
Nathasia tersenyum lebar mengingat rencananya sebentar lagi akan berhasil. Dia bisa mendaki Marcello kembali saat Auri tidak ada di samping pria itu lagi. Sedangkan Alan yang disibukkan dengan perusahaannya yang hampir gulung tikar akibat tangan Marcello. Harus menahan dirinya untuk bisa mendekati sang pujaan hatinya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"tanya Nathasia dengan segelas wine ditangannya. Wanita itu memang sangat menyukai kehidupan bebas. Hal itu juga yang tidak sukai oleh seorang Marcello. Sayangnya wanita itu masih tidak menyadari kalau dirinya tidak akan bisa mengalahkan seorang Auri di mata Marcello. Sedangkan Alan sudah menyadari kalau Nathasia hanya melemparkan dirinya pada sang buaya lapar.
"Tentu saja aku akan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan wanitaku. Kamu bisa pergi menemui Marcello dan gunakan badanmu itu." ucap Marcello dengan senyum sinisnya.
"Ah aku pastikan marcello jatuh ke dalam pelukanku." ucap Nathasia pada Alan yang sama sekali tidak tertarik dengan wanita murahan seperti Nathasia. Entah sudah berapa banyak pria yang mencoba tubuhnya itu. Alan saja tidak berminat untuk menyicipi badan kotor seorang Nathasia.
"Aku pergi siang ini."
"hmm." ucap Alan yang tidak berniat untuk membalas perkataan Nathasia kembali. Dia memilih melihat layar hpnya yang menampilkan kegiatan Auri. Tanpa Marcello sadari, dia sudah memasang beberapa cctv untuk menikmati kegiatan wanitanya.
Dia juga sudah tahu kabar tentang kehamilan Auri. Tentu saja dia kesal dan marah pada Marcello yang sudah mengambil Auri darinya. Tapi dia tidak akan membenci Auri maupun anaknnya. Dia bisa menerima Auri jika wanita itu mau memilihnya dibandingkan Marcello.
Sayangnya Alan tidak sadar kalau seorang Auri tidak akan pernah memilih pria lain. Wanita itu sudah mencintai sang suaminnya. Tidak ada lagi pria yang bisa menggantikan keberadaan Marcello dalam hidup seorang Auri. Dia wanita yang setia yang tidak akan melirik pria lain saat fokus hatinya hanya pada Marcello seorang.
Sebuah rumah besar yang sangat indah dan mewah. Orang -orang disibukkan dengan permintaan aneh dari sang ibu hamil. Auri sedang dalam masa ngidam. Wanita itu meminta banyak makanan yang harus dibuatkan oleh sang kakak. Masalahnya kakaknya itu tidak bisa memasak. Bahkan dia tidak pernah memegang alat-alat dapur selama hidupnya.
"Kamu benar-benar ingin menghancurkan istana ini." ucap Mahlika yang menatap keanehan sang sahabatnya. Wanita hamil memang sangat aneh. Sudah beberapa hari Auri meminta kakaknya itu membuat makanan asal indonesia. Masalahnya setiap makanan buat Antara. Bahkan Mahlika tidak berminat menyicipi masakak kakak sahabatnya itu. Dari penampilannya saja sudah menunjukkan kalau makanan itu bisa membunuhnya.
"Makanan kak Antara memang tidak seenak Marcello. Tapi lebih baik dari pada masakan para Chef." ucap Auri yang membuat Mahlika melebarkan matanya. Dia tidak habis pikir otak konsleting sahabatnya ini. Jelas-jelas makanan para Chef lebih cocok untuk manusia. Sedangkan makanan yang dibuat oleh dua pengusaha itu seperti racun untuk membunuh seorang tahanan secara perlahan-lahan.
__ADS_1
Antara keluar dari dapur dengan satu piring martabak telor buatannya. Penampilannya sangat buruk menurut Mahlika. Beberapa sisi berwarna hitam yang menandakan makanan itu mengalami pemasakan yang berlebih. Tidak sampai disitu saja, kulit yang harusnya membungkus daging dan telur malah berada di dalam. Telur yang membungkus kulit martabak buatana Antara. Rasanya ingin Mahlika sebarkan hasil karya seorang Antara di dunia maya. Pasti akan menjadi pembicangan yang sangat menarik. Dimana seorang pengusaha muda yang memiliki kekuasaan di dunia tidak bisa memasak dengan baik. Bahkan dia membuat racun untuk adiknya sendiri.
