Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 62


__ADS_3

Auri kembali menatap pria di depannya. Edgar menatap tajam pada kakak kekasihnya. Dia masih tidak mengerti dengan cara pikir wanita di depannya. Bagaimana bisa dia menyuruh dirinya untuk mencari wanita lain sebagai pengganti Aura.


“Aku mengatakan ini karena ada wanita yang menanti kamu melihatnya. Dia mencintaimu lebih lama dari adikku. Sayangnya kamu tidak menyadarinya.” Ucap Auri dengan suara pelan.


Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan Lyra pada Edgar. Karena Sahabatnya sudah memintanya untuk tidak pernah memberi tahu Edgar. Meskipun akhirnya dia harus menelan pil pahit pria itu memilih wanita lain. Karena sejak awal Lyra bukan wanita yang tepat Edgar pikir sahabatnya Auri.


“Apa maksudmu Auri? Kamu ingin melemparkan aku pada wanita lain. Aku tidak menyangka kamu sejahat itu bahkan kamu menyuruh pacar adikmu menerima perasaan wanita lain.” Protes Edgar dengan nada yang makin tinggi.


“Edgar ini demi kebaikan kamu, jangan sampai kamu menyesalnya saat wanita itu sudah memilih untuk melepaskan sepenuhnya.” Ucap Auri.


“Aku tidak akan pernah menyesal karena aku sudah mencintai Aura dan aku akan mengikutinya.” Ucap Edgar.


“EDGAR.” Teriak Auri yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


“Aku tidak peduli dengan pendapatmu Auri. Kamu tidak ada hak untuk mengatur kehidupanku. Auri.” Ucap Edgar sebelum meninggalkan kamar inap Auri.


Saat Edgar menggeser pintu, Ada Lyra yang sedang berdiri di depannya. Edgar langsung melewati wanita itu begitu saja. Lyra membuang nafas kasar. Sepertinya dia memang harus melepaskan Edgar saja.


“LYRA, sejak kapan ada di depan pintu?” tanya Auri yang terkejut melihat sahabatnya berada di depan pintu ruang inapnya. Dia takut sahabatnya mendengar semua pembicaraanya dengan Edgar.


“Aku sudah mendengar semuanya Auri, Mungkin sekarang aku harus benar-benar melepaskannya. Aku tidak bisa menunggunya untuk melihatku. Karena seluruh hatinya sudah benar-benar dimiliki Aura.” Ucap Lyra dengan senyum gentir.


Auri menatap sedih pada sahabatnya. Kenapa Lyra malah mencintai pria seperti Edgar. Seharusnya sahabatnya sudah berhenti sejak tahu pria itu memilih wanita lain dibandingkannya. Meskipun wanita lain itu adalah adik Auri sendiri.


“Lyra aku tidak bermaksud mengatakan pada Edgar hanya saja aku sudah kuat membiarkannya melakukan rencana gilanya.”ucap auri.


“Tenanglah semua itu tidak akan terjadi.” Ucap Lyra dengan senyum lebar. Auri menatap bingung pada sahabatnya. Bagaimana sahabatnya membantalkan rencana Edgar untuk membunuh dirinya sendiri.

__ADS_1


“Sudahlah kita lupakan topik itu, Aku bawa makanan untukmu dan rangkaian bunga.” Ucap Lyra.


Auri menerima rangkaian bunga yang diberikan Lyra. Senyumannya merekah saat menghirup aroma dari bunga. Rasa tenang dan nyaman muncul di perasaanya.


******************


Marcello memang tidak benar-benar meninggalkan Auri. Dia hanya keluar dari kamar inap. Dia juga terkejut saat melihat ada Lyra di depannya. Tapi dai tidak berniat bertanya saat itu.


Sekarang Marcello paham kenapa kekasihnya meminta tangan kananya sekaligus sahabatnya untuk merupakan Aura. Ternyata hal itu berhubungan dengan wanita yang masih berdiri di depan pintu ruang inap kekasinya.


Dia bisa melihat air mata yang mulai keluar saat Edgar menyatakan ketidak ingin menerima perasaan dari wanita lain. Tapi Marcello mungkin akan seperti jika Auri meninggalkannya. Karena hanya wanita itu yang bisa membuatnya merasa nyaman dan menemukan tempat istrihat.


“Kenapa kamu tidak pernah menyatakan perasaanmu saja pada Edgar?” tanya marcello pada Lyra yang sekarang menatapnya. Tatapannya terlihat luka yang begitu besar tapi wanita itu tidak bisa melakukan apapun dengan perasaanya.


Sungguh Lyra egois dengan hatinya. Dia memilih merasakan rasa sakit untuk mencintai Edgar dalam diam. Tapi saat seperti dia sangat ingin bisa berhenti mencintai Edgar. Hingga akhir Lyra tetap jatuh cinta kembali pada sosok itu.


