
Ada lebih dari 3 orang berada di jarak 5 meter dari tempat pentempuran. Sedikit jauh dan sulit jika menggunakan shotgun menengah seperti yang digunakan oleh Auri. Tapi tidak cara lagi untuk mengalahkan meraka. Dengan memfokuskan korban yang akan di tembak. Sengaja Auri memlihi titik terjauh agar tidak membuat orang yang di depannya sadar.
Tembakan Auri tidak terdengar karena dia sengaja menggunakan perendam agar para musuh tidak sadar. Sekarang tinggal 3 orang bergerak tidak jauh dari Marcello. Sepertinya mereka sedang menunggu waktu yang tepat.
Kembali lagi Auri menembak 2 orang yang berada di titik menengah. Hanya tertinggal satu lagi. Tapi saat itu Auri sadar kalau orang itu tidak mengarah Marcello atau kedua tangan pria itu. Tapi yang menjadi sasaran adalah dirinya.
“Dor-dor” Suara yang cukup kuat yang membuat marcello langsung melihat sumber suara. Segera dirinya tembak karena letaknya tidak begitu jauh.
Marcello tidak tahu orang itu menembak siapa. Hingga saat dirinya lihat arah shotgun itu tepat ke arah balkon yang menjadi tempat Auri. Dia tidak memikirkan hal lain lagi. Marcello segera berlari ke arah dalam markas.
Edgar dan Oskar sadar kalau sesuatu terjadi pada nona Auri. Makanya mereka tidak menahan bossnya. Kedua orang itu sekarang sudah sangat marah karena musuhnya telah melukai orang paling penting untuk sahabat sekaligus boss mereka.
Tidak lagi main-main dalam pertarungan. Keduanya sekarang ingin segera membereskan pertarungan ini dan melihat kondisi Auri. Mereka juga mendenga suara tembakan yang cukup keras. Dengan jarak terdekat itu akan menyakitkan jika terkena salah satu bagian tubuh manusia.
“Kita harus segera menyelesaikannya Oskar.” Ucap Edgar yang langsung dianggukkan kepala oleh oskar.
Oskar juga tidak tahu harus mengatakan apa pada wanitnaya jika kondisi Auri ternyata mendapatkan yang fatal. Mungkin Dia harus melepaskan wanita incarannya karena tidak bisa melindungi orang terpenti mahlika.
Sedangkan Marcello berlari menuju balkon tempat Auri. Beberapa langkah lagi Marcello sampai ke tempat Auri. Sebuah teriakan terdengar hingga keluar markas.
“Mr Md JANGAN MENDEKAT.” Teriak Auri yang membuat marcello menghentikan langkahnya. Dia sangat paham maksud Auri. Mungkin ada musuhnya yang muncul di depan Auri saat ini.
“KEMBALI DAN TINGGALKAN AKU SEKARANG.” Ucap Auri pada Marcello.
__ADS_1
Tentu saja pria itu tidak berniat untuk menuruti ucapan Auri. Dia berjalan ke salah satu ruangan yang berada di belakang tangga menuju balkon. Mungkin dia tidak menggunakan jalan dari lantai bawah. Bagaimana kalau dia datang dari atas dan menemukan pelaku yang membuat Auri terdesak.
Auri menatap tajam pria yang di depannya yang menutupi wajahnya dengan topeng harimau. Pria itu menodong pistol pada Auri seperti yang dilakukannya. Keduanya tidak ada yang berniat bergerak.
“bukankah sebaiknya nona menyerah mengingat luka tembak dari bawahan saya membuat anda kesakitan bukan. Walaupun tembakan itu tidak tepat di jantung anda.” Ucap pria bertopeng harimau.
“Sejak awal anda memang tidak mengincar nyawa Mr md bukan. Target anda adalah saya. Kelima orang itu hanya menjadi umpan agar saya terlalu fokus dengan mereka. Saat bersamaan anda mendekati saya dan membunuh saya dari belakang bukan?” tanya Auri dengan senyum tipis.
“hahahahha ternyata seperti rumor yang beredar anda memang seorang agen yang berkompeten dan cantik.” Ucap pria itu.
