
Oskar terkejut melihat penampilan wanita yang di depannya. Benarkah wanita yang menggunakan gaun bewarna biru abu metali dengan belahan di kakinya. Model gaun Auri dan mahlika memang tidak berbeda. Keduanya keluar dari kamar dengan penampilan yang membuat kedua pria menatap kagum.
“Tutup mulut kalian nanti ada lalat masuk.”Ucap mahlika yang membuat Oskar gelagapan. Sedangkan marcello langsung bisa menyembunyikan kegamumannya. Auri tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya.
“Kalian sudah siap? Ayo kita pergi kalau begitu. Kamu bersama Oskar.” Tunuk Marcello pada Mahlika. Wanita itu berniat menolak perintah kekasih sahabatnya.
“Ikuti saja mahlika. Setidaknya Oskar bisa menjagamu saat kamu bertemu dengan Royce.” Ucap Auri yang membuat mahlika tidak bisa menolaknya.
Kedua pasangan itu memasuki lift. Marcello selalu begandengan tangan dengan Auri. Hal itu membuat Oskar iri melihatnya. Dia mencoba menggapai tangan Mahlika. Bukannya mendapatkan tangan wanita itu. Dia malah merasakan perih pada tanganya akibat pukulan dari tangan mahlika.
“Kamu jangan sentuh-sentuh aku.” Ucap Mahlika dengan tatapan taja, Sedangkan Oskar hanya bisa cemberut pada wanita di sampingnya. Sayangnya hal itu tidak berefek pada mahlika yang langsung mengalihkan tatapannya.
“Ayolah kita pegangan seperti sahabatmu. Apakah kamu tidak merasa ada yang kurang?”ucap Oskar berharap bisa mendapatkan lampu hijau dari wanita di sampingnya.
“Cih kamu pegangan sama orang lain saja sana. Jangan sentuh-sentuh aku.” Ucap mahlika yang membuat Marcello kesal karena keributan dua orang dibelakangnya. Sedangkan Auri menahan tawa melihat nasib Oskar yang harus mendapatkan perlakuan seperti dari sang sahabatnya. Oskar harus lebih bekerja keras untuk bisa berdekatan dengan Mahlika.
“Apakah kalian bisa tidak sehari saja tidak ribut? Kepala aku pusing mendengarnya.” Ucap Marcello.
“siapa yang sedang bertengkar, aku hanya sedang berbincang dengan wanita cantik di sampingku.” Ucap Oskar yang membuat ketiga orang yang berada di lift memutar matanya malas.
“Apakah anda bisa tidak sehari saja tidak mendekati Auri seperti seorang anak itik?” Ucap Mahlika yang membuat marcello kesal. Sedangkan Auri tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa dengan ucapan sahabatnya yang bisa membuat kekasihnya hanya diam dan kesal.
“hahhahahhahah.” Tawa Auri.
“Shit,suka-suka aku berdekatan dengan Auri. Dia kekasihku.” Ucap Marcello bersamaan pintu lift terbuka.
Marcello langsung menarik tangan Auri ke dalam mobilnya yang sudah terparkir rapih. Sedangkan Mahlika menatap sebal pada kekasihnya sahabatnya. Kalau bukan kekasih Auri, Sudah mahlika pastikan pria itu berakhir dengan nama.
“Sudah jangan marah, ayo kita ke mobil. Nona cantik.” Ucap Oskar yang membuat sebulat merah muncul di wajah mahlika. Dia berjalan lebih dulu dari pria di sampingnya. Tentu saja Oskar melihat warna merah yang muncul di pipi mahlika.
__ADS_1
“Tunggu saja mahlika kamu pasti akan jatuh cinta padaku.” Ucap Oskar yang menatap Mahlika yang berjalan menuju mobilnya. Wanita itu membalikkan badannya dna menatap tajam pada Osakar.
“Mau sampai kapan kamu hanya diam saja di sana.” Sindir Mahlika.
Oskar berjalan mendekati Mahlika dengan senyum yang terbit di wajahnya. Beberapa saat mahlika terpesona dengan penampilan pria di depannya. Tapi dia segera membuang pikirannya.
Mahlika tidak sadar kalau Oskar tahu dirinya terpesona. Bahkan Oskar tidak bisa berhenti tersenyum mengingat reaksi wanita yang duduk di sampingnya. Sekarang saja masih Oskar lihat kalau Mahlika sesekali menatapnya.
“Sepertiny kamu sangat suka melihat wajahku.” Ucap Oskar yang membuat Mahlika sadar kalau sudah menatap pria di sampingnya.
