Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 119


__ADS_3

Hari yang ditunggupun tiba. Sejak pagi hari marcello sudah bangun dari tidur. Padahal biasanya dia selalu bangun siang kalau tidak dibangunkan sang mom untuk ibadah pagi. Dia memang kembali mendekati hatinya pada sang pencipta setelah bertemu dengan Auri.


Mungkin hal yang dilakukannya tidak benar. Sebagai seorang umatnya dia harusnya tidak dipengaruhi oleh siapapun dalam beribadah. Tapi bisa dikatakan kalau keberadaan Auri membuat keyakinan pria itu yang sempat kendor kembali sedikit demi sedikit. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua marcello sangat senang dengan anaknya yang semakin menjadi orang baik setelah berhubungan dengan Auri.


Setelah menyelesaikan ibadahnya dipagi hari. Marcello segera menyiapkan dirinya untuk menggunakan pakaian dalam acara ijab kobul. Sebenarnya dia merasa sangat gugup. Bahkan tadi malam saja dia tidak bisa tidur karena takut melakukan kesalahan di hari pernikahannya.


Dia ingin ijab kobulnya dengan Auri hanya berjalan satu kali saja. Tidak ingin terjadi kesalahan dalam setiap pelampalannya. Hal itu yang membuat seorang marcello gugup.


Padahal dia sudah biasa memenangkann segara jenis tender tapi dalam hal ijab kobul dia merasa sangat gugup. Hal itu membuat sang mom tidak bisa menahan tawan melihat sikap anaknya yang berubah. Kemana sikap sombong sang anaknya yang diturunkan dari suami tampannya. Sepertiny hal itu tidak berfungsi kalau dalam hal percintaan. Ayah dan anak ternyata memang sama.


“kamu gugup marcello, padahal biasanya kamu selalu percaya diri dalam setiap hal yang kamu lakukan. Kamu selalu yakin bisa melakukan semua hal dengan sempurna.” Sindir mom pada anaknya. Sedangkan dad hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kenak-kanakan sang istri. Bagaimana bisa seorang ibu malah asik mengejek anaknya yang sedang demam nikah ini.


“kamu harusnya menenangkan marcello bukannya malah membuat anakmu semakin gugup saja.” Ucap dad yang tidak dihiraukan oleh sang istri.


“kapan lagi mom bisa melihat anak kita yang biasan angkuh berubah menjadi anak Sd yang sedang gugup di hari pertama. Bahkan saat dia baru masuk sekolah saja marcello tidak segugup ini.” Ucap mom yang membuat marcello menatap kesal sang ibu. Apakah ibunya itu tidak sadar kalau anaknya itu sedang gugup karena takut melakukan kesalahan. Kalau ada kesalahankan bisa-bisa dia gagal menikah dengan wanita yang dicintainya. Sebenanrnya kapan momnya ini jadi manusia peka pada sesama.


“kamu ini, setiap pria yang akan menikah pasti seperti ini. Kecuali pria itu tidak menaruh hati pada mempelai wanitanya.” Ucap dad yang dianggukkan oleh marcello. Apa yang diucapkan ayahnya memang benar.


“kamu sok tahu ah sayang, masa seluruh pria gugup saat akan ijab kobul. Kalau begitu kamu juga seperti itu saat kita menikah. Dad menganggukkan kepala. Tidak ada yang perlu ditutupi bukan. Dia memang seperti marcello saat menikah istrinya ini.

__ADS_1


Dasar saja istrinya ini tidak sadar kalau mempelai prianya sedang gugup. Apalagi sekarang istrinya sedang terkejut sambil meatanya melotot seperti akan loncat.


“Biasa ajah mom, itu mata kaya mau keluar ajah.” Sindir marcello yang berakhir mendapatkan sebuah cubitan di tangan kananya. Selalu saja cubitan momnya itu sangat menyakitka.


“mom aku mau nikah kok di siksa sih. Lihat jadi merahkan tanganku.”ucap marcello yang tidak diperdulikan sang ibu. Wanita tua itu lebih memilih menarik tangan suaminya menuju mobil. Sedangkan mempelai pria dibiarkan begitu saja.


