perlu mencintai wanita itu saja.” Ucap Auri yang membuat pria itu kesal. Dia pikir mencintai seseorang semudah itu. Kalau itu memang mudah dia pasti sudah melupakan mahlika dengan mudah. Sayangnya hal itu tidak semudah itu. Sudah beberapa tahun berlalu dan rasa cintanya tetap pada sahabat adiknya itu.


“Kalau mencintai orang lain semudah itu. Aku tidak mungkin bertahan dengan perasaan ini bertahun-tahun. Menunggu sahabatmu itu sadar dengan perasaanku.” Ucap Antara yang membuat Auri tidak enak hati. Apa yang diucapkan kakaknya memang benar. Memang tidak mudah hati bisa memilih tempat lain.


Contohnya dirinya yang malah terjerat hati pada pria seperti marcello. Dia tidak pernah membayangkan hal ini. Cinta memang tidak pernah bisa memilih tempatnya untuk menjadi rumah. Hatinya sudah sepenuhnya dimiliki oleh marcello. Auri tidak yakin bisa memilih pria lain untuk mengganti kekasihnya.


“Maaf kakak, tapi belajarlah melupakan perasaan itu. Kalau kakak terus bertahan hanya ada luka yang akan kakak dapatkan. Kakak tahu mahlika sudah bahagia dengan pria lain. Tentu saja aku tidak akan mendukung kakak merebut Mahlika dari Oskar.” Ucap Auri yang dianggukan oleh Antara. Dia juga mengakui seberapa cocok Mahlika dan Oskar. Dia juga tidak yakin bisa sesabar pria itu.


“Aku selalu mencoba untuk melupakan perasaan ini. Tapi aku belum menemukan orang yang bisa mengganti posisinya di hatiku.” Ucap Antara.


“Belajarlah menerima wanita lain. Walaupun itu sulit. Tapi aku yakin kakak akan mendapatkannya yang lebih baik dari mahlika. Wanita itu tidak cocok dengan kakak. Selain itu aku tidak bisa membayangkan keponakanku bila kakak bersama mahlika. Aku tidak ingin memiliki keponakan sebodoh wanita itu.” Ucap Auri yang sangat santai menghina sahabatnya sendiri. Antara saja merasa adiknya ini terlalu blak-blakkan dalam menghina sahabatnya ini. Seperti ada dendam abadi yang terselip meskipun mereka seorang sahabat.


“Sepertinya kamu tidak suka aku bersama mahlika.”


“Tentu saja aku tidak suka, sudah cukup dia menjadi sahabat yang menyusahkan. Aku tidak ingin dia menjadi kakak ipar yang merepotkan.” Ucap Auri yang membuat Antara mengerti seberapa menyebalkan dan menyusahkannya mahlika. Wanita itu memiliki segundang hal menyebalkan dalam dirinya.

__ADS_1


Mungkin dia cukup salut pada adiknya yang masih bisa bertahan bersahabat dengan wanita seperti mahlika. Tapi Antara juga tidak percaya hatinya malah tercuri dengan wanit ayang modelnya seperti orang gila baru itu. Mahlika memang sangat menyebalkan dan absult sekali. Dia sangat salut pada Oskar yang bisa menghadapi setiap tingkah mahlika.


__ADS_2