Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 116


__ADS_3

Marcello dan Auri tiba di butik. Kedua ibu mereka sudah hadir di tempat itu lebih dulu. Terlihat jelas kalau mereka lebih antusias dibandingkan orang yang akan menikah. Saat Auri baru masuk saja, tangannya langsung  ditarik untuk masuk ke dalam ruang ganti. Sedangkan Marcello memilih untuk melihat jas yang akan digunakan untuk pesta pernikahan mereka.


Sedangkan Auri hanya bisa membuang nafas kasar saat melihat kedua wanita tua yang dengan antusias memintanya untuk mencoba seluruh gaun. Sekarang dia membutuhkan bantuan untuk bisa kabur dari ini. Kenapa untuk memilih gaun pernikahan saja harus seribet ini.


“Kamu harus coba semuanya.” Ucap mami Auri dengan wajah yang antusias. Sedangkan Auri hanya bisa menerimanya saja. Tidak ada niat untuk protes. Karena dia tidak ingin mendengar omelan dari sang ibu.


Dia dibantu dengan para pelayan untuk menggunakan gaun yang dipilih oleh sang ibu. Sebenarnya dia tidak menyukainya karena terlalu terbuka. Apalagi bagian depannya memperlihatkan sebagain dadanya. Bukankah ini terlalu terbuka. Semoga saja marcello berpikiran sama dengannya.


Beberapa saat kemudian, Auri keluar dari ruang ganti. Marcello terdiam saat melihat penampilan kekasihnya. Satu hal yang dia bisa katakan kalau penampilan kekasihnya sekarang sangat indah. Tapi dia tidak suka dengan gaun yang mempertontonkan sebagain badan wanitanya.


“Ganti.” Ucap Marcello yang dianggukkan dengan Auri. Wajahnya saja tidak terlihat keberatan dengan permintaan kekasihnya.


“Aku juga berpikir seperti itu.” Gumam Auri  yang masih terdengar oleh marcello. Pria itu tersenyum. Tentu dia tahu kalau kekasihnya tidak nyaman dengan penampilan saat ini.


Marcello tidak akan membiarkan pria lain menikmati keindahan tubuh wanitanya. Hanya dirinya saja yang boleh melihat itu. Dia pastikan akan memberikan pelajaran bagi siapapun yang menatap badan wanitanya dengan lapar.


“Anak itu terlalu possesif. Padahal penampilan sudah sangat indah. Mami saja suka.” Ucap ibu dari kekasihnya. Sedangkan Auri lebih baik diam. Biarkanlah kekasihnya yang akan mendapatkan omelan dari kedua wanita itu.


Auri mencoba gaun kedua, memang depannya tertutup tapi punggung tepampang dengan jelas. Bukankah gaun ini terlalu sexy dengan menampilkan hampir seluruh punggung Auri. Tapi dia tidak berani menolak pilihan dari calon mertuannya. Ternyata kedua wanita tua itu memiliki kesukaan yang sama yaitu gaun terbuka.

__ADS_1


Marcello tersenyum saat melihat Auri keluar dengan gaun yang menutupi bagian depannya. Tapi dia sadar kalau wajah Auri terlihat sangat buruk meskipun senyuman itu tidak hilang. Dia mencoba mencari alasan yang membuat Auri seperti dalam keadaan yang buruk.


“Aku suka gaun kamu.” Ucap Marcello yang membuat wajah Auri semakin ditekuk. Wanita itu memilih untuk memutar badannya. Saat itu marcello terkejut melihat punggung yang terpampang jelas. Dia merasa matanya hampir keluar dari tengkoraknya.


Dia kesal karena dua gaun yang telah dicoba oleh kekasihnya selalu memperlihatkan bagian badan Auri. Apalagi sekarang punggung putih auri terpampang sangat jelas. Dia tidak rela punggung indah itu menjadi tontonan para pria belang yang akan hadir di pestanya.


“Ganti, kamu tidak bisa memilih gaun dengan benar.” Ucap Marcello yang malah mendapatkan tatapan tajam dari kedua wanita tua yang tersinggung.  Tanpa sadar dia sudah membangun singa tertidur.


Sedangkan Auri hanya bisa tersenyum tipis. Dia berharap kedua wanita tua itu tidak memberikan hukuman yang berat untuk kekasihnya. Sedangkan marcello masih tidak sadar sedang ditatap tajam oleh ibunya dan calon mertuannya.