“Sebenarnya yang nikah itu aku atau mereka sih.” Umpat Marcello yang mengikuti langkah kedua orang tuannya. Sedangkan kedua orang tua itu hanya bisa menahan tawa melihat sikap anaknya yang sedang merajuk.


“kapan lagi ya kita melihat marcello merajuk.” Ucap mom yang dianggukkan oleh sang suami.


“mungkin kita akan sering melihatnya sayang. Apalagi anak kita itu sangat manja pada menantu kita nanti.” Ucap dad yang dianggukkan oleh mom.


Tidak berbeda jauh dengan Marcello. Auri juga seperti itu. Bedanya dia harus bangun pagi karena paksaan sang mami untuk bersiap. Tentu saja dia sudah ibadah pagi tapi saat akan tidur lagi. Suara menggelegar datang membuatnya dia harus mengucapkan selamat tinggal pada tempat tidurnya menyapanya itu.


Rasanya lehernya sudah pegal setelah hampir satu jam wajahnya dirias dan rambutnya sedang ditata. Beberapa kali dia harus menahan kantung yang menyapanya. Tentu bukan hal yang mudah semua itu karena beberapa kali dirinya mendapatkan omelan dari mbak tukang rias maupun maminya yang berada di sampingnya. Maminya juga sednag dirias oleh seorang mbak yang dipesan oleh marcello.


“Kamu itu tidur mulu lagi persiapan buat gadang nanti malam.” Sindir kakaknya yang entah kapan muncul. Rasanya seperti jalangkung saja kakaknya itu datang diundang pulang tak di antar.


“Persiapan apa memang? Ngeronda?”tanya Auri pada kakaknya yang hanya menatapnya dengan senyuman misterius.

__ADS_1


“ya seperti ngeronda tapi ada rasanya.” Ucap kakaknya yang membuat Auri kesal sendiri mendengarnya. Sedangkan para perias hanya menahan tawa. Maminya menggelengkan kepala melihat tingkah anak sulungnya yang sedang menggoda adiknya itu.


“Rasa apa? Siapa juga yang mau ngeronda. Kakak ajah yang ngeronda sana.” Ucap Auri sambil melempar tisu yang dipenggangnya ke wajah kakanya. Tapi dengan mudah dihindari.


“Sekarang ajah pura-pura polos nanti kalau sudah sekali mah. Gak tahu malu nanti kamu.” Ucap kakaknya yang langsung kabur sebelum ditimpuk oleh kakaknya yang menyebalkan. Sedangkan mami hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya yang masih seperti anak kecil.


Auri terdiam saat melihat pantulan dirinya di cermin. Walaupun wajahnya sudah cantik meskipun tanpa make up. Tapi sekarang aura cantik yang dimiliki oleh Auri lebih kentalan. Bahkan dia tidak menyangka kalau dirinya akan secantik ini.


“kamu cantik sayang.” Ucap ibu mertuanya yang masuk ke dalam ruang riasanya. Dia akan mengantarnya pada marcello yang sudah mengucapkan ijab kobul dengan sekali tarikan nafas. Auri saja hingga terdiam saat setiap kata yang dilapalkan oleh pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.


“Pasti marcello akan terpesona melihat kecantikanmu ini.” Ucap mertua Auri yang membuatnya tersipu malu.


“Mami bisa saja.” Ucap Auri dengan malu yang membuat ibu mertuanya maupun maminya tertawa gemas melihat tingkah sang pengantin wanita.


“ayo kasian marcello sudah menunggumu.” Ucap ibu mertuanya.


Satu kata yang untuk Auri saat marcello melihat istrinya masuk ke dalam ruang ijab kobul. Cantik. Walaupun Auri setiap hari selalu terlihat cantik. Tapi hari seluruh kecantikannya seakan berkumpul pada istirinya.


“kamu sangat cantik sayang.” Ucap Marcello yang membuat Auri tersipu malu saat mendengarnya.

__ADS_1


“Kamu juga tampan.” Ucap Auri dengan senyuman lebar pada pria yang sudah menjadi suaminya ini. Dia masih tidak menyangka akan menikah dengan pria yang dulu dirinya hindari. Kalau diingat lagi pertemuan mereka sangat lucu dan sangat berkesan untuk keduanya.


__ADS_2