“Aku memilih egois untuk menyatakan perasaan pada Auri. Hidup hanya sekali, kita tidak tahu kapan diri kita akan mati. Aku hanya takut menyesal belum menyampaikan perasaanku saja.” Jelas marcello.


Marcello sangat takut mati saat sudah memiliki perasaan pada Auri. Dia merasa waktu hidupnya seperti sangat pendek. Rasanya waktu berjalan sangat cepat dalam hidupnya saat sudah bertemu dengan Auri.


Karena itu marcello menyatakan perasaan pada Auri. Walaupun dia sudah menduga kalau gadisnya akan menolaknya. Tapi dia tidak mempermasalahkannya setidaknya tidak ada penyasalan karena dia kalah dari orang lain.


“Bukankah kamu merasa menyesal karena tidak mengatakan perasaanmu terlebih dahulu pada Edgar. Jika kamu lebih dulu dari Aura, Ada kemungkina saat itu kamu yang menjadi kekasihnya bukan?” tanya Marcello.


Dia sangat paham kalau wanita di depannya selalu menyesali tindakannya untuk menyimpan perasaanya. Tapi marcello juga salut karena dia mencoba ikut bahagia atas hubungan sahabatnya. Walaupun dia merasakan sakit di hatinya saat melihat pria pujaannya mencintai wanita lain.


“Ya kamu benar tuan marcello aku menyesal.” Ucap Lyra bersamaan pintu terbuka oleh Edgar. Wanita itu terkejut tapi pria itu melewatinya begitu saja. Padahal biasanya dia selalu menyapanya walaupun dengan nada dinginnya.

__ADS_1


Edgar pergi dan marcello mengikuti sahabatnya. Sepertinya dia juga setuju dengan ide kekasihnya saat ini. Marcello juga tidak ingin sahabatnya putus asa setelah memberikan pelajaran pada pelaku pembunuhan Aura.


Karena marcello tahu, Edgar masih bertahan hingga saat ini karena dia ingin membalaskan dendamnya pada pelaku pembunuhan kekasihnya. Tidak ada lagi alasannya untuk tetap hidup di dunia. Sahabatnya sudah putus asa.


Kedua pria itu berada di root top. Edgar tahu kalau marcello mengikutinya. Tapi sekarang Edgar hanya ingin menenangkan pikirannya. Semua ucapan Auri membuatnya marah dan tidak bisa terima. Bagaimana bisa Auri yang merupakan kakak Aura malah menyuruhnya melupakan Aura.


“Kamu mau rokok?” tawar Marcello pada sahabatnya.


Edgar mengambil rokoknya. Kedua pria itu menghirup nikotin yang membuat mereka sedikit bisa tenang. Marcello tidak berniat mengawali pembicaraan.


“Bagaimana menurut dengan ucapan Auri?” tanya Edgar pada sahabatnya.


“Aku tidak membenarkan maupun menyalahkannya. Tapi jika hal itu bisa membuatmu bisa tetap hidup kenapa aku tidak mendukung Auri.” Ucap Marcello.


“Tapi aku sangat ingin bertemu dengan Aura.Satu tahu tidak bertemunya seperti sudah bertahun-tahun berlalu. Hidupku berjalan sangat lambat dan menyakitkan.” Jelas Edgar.


“Aku mungkin akan seperti kamu kalau Auri pergi dariku. Tapi aku tahu juga kalau Auri tidak akan suka kalau aku ikut dengannya.” Jelas Marcello.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan?”


“Mungkin hidup sendirian hingga ajal menjemputku.” Ucap marcello yang kembali menghembuskan asap nikoti.


“Tapi aku tidak bisa seperti itu.”


“kamu ingat Edgar wanita yang kamu cari sebelum bertemu dengan Aura? Kenapa kamu tidak menyarinya lagi? Bukankah kamu dulu bilang kalau Aura hanya selingan saja.” Ucap Marcello yang mengingat saat Edgar mengatakan kalau dirinya hanya sedikit bersenang-senang dengan Aura. Karena wanita itu mirip dengan wanita yang dicarinya selama bertahun-tahun.


“Entahlah setelah berpacaran dengan Aura aku malah tidak mengingatnya lagi.” Jelas Edgar.

__ADS_1


“Edgar, kamu harus tahu wanita itu masih menunggumu untuk datang. Tapi gadis itu sepertinya akan berhenti menunggumu.” Ucap marcello membuat Edgar menatap wajah sahabatnya. Sekarang Edgar terdiam dia bingung mengatakan apa pada marcello. Ada rasa senang yang tiba-tiba muncul yang sejak lama sudah menghilang.


__ADS_2