Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 61


__ADS_3

Oskar dan kedua pria lain menatap mahlika. Wanita terlihat sangat marah dan tidak suka mendengar nama Royce. Marcello memang tidak begitu dekat Royce. Berbanding dengan Rayce, mereka terlihat seperti sebuah keluarga.


“Kalian tidak bisa menilai orang dari wajah dan sikapnya di depan banyak orang, Royce hanya seorang berengsek saja dengan topeng baiknya.” Ucap mahlika.


Auri membuang nafas kasar. Kenapa orang itu berhubungan dengan pembunuhan Aura. Tidak cukup telah membuat sahabatnya trauma. Royce memang pria yang terlihat sangat baik dan ramah. Sebenarnya hal itu cuman caranya untuk menusuk orang lain dari belakang saja.


“Tapi kita belum bisa menyatakan kalau Royce adalah pelakunya. Kita juga butuh mencari data lebih dalam tentang orang itu.” Ucap Edgar.


“Serahkan saja itu padaku.” Ucap mahlika.


Auri menatap sahabatnya. Dia tahu mahlika masih memiliki amarah pada pria itu. Bagaimanapun pria itu hampir mengambil keperawanannya. Selain itu juga Royce juga membuat keluarga hancur.


“Mahlika.” Panggil Auri.


Mahlika menatap sahabatnya. Dia tersenyum pada sahabatnya. Berharap dengan begitu Auri bisa tenang. Sungguh Mahlika sekarang sudah baik-baik saja. Tidak ada lagi mahlika yang sebaik dulu.


“Tenanglah aku juga ingin membalas kejahatannya. Aku balik ke apartement dulu.” Ucap Mahlika pada Auri.


“Oskar bisakah kamu antar mahlika? Tanya Auri yang tentu saja oskar sangat senang. Kapan lagi dia bisa berduan dengan mahlika. Padahal wanita itu sangat anti berdekatan dengan pria.


“Auri aku bisa sendiri selain itu aku tidak suka berduan dengan seorang pria.” Ucap mahlika yang membuat Oskar sedih. Ternyata harapannya harus hancur dalam waktu sekejab saja.

__ADS_1


Edgar menepuk bahu sahabatnya. Ternyata nasib Oskar sangat menyedihkan. Mungkin Edgar harus berpisah dengan Aura. Tapi mereka masih memiliki kenangan. Sedangkan Oskar berdekatan saja tidak bisa. Bagaimana dia bisa pdkt dengan wanitanya itu.


“mahlika tidak ada bantahan. Kalau tidak aku yang akan mengantarmu.” Ancam Auri yang membuat mahlika membuang nafas kasar. Sahabatnya selalu bisa membuatnya tidak bisa membantahnya.


“Baiklah.” Ucap mahlika sebelum ke luar dari ruangan Auri. Sedangkan Oskar langsung mengikuti Mahlika dengan wajah bahagia.


Auri sadar kalau Oskar memiliki punya rasa dengan sahabatnya. Sayangnya pria itu harus bekerja keras untuk bisa berdekatan dengan sahabatnya. Sangat sulit untuk menghilangkan traumanya yang membuat mahlika tidak ingin berdekatan dengan pria manapun. Bukan karena Royce saja yang membuat hati mahlika terluka tapi pria yang menjadi cinta pertamanya yaitu ayahnya sendiri.


“Tenanglah sayang, jangan terlalu banyak pikiran. Mahlika pasti baik-baik saja. Oskar pasti menjaganya.” Ucap marcello yang sangat paham dengan pemikiran Auri. Kekasihnya memang orang yang terlalu mengutamakan orang sekitarnya dibandingkan dirinya sendiri.


Padahal saat ini Auri belum sepenuhnya sembuh tapi dia malah mengkhawatirkan mahlika. Apa dia tidak ingat kalau nyawanya hampir saja dalam bahaya. Tapi bukan Auri kalau tidak seperti itu.


“Aku hanya mengingat saja kejahatan yang pernah dilakukan pria itu. Sebenarnya aku tidak benar-benar ingat wajah Royce di masa lalu. Aku juga hanya bertemu satu kali dimana wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi aku tahu seberapa jahatnya pria itu.” Ucap Auri yang membuat marcello mulai menaru curiga pada pria itu.