"Buang niat jahatmu itu Mahlika." ucap Antara yang sangat hapal arah pikiran seorang Mahlika. Wanita yang sempat menjadi fokus duniannya itu sekarang terlihat menyebalkan di matannya. Bahkan dia bertanya-tanya pada dirinya kenapa bisa mencintai wanita semenyebalkan Mahlika.
"Kak makananmu selalu enak. Meskipun masakan Marcello lebih baik." ucap Auri yang sangat lahap. Sedangkan kedua orang yang menonton kegiatan Auri makanan saja sudah melebarkan matanya. Mereka tidak menyangka dengan perkataan Auri.
Antara saja enggan menyicip masakannya. Sayangnya beberapa hari ini Auri selalu memintannya memasak dan akan marah kalau makanannya tidak diberikan padannya. Jadi Antara tidak lagi mempermasalahkan masakan anehnya itu. Dibandingkan dia harus melihat sang adik menangis seperti bayi. Apalagi tangisan Auri hanya bisa reda saat Marcello meneleponnya.
"Ya kamu bisa menghabiskannya."
"Aku kenyang sisanya buat kamu saja Mahlika."
"GAK." tolak Mahlika yang membuat senyuman mengejek muncul di wjaah Antara. Pria itu tidak sabar melihat reaksi Auri saat merasakan makananya. Sedangkan Mahlika menatap sinis pada kakak sahabatnya dan sahabatnya itu. Kenapa dia harus berakhir seperti ini. Kalau bukan demi uang yang ditawarkan oleh suami sahabatnya. Dia tidak ingin menerima hal itu.
"Bagaimana?"
"Sangat enak."
"Kalau begitu habisin ya."
"Sayangnya aku kenyang Auri." ucap Mahlika yang mencoba untuk menghindari makanan racun ini masuk ke dalam perutnya. Dia belum menikah dengan sang kekasih. Masa kematiannya menjemputnya karena makanan buatan Antara.
__ADS_1
"Benarkah? jarang sekali seorang Mahlika merasa kenyang." ucap Auri yang membuat Mahlika harus mengelus dadanya yang kesal mendengar penuturan sahabatnya itu. Beruntungnya perkataan selanjutnya itu tidak mmebuatny tersiksa kembali.
"Kalau begitu kakak saja yang habiskan, tidak baik membuang-buang makanan." ucap Auri yang membuat Antara melebarkan matannya. Dia tidak ingin menyicipi makanan buatannya. Tapi tatapan sendu dilemparkan sang adiknya. Hal itu membuat Antara tidak bisa menolak permintaan adiknya kali ini.
Satu kata untuk makanan buatannya yaitu makan terburuk yang pernah dirinya rasakan. Dia tidak menyangka adiknya bisa menikmati makanan seperti ini. Rasannya seperti makan garam dan cabai di waktu bersamaan. Rasa sambal saja tidak seperti ini.
Sebuah panggilan masuk membuat fokus Auri terahlikan. Hal itu juga kesempatan untuk Antara kabur dari makanan buatannya. Dia segera berjalan menuju dapur saat adiknya sibuk melakukan video call dengan suaminya itu. Sedangkan Mahlika menatap jail kepergian kakak sahabatnya.
"Hallo sayang." sapa Marcello pada wanita yang sangat dirindukannya. Baru saja beberapa hati tapi dia sudah rindu ibu hamil di hadapannya.
"Hallo Marcello, kenapa baru hubungi aku."
"Pekerjaanku sangat menumpuk. Mungkin beberapa hari kedepan aku baru bisa kembali. Setelah itu aku bisa fokus menjaga kamu sayang." ucap Marcello dengan senyum lebarnya. "Kamu sudah makan sayang?"tanya marcello yang dijawab dengan anggukkan kepala.
"Kamu makan apa sayang?"
"Martabak buatan Antara."
"Enak?"
"Enak sekali tapi tidak seenak buatan kamu. " ucap Auri yang membuat cerngiran kuda muncul di wajah Marcello. Sebenarnya dia tidak yakin makananya layak disebut sebuah makanan manusia. Tapi istrinya malah suka buatannya itu.
__ADS_1
"Ya sudah kamu istirahat yang banyak. Jangan terlalu banyak beraktifitas. Aku harus balik kerja. Bye sayang."
"Bye marcello ku." ucap Auri yang membuat perasaan hati marcello sangat baik hari ini. Auri memang support system bagi seorang marcello sampai kapanpu.