Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 66


__ADS_3

Sejak mahlika meninggalkan rumah sakit tempat sahabatnya dirawat. Dia tidak lagi banyak mengeluarkan suara. Bahkan saat Oskar menggodanya tidak ada respon yang diberikan oleh gadis di sampingnya.


Mahlika mengingat kejadia beberapa tahun lalu. Saat ayahnya malah lebih memilih wanita yang merupakan ibu dari Royce. Sekarang pria itu menjadi penerus perusahaan ayahnya. Saat kejadian menyakitkan menipanya akibat perbuatan pria itu padanya.


Dia harus bersembunyi dari kakak tirinya agar kedua orang itu tidak mengusik hidupnya. Mereka pasti akan mencoba membunuhnya karena mahlika adalah seorang pewaris yang sah untuk setiap kekayaan ayahnya.


“Kenapa kamu hanya terus berdiam diri saja? Setidaknya kamu merespon dengan godaanku. “ ucap oskar yang membuat mahlika tersadar dengan kesedihan terhadap keluarganya.


Dia menatap sebal pada pria di sampingnya. Apakah oskar tidak memahami kalau Mahlika sedang membutuhkan ketenangan. Dia malah mencoba mengajaknya bicara. Selain itu mahlika sebenarnya kurang nyaman berdekatan dengan pria di samping. Pria yang menaruh minat padanya padahal sudah melihat sisi gelap mahlika.


“Kenapa kamu masih mengejar aku saat tahu sisi gelapku? Tidak ada hal baik dalam diriku.” Ucap mahlika sambil melihat jalan di sampingnya.


“Mungkin menerutmu seperti itu. Tapi dimataku kamu tetap wanita yang sempurna dan membuatku selalu jatuh cinta untuk kesekian kalinya.” Ucap Oskar yang membuat rona merah muncul di kedua pipi Mahlika.


Mahlika langsung menangkup kedua pipinya untuk menyembunyikan rona merah. Tapi Oskar sudah melihatnya. Dia tersenyum melihat tingkah menggemaskan wanita yang sedang dikejarnya.


“Kamu sangat lucu saat merona seperti itu.” Ucap Oskar sambil menarik pipi Mahlika.


Mahlika terkejut dengan cubitan Oskar. Dia menatap Oskar dengan wajah terkejut. Pria di sampingnya semakin saja gemas melihat ekspresi mahlika saat. Mahlika langsung menepis tangan Oskar yang beradi di wajahnya.


“jangan memancingku Oskar.” Ucap mahlika yang membuat pria di sampingnya senang karena di panggil nama oleh wanitanya.


“Bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Oskar yang memang tidak pernaha mengenalkan namanya pada Mahlika.


Mahlika menatap jengah dengan pria disampingnya. Tentu saja dia tahu namanya. Auri dan marcello selalu memanggil pria di sampingnya dengan nama oskar. Dia bukan seorang tuli yang tidak bisa mendengar panggilan seseorang pada pria di sampingnya.


“Auri memanggilmu seperti itu bukan?” tanya Mahlika basa basi saja.


“Aku senang karena kamu juga menaruh perhatian lebih padaku.” Ucap oskar dengan kepercayaan tinggin.


Mahlika hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kepercayaan pria di sampingnya sangat tinggi. Rasanya sangat sebal melihatnya. Kenapa dia harus diantar oleh pria seperti oskar.

__ADS_1


“Dalam mimpimu.” Ucap Mahlika ketus.


“Ya tidak apa dari mimpu terus jadi kenyataan.” Ucap Oskar dengan senyum lebar yang membuat mahlika sedikit terpesona.


Ternyata oskar seperti oppa korea yang menjadi biasanya. Bisa bahaya jika dirinya terlalu menatap wajah tampan di sampingnya. Bisa-bisa mahlika bisa salah fokus nanti.


“Kamu suka dengan wajahku bukan?” tanya oskar yang membuat mahlika langsung membuang wajahnya.


Kenapa oskar bisa mengetahui isi pikirannya. Apakah dia cenayang bisa menebak isi hatinya. Walaupun apa yang diucapkan oleh Oskar memang benar kalau wajahnya memang sangat menawan. Kenapa dia baru sadar.


“heheheh kamu boleh menikmatiku wajahku terusku.” Ucap oskar yang semakin wajah mahlika semakin memerah.


Kenapa perjalan menjadi sangat lama. Dia ingin bersembunyi di lubang tikus karena ucapan oskar. Sunggu mahlika merasa hal yang berbeda saat bersama Oskar.


