
Auri menatap pria di depannya dengan tatapan tajam. Padahal dia sudah jelas-jelas mengatakan untuk menjauh darinya. Sepertinya pria ini tidak mengerti bahasa manusia. Berbagai penolakan sudah diutarakan oleh Auri. Sayangnya tekad pria itu tidak mudah luntur saja dengan penolakannya.
“Apakah kamu tidak mengerti bahasa manusia, tuan Alan?”tanya Auri yang masih fokus dengan rangkaian bunganya. Banyak pesanan yang masuk dan pria di depan ini hanya datang untuk menikmati kegiatan Auri.
“Aku tidak peduli dengan penolakanmu Auri. Kamu tahu perasaan aku lebih besar dari suamimu itu.” Ucap Alan yang sedang berdiri di hadapan Auri dengan berbagai bingkisan. Hampir setiap hari dia tidak pernah lupa membawa hadiah untuk wanitanya. Sayangnya berakhir dengan penolakan oleh Auri. Bukannya marah atau semangatnya luntur. Alan semakin semangat mengejar cintanya pada wanita yang sudah bersuami ini.
“Ayolah Alan, aku sudah bersuami. Kamu tidak ingin menjadi pembicaraan di seluruh negara tentang seorang CEO perusahaan sedang mencoba merebut istri dari saingannya.” Ucap Auri yang malah membuat Marcello terawa keras. Seakan-akan perkataan wanita di hadapannya seperti sebuah gonyolan saja.
Padahal wajah Auri tidak ada ramah-ramahnya. Mungkin pertemuan pertamanya dengan Alan membuat wanita merasakan rindu pada sosok sahabatnya. Tapi untuk kesekian kali pertemuannya dengan Alan. Dia malah menunjukkan ketidak sukaan pada kedatangan pria itu.
“hahahha kamu sangat lucu, aku tentu tidak memperdulikanmu tentang gosip itu. Karena cintaku lebih besar dari apapun.” Ucap Alan yang membuat para pengunjung wanita yang datang menatap iri apda Auri. Bagaimana tidak wanita cantik itu sedang dirayu oleh pria yang tidak kalah tampan dengan suaminya itu.
Marcello saja sudah pria yang paling diidamkan di seluruh dunia dengan kesempurnaannya itu. Apalagi sekarang Auri sedang di dekati oleh pria kedua yang paling diminati karena terkenal sangat ramah dan tampan. Tentu saja kekayaanya tidak perlu dibicarakan lagi.
“Aku tidak sedang bergurau denganmu Alan. Aku sedang kesal berbicang dengan pria batu sepertimu.” Ucap Auri yang tidak membuat senyuman dia wajah pria itu. Malah semakin cerah saja mukannya setelah mendapatkan umpatannya.
__ADS_1
Bahkan ketampana dari Alan membuat para wanita di toko Lyra histeris. Bahkan sanga pemilik toko saja tersentuh dengan usaha dari pria ini. Walaupun dia sedang mendekati wanita yang sudah beristri. Sedangkan Mahlika menatap tajam pada pria itu.
“Sebaiknya tuan memeriksa telinga anda di rumah sakit. Apakah anda tidak bisa mendengar penolakan sahabat saya.” Ucap mahlika yang sebal dengan tingkah pria satu ini. Dibandingkan marcello yang menyebalkan, mahlika lebih tidak suka pria macam Alan. Pria yang tidak tahu diri dan masih saja berjuang padahal sudah tahu hasilnya tidak akan memuaskannya juga.
“Maaf nona saya tidak sedang berbicara padamu. Aku senang Auri kamu masih mengingat panggilanku itu. Keras kepala bukankah kata yang kamu sematkan di belakang namaku.” Ucap Alan yang membuat wajah Auri maupun Mahlika jengah melihatnya. Bukannya terkagum atau terpesona seperti para wanita di belakang mereka. Kedua wanita yang memiliki sikap karakter sebelas dua belas menyebalkan ini. Pasti tidak akan suka sikap seperti Alan.
“Siapa juga yang suka berbicara dengan pria batu seperti kamu. Telinga saja sudah tidak berfungsi dengan baik. Sebaiknya kamu pergi dari toko ini. Beli tidak mengganggu iya.” Ucap mahlika dengan tatapan tajam pada pria itu.
