
Akhirnya Auri dapat keluar dari rumah marcello yang sudah menanhannya beberapa minggu. Tentunya setelah berbagai cara Auri kerahkan untuk pria itu mengizinkannya keluar sebentar. Dia masuk ke dalam apartementnya. Rasanya seperti sudah lama dia pergi jauh saja.
Saat pintu apartement terbuka. Auri langsung mendapatkan pelukan dari kedua sahabatnya. Tanpa sadar dia tersenyum mendapatkan perlakuan dari Lyra maupun mahlika. Kedua sahabat yang selalu ada untuknya selama satu tahun ini.
“Akhirnya kamu kembali Auri. Jangan pergi seperti itu lagi. Aku khawatir.” Ucap Lyra.
“Ya my angle jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Ucap mahlika yang langsung mendapatkan pukulan dari Lyra.
Lyra teringat saat marcello mengetahui keberadaan mereka. Apalagi sahabatnya hampir saja membuat hidup mereka berakhir karena kesalahan yang selalu di ulangnya.
“Apasih kamu pukul-pukul aku.” Protes mahlika pada Lyra.
“Kamu masih nanya kesalahan yang hampir saja mengambil nyawa kita.” Ucap Lyra dengan kedua matanya menatap tajam pada mahlika.
“Sudahlah kalian, Aku baru kembali sudah disuguhkan drama kalian.” Ucap Auri yang berjalan di tengah mahlika dan Lyra. Kedua wanita itu langsung mengikuti Auri seperti seorang budak.
Mereka sadar kalau sahabatnya baru saja kembali dari medan perang yang kapan saja bisa mengambil nyawanya. Auri duduk dan menatap kedua sahabatnya. Mahlika dan Lyra duduk di kursi depan Auri.
“Jadi kamu dibebaskan oleh marcello?” tanya mahlika pelan-pelan.
“Bukankah kamu sudah tahu, Aku tidak harus menjelaskannya untuk kedua kali. Bagaimana bisa kamu melakukan keselahan yang sama mahlika.” Ucap Auri dengan tatapan kesal dengan sahabatnya.
Rasanya mahlika selalu saja tidak bisa diandalkan. Pintar dan jenius memang benar tapi tingkat cerobohnya melebih kepintaran otak sahabatnya. Bahkan kesalahan yang dilakukan selalu sama dan sangat kecil tapi dapat membahayakan karena aksesnya dengan mudah di deteksi.
Beruntungnya tempat ini hanya dideteksi oleh marcello. Bagaimana kalau musuh lain. Bisa dalam bahaya basecampnya.
“Kamu tidak meretas tempat lainkan selain kediaman marcello?” tanya Auri dengan tatapan menyelidiki sahabatnya di depan. Awas jika mahlika melakukan hal itu. Auri tidak akan memberikan hukuman ringan lagi pada sahabatnya.
__ADS_1
“Tidak Auri.”
“Kamu tidak sedang berbohong padaku kan?” tanya Auri.
“Tenanglah mahlika tidak meretas tempat lain. Karena untuk meretas kediaman pria itu saja dia sudah seperti orang gila.” Ucap Lyra sambil menunjuk penampilan sahabatnya.
Auri melihat keadaan sahabatnya yang sangat mengenaskan. Dia sangat tidak terawat. Auri juga mencium aroma yang tidak nyaman berasal dari sahabatnya. Sangat tidak percaya melihat Lyra bisa bertahan dengan aroma sahabatnya.
“Lyra kamu bisa bertahan dengan mahlika.”
“Sebenarnya di awal sangat sulit. Tapi aku sudah terbiasa. Lagipula dia tidak mempunyai banyak waktu untuk membersihkan dirinya. Bukankah dia lebih baik duduk di kursinya dan memantau keadaanmu.” Jelas Lyra dengan santai. Dia tidak sadar kalau sudah menyiksa mahlika.
“Lyra ternyata lebih kejam dari kamu my angel. Dia mengerjakanku seperti seorang budak. Bahkan aku hanya diizinkan untuk pergi untuk membuang kotoranku saja.” Jelas mahlika dengan wajah dibuat seakan sedih. Tapi Auri tidak akan berpengaruh dengan ekspresi sahabatnya saat ini. Karena akan ada permintaan yang mengikutinya jika Auri peduli dengan mahlika.
“Sebaiknya kamu pergi saja mandi. Jangan berpikir aku akan mengikuti keinginanmu. Aku tidak menyuruhmu meretas kediaman pria itu. Selain itu bukankah kamu malah membuat masalah padaku.” Sindir Auri yang membuat mahlika terenyum tipis.
