
Auri merasakan sakit pada bagian lehernya. Saat dia membuka matanya sebuah tempat yang tidak pernah dikenali. Sebuah kamar dengan dominasi hitam dan abu selain itu ukurannya 3 kali lipat dari kamarnya di apartement. Auri belum sepenuhnya sadar. Mencoba mengingat hal yang terjadi padanya sebelumnya.
Sekarang Auri ingat saat sedang melawan marcello. Ketua mafia itu memukul tungguk lehernya. Pantas saja ada rasa sakit pada bagian itu. Auri turun dari tempat tidur. Dia mencoba membuka pintu ternyata tidak terkunci.
Ternyata keberuntungan sedang memihak padanya. Apalagi tempat ini sangat sepi. Dia tidak melihat pelayan hilar mudik melakukan kegiatannya. Auri berjalan menuju pintu utama sambil sesekali melihat sekitarnya takut-takut ada orang yang datang.
Saat Auri baru saja ingin membuka pintu untuk keluar dari rumah ini. Suara yang menggema dan sangat dirinya kenali. Suara dari pria yang sudah membawanya ke tempat ini.
“Kamu mau kemana? Urungkan niatmu untuk kabur karena hal itu tidak akan terjadi.” Ucap marcello yang sedari tadi memperhatikan Auri. Tentu saja dia sudah menduga gadis kecilnya akan mencoba kabur.
Tapi marcelllo tidak akan pernah membiarkan mainannya pergi dari pandangannya. Dia belum menikmati petunjukkan yang disuguhkan oleh gadis kecil di depannya. Selain itu banyak hal yang ingin marcello tahu dari sosok Auri. Gadis kecil yang sangat berani menantang seorang marcelli yang merupakan ketua mafia.
Beruntung untuk Auri dia adalah adik dari sahabatnya. Marcello tidak akan membunuh gadis kecil itu. Dia hanya akan sedikit bermain dengan adik sang sahabat. Bukankah menarik untuk membuat sahabatnya kesal saat tahu adik yang dicintainya berada di tangannya.
Tapi dia tidak akan menghubungi antara dalam waktu dekat ini. Marcello akan menggali dulu alasan gadis kecil ini mencuri barangnya. Selain itu marcello ingin memberikan peringatan seberapa bahaya tindakannya saat itu.
“ benarkah? Aku pasti bisa kabur dari tempat ini. Aku sudah pernah kabur sekali dari tempat ini tentu saja tidak mudah untuk kedua kalinya.” Ucap Auri sambil mencoba membuka pintu yang sayangnya terkunci.
Auri melihat sekitarnya, mungkin ada jalan lain untuk kaburnya. Saat itu dia melihat jendela di samping pintu rumah ini. Walaupun pilihannya saat ini gila tapi tidak ada cara lain.
“Janngan berbuat gila.” Peringatan marcello yang melihat senyum tipis dari gadis di depannya.
“Kalau aku tidak gila mungkin tidak keberanian untuk menyusup tempat ini.” Bersamaan Auri menendang jendela kaca dengan kakinya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat kaki mengeluarkan darah yang tidak sedikit. Tapi Auri tidak berhenti kerena luka yang diderita. Hasil dari tendangan Auri memberikan jalan untuk tubuhnya melewati jendela itu.
Marcello terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh gadis kecil itu. Dia tidak menyangka Auri akan berbuat nekad hingga memecahkan jendela menggunakan kakinya. Apalagi melihat beberapa serpihan kaca menancap di kaki wanita itu. Marcello marah dengan perbuatan Auri.
“EDGAR kejar wanita gila itu jangan sampai lolos. Bahkan jika harus menggunakan obat bius untuk memberhentikannya.” Ucap marcello.
Edgar langsung menghubungi seluruh bawahannya untuk mengamankan Auri. Dia tidak habis pikir dengan kegilaan kakak pacarnya. Dia terkejut seperti marcello ternya gadis di depannya sangatlah berbahaya. Bahkan gertakan marcello membuatnya berhenti mencari cara untuk kabur.
Akhirnya marcello mengejar Auri. Entah perasaan apa yang dirasakannya. Saat ini dia merasa khawatir dengan gadis kecil gila itu. Dia marah karena Auri dengan senang hatinya melukai tubuhnya hanya untuk bisa kabur dari kediamannya.
“Tidak akan aku biarkan kamu melakukan hal gila lagi Auri.” Gumam marcello.
