
Auri menatap gedung di depannya. Ternyata tidak sebesar kantor marcello. Walaupun masih terlihat mewah untuk perkantoran. Dia masuk kedalam gedung dan berhenti di meja resepsionis.
“Permisi mbak.” Ucap Auri.
“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanya resepsionis.
“Saya ingin bertemu dengan pak Royce.” Ucap Auri pada wanita yang langsung menatapnya sinis. Tak aneh perlakuan seperti di dapatkannya. Mungkin dia pikir Auri adalah wanita yang berniat menggoda atasanya.
“Apakah nona sudah membuat janji dengan tuan Royce?”tanya wanita itu.
“Tuan Royce meminta saya untuk datang hari ini sebagai sekretaris. Anda bisa tanya pada tuan Royce sekarang juga.” Ucap Auri yang membuat wanita itu terkejut. Dia merasa bersalah telah berpikir buruk dengan wanita di depannya. Padahal penampilam Auri sekarang terlihat seperti pegawai kantoran. Bahkan pakaiannya lebih tertutup dibandingkan wanita yang berada di meja resepsionis.
“Nona bisa naik lift, lantai tuan Royce berada di paling atas.” Ucap wanita itu dengan sangat sopan. Auri tersenyum tipis melihat perlakuan yang berbeda dari wanita di depannya.
“Terima kasih nona, sebaiknya anda tidak menilai orang dari penampilan.” Ucap Auri sebelum meninggalkan wanita itu. Dia berjalan menuju lift yang tidak jauh dari meja resepsionis. Saat dia berniat masuk, tangannya ditarik oleh seseorang.
“Auri kamu bisa menggunakan lift khusus petinggi.” Ucap Royce sambil menarik tangan wanita itu. Sebenarnya Auri tidak nyaman dengan perlakuan pria itu.
Tanpa mereka sadari ada dua pria yang menatap tajam pada layar yang menampilan Auri dan Royce. Kedua orang itu adalah marcello dan Antara. Keduanya sedang memantau dari sambungan cctv di kantor Royce yang sudah diretas oleh Oskar. Mereka berdua menahan amarah melihat Royce yang dengan berani menyentuh Auri.
__ADS_1
“Dia sepertinya memang harus segera di habisi.” Ucap Marcello.
“Aku setuju denganmu, aku pastikan besok pagi perusahaanya itu sudah hancur.” Ucap Antara yang membuat marcello dan Oskar terkejut. Sedangkan mahlika tidak terlalu peduli meskipun itu adalah perusahaan ayahnya. Dia sudah tidak peduli dengan pria yang memilih wanita lain ketika istrinya berada di ujung hidupnya.
“Kamu gila, itu perusahaan milik keluarga mahlika.” Ucap Oskar yang tidak direspoon apapun oleh Antara. Pria itu tahu kalau perusahaan yang dimiliki oleh Royce adalah milik adik sahabatnya.
“Kenapa kamu menghancurkannya, lebih baik kamu membuat pria itu ditendang dari perusahaanya sendiri. Bukankah itu lebih menyakitkan.” Ucap marcello yang membuat Antara kembali memikirkan ulang rencananya. Apa yang diucapkan oleh sahabatnya sepertinya lebih menarik. Apalagi dia tidak sabar melihat wajah malu dan kesal pria yang dengan lancang mendekati adiknya. Tentu dia lebih memilih sahabatnya yang anjing liar ini menjadi kekasihnya dibanding pria bermuka dua itu.
“Sepertinya itu lebih menarik, aku sudah memiliki beberapa saham di perusahaan. Hanya tersisa saham milikmu dan milik si kecebong itu.” Ucap Antara.
“Kalau begitu kita bisa membuatnya keluar dari perusahaanya sendiri. Tapi kita harus menggunakan kesalahannya yang membuatnya terpojokkan.” Ucap Marcello yang dianggukan oleh sahabatnya. Dia berpikir sama, kalau mereka yang langsung menendangnya. Hanya membuat imejnya dan marcello rusak. Tpai kalau pria itu terbukti bersalah. Pasti banyak perusahaan yang tidak mau lagi berhubungan dengan Royce.
“Kamu benar, aku pastikan malam ini semua barang bukti kita dapatkan. Besok pagi kita adakan rapat pemegang saham. Kamu tidak menggunakan namamu untuk saham di perusahaan pria itu kan?”tanya Antara yang dianggukkan oleh Royce. Dia memang tidak menggunakan namanya secara langsung untuk saham Royce. Dia menggunakan nama dari bawahnya yang memegang kantor cabangnya. Orang itu sangat setia pada Marcello.
