Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 38


__ADS_3

Setelah Auri dan kedua temannya selesai makan. Mahlika langsung berjalan untuk mengambil laptopnya. Sedangkan Auri dan Lyra sibuk membereskan barang-barang yang ada di meja makan.


Lyra membuat 3 cangkir es kopi untuk ke tiga sahabatnya. Auri dengan senang hati menerimanya. Rasanya sudah lama dia tidak meminum kopi. Sedangkan mahlika menatap tajam pada Lyra.


“Kenapa kamu menatap aku seperti itu?” tanya Lyra yang memilih duduk di samping Auri deibandingkan mahlika.


“Kamu tidak ingat kalau aku tidak suka kopi hitam.” Protes mahlika.


“ya sudah tinggal tambah susu saja sana kok ribet banget.” Ucap Lyra yang sedang menikmati kopinya.


“huh dasar.” Ucap mahlika.


Mahlika meninggalkan Lyra yang tertawa melihat wajah kesal sahabatnya. Sedangkan Auri hanya tersenyum tipis saja. Mahlika kembali dengan satu gelas kopi yang sudah ditambah susu. Mahlika memang tidak kuat meminum kopi hitam saja.


“Kamu sudah mendapatkannnya?” tanya Auri yang sudah meletakkan gelas kopi di depannya. Kedua tangannya dilipat di dada dan badannya sedikit disandarkan pada kursi kayu.


“Ya aku sudah mendapatkannya. Tapi wajahnya sangat berbeda denganmu. Hanya wanita ini saja yang bergerak di markas utamannya.” Jelas mahlika sambil menunjukkan potret seseorang di laptopnya pada Auri.


Auri memperhatikan potret wanita di depannya. Sepertinya dia harus membuat topeng silikon untuk membuat wajahnya sama dengan wanita itu. Pekerjaannya masih banyak tapi waktunya hanya sebentar.


“Baiklah, aku hanya harus menggunakan topeng silikon saja.” Ucap auri.


“Kamu yakin?” tanya mahlika.


Dia sangat tahu wajah Auri selalu saja alergi jika menggunakan topeng silikon. Seluruh wajahnya akan memerah dan sedikit panas. Apalagi penyamarannya kali ini akan sangat lama.


“Kamu tidak usah memikirkannya. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri.” Jelas Auri yang tahu wajah khawatir mahlika.


“Tapi Auri, kamu sering mengalami iritasi yang parah jika bersentuhan topeng silikon. Batas pemakain yang aman untukmu hanya 3 jam dalam sehari. Aku tidak yakin kamu bisa menahan lebih dari 3 jam.” Jelas mahlika.


“Sudahlah, sebaiknya kamu jelaskan kegiatannya.” Auri mengalihkan pembicaraan mahlika. Lyra menatap sebal dengan sikap keras kepala Auri. Sangat sulit membantah keinginan sahabatnya.


“Setiap hari dia selalu pergi ke toko roti dekat toko bungan Lyra. Hanya beberapa blok jaraknya. Dia selalu pergi ke toko itu tepat jam 7. Setelah itu dia langsung pergi ke markasnya. Dia akan kembali jam 10 malam ke rumahnya. Dia tinggal sendiri di daerah T. Nama wanita itu Selena Hilban Mion.” Jelas Lyra.

__ADS_1


“Baiklah, besok aku akan memantau kegiatan Selena. Kamu seperti bisa membantuku dari sini. Ingat jangan melakukan kesalahan yang sama mahlika. Sekali lagi kamu melakukannya, aku pastikan semua hutangmu harus dibayar besok juga.” Ancam Auri pada mahlika yang membuat wanita itu sulit untuk menikmati kopi susunya.


“Baiklah.” Ucap mahlika.


Hp Auri berdering. Dia langsung berjalan menuju handphonenya. Sebuah nomer asing meneleponnya. Tidak ada niat untuk Auri mengangkatnya. Dia hanya memabawa handphonennya ke meja makan dan dibiarkan berdering saja. Karena Auri bukan orang yang suka mengangkat panggilan dari nomor asing.


“kenapa tidak kamu mengangkatnya?” tanya Lyra yang mendengar dering handphone sahabarnya terus berbunyi.


Sedangkan mahlika sedang fokus dengan laptopnya. Dia tidak ingin Auri menagih utangnya. Apalagi sahabatnya adalah wanita licik yang berbahaya kalau membahas uang. Tidak ada belas kasih pada siapapun jika berhubung dengan uang. Bahkan Lyra saja tidak bisa membantah saat Auri mengajukkan gajinya yang lumayan fantastis.


Beruntungnya Auri memberikan banyak pemasukkan. Jadi memberikan gaji yang besar pada Auri tidak akan membuatnya rugi. Hanya saja dia tidak lagi ingin berbincang tentang uang dengan Auri.


