Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 106


__ADS_3

Auri menatap kesal pada sahabatnya yang sejak tadi hanya tersenyum sambil menatap jarinya. Bukankah dia semakin menyebalkan setelah Oskar melamarnya. Dia juga belum menceritakan tentang hubungannya sekarang. Dasar Mahlika hanya datang padanya saat sedih saja. Sekarang mana dia ingat sahabatnya.


“Sepertinya hari ini kamu sangat bahagia sampai tidak sadar sudah mendiamkan sahabatmu seharian ini. Kalau kamu hanya ingin menghabiskan waktumu dengan menatap cincinmu itu. Lebih baik kamu pulang saja.” Ucap Auri dengan sinis yang membuat Mahlika sadar dari lamunannya. Dia lupa alasannya pergi ke rumah sakit.


“Maaf Auri, aku masih tidak menyangka.” Ucap Mahlika yang kembali menatap cincin yang melingkar di jarinya. Sedangkan Auri sudah tidak kuat dengan tingkah gila sahabatnya ini.


“Aku sudah tahu kamu bertunangan dengan Oskar, Jadi pergi dari kamar inapku. Aku sedang tidak ingin wanita gila sepertimu.” Ucap Auri dengan wajah yang masih sama. Sedangkan mahlika dengan cueknya malah tertawa keras. Dia benar-benar seperti orang gila. Tidak ada yang lucu kenapa di malah tertawa. Apakah cincin yang diberikan kekasihnya itu bisa membuat orang waras jadi gila jika digunakan.


“kamu benar-benar gila setelah menggunakan cincin itu. Sebaiknya kamu membukannya atau membuangnya. Aku takut Oskar menyisipkan sesuatu gaib yang membuatmu jadi gila seperti ini.” Ucap Auri yang membuat mahlika sekarang yang kesal. Bagaimana bisa temannya mengatakan seperti itu. Apakah dia tidak senang melihat sahabatnya sendiri sedang bahagia. Dasar Auri ini selalu saja menyebalkan.


“kamu menyebalkan.” Ucap Mahlika pada sahabatnya yang membuat Auri melotot. Bukankah orang yang menyebalkan itu dirinya sendiri. Datang ke kamar inapnya bukan menanyakan keadaannya. Dia malah hanya menatap cincin dengan senyuman yang menyeramkan.


“Apakah aku perlu membuatkan rumah kaca untukmu?”tanya Auri yang membuat mahlika terkejut. Dia tidak mengerti kenapa sahabatnya ingin membuatkan sebuah rumah kaca untuknya.

__ADS_1


“Kenapa kamu membuatkan rumah kaca untukku?”tanya balik mahlika dengan wajah polos yang membuat Auri ingin membuka isi otak sahabatnya itu. Dia benar-benar semakin bodoh jika bersama dengan Oskar. Beruntungnya kakaknya tidak jadi bersama Mahlika. Dia tidak terbayang kakak tampannya menjadi telmi seperti sahahabatnya. Membayangkan saja sudah mengerikan sepertinya. Apalagi melihat keponakannya seperti mahlika. Sungguh sebuah bencana untuk keluarga Alaksana.


“Biar kamu ngaca. Kamu yang menyebalkan. Datang ke kamar inapku bukannya bertanya keadaanku. Tapi malah duduk dan menatap cincinmu itu. Dengan wajah yang menyeramkan.” Ucap Auri yang membaut Mahlika tersenyum lebar. Sedangkan Auri tidak mengerti perubahan sahabatnya. Dia bisa menebak kalau sahabatnya pasti memikirkan hal lain.


“kamu cemburukan karena belum dilamar oleh marcellokan? Kata aku juga apa sebaiknya kamu tidak bersama dengan pria itu.” Ucap Mahlika yang membuat Auri terkejut. Kata siapa dia cemburu dengan wanita di depannya. Dia merasa biasa saja. Tidak ada rasa cemburu karena sahabatnya sudah dilamar.  Selain itu buat apa iri dengan pertunangan karena prianya cemburu. Sangat tidak menarik untuk membuatny iri. Sayangnya hal itu berpengaruh pada pria lain.


Srek.


