
Auri tersenyum sinis pada Royce yang sedang merasakan sakit pada dadanya. Tentu saja dia juga merasakan hal itu tapi tidak diperdulikan olehnya. Sebelumnya dia sudah menyiapkan diri dengan hal buruk yang akan terjadi padannya. Sekarang dia merasa sudah tidak ada beban lagi. Dia sudah membalaskan dendamnya.
Marcello dan Antara yang sadar langsung mendekati Auri. Badan Auri dibawa kedalam pelukan Marcello. Kakak wanita itu tidak ingin banyak protes. Karena dia tahu seberapa terlukannya sahabatnya ini. Meskipun dia juga merasakan ketakutan satu tahun lalu menghampirinya. Dia memilih memanggil ambulan dibandingkan terlalut dalam kesedihan.
Setelah dia menghubungi ambulan, dia melihat kondisi Royce yang masih sadar. Dia tidak berniat untuk membunuh pria yang sedang terbaring lemah. Sebesar apapun kebenciannya, membunuh adalah hal yang salah menurut. Hal itu tidak akan memberikan kepuasaan pada dirinya. Melihat orang yang kita benci tersiksa seumur hidup lebih menyenangkan.
“Sekarang kamu senang Antara.” Ucap Royce dengan suara yang sangat pelan.
“Tentu saja aku belum senang, melihat kamu mati semudah ini tidak membuatku senang.” Ucap Antara pada Royce yang tertawa mendengarnya.
Sedangkan Marcello sudah menangis saat melihat kondisi kekasihnya yang sangat buruk. Untuk kesekian kalinya dia selalu melihat wanitanya dalam kondisi seperti ini. Apakah dia tidak seberharga itu sehingga Auri dengan mudahnya mempertaruhkan nyawanya sendiri.
“Hey jangan menangis, aku tidak mati sekarang.” Ucap Auri yang masih bisa bercanda dengannya. Apakah wanita di depannya tidak sadar dengan luka yang dideritanya.
“Apakah aku tidak sepenting itu untukmu? Sehingga kamu berkali-kali membiarkan nyawamu dalam bahaya.” Ucap Marcello yang membuat wanita itu tersenyum. Tentu saja yang diucapkan kekasihnya adalah salah. Marcello sangat berarti untuknya bahkan melebihi keluarganya.
__ADS_1
“Kamu salah marcello, aku melakukan ini karena kamu lebih berharga dibandingkan nyawaku sendiri. “ ucap Auri.
“Aku tidak saat melihat kamu mengorbankan dirimu untuk menyelamatkanku. Aku tidak suka dengan hal itu. Satu hal yang aku mau kamu selalu berada di sampingku hingga nyawaku diambil. Aku tidak ingin hidup tanpamu Auri.” Ucap Marcello dengan air mata yang terus mengalir. Hal itu membuat Auri ikut bersedih dan bahagia di waktu bersamaan. Untuk kesekian kalinya dia tidak menyangka akan mendapatkan cinta yang sebesar ini dari marcello.
Sedangkan Antara juga terdiam saat mendengar ucapan sahabatnya pada adiknya. Dia merasa sudah menemukan seseorang yang bisa menemukan adiknya. Ternyata Marcello bukan orang yang salah untuk menemani adiknya. Pria itu terlihat sangat mencintai Auri dibandingkan adiknya yang sangat egois ini. Adiknya adalah wanita paling egois dan keras kepala. Terkadang dia tidak memperdulikan orang lain demi keinginannya sendiri yang terbilang bodoh.
“Baiklah aku akan selalu bersamamu, bukankah kita harus menikah dulu marcello?”tanya Auri yang membuat ketiga pria yang mendengarnya terkejut. Bukankah saat ini tidak tepat untuk membicarakan pernikahan. Bahkan Royce saja tidak menyangka wanita yang pernah dia kejar dulu sefrontal ini. Dia harusnya menunggu seorang pria yang melamarnya bukan dia yang mengajak marcello.
“kamu melamarku?’tanya marcello yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Auri. Bahkan wanita itu tertawa seperti tidak terjadi apapun saat ini. Sunggu Auri seperti tidak merasakan sakit yang dideritanya. Royce saja untuk sulit atau bergerak saja sakit. Tapi wanita itu tertawa keras seperti lukanya hanya cubitan kecil.
“Tentu saja tidak, kamu pikir orang yang harus melamar seorang wanita. Apalagi wanita itu sedang terluka seperti saat ini. Kamu tidak lihat kondisiku saat ini.” Ucap Auri yang kesal dengan kekasihnya. Hal itu baru menyadarkan marcello tentang keadaan kekasihnya yang dalam bahaya. Dia bisa saja meninggalkannya karena tembakannya melukai salah satu organ penting. Saat Marcello baru berniat meminta Antara memanggil Ambulan. Suara ambulan sudah terdengat mendekat.
