
Royce keluar lebih dulu dari ruang operasi. Hanya Lyra ikut ke kamar inap pria itu. Semua tindakan Lyra membuat orang-orang yang sedang menunggu Auri terkejut. Bukankah dia terlihat lebih memperdulikan Royce dibandingkan sahabatnya sendiri. Apalagi Edgar sedang menatap kepergian gadis kecil yang tidak menatapnya sama sekali. Malah dia menemukan wajah khawatir dari Lyra pada Royce.
“Sepertinya ada yang mendapatkan saingan yang sanga berat.”Sindir marcello pada sahabatnya. Edgar tidak berniat membalas sindiran sahabatnya. Dia masih ternggelam dalam pikirannya. Dia merasa sangat cemburu dan tidak tahu alasan Lyra lebih memilih Royce dibandingkan dirinya.
“Apalagi Royce adalah sahabat pertama Lyra.” Ucap Antara yang membuat marcello dan Oskar terkejut. Sedangkan mahlika masih mencoba mencerna ucapan kakak sahabatnya. Dia tidak pernah mendengar kalau Lyra memiliki teman lelaki. Sahabatnya itu sama seperti dirinya yang sering memilih menjauh dari lelaki di luar sana. Bagaimana bisa dia malah memiliki sahabat lelaki yang sepertinya sangat berarti.
“Kalau tidak percaya, tanya Auri saja. Dia pasti sudah tahu tentang hubungan sahabatnya dengan pria yang mengejarnya beberapa tahun ini.” Ucap Antara dengan santai. Tapi tidak bagi dua pria yang merasa posisi mereka dalam bahaya akibat Royce. Kedua orang itu adalah marcello dan Edgar. Mereka tidak membiarkan Royce merebut posisi mereka di hati wanitanya.
“Aku harus menjauhkan Royce dari Auri.” Ucap marcello.
Mereka semua menatap pintu ruang operasi yang terbuka dan memunculkan Auri yang sedang terbaring. Marcello mengikuti suster yang membawa badan kekasihnya ke salah satu ruang inap. Setelah itu dia langsung duduk di samping kekasihnya. Tidak lupa dipegangnya tangan mungil Auri.
“Segera bangunlah sayang, aku merindukanmu.” Ucap Marcello yang membuat antara jijik sendiri. Dia mengatakan rindu di saat adiknya ada di hadapannya. Sekarang Antara memang dalam mode sinis dan tidak suka dengan berbau romantis. Karena dia sedang merasakan patah hati saat melihat hubungan mahlika denga oskar. Dia masih tidak bisa menerima tapi Antara tidak berniat merebut wanita itu dari Oskar.
“Bisakah kamu tidak mangatakan kata-kata yang menjijikan itu. Adikku sudah di depanmu dan kamu masih merindukannya.”Ucap Antara dengan sinis. Sedangkan marcello tidak memperdulikan pendapat kakak kekasihnya. Suka-suka dia melakukan apa pada Auri. Buat apa memikirkan pendapat sahabatnya yang sedang patah hati karena wanitanya dimiliki oleh pria lain.
__ADS_1
“Bilang saja kalau kamu iri.” Ucap Marcello yang membuat antara kesal dan memilih untuk meninggalkan ruang inap adiknya. Dia memilih mencari udara sejuk di luar dibandingkan harus melihat adegan romantis antara dua pasangan. Mahlika dan Oskar adalah di dalam ruangan dengan saling berpegangan. Sesekali Oskar mengecup dahi wanita itu. Tentu saja hal itu membuat hatinya semakin sakit saja.
“Sepertinya anda sedang patah hati tuan, kita bernasib sama.” Ucap seorang wanita yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Saat ini Antara sedang duduk di bangku yang ada di taman rumah sakit. Dia tidak menduga ada wanita asing yang tiba-tiba berbicara menyakitkan untuknya. Sungguh Antara tidak ingin mengakui kalau dirinya sedang patah hati. Biarlah hanya dirinya yang tahu tentang kondisinya tidak perlu orang asing ikut tahu.