Dia sekarang tidak bisa mengambil kesempatan dari sahabatnya. Walaupun Auri tidak seperti orang yang marah. Tapi masih ada kemungkinanya sahabatnya menyimpan rasa kesal karena ulahnnya.
“Kamu tidak ingat siapa yang membuatku seperti ini.”
“Kamu ingin menyalahkanku.” Ucap Lyra yang sudah berdiri dari kursinya. Dia bersiap berdebat dengan mahlika.
“Berhenti berdebat, ada hal penting yang akan aku bicarakan. Jadi cepat masuk mahlika atau kamu tahu hukuman yang akan aku berikan padamu.” Ucap Auri dengan wajah dinginnya yang membuat mahlika langsung berlari ke depan lift untuk menuju ke rumahnya.
“Sialan kamu mahlika lihat saja balasanku.” Ucap mahlika dalam hati saat sudah berada di lift.
“memang aroma badanku seburuk itu ya.” Mahlika mendekatkan hidungnya pada baju yang sudah tidak digantinya selama beberapa minggu sejak Auri dibawa oleh marcello.
__ADS_1
“ih bau juga ya.” Ucap mahlika yang langsung menjauhkan hidungnya dari pakaiannya. Setelah sampai ke rumahnya, dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan semua aromanya. Dia tidak ingin mahlika menghukumnya.
Kembali ke rumah Auri yang sedang duduk berhadapan dengan Lyra. Sahabat adiknya yang sekarang menjadi sahabatnya juga. Dia membuang nafas dengan kasar.
“Ada apa Auri? Aku tahu ada yang ingin kamu bicarakan denganku bukan?” tanya Lyra.
“Kamu tahu pacar Aura?” tanya Auri tapi matanya menatap rumahnya yang sudah ditinggal beberapa minggu. Ternyata tidak sama sekali berdebu. Mungkin Lyra sering membersihkannya selama dia tidak ada di sini.
Lyra tidak menjawab pertanyaan Auri. Dia tetap diam dengan matanya menatap kedua kakinya. Dia memang tahu pacarnya Aura. Tapi dia tidak berniat untuk memberitahu sahabatnya yang tak lain kakak dari Aura.
“Kenapa Lyra? Bukankah kamu tahu selama ini aku mencari keberadaan pria itu. Berikan aku alasannya.” Ucap Auri yang sekarang menatap sahabatnya di depannya.
“karena Aura melarangku memberi tahunya sebelum Aura yang mengatakannya padamu Auri.”
“Ada alasan lainkan?”
Lyra menatap Auri dengan ekspresi yang sulit. Auri tahu apa yang disembunyikan sahabatnya. Tidak sulit untuk membaca ekspresi sahabatnya. Karena Lyra sama seperti Aura.
“Kamu berpikir aku akan menghabis pria itu bukan?”
“Bukan gitu.”
“lalu apa? Kamu menyukainya?” tanya Auri dengan senyum tipisnya. Dia sangat tahu kalau sahabat di depannya memiliki perasaan yang sama.
Auri dan Lyra memang seperti seorang anak kembar. Mereka memiliki kesuakaan dan kebencian yang sama. Hal itu juga terjadi pada pria yang mereka suka. Sangat ironis melihat Lyra di depannya. Kenapa Lyra masih bisa menahan perasaannya hingga saat ini demi adiknya.
“Bagaimana kamu mengetahuinya Auri?” tanya Lyra yang sekarang menatap Auri.
__ADS_1
Dia tidak menyangka Auri bisa dengan mudah mengetahui perasaanya. Lyra memang sengaja tidak ingin memberitahu pacar Aura. Selain dia sudah berjanji pada Aura. Dia juga tidak ingin terjadi hal buruk pada pria yang dicintainya sejak pertemuan pertama di toko bungannya.
Saat itu dia sudah sadar kalau pria itu menyukai sahabatnya bukan dirinya. Karena itu selama 2 tahun ini Lyra hanya menyimpan perasaan suka untuk dirinya sendiri. Biarlah tidak ada orang yang tahu tentang perasaanya pada pria itu. Melihat dari jauh saja sudah membuatnya senang apalagi Edgar bisa bahagia karena keberadaan Aura. Dia tidak akan egois hanya untuk memperjuangkan perasaanya dengan mengorbankan sahabat yang sudah dianggapnya sebagai keluarga selama ini.