
Sedangkan Lyra langsung menyibukkan dirinya dengan beberapa bunga yang harus dirinya masukkan kedalam sebuah wadah. Dia tidak berniat untuk berbincang dengan pria yang sejak tadi mengikutinya seperti anak itik. Sungguh pria itu tidak sadar kalau wanita di depannya sedang tidak ingin berbincang dengannya.
“Bisakah anda tidak mengikutiku terus.” Ucap Lyra yang sudah kesal karena Edgar tidak henti mengikutinya. Bukannya meminta maaf, dia malah tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh dia terlihat tampan dan menggemaskan.
“Rara ayo kita berbicara sebentar.” Ucap Edgar sambil menarik tangan wanita itu dengan lembut ke tempat favorit Auri. Sedangkan toko sudah di tutup sejak ketiga pria itu datang. Alasannya hanya untuk menghindari kedatang orang yang tidak mereka inginkan.
“Apa yang kamu ingin bicarakan padaku tuan Edgar?”tanya Lyra dengan wajah sinisnya. Tapi pria itu malah gemas dengan tingkah wanita di depannya. Kenapa dia baru sadar kalau Lyra marah seperti Rara kecilnya kalau sedang kesal padanya.
“Kamu memang raraku.” Ucap Edgar yang membuat Lyra melotot tidak suka. Tapi berbeda dengan hatinya yang berdebar-debar saat mendengarnya. Dasar Lyra lain dimulut lain dihati.
“Siapa yang anda panggil Rara, saya Lyra.” Ucap Lyra yang mengoreksi panggilan pria itu padanya. Walaupun dia suka dengan panggilan itu. Tapi semua itu adalah masa lalu yang harusnya sembunyikan selamanya.
“Rara kamu tidak bisa membohongiku lagi. Aku sudah mengetahuinya. Kenapa kamu selama ini tidak mengatakannya padaku. Kalau kamu Rara sejak pertemuan pertama kita lagi. Pasti aku tidak akan merasa bersalah seperti ini.” Ucap Edgar dengan wajah sendunya. Tapi berbeda dengan Lyra yang kesal mendengarnya.
“Tuan pikir anda akan percaya saat aaya mengatakan kalau saya adalah Rara. Sedangkan anda saja sudah menganggap Rara telah tiada bukan?” ucap Lyra yang sepenih panah yang menancap hati Edgar. Pria itu sadar dia yang salah dalam semua ini.
“maaf Rara, aku harusnya mengenalimu sejak pertemuan kita.” Ucap Edgar yang membuat Auri membuang nafas kasar mendengarnya. Dia jengah mendengar ucapan maaf dari pria di depannya.
__ADS_1
“Anda tidak perlu meminta maaf. Bukankah hal itu menunjukkan setidak berarti saya pada hidup anda. Jadi buat apa anda mencoba mendekati saya.” Ucap Lyra pada pria di depannya yang langsung berubah dari sendu menjadi marah. Terlihat tatapan tajam dari pria itu yang mengarah padanya.
“Aku tidak suka kamu berbicara formal padaku Rara. Aku tahu semua itu salah. Tapi kamu harus tahu kalau kamu sangat berarti bagiku.” Ucap Edgar yang membuat Lyra tidak bisa menahan tawanya lebih terdengar sangat menyakitkan.
“hhahaha, berarti pikirmu, kalau aku sebegitu berarti pasti kamu tidak akan memilih berpacaran dengan wanita lain bukan.” Ucap Lyra yang membuat Edgar kembali sedih dengan kesalahannya. Banyak penyesalan yang silir berdatangan.
“Aku tidak pernah mencintai Aura, Rara.” Ucap Edgar.
“plak.” Tamparan melayang di wajah Edgar saat pria itu mengatakan kebenaran dalam hubungannya dengan Aura. Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau Aura sudah tahu dirinya tidak pernah benar-benar menaruh hati padanya. Walaupun Edgar menemui Antara untuk memberikan restu padanya.
“kamu jahat Edgar, kamu mengatakan kalau hubungan kamu dengan sahabatku tidak berlandaskan cinta.” Ucap Lyra yang sekarang sudah mulai menangis. Edgar tidak tega melihatnya, dia berniat untuk merangkul badanya yang mulai bergetar. Tapi semua itu langsung ditepis oleh wanita itu.