“Cih terlalu kepedaan kamu.”
“Jujur saja, kamu terpesonakan denganku.”
“Mana mungkin, sudah sana fokus kendarain mobilnya. Aku belum mau mati sekarang.” Ucap Mahlika yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Hal itu membuat Oskar senang sendiri.
Sedangkan di dalam mobil Marcello. Pria itu selalu memegang tangan Auri walaupun sedang menyetir. Auri tersenyum melihat perlakuan kekasihnya. Dia masih tidak menyangka akan memiliki kekasih seperti marcello.
“ya aku akan berada di sampingmu. Tengan saja.” Ucap Auri pada pria di sampingnya.
“Aku hanya takut akan ada pria yang mengambilmu dariku.” Ucap marcello yang membuat Auri tidak bisa menahan rasa bahagia. Dia merasa sangat dicintai oleh kekasihnya.
“Tenanglah, Auri hanya milik Marcello saja.” Ucap Auri yang membuat pria di sampingnya tersenyum lebar. Dia senang dengan perkataan kekasihnya.
“Marcello juga hanya milik Auri.”
“Tentu saja tidak akan aku biarkan kamu dimiliki oleh wanita lain.”
“Selalu berada di sisiku agar tidak ada wanita yang mendekatiku.” Ucap Marcello yang langsung mendapatkan hormat dari kekasihnya. Dia gemas dengan tingkah Auri. Marcello tidak menyangka Auri yang dulu terlihat dingin. Ternyata wanita yang sangat menggemaskan dan kekanakan.
__ADS_1
“siap kapten.” Ucap Auri.
Marcello langsung mengelus kepala Auri yang membuat wanita itu cemberut. Karena rambutnya jadi acak-acakkan. Tapi Marcello tidak merasa bersalah dengan perbuatannya.
“ih rambut aku jadi berantakan.” Protes Auri pada marcello.
“kamu cantik dalam keadan apapun sayang.” Ucap Marcello dengan diakhiri sebuah kecupan di pipi Auri.
Mobil Marcello sudah terparkir di depan hotel miliknya yang digunakan untuk pesta perayaan perusahaanya. Marcello turun terlebih dahulu, dia membukakan pintu Auri. Semua perlakuan marcello tidak lepas dari tatapan para tamu.
Seorang Marcello yang terkenal dengan sikap dinginnya dan tidak suka berdekatan dengan seorang wanita. Tapi semua itu seperti hanya sebuah rumor saja. Lihatlah seberapa lembutnya Marcello memperlakukan kekasihnya.
Para tamu juga terkejut den terpesona dengan wanita yang dibawa oleh Marcello. Walaupun badannya tidak terlalu tinggi. Tapi terlihat sangat pas untuk marcello. Keduanya pasangan yang serasih dengan penampilan Auri bergaun hitam dan Marcello berjas hitam.
“ayo kita masuk.” Ajak Marcello sambil memberikan tanganya pada Auri untuk dipegang. Auri menerimanya dengan senang hati.
“Tidak usah gugup.” Ucap marcello yang merasakan kalau badan Auri sedikit bergetar. Mungkin kekasihnya sudah lama tidak datang ke pesta seperti ini. Hal itu membuatnya sedikit gugup.
“Tenanglah ada aku.” Ucap Marcello yang membuat Auri bisa menormalkan dirinya.
“Terima kasih Marcello.”
“Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih.” Ucap Marcello dengan lembut.
Seluruh tamu menatap takjub dengan interaksi keduanya. Tapi berbeda dengan seorang pria yang terkejut melihat wanita yang berada di samping Marcello. Orang itu adalah Royce. Target Auri di pesta ini.
Beberapa saat Auri dan Marcello masuk ke dalam ruang pesta. Mahlika dan Oskar ikut masuk yang membuat Royce terkejut. Dia tidak tahu kalau adik tirinya masih hidup. Padahal dia sudah memastikan kejadian itu membuat Mahlika mati.
“kenapa wanita itu masih hidup”ucap Royce dengan wajah yang kesal.
__ADS_1
Mahlika merasakan seseprang sedang menatapnya. Hal itu membuatnya merasa gugup. Oskar yang sadar langsung memegang tangan Mahlika. Entah kenapa saat ini pegangan Oskar bisa menenangkannya.
“Tenanglah ada aku di sampingmu. Aku akan melindungimu.” Ucap oskar yang langsung dianggukkan oleh mahlika. Sebuah senyuman muncul di wajah mahlika yang membuat Oskar senang. Karena dia sudah bisa mendapatkan kartu kuning dari wanitanya.