
Sejak Auri diculik, mahlika disibukkan dengan kegiatannya dalam mengawasi kondisi sang sahabat. Dia tidak menyangka denga tindakan gila yang dipilih oleh Auri untuk kabur. Tapi lebih tidak percaya saat seorang marcello yang semestinya menghukum Auri malah merawat sahabatnya.
Apakah dunia ini sudah hampir hancur saat melihat tindakan dan perlakuan marcello yang jauh dari kata menghukum. Walaupun ada beberapa tindakan marcello yang sebenarnya cukup untuk membuat sorang Auri merasa dihukum.
Mahlika tahu kalau sahabatnya takut dengan suntikan. Bukan pertama kali Auri mendapatkan luka jahitan pada tubuhnya. Tapi ini menjadi pertama kali sahabatnya menerima suntikan pada tubuhnya. Aneh memang seorang Auri yang tidak takut mati tapi takut dengan suntikan.
“Jadi kondisi Auri baik-baik saja?” tanya Lyra yang baru saja memasuki apartement mahlika.
Sekarang keduanya sangat akur bahkan tidak pernah bertengkar lagi. Mungkin Auri akan tepuk tangan melihat hal itu terjadi pada kedua sahabat yang selalu membuatny pusing. Mahlika dan Lyra yang tidak pernah tidak bertengkar seharipun jika bertemu.
“Ya lihatlah dia diperlakukan seperti tuan putri.” Ucap mahlika sambil menunjukkan layar yang menampilkan Auri berbaring di tempat tidur.
“ya kamu benar bahkan kamarnya sangat luas dan elegan. Apakah kita harus cemas dengan kondisi Auri?” tanya Lyra yang sudah duduk di sofa bed milik mahlika.
Dia membuka kotak makan yang sudah dia beli untukknya dan mahlika. Selama satu minggu Lyra selalu datang ke apartement sahabatnya hanya untuk menanyakan kabar Auri. Dia masih merasa bersalah karena dirinya menyebabkan Auri ditangkap oleh marcello.
“Aku berpikir marcello sedang menanti waktu yang tepat untuk memberikan hukuman pada Auri. Aku juga sedang mencoba menghubungi Auri.” Jelas mahlika sambil membuka kota makanannya.
Sejak Auri diculik oleh marcello. Mahlika tidak lagi bekerja di toko bunga milik Lyra. Alasannya karena dia tidak handal dalam mengurus bunga atau merangkai bunga. Waktu itu dia bekerja atas pemintaan sang sahabatnya.
Selain itu dia lebih memilih memantau kondisi Auri selama 24 jam. Lyra tidak mempermasalahkan keinginan mahlika. Dia sedikit merasa bersyukur karena mahlika lebih sering membuat bunga-bungan rusak saat bekerja.
Sebuah bunyi dari komputer yang sangat mahlika tahu. Bunyi notif di situs rahasia milik mahlika dan Auri. Situs yang digunakan jika buruk terjadi pada keduanya. Mahlika langsung menyimpan kota makannya ke meja.Dia berjalan menuju komputernya.
Benar saja ada pesan dari Auri.
[sambungkan dengan IP ini.]
__ADS_1
Mahlika langsung melakukan seperti yang diperintahkan oleh Auri. Beberapa saat kemudia dia bisa melihat wajahnya pada Tv. Sedangkan mahlika melihat sang sahabat lewat cctv yang diretasnya.
Auri memberikan pesan isarat pada mahlika.
[aku akan menghubungimu lagi saat itu kamu bantu aku untuk kabur] itulah isi dari pesan isarat yang dikirmkan oleh Auri.
“ada apa mahlika?” tanya lyra yang sedikit aneh saat sahabatnya langsung lari setelah mendengarkan suara notifikasi.
“Auri menghubungi kita. Dia meminta bantuan untuk kabur setelah. Mungkin Auri sudah menemukan rencana untuk kabur dari marcello.”
“Padahal dia tidak usah kabur melihat wajah tampan marcello saja aku rela untuk berada di posisi Auri.” Ucap Lyra yang membuat mahlika kesal dengan sahabatnya . Walaaupun mahlika mengakui setampan dan semenawan marcello. Hanya saja mata Auri itu buta kalau melihat pria. Sahabatnya seperti tidak bisa melihat ketampan pria di depannya.