“kekasihku selingku dengan sahabatku. Padahal kita mau menikah bulan depan. Nasibku memang sangat menyedihkan bukan tuan.” Ucap wanita yang menggunakan seragam pasien rumah sakit. Dengan tongkan inpus di sampingnya. Tadinya Antara sempat ingin marah karena wanita itu tiba-tiba mengajaknya berbicara. Tapi mendengar cerita wanita itu membuatnya sedikit simpati.
“Dia kejam saat aku berjuang untuk menyembuhkan penyakitku dia malah memilih berselingkuh. Dasar pria berengsek itu.” Umpat wanita itu diakhir entah kenapa membuat Antara sedikit gemas sendiri. Wajah ayunya tidak cocok dengan ekspresi kesal seperti itu.
“Bukankah anda tidak membatalkan pernikahan. Apalagi waktunya masih lama.” Ucap Antara pada wanita yang membuang nafas kasar saat mendengar usulan pria asing. Mungkin untuk sebagia orang hal itu sangat mudah dilakukan. Tapi tidak untuk wanita itu yang tidak memiliki kekuatan untuk membantalkan pernikahan mereka.
“Memang sangat sulit nona.” Ucap Antara yang berdiri dari posisi duduknya. Dia merasa sudah terlalu lama berdiam di taman ini. Dia berniat untuk meninggalkan taman. Tapi semua itu terhenti saat wanita asing mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
“Bagaimana kalau tuan menjadi suami saya saja? Kita sama-sama sedang patah hati bukan. Jadi kita bisa saling menyembuhkan mungkin.” Ucap wanita yang menatapnnya dengan kedua wajah bersemu merah. Tapi Antara tidak percaya dengan ucapan wanita yang baru ditemuinya. Bagaimana bisa di mengatakan pernikahan semudah itu. Dia hanya ingin menikah dengan wanita yang dicintainya bukan dengan wanita asing yang ditemuinya di taman rumah sakit.
“Apakah kamu punya masalah dengan otakmu itu?”tanya Antara yang dijawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
“Aku sedang berobat karena gagal ginjal bukan karena otakku yang bermasalah.” Ucap wanita itu dengan wajah polos. Hal itu membuat Antara gemas sekali. Bagaimana bisa wanita itu memintanya dengan ekspresi tidak ebrsalah sama sekali.
“Kalau begitu anda harus mencoba mengecek otakmu itu. Mungkin terjadi kerusakan hingga kamu memintaku menjadi suamimu.” Ucap Antara sebelum meninggalkan wanita itu.
“Tuan pasti akan tertarik nanti. Jadi saat sudah berminat anda bisa datang ke kamar inap Rose.” Ucap wanita itu dengan sedikit berteriak sedangkan Antara tidak ingin lagi mendengarkannya. Pembicaraan mereka sangat aneh.
“Bukankah harusnya kamu menerima tawaran itu Antara.” Ucap pria yang berdiri di pintu masuk rumah sakit. Orang itu adalah marcello. Tadi dia berniat menebus obat untuk kekasihnya malah mendengar kalau calon kakak iparnya diajak menikah. Sangat lucu mengingat wajah wanita yang dengan polosnya mengajak seorang Antara menikah. Padahal dia tidak tahu orang seperti apa pria yang dilamarnya itu.
“Kamu bisa melupakan wanita gila itu. Apalagi kamu mendapatkan calon istri yang tidak beda jauh dengan mahlika.” Ucap Marcello yang mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya. Tapi dia tidak terlalu memperdulikannya. Menggoda Antara lebih menyenangkan pikirnya.
“Lihatlah wajahnya tidak begitu buruk. Dia hampir mirip dengan mahlika yang menyebalkan itu. Hanya saja warna rambut pirangnya dan mata birunya. Dia juga sepertinya berasal dari negara kita.” Ucap marcello yang masih mengilik-ngilik penampilan wanita yang ditemui sahabatnya.
“kalau begitu kamu saja yang menikah dengannya.” Ucap Antara yang membuat Marcello sekarang menatap tajam sahabatnya.
“kamu gila, aku hanya mencintai Auriku. Tidak ada wanita yang bisa menyingkirkannya dari hatiku. Kamu harus mencoba wanita lain untuk melupakan mahlika. Dia sudah bahagia dengan pria lain. Kamu tidak memiliki kesempatan bersama.” Ucap marcello sebelum meninggalkan Antara yang menatap wanita di tamna itu.
__ADS_1