“Tentu saja saya sangat berkompeten. Kalau tidak seperti itu mungkin hidupku sejak lama sudah mati sia-sia.”
“Bagaimana kalau anda menjadi bawahan saya saja? Saya pastikan anda akan hidup bergelimang harta dan bahagia.” Tawar pria di depannya.
“Anda benar, saya lebih suka membuat Mr Md terluka karena kehilangan wanitanya. Satu tahun lalu aku membunuh wanita yang paling penting untuk tangan kananya. Saya pikir pria itu akan putus asa dan memilih ikut bersama kekasihnya. Tapi tangan kanan Mr Md itu ternyata tetap hidup.” Jelas pria itu dengan senyum tipis.
Auri mencoba menahan dirinya untuk tidak bertindak gegebah. Sekarang dia sadar kalau pria di depan adalah orang yang selama ini diirnya cari. Tapi Auri tidak bisa bergerak bebas. Bagaimanapun tangan kirinya sudah tertembak dan terasa kebas untuk digunakan.
Hanya ada satu cara bodoh untuk bisa menyerang pria di depannya. Antara hidup mati tapi tidak ada pilihan lain. Auri tidak mungkin menunggu orang lain menyelamatkannya. Jadi hanya dengan cara ini saja.
“Apakah anda akan menembak saya?”Tanya pria itu.
Auri berjalan mendekati pria itu dengan pistol tetap mengarah pada kepalanya. Semoga saja tidak terjadi hal buruk. Karena Auri masih ingin membunuh pria di depannya.
__ADS_1
Dor -dor.
Tembakan Auri melesar tepat pada perut kiri pria itu. Sedangkan tembakan pria itu tepat mengenai kaki kananya. Tapi Auri menahan rasa sakitnya dan menarik pisau di pinggangnya dan menyerang pria itu.
Pertarungan antara Auri dan pria bertopeng itu berjalan dengan sengit. Keduanya merasakan sakit dari tebakan yang bersarah di badannya. Auri sedikit kesulitan untuk bergerak. Tapi dia tidak mungkin menyerah sekarang atau hidupnya akan berakhir.
“Anda memang sangat tangguh. Bahkan dengan tembakan pada betis kaki. Anda masih bisa bergerak dengan sangat baik bahkan menahan serangan saya dengan mudah.” Ucap pria itu.
“Kamu salah memilih musuh. Jika kamu pikir aku akan tidak berkutik dengan tembakanmu pada kakiku saja. Luka ini belum seberapa dari yang pernah aku terima.” Ucap Auri bersamaan pisaunya menembus perut kanan pria itu.
Auri juga mendapat luka tepat di perut kirinya. Keduanya menjauh dengan menarik pisau mereka. Auri maupun pria bertopeng terduduk. Tubuh mereka terlihat mulai melemah.
Tapi Auri masih bisa menggunakan separuh tenaganya. Setidaknya luka yang di derita pria itu lebih besar darinya. Pria bertopeng itu berniat untuk kabur. Bagaimanapun pria itu sudah tidak bisa bertarung dengan Auri. Sekarang keadaan mereka tidak sama.
“Kamu tidak akan bisa pergi.” Ucap Auri yang berlari dengan kaki yang sedikit terpincang.
Sebuah tembakan hampir saja mengenai kepala Auri jika wanita itu tidak menghindar. Tapi bersamaan Auri dapat melepaskan topeng pria itu. Sekarang Auri tahu siapa pelakunya.
Pria itu berhasil kabur dengan meloncat dan sebuah tali muncul di depannya. Ternyata sebuah helikopter sudah menunggunya. Sepertinya pria itu sudah menduga dirinya tidak akan selamat.
Auri akhirnya terjatuh dan badannya bersandar pada pagar balkon. Para musuh juga sudah kabur. Sedangkan Marcello melihat kepergian pria dari tempat balkon segera dirinya tembak tepat dikedua kakinya.
Marcello sekarang berjalan menuju tubuh Auri yang sudah terduduk lemas. Sudah dia duga kondisi Auri tidak baik-baik saja. Melihat luka yang terbuka di perutnya, kaki dan tangannya yang mengeluarkan darahnya. Sepertinya Auri memaksakan tubuhnya yang terluka untuk tetap bertarung.
__ADS_1