“kamu tahu kalau Auri buta pada pria tampan.” Ucap mahlika yang sudah kembali pada posisinya untuk menyantap makan siang.
“Tentu saja aku tahu, kamu pikir selama satu tahun ini pria yang mengantri di tokoku bukan pria tampan. Mereka semua tampan dan seperti seseroang yang memiliki masa depan cerah. Tapi sahabat kita itu tidak bisa menyadarinya.” Ucap Lyra sambil mengingat sudah berapa banyak pria yang mengantri atau menembak Auri.
“Bukankah ada bagusnya kondisi Auri. Sehingga dia tidak terpesona pada marcello. Kita tidak tahu rencana pria itu mengurung Auri di dalam kamar. Bagaimana kalau sahabat kita dijadikan pemuas kebutuhannya.” Ucap mahlika yang membuat Lyra langsung berhenti menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Dia baru sadar dengan hal buruk seperti itu dapat terjadi. Bagaimanapun Auri memiliki wajah yang cantik dan tentu para pria normal akan tertarik pada sahabatnya.
“Kamu terlalu tergila-gila dengan wajah pria itu. Walaupun aku pencinta para pria tampan tapi aku tidak sebodoh itu hingga tidak tahu hal buruk tentang hubungan antara kedua wanita dan pria.” Jelas mahlika dengan tatapan kesal pada sang sahabat.
“ya kamu benar.” Ucap Lyra yang melanjutkan makannya.
Keduanya asik menikmati makan siangnya. Setelah itu keduanya menantikan kabar dari sang sahabat Auri. Mereka harus dalam keadaan siap sedia jika nanti Auri membutuhkan bantuan mereka.
Sayangnya mahlika dan Lyra lupa kalau Auri tidak akan meminta keduanya untuk bertarung bersamanya. Paling tidak mahlika harus memberikannya rute melarikan diri saja. Tapi keduanya sudah bertampilan seperti siap bertarung ke medan perang.
__ADS_1
Auri mendapatkan benda yang diinginkannya. Kedua tangannya langsung melakukan peretas untuk menyambungkan pada mahlika. Tidak butuh waktu lama mereka bisa saling mengirimkan pesan.
[kamu sudah buat rute melarikan diri untukku]
[tentu saja, apakah kamu butuh bantuan aku dan Lyra untuk menyerang kediaman marcello]
[jangan berpikir gila mahlika. Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu]
[baiklah aku sudah kirimkan gambar rutenya]
[baiklah]
Auri langsung memasukkan telepon seluler ke dalam hpnya. Pintu balkon terbuka begitu saja karena mahlika sudah masuk kedalam sistem pengaturan rumah marcello. Pintu balkon memang dikendalikan oleh sebuah sistem yang dibuat oleh marcello.
Auri sudah mengikatkan beberapa seprai agar dia mudah turun dari kamarnya. Tapi wanita itu tidak tahu kalau di wadah tempat dia mendaratkan kakinya dari kamar. Marcello sudah berdiri dan menatap tajamnya. Marcello sangat kesal dengan tindakan gila gadis di depannya.
“Sudah aku katakan kamu boleh kabur tapi pikirkan kondisi tubuhmu.” Ucap marcello yang membuat Auri yang masih mencoba turun kaget.
Tanpa sadar Auri melepaskan pegangan dan tubuhnya jatuh kebawah. Sekarang Auri sudah pasrah jika harus mati seperti ini. Marcello melihat tubuh Auri yang jatuh dari atas langsung berlari dan menangkap badan gadis kecilnya.
Auri menutup mata tapi dia tidak merasakan rasa sakit karena jatuh dari ketinggian. Perlahan dia membuka mata dan terkejut saat melihat wajah marcello. Sekarang pria itu menatap tajam pada Auri.
“KAMU GILA. BOSAN HIDUP KAMU SEHINGGA MENCOBA CARA SEPERTI INI UNTUK KABUR. JIKA KAMU INGIN MELARIKAN JANGAN MEMBUAT KAMU DALAM BAHAYA.” Teriak marcello.
Auri tidak menjawab apapun. Marcello membawa badan Auri ke sebuah kamar yang berbeda. Badan Auri dibaringkan di tempat tidur dan marcello berbaring di sampingnya.
“Sekarang tidur aku akan mengawasimu.” Ucap marcello.
__ADS_1