Mahlika sebenarnya malas mendapatkan tugas dari suami sahabatnya. Tapi saat melihat pria seperti ini yang mendekati sahabatnya. Dia jadi tidak masalah melakukan tugas menjauhkan Auri dari Alan. Sungguh dia saja kesal sendiri melihat tingkahnya.
“Anda tidak memiliki wewenang untuk mengusirku. Semua pesanan yang sedang dikerjakan oleh Auri adalah pesananku. Jadi aku tentu saja membeli barang di toko ini.” Ucap Alan yang tidak mau kalah dengan mahlika yang sudah mengibarkan bendera perang dengan Alan. Pria itu juga tidak suka dengan sikap sahabat wanitanya itu.
“Sialan, Auri sebaiknya kamu pergi menuju kantor marcello saja. Biar pria ini tidak mengikutimu terus. Kalau kamu pergi ke sana pasti pria tidak tahu diri ini tidak akan mengikutimu.” Ucap Mahlika dengan senyuman merendahkan Alan. Pria itu menatap tajam pada Mahlika. Dia tidak suka dengan wanita yang mengganggu rencananya untuk mendekati Auri.
“Aku memang berniat untuk pergi menemui suamiku. Seluruh pesananmu sudah aku buatkan.” Ucap Auri yang langsung membuka apronnnya. Dia mengambil tas kecilnya dan berjalan menuju keluar dari toko.
__ADS_1
Sayangnya tangannya dicegat oleh Alan. Tentu saja dengan sekali hempasan tangan alan terlepas. Dia tidak suka saat ada pria lain selain suaminya menyentuhnya. Bukan karena marcello yang sangat pencemburu.
Tapi dia sadar sebagai seorang suami harusnya Auri bisa menjaga martabat suaminya. Dia tidak dianggap istri yang tidak baik karena perlakuan alan yang semakin kurang ajar ini.
“Aku sudah katakan jangan pernah menyentuhku sembarangan Alan. Aku wanita yang sudah beristri dan aku harus menjaga harga diri suamiku. Aku harap kamu mengerti perkataanku ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah tidak bisa menahan sikap kurang ajarmu lagi. Walaupun kita adalah sahabat di masa lalu tapi aku tetap harus membatasi kedekatan kita Alan.” Ucap Auri yang langsung meninggalkan Alan begitu saja. Pria mengepalkan tangannya dengan sangat kencang hingga kukunya menembus telapak tangannya.
“Sudah aku katakan berhenti mengejar sahabatku tuan alan. Kamu hanya melakukan hal yang sia-sia.” Ucap mahlika yang membuat Alan ingin sekali mencekik wanita itu.
“Aku tidak butuh nasihatmu itu, aku pastikan Auri menjadi milikku. Karena sejak awal dia adalah milikku bukan marcello.” Ucap Alan yang berjalan meninggalkan toko Lyra. Seluruh pengunjung pria yang tadi mengantri untuk membeli bunga Auri memilih keluar dari toko. Wajah Lyra berubah buruk karena itu.
“Tidak usah bersedih, kamu tinggal minta kompensasi dari suami sahabatmu itu.” Ucap mahlika yang membuat wajah Lyra kembali cerah.
“Dasar rubah licik satu ini.” Ucap Mahlika yang membuat Lyra menatap tajam sahabatnya itu.
Sedangkan Auri mengendarai mobilnya menuju kantor Marcello. Rasanya dia lebih baik menghabiskan waktunya menemani marcello. Padahal tadi pagi suaminya sudah merajuk karena dia tidak ingin ikut bersamanya.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama mobilnya sudah tiba di parkiran kantor marcello. Dia turun dari mobil dan langsung disambut dengan ramah oleh para pekerja suaminya. Dia memberikan senyuman tipis dan memasuki lift khusus yang digunakan oleh marcello biasanya. Lift berhenti di lantai ruang kerja suaminya. Tanpa mengetuk dia langsung masuk ke dalam kantor Marcello. Tapi dia malah melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakkan.
“Marcello.” Panggil Auri dengan suara lirih yang menyadarkan suaminya itu. Peruabahan wajah marcello yang menjadi pucat pasih. Sedangkan Auri menatap tajam sang suaminya itu.