
Setelah kepergian wanita itu, Tidak lama mahlika datang bersama dengan Oskar. Wajah Auri masih sangat buruk. Ada rasa kesal tapi tidak bisa dirinya jabarkan. Karena dia sangat tidak suka dengan kelakuan sahabatnya yang suka mengumbar kemesraan.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?”tanya Mahlika saat melihat tatapan tajam dari sahabatnya itu. Walaupun dia sudah biasa mendapatkan tatapan seperti dari seorang Auri. Sahabatnya itu memang bukan orang yang suka menyembunyikan ketidaksukaannya jika sedang bersama mahlika maupun Lyra.
“Kamu harusnya sadar kesalahan yang sudah kamu perbuat mahlika.” Ucap Lyra yang entah sejak kapan sudah berada di belakang mahlika dan Oskar.
“kamu nyambu ajah padahal gak ada kabel juga.” Ucap mahlika pada Lysra.
“Setidaknya aku tidak seperti orang yang dengan tidak tahu dirinya bermesraan di acara orang lain.” Sindir Lyra yang membuat mahlika menatap tajam sahabatnya itu. Sedangkan Lyra malah mengalihkan tatapannya.
“Apa maksudmu Lyra?”tanya mahlika pada sahabatnya itu.
“Sudahlah kalian selalu bertengkar saja.” Ucap Auri yang sudah bisa menormalkan dirinya lagi. Lagi pula tidak ada gunanya menatap tajam sahabatnya yang tidak akan sadar maksud tatapannya itu. Mahlika bukan orang yang peka dengan sekitarnya.
“Dia yang pertama membuatku kesal.” Tunjuk mahlika pada Lyra. Sedangkan Auri dan marcello menatap jengah pada mahlika. Rasanya hidup mereka penuh keributan kalau ada mahlika di sekitar mereka. Beruntungnya wanita itu tidak menjadi kakak ipar Auri maupun Marcello. Setidaknya hidup mereka tidak hancur setiap bertemu wanita itu.
“Bisakah kamu berhenti dengan sikap kanak-kanakan kamu itu mahlika.” Ucap Auri dengan nada yang dingin. Tatapan tajam yang kembali muncul mengarah pada Mahlika. Wanita itu diam tidak berniat membantah karena dia tahu akibat dari amarah sahabatnya muncul.
__ADS_1
“Mari kita berfoto. Setelah itu kamu pergi dari pestaku.” Ucap marcello sambil menunjukkan mahlika yang menatap tajam suami sahabatnya. Sepertinya sampai kapanpun hubungan marcello dan mahlika tidak akan pernah baik. Karena tidak ada satupun dari mereka yang berniat mengalah.
“Dasar pria ini, untungnya dia suami sahabatku.” Umpat mahlika yang masih bisa di dengar oleh orang sekitarnya.
“Emangnya kamu berniat melakukan apa kalau aku bukan suami dari sahabatmu.” Ucap marcello dengan tatapan tajam yang membuat mahlika ciut sekarang. Bagaimanapun kekuasaan marcello tidak bisa diremehkan.
“Cih beraninya ngomong saja.” Ucap marcello yang membuat mahlika menatap tajam tapi tidak melakukan apapun. Dia memang tidak ada keberanian untuk melawan marcello. Sebelum bertanding saja dia akan kalah lebih dulu.
“Kalian tersenyum dan setelah itu enyah dari pestaku kalau hanya ingin membuat kerusuhan.” Ucap Auri yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. Tentu saja hal itu membuat wajah marcello senang karena dibela.
Setelah melakukan beberapa kali pemotretan tentu saja banyak perdebatan yang terjadi akibat si tukang rusuh. Siapa lagi kalau bukan mahlika. Acara foto-foto yang harusnya berlangsung cepat menjadi sangat lama. Tidak ada yang berniat untuk memberhentikan wanita itu. Sampai Auri mengeluarkan taringnya yang membuat mahlika memilih kabur.