“Kamu tidak mati.” Ucap Auri yang membuat Royce tertawa pelan.
“Sepertinya peluru yang kamu tembakkan meleset beberapa centi dari jantungku. Sehingga aku masih bisa hidup hingga saat ini. Meskipun rasa sakitnya mulai menyiksa.” Ucap Royce yang membuat Auri tergelak mendengarnya. Dia tidak pernah meleset dalam menembak sesuatu.
__ADS_1
“Baguslah, aku ingin melihatmu tersiksa setelah ini.” Ucap Auri yang membuat marcello kesal karena kekasihnya malah bercanda dengan pria yang menyerang Auri.
“Bukankah aku harusnya membunuh pria ini saja. Dia terlalu cerewet untuk orang yang telah melakukan kesalahan.” Ucap Marcello yang membuat kedua adik kakak itu hanya menggelengkan kepala. Tentu saja mereka tahu kalau saat ini marcello sedang cemburu. Sedangkan Royce hanya bisa pasrah karena dia merasakan sudah banyak mengeluarkan darah.
“Bukankah kamu lebih baik membawaku secepatnya ke rumah sakit. Katanya kamu ingin hidup bersamaku hingga mautmu memanggil. Tapi kamu malah membiarkan aku yang terluka parah begitu saja.” Sindir Auri yang membuat Royce terkekeh pelan. Dia baru sadar kalau wanita yang dulu dia sukai semenyebalkan itu. Apakah dia tidak sadar kalau pacaranya sedang cemburu. Bukannya membujuknya dengan baik. Dia malah menyindir dengan keras pada marcello. Tentu saja hal itu membuat pria itu langsung membawa badan Auri ke dalam ambulan.
“Kamu benar Royce bagaimana kau bisa mempunyai kekasih sebodoh marcello.” Ucap Auri dalam hati. Dia tidak berniat untuk membesarkan api cemburu marcello. Hari ini dia ingin tidur saja karena lelah di badannya. Saat itu juga mata Auri tertutup. Tentu saja hal itu membuat marcello ketakutan.
“Sayang jangan tidur, jangan tinggalkan aku.” Ucap Marcello yang sudah di dalam mobil ambulan. Sedangkan Auri yang tidak sepenuhnya pingsan hanya jengah dengan tingkah kekasihnya yang makin aneh saja tiap harinya.
“Aku hanya ingin beristirahat saja, diam dan jangan menggangguku lagi.” Ucap Auri yang membuat pria itu terdiam dan tidak mengeluarkan suara. Hal itu membuat seorang perawat harus menahan tawa. Bagaimana tidak tingkah dua orang itu sangat lucu. Padahal wanita yang sedang terbaring mendapatkan luka yang parah. Tapi dia masih bisa memarahi kekasihnya yang sedang menangis.
Sedangkan Royce dibantu oleh Antara menuju mobil ambulan lain. Sebenarnya rasa tidak enak karena dia masih dibiarkan hidup oleh pria di sampingnya. Padahal dia sudah membunuh adiknya dan memberikan perlakuan yang sangat buruk.
“Kenapa kamu menyelamatkanku. Harusnya kamu membunuhku.” Ucap Royce pada Antara yang dibalas dengan senyum tipis.Kalau satu tahun lalu dia menemukan Royce, dia akan membunuh pria itu. Tapi setelah satu tahun berlalu dia merasa tidak alasan mengambil nyawa Royce. Tidak akan membuat adiknya kembali.
__ADS_1
“Bukankah membantumu akan lebih membuatmu kamu merasa bersalah dan tersiksa.” Ucap Antara yang membuat Royce terdiam. Apa yang diucapkan Antara memang benar. Dia lebih tidak suka tetap hidup dengan rasa penyasalan yang akan menghinggapinya. Tentu saja Royce sadar kalau tembakan Auri tidak benar-benar ingin membunuhnya. Padahal dia malah memberikan luka yang lebih parah pada wanita itu. Kenapa kedua kakak adik ini terlalu baik padanya.
“Aura tidak akan senang kalau aku mengirimu ke sana sekarang. Mungkin saat kamu hidup dengan rasa penyesalan adikku lebih menyukainya.” Ucap Antara yang sudah membaringkan badan pria itu di atas brangka di dalam ambulan. Setelah itu Antara memilih pergi meninggalkan Royce bersama perawat yang membawanya ke rumah sakit.