Saat marcello sampai diperkarangan rumah. Dia melihat Auri yang sedang bertarung dengan bawahannya padahal beberapa jam lalu dia sudah kelelahan karena melawan Edgar. Auri tidak menangis atau meringis karena luka di kakinya yang terus keluar darah.
Kenapa gadis di depannya tidak memperdulikan dirinya sendiri. Walaupun dia bisa kabur tapi luka itu juga bisa membuatnya dalam bahaya. Bagaimana kalau impeksi pada lukanya. Hal itu yang sedang melintas di pikiran marcello.
“Berhenti.” Teriak marcello.
Seluruh bawahan marcello menjauh dari Auri. Auri terdiam karena terkejut mendengar teriakan marcello. Tapi saat dia sadar kalau ada kesempatan untuk kabur. Auri berlari walaupun dengan kaki yang pinjang dan badan yang sakit-sakit.
Tapi usahanya pupus saat dengan mudah marcello menghadangnya. Auri sudah siap untuk menyerang pria di depannnya. Beberapa serangan Auri dengan mudah dihindari oleh marcello. Saat dia menendang marcello dengan kaki yang tidak terluka. Ternyata kakinya tidak bisa menahan beban tubuh. Badan Auri hampir saja mencium tanah jika marcello tidak menarik tangannya.
Tanpa banyak bicara marcello langsung membawa tubuh Auri. Tentu saja gadis kecil itu memberontak dan beberapa kali memukul punggu marcello. Saat ini badan Auri seperti karung beras yang dipanggul oleh marcello.
__ADS_1
Pria itu sama sekali tidak memperdulikan pukulan Auri. Dia tetap berjalan ke dalam rumah. Semua adegan itu dilihat oleh bawahan marcello maupun Edgar. Mereka tidak menyangka dengan tindakan bosnya. Bagaimana tidak marcello untuk kedua kalinya memperdulikan Auri. Walaupun Auri dibawa seperti karung beras tapi pelukaan marcello pada Auri terbilang hal yang luar biasa. Karena seorang marcello tidak pernah mau bersentuhan atau berdekatan wanita.
“Edgar panggil dokter sekarang juga.” Ucap marcello sebelum meninggalkan bawahannya dan Edgar yang sedang menatap tidak percaya dengan sang bosnya.
“LEPASKAN AKU HEY. LEPAS AAAAAAAAAH.” Teriak Auri sangat keras yang membuat telinga marcello sedikit mendenging.
“Diamlah, jadi anak gadis yang baik untuk kali ini. Setidaknya hingga lukamu sembuh.” Ucap marcello yang tidak sadar berbicara lembut pada Auri.
“Aku lebih terluka dan bisa terbebas darimu. Sekarang lepaskaku.” Ucap Auri yang masih memukuli marcello yang sama sekali tidak terasa oleh pria itu. Dia merasa pukulan Auri seperti sebuah pijitan.
“Diamlah. Kamu harus mendapatkan hukuman karena telah masuk ke dalam kediamanku dan mencuri barangku.” Ucap marcello yang sedang menaikki tangga saat itu Auri sedikit pusing karena melihat keberakang secara terbalik.
“Aku bisa mengembalikan barangmu itu.” Ucap Auri yang terbata-bata saat mengingat isi barang yang membuat matanya tidak suci lagi. Rasanya dia ingin sekali membakar marcello karena isi barang milik pria itu.
“Aku tidak membutuhkannya. Kesalahanmu adalah menyusup ke kediaman ketua mafia black knife. Kamu tidak tahu rumor yang beredar tentangku.”
“Tidak emang semenyeramkan kamu huh. Aku tidak takut sekarang lepaskan aku.” Ucap Auri.
Marcello tidak menjawab ucapan Auri. Dia melemparkan badan Auri ke tempat tidur yang tadi digunakan Auri berbaring. Auri terkejut saat merasakan beberapa bagian badannya yang memar saat bersentuhan tempat tidur.
“bisa tidak kamu pelan-pelan huh.” Ucap Auri dengan nada yang sangat kesal.
Tanpa sadar Auri sudah tidak berbicara dingin saat berdekatan marcello. Auri seperti sedang berbicara bersama sang adik. Tidak ada intonasi mengancam lawan bicara. Sekarang hanya seperti seorang gadis yang sedang merajuk.
__ADS_1
“Diam dan berbaringlah beberapa menit lagi dokter akan datang jangan coba-coba kabur.” Ucap marcello yang membuat wajah kesal pada Auri. Tapi pria itu malah tersenyum tipis saat melihat wajah lucu mainannya.
“Kamu memang mainan yang menarik.” Gumam marcello.