Berpindah ke luar dari pesta pernikahan Auri dan marcello. Seorang pria memilih untuk duduk di salah satu kursi santai yang menghadap kolam berenang di depannya. Dia juga menghisap sebuah benda yang berisi nikotin. Sekarang dia membutuhkan sesuatu yang menenangkannya. Beberapa kali orang menanyakan pertanyaan yang sama tentu saja membuat seorang Antara jengah.
“Sepertinya anda sedang banyak pikiran.” Ucap seorang wanita yang entah sejak kapan menatap Antara yang sedang menenangkan diri di tempat sepi. Dia awalnya hanya ingin mengamati Antara dari jauh saja. Tapi dia tidak bisa menahan setelah beberapa batang rokok yang sudah habis dihisap oleh pria itu.
“Sejak kapan kamu ada di sini? Kamu tahu aku tidak tertarik dengan tawaranmu.” Ucap Antara pada wanita itu.
__ADS_1
“Aku tidak berniat membicarakan hal itu sekarang. Bukankah aku tidak perlu lagi menanyakan jawaban anda. Karena aku sudah tahu anda pasti akan menolaknya. Selain itu tidak baik terlalu banyak menghisap rokok.” Ucap wanita itu yang langsung merebut putung rokok dari tangan Antara.
“Hei.” Protes Antara pada wanita yang tanpa izin merebut rokoknya. Sebenarnarnya Antara bukan orang yang suka ternggelam dalam masalah dengan menghabiskan rokok untuk menenangkan dirinya. Tapi sejak patah hatinya rokok menjadi temannya. Dia tidak ingin menyentuh minuman beralkhol karena hal itu akan membuatnya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia tidak ingin menyesal kalau terjadi hal yang tidak bisa diperkirakan.
“nona Auri pasti tidak suka melihat anda merokok. Sebaiknya ada mencari cara lain untuk mengalihkan pikiran anda itu. Mungkin dengan olahraga atau berlibur ke suatu tempat.” Ucap Wanita itu yang tanpa izin sudah duduk di samping Antara.
Dia memilih melihat langit malam dibandingkan menatap pria di sampingnya. Karena dia juga tidak memiliki ketertarikan pada pria itu juga. Sejak awal ajak pernikahan mereka tanpa ada cinta yang melandasinya.
“Sebenarnya apa alasanmu mengajakku menikah?”tanya Antara pada wanita yang sudah beberapa hari ini mengganggunya dengan ajakan pernikahan. Tentu saja dia jengah dengan hal itu. Walaupun saat sedang di kantor wanita yang bernama Kaila.
“Bohong kalau aku jatuh cinta pada pandang pertama dengan anda dan meminta menikah karena cinta yang tiba-tiba muncul. Aku hanya membutuhkan seorang suami untuk merebut seluruh harta keluargaku dari orang yang berniat jahat. Walaupun aku berharap menemukan suami yang bisa bersama hingga tuhan memisahkan kami.” Ucap Kaila sambil menatap langit malam yang terlihat sangat indah. Ternyata dia tahu kenapa pria di depannya menghabiskan waktu di tempat ini. Karena pemandangan langit malam sangat indah dari tempat ini.
“Kenapa kamu tidak mencari pria lain malah memintaku menjadi suamimu. Kamu pikir aku tidak tahu niatmu sebenarnya.” Ucap Antara dengan tatapan tajam pada wanita di sampingnya.
Kaila menatap pria di sampingnya dengan senyuman yang muncul. Dia tidak tersinggung dengan ucapan pria itu. Dia sadar wanita seperti dirinya pasti banyak. Kebanyakan dari mereka mengejar pria di sampingnya karena kekuasaan dan harta yang miliki seorang antara.
“Aku benar-benar tidak tertarik dengan harta.” Ucap Kaila yang membuat senyuman tipis di wajah Antara. Bukan senyuman kebahagian atau semua tanda ramah. Tapi seperti senyuman mengejek Kaila.
__ADS_1
“Kalau kamu bilang tidak tertarik harta. Kenapa kamu ingin ikut memperebutkan harta keluargamu itu. Kamu wanita munafik ternyata dan aku tidak suka wanita sepertimu ini.” Ucap Antara pada Kaila yang tidak sadar melukai perasaan wanita itu.