Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 28:Rencana pelarian Auri


__ADS_3

Luka di kaki auri memang membuatnya menjadi sedikit sulit untuk berjalan. Tapi bukan karena lukanya Auri memilih mengikuti keinginann Marcello. Wanita itu sedang mencari celah untuk dirinya bisa kabur. Sekarang dia tidak akan bertindak gegabah seperti saat pertama kali sadar dikediamaan marcello.


Masalahnya Auri tidak memiliki hp atau laptop untuk menghubungi mahlika. Beberapa kali mencoba meminjam dari para pelayan maupun pengawal. Mereka tidak memberikannya karena tuan rumah ini sudah memlarang meminjam alat eletronik.


“aaaaaakhh.” Teriak Auri kesal mengingat usaha meminjam hp pada pelayan gagal kembali.


Ternyata marcello sejak tadi mengetahui niat gadis kecilnya. Bukan marah karena perbuatan Auri, dia malah berniat untuk menggoda tahannya.


“Berhentilah meminjam hp atau laptop pada para pekerja.”


“Lalu aku boleh meminjam padamu.” Ucap Auri yang sangat polos. Dia tidak sadar kalau sekarang membuat seorang marcello gemas melihatnya.


“hekm. Kamu meminjam hp untuk menghubungi sahabat merepotkanmu kan?”


“Kamu sepertinya tidak banyak pekerjaan sehingga mencari orang terdekatku tuan marcello.” Sindir Auri pada pria yang sedang berdiri menatapnya.


Satu minggu di tempat ini dan selalu bertemu pria yang membuatnya terkurung di kediamannya sangat menyebalkan. Apalagi marcello tidak memperlakukan dirinya sebagai tahanan sebenarnya. Mana ada seorang tahanan dirawat oleh dokter keluarga dan berikan kamar yang nyaman. Marcello tentu hanya sedang mempermainkannya.


“Tentu saja aku harus mencari seluruh kenalanmu agar kamu tidak bisa kabur dariku atau mereka akan mati ditanganku.” Ancam marcello.


“Berhenti mengacamku dengan hal seperti orang terdekatku. Kalau kamu memang menjadikan aku sebagai tahanan kenpa merawat lukaku. Bahkan kamu membiarkan aku tidur di tempat yang nyaman dan makan enak.”


“Tentu aku tidak akan membiarkan mainanku ini hidup tidak nyaman di rumah mainannya bukan?”


“APA KAMU BILANG AKU MAINANMU. HUH? KAMU PIKIR SAYA BONEKA BARBIER YANG SEDANG KAMU MAINKAN. GILA DASAR KAMU MARCELLO.”teriak Auri.


Sunggu Auri tidak habis pikir dengan pria di depannya. Dia mempermainkan Auri seperti ini. Sekarang auri bertekad untuk segera kabur dari pria gila seperti marcello.

__ADS_1


“makannya kamu berikan aku petunjukkan yang menarik. Rasanya kamu baru kabur satu kali tapi sudah mendapatkan luka seperti ini.lain kali carilah cara yang lebih cerdik tanpa membahayakanmu sendiri.” Ucap marcello sebelum meninggalkan kamar Auri.


Akhirnya Auri sendiri di dalam kamar. Menatap sekitarnya rasanya tidak ada hal bisa dirinya gunakan untuk kabur. Tentu dia tidak akan kabur seperti dulu lagi.


Kakinya saja masih sulit digunakan untuk berlari. Ditambah si marcello gila itu meningkatkan penjagaan di sekitarnya. Tapi sebuah ide menarik saat di melihat tv yang ada di depannya.


Rasanya dia bisa melakukann sesuatu pada tv ini. Apalagi saat dia melihat tv ini terhubung dengan internet. Sepertinya keberuntungan kali berpihak padanya lagi.


Auri membuka situs yang hanya diketahui olehnya dan Mahlika saja. Situs yang dibuat untuk keadaan seperti ini. Walaupun ada rasa takut jika marcello mengetahuinya.


Benar saja marcello mengetahui kegiatan Auri lewat cctv yang dipasang di tempat ini. Pria itu tersenyum melihat tindakan yang dipilih oleh gadis kecilnya.Sangat pintar menurut marcello.


Sebuah Tv digunakan Auri untuk memberikan kabar pada mahlika. Tidak membutuhkan waktu lama layar tv itu berubah menjadi gambar mahlika. Auri tersenyum melihatnya.