“Kalian tidak ingin melihat Auri lagi.” Ucap mahlika dengan nada sinis. Mereka kembali menatap layar. Kedua pria itu tidak lagi bisa menahan emosi. Marcello dan Antara bersamaan memukul meja di depan mereka dengan keras.
“Kalian terlalu fokus dengan rencana menghancurkan pria itu. Tapi Royce sudah melaksanakn renacannya lebih dulu untuk mendekati Auri.” Sindir Mahlika yang semakin saja menambah kobaran api di hati kedua pria itu.
Auri masuk bersama Royce kedalam kantor pria itu. Saat pintu dikunci oleh pria itu, Auri menatap tajam pada Royce. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu. Tapi dia tidak boleh melonggarkan kewaspadaanya.
__ADS_1
“Kenapa kamu kunci Royce?”tanya Auri pada pria itu. Sedangkan Royce membalas dengan senyuman lebar. Dia berjalan mendekati Auri. Tanpa aba-aba pria itu langsung memeluk badan Auri. Hal itu membuat Auti terkejut. Dia mencoba mendorong badan pria itu. Tapi dia ingat saat ini sedang melaksanakan rencannya.
“Aku sangat senang kamu datang ke kantorku hari ini. Kamu semakin cantik saja sayang.” Ucap Royce yang masih memeluk badan Auri. Dia sudah lama menambakana wanita ini. Tapi tidak pernah sekalipun wanita itu menatapnya balik. Bahkan Auri lebih memilih menjauh darinya. Apalagi setelah hilangnya mahlika, wanita itu tidak lagi ingin menemuinya.
“Royce lepaskan pelukannya. Kita tidak semestinya seperti ini. Aku sudah memiliki hubungan dengan Marcello.” Ucap Auri yang membuat pria itu terbakar cemburu. Dia tidak suka mendengar fakta itu. Rasanya dia marah dengan takdir yang tidak memihaknya. Kenapa dia yang sudah lama menyimpan rasa lama pada wanita ini harus kalah dengan Marcello yang baru saja muncul dikehidupan Auri.
“Kenapa kamu masih bersamanya Auri? Aku sudah katakan kalau dia bukan pria yang baik untukmu. Kamu tahu seberapa aku mencintaimu. Jadi tinggalkan kekasihmu yang berengsek itu.” Ucap Royce yang membuat Auri sangat kesal. Tapi dia mencoba mengkontrol wajahnya. Dia tidak boleh terlihat sedang marah pada pria itu.
“Kamu bilang marcello tidak baik, kalau begitu kamu apa Royce. Kamu bahkan tega membunuh adik dari wanita yang katanya kamu cintai ini. Kamu bahkan lebih berengsek dari marcello yang seorang ketua mafia paling berbahaya.” Ucap Auri dalam hati. Tentu dia tidak akan membuka topeng saat ini. Biarkan pria itu senang karena Auri seperti memihak padanya.
“Aku tidak bisa Royce.” Ucap Auri dengan wajah terlihat seperti sedih. Hal itu membuat rasa cemburu muncul di hati Royce.
“Apa kurangnya aku Auri? Aku bisa memberikan segala hal untukmu. “Ucap Royce dengan menggebu-gebu.
“Benarkah?”
“Tentu saja, aku tidak seperti marcello yang dengan tega membunuh adikmu sendiri. Bukankah kita harus memberikannya hukuman.” Ucap Royce pada Auri dengan lembut. Kedua tangannya diletakkan di kedua pipi Auri. Sunggu dia ingin menepis tangan pria itu.
“Benarkah kamu akan membantuk memebrikan hukuman pada pembunuh Aura.” Ucap Auri dengan wajah yang sangat semangat.
__ADS_1
“Tentu saja.” Ucap Royce sambil membawa badan Auri kembali kedalam pelukannya. Senyum sinis muncul di wajah Auri. Dia pikir Auri akan mudah dibohongi oleh pria ini. Tapi dia sekarang dengan mudah melaksanakan rencananya. Pria itu sudah jatuh ditangannya.
“Maaf Royce, tapi orang yang harus membayar semua itu adalah kamu buka marcelloku.” Ucap Auri dalam hati.