Pintu kamar inap Auri terbuka dengan keras. Berdiri pelaku yang sudah membuat kedua wanita itu terkejut. Orang itu adalah Marcello yang dengan wajah kesal pada Mahlika. Entah sejak kapan pria itu sudah tiba di rumah sakit. Padahal tadi pagi dia bilang harus bekerja sampai malam. Karena banyak pekerjaan yang terbengkalai beberapa hari ini.


Dia sudah merancang lamaran yang megah dan romantis. Tentu hanya beberapa orang saja yang tahu. Tapi kedua wanita di depannya tidak dia beri tahu. Alasannya mahlika tidak diberitahu. Karena mulutnya itu seperti ember bocor. Dia bisa begitu saja membocorkan rencannya dan dia tidak ingin itu terjadi. Setelah segara persiapan yang dirinya buat beberapa hari ini harus hancur karena sahabat kekasihnya itu.


“Aku hanya bilang kalau kamu pria yang tidak baik. Lihat aku sudah di lamar oleh oskar padahal kalian pacaran lebih dulu.” Ucap sombong mahlika yang membuat Auri benar-benar ingin membuang sahabatnya itu. Dia tidak ingin mendengar kata-kata tidak penting itu. Sangat membuang-buang waktunya saja.

__ADS_1


“Kamu bangga dengan lamaran yang terjadi karena kamu ketahuan selingkuh.” Ucap marcello yang membuat darah mahlika mendidih. Dia selalu sangat menyebalkan. Beruntungnya dia adalah kekasih sahabatnya. Kalau bukan sudah dia buang sejak awal. Dasar pria menyebalkan ini.


“kamu tidak perlu mengumpat, Oskar bawa kekasihmu itu.” Ucap Marcello pada sahabatnya yang sedang berdiri di belakangnya. Tanpa menunggu Oskar berjalan mendekati Mahlika. Wanita itu malah lebih dulu berjalan mendekati kekasihnya. Tanpa tahu malu keduanya saling berpelukannya. Seakan-akan mereka sudah berpisah selama berabad-abad. Tentu saja hal itu membuat Marcello dan Auri kesal sendiri  karena harus melihat adegan drama kedua sahabatnya itu.


“kalian sebaiknya pergi dari sini. Kalau mau buat drama gratis. Lakukan di tempat lain selain di kamar inapku.” Ucap Auri dengan wajah yang sangat kesal.


“baik beb, kamu harus sabar karena tidak mempunyai kekasih yang romantis.” Ucap Mahlika sebelum meninggalkan sahabatnya itu. Sedangkan Auri dan marcello sudah sangat marah dengan wanita itu. Apakah dia tidak sadar dengan ucapannya yang sangat menyebalkan.


Mereka tidak perlu mengumbarkan kemesraan mereka di depan banyak orang. Cukup di depan orang terkasih saja. Marcello dan Auri memang tipe orang yang tidak ingin mengumbarkan hubungan mereka. Karena itu Mahlika dan orang lain jarang melihatnya. Mungkin hanya Auri saja yang melakukan itu. Sedangkan Marcello terkadang dia akan menjadi kekasih yang suka pamer. Tapi dia tidak sesering Oskar dan Mahlika yang menyebalkan itu.


“sayang.” Ucap Marcello dengan wajah merajuk. Sedangkan Auri tersenyum gemas pada bayi besarnya. Dia merentangkan tangannya. Pria itu langsung berjalan kedalam pelukan kekasihnya.


Marcello sangat merindukan kekasihnya. Karena itu dia mengerjakan tugasnya dengan sangat cepat. Dia tidak ingin lama-lama meninggalkan Auri sendirian di rumah sakit. Tentu saja dia tidak bisa mengandalkan sahabat kekasihnya yang menyebalkan itu. Tidak ada yang bisa diharapkan dari mahlika.

__ADS_1


“Aku rindu kamu.” Ucap Marcello yang membuat Auri tidak bisa menahan untuk tertawa. Dia sangat gemas dengan tingkah manja kekasihnya. Marcello tidak pernah menunjukkan sikap ini di depan orang lain. Tentu saja hal itu bisa merusak imejnya yang terkenal dingin dan kejam.


“kalian berdua menggelikan.” Ucap Antara yang entah sejak kapan sudah ada di ruang inap Auri. Tapi hal itu membuat kedua orang yang sedang berpelukan bersemu merah. Karena mereka terciduk untuk kesekian kali di depan Antara.


__ADS_2