“Tentu saja akan aku laksanakan. Jika benar dia pelakunya aku tidak sabar memberikannya pelajaran.” Ucap Edgar dengan wajah dingin penuh amarah yang terpendam.


“Edgar.” Panggil Auri pada pria itu.


Edgar menatap Auri dengan bingung. Sedangkan Auri menatap sedih pada wajah pria itu. Dia sedih karena sahabatnya harus menyimpan perasaan pada Edgar, Sayangnya pria itu terlalu mencintai adiknya. Tentu dia senang kalau pacar adiknya sebegitu mencintai Aura. Tapi sekarang dia tidak suka hal itu.


Bagaimanapun Aura sudah tenang di sisinya. Dia tidak akan bisa kembali lagi. Auri tidak berharap kalau pria di depannya ikut menyusul sang adik. Walaupun Auri pernah berpikir seperti itu. Tapi dirinya sadar kalau Aura pasti tidak akan menyukai ide gila itu.

__ADS_1


“Berhenti mencintai adikku.” Ucap Auri yang membuat Edgar dan marcello terkejut.


Bagaimana bisa kakak dari pacarnya Edgar malah memintanya untuk melupakan Aura. Tentu saja Edgar tidak mau karena dia sudah terlalu mencintai wanita itu. Tidak akan yang bisa menggantikan posisinya.


“Aku tidak bisa Auri jangan memaksaku.” Edgar dengan wajah kesal karena merasa Auri terlalu mengaturnya. Walaupun dirinya menghormati wanita itu sebagai kakak dari kekasihnya. Tapi dia tidak suka dengan perkataannya.


“Auri sudah tenang di siinya. Kamu pikir Aura akan senang kalau kamu ikut dengannya? Jangan berpikir gila untuk mengikuti adikku. Hidupmu masih panjang Edgar, banyak orang yang mencintai kamu. Buka matamu itu jangan hanya berpusat pada Aura.” Ucap Auri pada Edgar.


Auri tidak ingin mengatakan ini tapi dia juga tidak bisa membiarkan Edgar dengan niat gilanya itu. Edgar diberikan kesempatan hidup  untuk bisa menikmati dunia ini.


Selain itu Auri sangat tahu seberapa cintanya Lyra pada Edgar. Wanita itu tidak hanya menunggu Edgar satu tahun saja. Auri tahu seberapa lama Lyra mencintai Edgar. Sayangnya pria itu tidak sadar dengan sahabatnya.


Auri tahu itu semua saat tidak sengaja menemukan sebuah potret Lyra saat muda. Tapi di dalam potret itu Lyra tidak sendiri. Ada seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua dari Lyra. Keduanya terlihat bahagia dan akrab.


Saat Auri lihat lebih dekat. Auri sadar kalau potret pria itu mirip dengan Edgar. Hanya pada versi kecilnya saja. Hal itu tentu sudah menunjukkan seberapa mencintai Lyra pada sosok dihadapannya.


“Kamu bisa mengatakannya dengan mudah Auri. Bagaimana kalau saat ini marcello yang berada di posisi aku. Apakah kamu lela membiarkan kekasihmu hidup dengan wanita lain?” tanya Edgar dengan nada yang marah.


Marcello tidak suka dengan ucapan sahabatnya. Seakan-akan dia akan ditinggalkan oleh Auri. Tentu saja marcello tidak akan bisa bahagia tanpa Auri. Mungkin dia tidak akan seperti dahulu kala. Kemungkinan terburuk adalah marcello memilih ikut dengan Auri. Hal yang sama dengan keinginan Edgar.


“Aku akan merelakan marcello jika wanita itu bisa membuat kekasihku bahagia. “ ucap Auri yang seperti tembakan pada jantung marcello. Perasaan yang sangat menyakitkan pikir marcello.

__ADS_1


“Apa maksud kamu Auri? Kamu gila membiarkan aku hidup dengan wanita lain. Itu tidak mungkin jikapun aku tidak mati. Aku lebih baik hidup sendiri selamanya. “ ucap marcello sebelum keluar dari kamarnya.


Auri membuang nafas dengan kasar. Sebenanrya dia tidak bermaksud seperti itu pada marcello. Tapi dia memang akan senang jika marcello menemukan wanita yang bisa membuatnya bahagia walaupun hatinya akan terasa sakit. Tidak ada wanita yang bisa tegar melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain.


__ADS_2