“Diamlah.” Ucap Mahlika dengan nada ketusnya.


Akhirnya tidak ada satupun yang mengucapkan sepatah kata lagi. Mahlika terlelap karena perjalan mereka sedikit jauh menuju rumahnya. Oskar tersenyum melihat wanita di sampingnya tertidur.


Sedangkan di ruang inap Auri. Marcello sedang fokus dengan dokumen yang dibawanya. Dia tidak mungkin meninggalkan Auri sendirian. Walaupun Auri sudah protes dan meminta marcello pergi ke kantor saja.


“Jika kamu banyak pekerjaan, kamu tidak perlu menemaniku Marcello.” Ucap Auri yang sedang asik menatap pria yang berada di sofa.


Marcello sedang fokus dengan dokumen yang harus diperiksa. Sesekali pria itu menatap kekasihnya yang memiliki hobi barunya yaitu menontonnya bekerja. Dia suka dengan hal yang dilakukan oleh Auri.


“Aku tidak suka meninggalkanmu sendiri. Selain itu aku hanya harus menyelesaikan beberapa dokumen saja.” Ucap marcello.


“Kasihan Edgar dia harus bulak-balik ke kamar inap ini. Padahal hari sudah malam tapi dia harus tetap bekerja.” Ucap Auri.


“Biarlah aku membayarnya mahal untuk hal seperti itu.” Ucap marcello seenaknya.


“Dasar boss jahat.” Ucap Auri yang membuat marcello malah tersenyum. Auri paham dengan arti senyuman kekasihnya.

__ADS_1


“Tapi kamu mencintaiku kan sayang?” tanya marcello dengan mengangkat alisnya yang membuat Auri sebal melihatnya.


“Biasa saja. Sudah sana fokus lagi dengan dokumen kamu.” Ucap Auri pada marcello.


Marcello meletakkan dokumen terakhir. Dia berjalan menuju tempat Auri berbaring. Akhirnya pekerjaanya telah selesai.


“kenapa kamu ke sini?” tanya Auri.


“Aku sudah menyelesaikan tugasku. Bukankah kamu harusnya memberikan hadiah padaku karena sudah menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat.” Ucap marcello dengan kedua matanya dikedip-kedipkan. Bukannya gemas Auri, dia merasa aneh dengan marcello. Wajah kekasihnya sangar tidak cocok kalau berekspresi seperti itu.


Auri langsung menangkup kedua pipi Marcello. Dia menekan wajah marcello menjadi lucu apalagi bibirnya monyong seperti ini. Langsung Auri mengecup bibir marcello yang membuat pria itu terkejut.


Karena Auri tidak pernah berinisiatif untuk menciumnya bisanya. Setelah itu Auri melepaskan kedua tangannya pada pipi marcello. Pria itu berniat untuk memberikan kecupan lagi tapi langsung ditahan oleh tangan Auri.


“Sudah ah nanti khilaf.” Ucap Auri yang membuat marcello kesal. Dia memonyongkan bibirnya yang membuat Auri Gemas. Untuk kedua kalinya Auri memberikan kecupan pada pacarnya.


“Katanya gak lagi tapi kamu kecup aku. Tapi aku gak boleh kecup kamu.” Prote Marcello yang seperti anak kecil saat ini. Tapi Auri hanya tertawa tanpa berniat meladeni sang kekasihnya.


“Kalau kamu yang cium duluan nanti suka kemana-mana.” Ucap Auri yang membuat marcello malah tersenyum bangga.


Dasar pria mesumnya ini. Untung sayang kalau tidak sudah dirinya tendang hingga ke bulan. Walaupun kekasihnya tidak pernah melakukan hal lebih selain kecupan dan pelukan saja. Marcello sangat menghormati dan menghargai Auri. Dia tidak ingin merusak kekasihnya sebelum mereka resmi menjadi sepasang kekasih.


“Gak usah senyum kaya gitu.”


“kenapa kamu tergoda.”


“GAK ENEK YA.” Ucap Auri yang membuat Marcello cemberut. Sedangkan Auri tertawa keras karena sudah membuat kekasihnya kesal. Sesekali membuat marcello kesal tak apa. Biasanya juga marcello yang membuat Auri marah karena tingkah suka ngaturnya itu.


“Kamu begitu amat sama aku.” Ucap Marcello.


“ya sesekali tidak apa.” Ucap Auri yang berakhir mendapatkan geritikan dari marcello. Keduanya saling tertawa dan menikmati waktu mereka.

__ADS_1


__ADS_2