“Angkatlah Auri.” Ucap mahlika.


Auri menatap handphonennya yang muncul sebuah pesan. Akhirnya Auri mengambil handphonennya dan membaca isi pesan. Auri membuang nafas kesal sat melihat siapa yang menghubunginya berkali-kali.


Bagaimana dia bisa mendapatkan nomer teleponku. Aku tidak pernah memberi tahu nomer telepon. Ah aku lupa diakan orang yang bisa dengan mudah mendapatkan data orang lain.


+18797******


Gadis kecil


[siapa?]


+18797******


[marcello]


Akhirnya Auri mengangkat telepon marcello walaupun dengan setengah hati. Baru saja dia bisa bebas dari pria itu. Tapi belum satu hari saja marcello sudah meneleponnya.


“hallo”


“….”

__ADS_1


“hey kamu tidak menjawab sapaanku?”


“ada apa tuan marcello memanggilku?”


“kamu ingat besok kembali ke kediamanku.”


“Sepertinya aku tidak bisa kembali secepatnya. Besok aku berniat untuk memantau korban yang akan aku gunakan untuk menyusup kelompok tiger.”


“kamu masih berniat melakukan rencana itu. Kamu tidak usah menyusup biarkan anggotaku yang menggantikanmu.”


“Tidak usah, kamu dan Edgar sudah menyetujuinya kan. Jadi jangan melarangku tuan marcello. Sudah dulu.”


Auri langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Hal itu membuat marcello uring-uringan karena dia masih kangen mendengarkan suara Auri.


“kenapa diputusin sih.” Gummam marcello yang membuat Edgar menahan tawa melihat tingkah sahabat sekaligus atasannya. Sepertinya nasib percintaan atasannya lebih sulit dibandingkan dirinya pikir Edgar.


“Kamu tertawa.” Ucap marcello yang langsung menatap tajam Edgar. Saat itu Edgar tidak menahan tawannya. Dia tidak peduli lagi hukuman yang akan diterimanya karena sudah membuat seorang marcello marah.


“Kamu berani menertawakanku.” Ucap marcello dengan nada mengimintidasi yang membuat Edgar tidak sadar meneguk ludahnya dengan kesulitan. Sepertinya dia sudah membangunkan singa.


“sudahlah marcello jangan terlalu marah. Kamu sangat lucu kalau seperti ini.” Ucap Edgar yang entah mengapa keluar begitu saja. Dia baru sadar malah menambah amarah sahabatnya.


“Edgar.” Panggil marcello.


“ayolah marcello, aku tahu sekarang kamu sedang jatuh cinta pada Auri. Kamu tidak akan bisa menutupi kebahagianmu yang terpancar jelas di wajahmu itu.” Ucap Edgar.


“Cih, biasanya kamu memanggilku Tuan terus. Akhirnya kamu sudah kembali seperti dulu Edgar. “ ucap marcello sambil tersenyum melihat sahabatnya sudah kembali seperti dulu.


Edgar baru memanggilnya dengan tuan setelah kepergian Aura. Edgar menjadi sosok dingin dan seperti robot. Tidak ada gairah hidup padanya. Selain itu Edgar semakin suka melakukan hobi gilanya seperti menyiksa para tahan di kediamannya.


“Ya mungkin setelah bertemu Auri. Aku seperti melihat Aura di dalamnya.” Goda Edgar yang membuat Marcello langsung menatap tajam.


“Tenanglah, aku tidak tertarik dengan kakak pacarku. Mereka sangat berbeda jadi tidak mungkin aku memiliki perasaan pada Auri. Sepertinya malah kamu yang tertarik pada Auri. Hati-hati kawan Antara tidak akan mudah memberikan kamu restu.” Ucap Edgar yang sangat mengenal hubungan kedua sahabatnya. Walaupun Marcello dan Antara tidak memiliki komplik. Tapi antara tidak pernah menyukai pekerjaan marcello sebagai ketua mafia.

__ADS_1


Edgar sangat ingat respon Antara saat tahu dirinya pacar Aura. Antara bahkan memberikan bugeman pada wajahnya. Tapi Antara tidak mempersulit hubungannya dengan Aura. Tapi berbeda dengan marcello. Sejak awal Antara menyatakan tidak akan pernah memberikan kesempatan untuk marcello jika dia tertarik dengan adiknya.


Walaupun saat itu marcello mengatakan tidak akan mungkin menyukai adik antara. Tapi takdir berkata lain marcello jatuh cinta pada adik sahabatnya. Sekarang dia harus memikirkan bagaimana menghadapi Antara jika tahu marcello sedang mendekati adiknya.


__ADS_2