
Auri menatap taman yang berada di belakang kediaman Marcello. Sudah hampir 3 jam Auri hanya menatap bunga-bunga di depannya. Kegiatan ini akan berlangsung hingga marcello datang dan mengajaknya untuk makam malam bersama.
Rencanan pelarian Auri sudah dihentikan sejak pertemuan dengan Edgar. Selain itu Auri sadar kalau pada akhirnya akan gagal. Jadi buat apa menyusahkan diri untuk hal yang sudah dirinya tahu hasilnya seperti apa.
“Apakah non akan terus menatap bunga di depan anda?” tanya seorang pria yang berjalan mendekati Auri.
Auri sangat tahu suara dari pria yang berada di belakangnya. Selama satu minggu ini Auri selalu menjauhi pria itu. Siapa lagi kalau bukan Edgar. Dia takut tidak bisa mengendalikan emosinya saat melihat wajah pacar adiknya.
“Sebaiknya kamu tidak mendekat lagi. Aku takut tidak bisa mengendalikan amarah untuk kedua kalinya.” Ucap Ana.
Matanya masih fokus menatap kedepan. Kedua tangannya saling meremas. Dia tidak ingin emosinya mengendalikannya untuk kedua kali.Hal itu yang paling disukai oleh Auri. Dia tidak ingin menunjukkan berbagai ekspresi dirinya.
“saya akan menerima semua hukuman nona atas kelalaian saya dalam menjaga adik nona.” Ucap Edgar yang menatap wanita di depannya.
“Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Bagaimanapun kamu adalah pacar adikku dan pria yang dicintai Aura. Aku tidak ingin Aura menangis karena pacarnya terluka akibat kakaknya.” Ucap Auri tanpa sadar dia tersenyum saat mengingat Aura yang suka protes. kalau dia berperilaku kasar pada seorang pria yang menggoda adiknya.
“Kalau dengan nona memberikan hukuman bisa membalas kesalahan saya. Maka saya sangat bersedia.”
“Jangan bodoh Edgar, marcello sudah menceritakan tentang keadaanmu saat tahu Aura meninggal.” Ucap Auri.
Flash back
Auri merasa sangat silau saat cahaya masuk ke dalam kamarnya. Dia sadar kalau tidak tidur di kamar yang diberikan oleh marcello. Berbagai pikiran negatif mulai bermunculan. Auri mengecek badannya ternyata tidak ada hal yang aneh.
“Tenanglah aku tidak suka merusak seorang gadis kecil.” Ucap marcello yang baru saja masuk dengan nampan berisi makanan untuk Auri.
Marcello langsung duduk di samping Auri. Dia meletakkan nampan yang berisi makanan ke meja kecil di sebelahnya. Lalu mengambil satu piring yang sudah berisi beberapa sandwich. Marcello letakkan piring itu di paha Auri.
__ADS_1
“Makanlah, badan kamu sempat demam semalaman.” Ucap marcello pada Auri yang menatap selidik padanya.
“Tenanglah itu tidak ada racun. Kalau tidak percaya aku akan mencobanya.” Ucap marcello yang langsung mengambil satu potong sandwich.
Lalu setelah itu disodorkan ke depan mulut Auri. Wanita itu menutup bibirnya enggan untuk memakan bekas pria menyebalkan di depannya. Tapi bukan marcello kalau tidak bisa membuat bibir kecil gadisnya terbuka. Ditekan kedua pipi Auri yang membuatnya terpaksa membuka mulutnya. Roti itu langsung masuk ke dalam mulutnya.
Wajah Auri cemberut dengan perlakuan marcello yang seenaknya. Walaupun roti isi yang dimakannya sangat enak. Dia tidak menyangka. Beberapa hari lalu dia hanya diberikan satu mangkok bubur. Auri sangat membenci makan bubur.
“Gak usah dicemberut jelek wajah kamu.” Ucap marcello yang membuat Auri semakin kesal.
Dalam hati marcello sangat senang dan gemas pada gadis di depannya. Bagaimana bisa Auri semenggemaskan itu. Selain itu Auri tidak sadar kalau mereka secara tidak langsung telah berciuman. Senyum marcello merekah. Tapi berbeda dengan Auri yang sepanjang sarapan wajahnya di tekuk.
“Jangan terlalu menyalahkan Edgar.” Ucap marcello yang tidak diberikan respon apapun oleh gadis di sampingnya. Auri mengalihkan pandangannya ke jendela yang berada di sebelah kanannya.