“Kamu tahu seberapa cintanya Aura padamu. Tapi kenapa kamu mengatakan seperti itu. Walaupun dia sudah tidak ada tapi Aura pasti bisa mendengarnya. Kamu sangat jahat Edgar.” Ucap Lyra yang menggebu-gebu.
“Aku tidak pernah memintanya untuk mencintaiku. Dia yang datang dan menawari untuk menjadi kekasihku. Dia juga tahu tentang perasaanku yang tidak pernah ada untuknya. Aura tidak pernah mempermasalahkannya. Saat aku ingin melepaskannya dia yang menahanku.” Jelas Edgar pada Lyra.
“kamu jahat telah melukai wanita baik seperti Lyra, Harusnya kamu bisa membuka hatimu untuknya. Kenapa kamu tega membuatnya bertahan dengan perasaannya sendiri.” Ucap Lyra pada Edgar yang frustasi mendengarnya. Dia tahu kalau dirinya adalah pria yang jahat. Karena itu setelah kematian kekasihnya ada rasa penyesalan padanya.
__ADS_1
Dia menyesal karena tidak bisa memberikan perasaan pada wanita itu. Walaupun hal itu tidak mungkin juga dirinya lakukan. Bagaimanapun cara Aura melakukannya, hatinya tidak memberikan respon apapun. Edgar hanya merasakan perasaan nyaman tapi tidak membuatnya ingin selalu bersama wanita itu.
“Lyra, kamu tidak bisa menyalahkan semua itu pada Edgar.” Ucap Auri yang baru saja masuk ke toko itu. Setelah dia berbincang sebentar dengan kekasihnya. Dia langsung menyusul sahabatnya saat mendengar teriakan dari Lyra.
“Apa maksudmu Auri? Kamu harusnya mendukung adikmu bukan pria berengsek ini.” Ucap Lyra pada sahabatnya yang malah menyalahkan adiknya sendiri.
“Lyra, mahlika sudah menceritakan tentang hubungan keduanya yang tidak benar-benar baik. Alasan Aura tidak pernah menceritakan Edgar padaku adalah karena dia tahu kalau pria itu tidak memiliki perasaannya. Aura takut aku mengamuk karena adiknya memilih jalan yang salah.” Ucap Auri.
“Lyra, Aura sudah tahu kalau kamu memiliki perasaan pada edgar. Dia mengatakannya padaku saat aku berniat memberitahu hubungannya pada Auri. Aura melarangku karena dia malu. Dia malu harus memasak seorang pria bertahan di sampingnya saat dia tahu kalau ada wanita yang sedang kedatang pria itu.” Ucap Mahlika dengan lirih.
Sebenarnya Mahlika tidak ingin menceritakan tentang ini semua. Karena saat itu dia sudah berjanji pada Aur auntuk menjaga rahasianya. Tapi dia tidak ingin Lyra salah paham pada Edgar terus menerus. Karena pria itu tidak sepenuhnya salah. Sejak awal pria itu sudah mengatakan perasaanya pada Aura.
Hanya saja Aura tidak ingin melepaskan pria itu. Dia mengatakann berikan waktu lebih laam untuknya bisa merasakan kebahagian walaupun hanya sebuah kebohonga.
“Lyra, Aura yang salah bukan Edgar.” Ucap Auri yang berada di pelukan marcello. Pria itu memberikan kekuatan pada kekasihnya yang terkejut saat mendengarkan cerita dari mahlika. Akhirnya sahabatnya menceritkan kebenaran tentang adiknya.
“Bahagialah Lyra, Aura sudah bahagia sekarang.” Ucap Auri pada sahabatnya. Dia tidak akan mengembalikan kebahagian yang direnggut adiknya dari Lyra. Mungkin saat itu Aura hanya ingin merasakan kebahagian meskipun hanya kebohongan sebelum dia harus kembali ke sisi pencipta. Sekarang Auri tidak akan menyalahkan siapapun lagi. Biarlah kedua orang yang berada di depannya bisa berbahagia kembali.
__ADS_1