“apa yang maksud kamu katakan?”tanya seorang wanita tua yang sudah berdiri di belakang marcello. Entah sejak kapan wanita itu berada di sana. Kedua tangannya sudah dilipat di dada.


Marcello memutar badannya,saat itu dia baru sadar sudah melakukan kesalahan. Kenapa kekasihnya itu tidak memberi tahu sejak awal. Dia baru sadar kalau gaun yang dicoba oleh Auri tentu bukan pilihan wanitanya. Hanya ada dua wanita yang sepertinya suka melihat seorang marcello ketar-ketir karena penampilan sexy dari kekasihnya. Orang itu adalah maminya dan calon mertuannya.


“kamu memang anak durhaka sudah menghina selera ibumu dan calon mertuamu.” Ucap mom marcello yang membuat pria itu berkeringat dingin. Dia merasakan akan terjadi hal buruk padanya setelah ini. Tentu saja Auri tidak akan bisa menyelamatkannya. Karena kesalahan yang diperbuatnya sudah terlalu besar.


Marcello keluar dari butik dengan wajah ditekuk. Sedangkan Auri mengelus punggung kekasihnya. Dia tidak bisa melakukan apapun hanya bisa menghibur kekasihnya. Karena ucapan dari mami dan calon mertuannya seperti hal mutlak yang tidak bisa dibantah.


“sayang aku tidak ingin di pingit.” Ucap marcello saat keduanya sudah berada di dalam mobil. Wajah marcello sangat buruk sejak ibu dari kekasihnya itu mengatakan kalau sejak besok keduanya dilarang bertemu. Tentu saja hal itu sebuah hal yang berat dilakukan oleh marcello.

__ADS_1


“Sabarlah, hanya beberapa hari sebelum pernikahan kita.”Ucap Auri yang membuat wajah marcello semakin menekuk saja. Sungguh dia ingin mengabadikan ekspresi lucu dari kekasihnya. Sungguh tidak cocok wajah tampan dan seram merajuk seperti saat ini.


“sayang aku tidak mau, bagaimana kalau kita menikah hari ini saja.” Ucap Marcello yang membuat Auri menatap tajam kekasihnya. Dia sudah menduga kalau pria di sampingnya pasti mengusulkan rencana gila seperti ini. Tapi auri tidak berniat mengikuti usulan gila itu.


“MARCELLO.” Ucap Auri dengan suara yang ditekankan. Saat itu marcello membalas dengan senyuman yang dipaksakan. Dia sudah tahu kalau itu adalah peringatan dari kekasihnya.


“baiklah, tapi aku benar-benar tidak bisa melihat kamu sehari saja. Jadi kita harus vc tiap hari. Kamu harus mengabariku tiap waktu.” Ucap Marcello yang membuat Auri kesal. Kalau begitu bukan pingit namanya. Dasar kekasihnya itu selalu saja so sweet sekaligus menyebalkan.


“lalu kalau begitu bukan pingit namanya marcello.” Ucap Auri pada kekasihnya.


“aku tidak perduli.” Ucap marcello.


“Terserah kamu saja, aku tidak ikut-ikutan kalau mami dan mom marah padamu. Kamu harus tanggung jawab hal itu.” Ucap Auri dengan wajah yang ditekuk. Dia sudah lelah mengikuti permintaan gila dari kekasihnya.


“Tentu saja.” Ucap marcello.


Sedangkan Antara melajukan mobilnya membelah ibu kota yang terlihat sangat padat. Dia berniat untuk pergi ke kantornya hari ini setelah beberapa hari memilih untuk istirahat. Meskipun waktu sudah menunjukkan siang hari. Bukankah seorang bos itu bebas datang jam berapa saja.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobilnya tiba di kantornya. Dia menggunakan lift menuju ruangnya. Saat dia tiba, dirinya terkejut melihat wanita yang sedang duduk di meja sekretaris. Wanita yang beberapa hari mengganggu malamnya.

__ADS_1


“kamu?”


“selamat siang tuan Antara, mulai hari saya menjadi sekretaris anda. Mohon bimbingannya.” Ucap wanita itu yang membuat Antara terdiam melihat orang di depannya.


__ADS_2