“Edgar sama terpuruknya dengan kamu Auri. Selama 3 bulan setelah kepergian Aura. Dia hanya menangis dan mengkonsumsi alkohol tanpa ada makanan yang masuk. Dia menyiksa dirinya bahkan beberapa kali mencoba untuk membunuh dirinya.” Jelas marcello.Dia sangat ingat seberapa terpuruk sahabatnya setelah kepergian Aura.
“Dia bahkan menempatkan banyak pengawal yang bersembunyi di sekitar Aura. Tapi malam itu seluruh pengawalnya dalam keadaan tidak benafas saat kami temukan. Pelaku penyerangan bukan orang biasa. Aku menduganya dia adalah salah satu musuh kami di dunia mafia.” Ucap marcello lirih saat kalimat akhir.
“Kenapa harus Aura yang menjadi korban? Kenapa kalian membawa adikku yang tidak bersalah?” ucap Auri dengan nada yang sangat dingin.
Air matany mulai keluar kembali. Dia sekarang tahu pelaku pembunuhan aura pasti berikatan dengan musuh marcello. Ternyata semakin dekat dirinya dengan pelaku. Tapi kenapa Aura harus menjadi korban karena kedua pria ini.
“Maaf Auri.”
“Kamu tahu kata maafmu tidak akan membawa Aura kembali.” Ucap Auri yang sekarang menatap tajam marcello. Air matanya masih keluar begitu saja.
“Benar, tapi aku dan Edgar sedang mencari pelaku pembunuhan Aura.”
__ADS_1
Marcello memegang kedua tangan Auri yang bergetar. Auri tidak berniat melepaskan pengangan tangan pria di sampingnya. Sekarang hatinya terlalu lelah saat mengetahui penyebab kematian sang adik. Marcello mengelus punggu tangan gadisnya. Dia berharap hal itu bisa menenangkan Auri.
Flashback End.
“Aku hanya membutuhkan waktu untuk merangkai hatiku kembali.jadi kamu bisa menjauh dari sekelilingku dulu. Selain itu kamu harus membayar kesalahanmu dengan menemukan pelaku pembunuhan Aura.” Ucap Auri sebelum meninggalkan Edgar di taman.
“Tentu saja Auri tanpa kamu pinta. Tujuanku masih bertahan hingga saat ini adalah untuk membalaskan kematian Auri.” Ucap Edgar.
Auri masuk ke dalam rumah. Dia tidak sadar kalau obrolannya dan Edgar di dengan oleh marcello yang berdiri di depan pintu. Dia sedikit senang dengan ucapan Auri. Setidaknya gadis kecilnya sudah tidak bersedih lagi.
“Jadi sekarang kamu sudah baik-baik saja?” tanya marcello pada Auri yang baru melewatinya.
Sekarang marcello mengikuti langkah gadis kecil di depannya. Auri sedikit kesal dengan tingkah Auri. Dia langsung membalikan badannya. Sayangnya dahinya harus menabrak dada marcello.
“aw sakit.”
“makanya jangan suka berhenti sembarangan.” Ucap marcello pada Auri yang sedang mengelus dahinya karena menabrak dada bidang pria di depannya.
“Bukankah tuan marcello tidak semestinya mengikuti saya.” Ucap Auri dengan nada yang menyindir.
“Kenapa saya tidak boleh mengikuti nona?” tanya marcello dengan kepala yang sedikit ditundukkan. Sehingga sekarang wajah keduanya sangat dekat. Tapi bukan Auri kalau sama sekali tidak berpengaruh dengan hal seperti ini.
“Kenapa kamu mendekatkan wajahmu?” ucap Auri dingin.
“Aku hanya ingin melihat gadis pencuri lebih dekat. Bukankah wajahmu terlalu cantik untuk seorang pencuri.” Ucap marcello.
Entah kenapa saat Auri tersipu malu dengan pujian marcello. Untuk pertama kali dia ingin bersembunyi di lubang tikus. Marcello senang saat melihat wajah gadis kecil memerah.
__ADS_1
“Kamu sangat lucu jika seperti ini.” Bisik marcello sebelum sebuah kecupan di pipinya. Setelah itu marcello meninggalkan Auri yang terdiam. Dia masih mencerna kejadia yang baru saja berlangsung padanya
“SIALAN DASAR PRIA MESUM GILA ENYAH SAJA KAMU.” Teriak Auri yang membuat seorang marcello tertawa kecil.