Sayangnya mereka tidak bisa melakukan hubungan dua arah karena pada tv tidak terdapat microphone. Beruntungnya keduanya pernah mempelajari bahasa isarat.mahlika mengerti dengan maksud yang disampaikan oleh sang sahabat.


“Lihatlah Edgar seberapa cerdik gadis kecil ini. Hanya dengan menggunakan smart tv saja dia dapat berhubungan dengan sahabatnya.” Ucap bangga pada Auri.


“apa anda ingin saya mengambil tv itu dari kamar Auri?”


“Tidak usah.” Sambil melambaikan tangannya pada Edgar.


Marcello sekarang menunggu aksi selanjut. Rasanya dia tidak sabar menunggu pertunjukkan yang akan Auri berikan padanya. Bagaimana wanita itu kabur dari rumah ini.


Edgar menatap marcello dengan pandangan menyelidik. Dia tahu kalau atasan sekaligus sahabatnya ini sedang merencanakan hal licik pada Auri. Dia sedikit kasihan pada Auri yang harus menjadi mainan seorang marcello. Bukan dengan dihukum fisik tapi membuat Auri terkekang dan tersiksa karena tidak bisa kabur dari sangkar marcello.


“Anda seperti bukan sedang beruntung nona. Karena sejak menginjakkan kaki anda di tempat ini. Anda sudah tidak bisa keluar lagi. Marcello tidak pernah melepaskan benda yang sudah diakui menjadi miliknya. Sebelum benda itu benar-benar tidak ada artinya.” Ucap Edgar dalam hati.

__ADS_1


Auri melakukan aksinya pada saat tengah malam. Setelah memastikan seluruh orang dalam keadaan tidur. Walaupun dua penjaga di depannya pasti sedang melek. Menghadapi dua penjaga bukanlah hal sulit pikir Auri.


Tapi bukan malam ini dia beniat kabur. Hanya sekarang dia butuh mencuri benda selurer dari salah satu penjaga itu.


Auri berjalan menuju pintu sambil membawa satu teko kosong. Dia berniat mencari alasan untuk mengambil air. Tentu saja akhirnya salah satu pengawal itu akan mengambilkannya.


“Tuan saya haus tapi teko di kamar saya sudah kosong.” Ucap Auri sambil menunjukkan teko air yang dibawanya.


Salah satu dari pengawal mengambil inisiatif untuk mengisi teko itu. Dia sudah mengamati kebiasaan dari kedua pengawalnya. Mereka selalu membawa telepon selurer pada saku celananya. Sedikit drama untuk mejalankan aksinya.


“Tuan bisa membantu saya untuk berjalan menju tempat tidur. Kaki saya terasa sedikit sakit.” Ucap Auri. Pengawal itu membantu Auri berjalan dan saat itu dia ambil telepon selurer dari pengawal.


Auri memang seorang pencuri yang handal. Saat dia mengambil hp dari saku celana pengawal. Dia berpura-pura hampir jatuh sehingga fokus pengawal itu pecah.


“Ternyata semudah ini.” Gumam Auri dalam hati.


Sedangkan di ruangan lain sedang terbakar api cemburu. Marcello tidak suka Auri bersentuhan dengan pengawal. Padahal bukan itu yang harusnya menjadi fokus marcello.


Edgar yang melihat kelincahan seorang Auri dalam mencuri barang. Dia sangat salut dengan tindakan Auri. Dia seperti sudah memperhintungkan kejadian yang akan terjadi. Bahkan penjaga tidak sadar kalau hpnya sudah di curi.


“Aku akan memberikan hukuman pada pengawal yang sudah berani menyentuh mainanku.”


Edgar membuang nafas kasar. Sekarang marcello menunjukkan ketertarikannya pada Auri. Apakah atasannya tidak sadar kalau harusnya dia fokus dengan tindakan Auri dalam mencuri barang bukan tentang pengawal yang membantu gadis itu berjalan menuju tempat tidur.


“Bukankah tuan harusnya memperhatikan tindakan nona  Auri yang mencuri telepon seluler milik pengawal itu.”


“gadis kecil ini memang pencuri yang handal. Aku kagum dengan aksinya.”

__ADS_1


Rasanya Edgar kesal berbicara dengan atasannya akhir -akhir ini. Benar-benar marcello sudah terbutakan oleh perasaan. Bahkan sudut penglihatannya saja sudah rusak sepertinya. Kemana ketua mafia yang kejam dan sangat tidak suka diganggu ini.


__ADS_2