Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 39


__ADS_3

Seorang wanita muda dengan rambut sebahu baru saja masuk ke dalam toko roti. Dia tidak sadar kalau sedang diikuti. Auri sudah berada di dalam toko roti untuk mengetahui gerak-gerik korbannya. Sekarang Auri sengaja berdiri di belakang wanita muda itu.


“Kamu sudah mendapatkannya?” tanya wanita muda itu pada petugas kasir.


“Tentu saja, pesan bisa roti isi daging.” Ucap wanita lain di meja kasir. Wanita itu memberikan satu karton roti dan wanita yang dipantau Auri memberikan beberapa lembar uang yang terlalu banyak untuk membayar sebuah roti.


Setelah itu wanita berambut sebahu berjalan keluar dari toko roti. Auri hanya berniat membayar dan langsung berjalan cepat. Beruntungnya wanita itu belum berjalan terlalu jauh.


Wanita yang bernama selena itu berbelok ke sebuah gang sepi dan gelap. Auri sedikit memperlambat jalannya. Dia khawatir kalau selena mengetahuinya. Saat menemukan tempat bersembunyi yang pas. Auri segera berjalan muju sebuah box besar yang akan menutupinya.


Selena berhenti dan mengeluarkan beberapa roti dari karton. Setelah itu sebuah plastik berisi bubuk putih. Senyum wanita itu merekah. Dia membuka plastiknya dan menghirupnya.


“Cih dia menggunakannya terlalu pagi.” Gumam Auri.


Selena masih asik dengan kegiatannya. Hampir 20 menit wanita itu melakukannya terus menerus. Badanya mulai bergerak seperti orang yang mabuk. Dia keluar dari gang dan tidak menyadari keberadaan Auri.


Setelah wanita itu keluar sebuah mobil berhenti di depannya. Selena langsung masuk ke dalam mobil itu. Beruntungnya Auri memakirkan motornya dekat sini.


Walaupun hampir kehilangan jejak. Auri bisa menemukannya. Sekarang Auri tepat berada di belakang mobil yang Selena tumpangi. Mobil itu berbelok ke sebuah jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja.


Auri harus memberikan jarak yang jauh agar pria yang berada di kemudi mobil itu tidak sadar dengannya. Setelah beberapa menit Auri hanya menunggu tepat di sebelum perempatan.


“Aku sudah berhasil meretas cctvnya. Kamu bisa masuk.” Ucap mahlika dari earphone yang di pasang Auri di telingannya.


Setelah melihat tidak ada kenderaan di belakangnya. Auri langsung menjalankan motornya ke dalam jalan setapakan. Berbeda dengan jalan menuju kediaman marcello yang terawat dan besar. Jalan ini jauh dari kata layak dan bagus. Bahkan banyak jalan hancur di depannya.


Auri seperti sedang masuk ke dalam hutan berantara. Ternyata kelompok mafia sangat bagus memilih tempat untuk bersembunyi dari musuhnya. Tidak akan ada yang mengira di hutan besar ini terdapat sebuah bangun yang cukup mewah. Walaupun tidak semewah milik marcello.

__ADS_1


“Kamu harus hati-hati. Aku tidak bisa memastikan kalau di sekitar hutan itu tidak ada penjaganya.” Ucap Mahlika.


“Tenanglah, Tempat ini tidak mungkin ada yang berniat menjaganya. Karena hutan ini masih terdapat hewan buas. Mereka tidak akan mengorbankan bawahannya hanya untuk pakan seekor harimau.” Ucap Auri.


“Kamu baik-baik saja?” tanya mahlika yang khawatir mendengar markas tiger. Keberadaan markas Tiger dan black knife memang tidak mudah di temukan. Tempat Auri mencuri barang marcello adalah mansion pribadi dari pemilik perusahana Fellardo.


Auri dan mahlika tidak tahu dimana markas Marcello. Selain itu Auri juga tidak tertarik untuk pergi ke sana saat ini.


“Kamu bisa memarkirkanmu 3 meter dari posisi kamu sekarang. Pastikan kamu memarkirkannya di sebalah kanan ada sebuah pohon jati yang besar. Motormu akan tertutupi oleh semak-semak.” Ucap mahlika yang sudah menganalisa tempat markas tiger dan lingkungan diluarnya dari cctv yang dipasang.


“Baiklah.” Ucap Auri yang sudah menemukan tempat itu. Segera dia memarkirkan motornya. Benar saja kata mahlika motornya tetutupi oleh semak-semak tinggi. Terdapat sebuah sarang lebah di atasnya. Hal itu membuat tidak akan ada yang berani mendekati tempat ini.


“Kamu memang sangat handal memilih tempat untuk membahayakanku.” Sindir Auri yang membuat mahlika malah tertawa mendengar ucapan Auri. Dia tahu tempat itu sedikit berbahaya karena ada sarang lebah. Tapi hanya tempat itu yang tidak akan di datangi oleh para bawahan kelompok mafia tiger.


“Sudahlah jangan banyak protes. Tempat itu sudah paling terbaik.” Ucap mahlika dengan nada kesal.


“Tenanglah tidak hal seperti itu di markas tiger. Sebaiknya kamu tidak usah memantaunya terlalu dekat. Kamu bisa memanjat sebuah pohon tinggi untuk melihat pekerjaanya.” Jelas Mahlika.


“Kamu punya rokomendasi tempatnya?” tnaya Auri.


“Tentu saja, kamu tinggal berjalan 10 meter dari tempat kamu berdiri ke arah utara. Ada pohon jati yang tingginya lebih dari 20 meter. Kamu bisa memanjatnyakan?” tanya mahlika.


“Kamu meremehkanku.” Ucap sini Auri yang membuat mahlika tertawa. Tentu saja mahlika tahu kalau Auri bisa melakukannya. Tidak ada yang tidak bisa Auri lakukan kecuali berdekatan dengan seorang pria. Auri tidak pernah berdekatan dengan pria kecuali kakaknya dan ayahnya saja. Hal itu membuat Auri sedikit tidak biasa berdekatan dengan kaum adam.


“hahahhaha aku lupa kamukan handal seperti monyet.” Ucap mahlika yang membuat Auri mendengus. Auri tidak berniat menjawab pertanyaan mahlika. Dia langsung berlari dengan sangat cepat. Terlalu bahaya kalau Auri bergerak lambat. Bisa saja para mafia dari kelompok tiger yang baru datang dapat melihat keberadaanya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Auri sudah menemukan tempat yang diberitahukan oleh sahabatnya. Auri tidak membutuhkan waktu lama untuk memanjat pohon di depannya. Setelah mendapatkan posisi yang nyamana. Auri dapat melihat Selena dari tempatnya dengan bantuan lensa yang digunakannya.

__ADS_1


“Dia sedang apa?” tanya Auri saat melihat tubuh selena yang tidak lagi seperti mabuk. Dia berjalan seperti orang normal yang tidak terpengaruhi oleh obat-obatan.


“Sepertinya obat yang tadi hirum berguna untuk menenangkannya. Walaupun dapat membuat wanita itu flying.” Ucap mahlika.


“kamu benar, efeknya telernya tidak bertahan lama sepertinya. Dia terlihat seperti wanita yang percaya diri.”


“kamu benar.”


“aku jadi semakin penasaran dengan tempat ini.” Gumam Auri dengan senyum yang merekah di wajahnya. Pasti ada sesuatu di tempat ini yang membuat Selena menggunakan obat penenang.


“Kamu akan disitu hingga dia pulang?”tanya mahlika.


“Tentu saja.” Ucap Auri.


Auri tidak sadar kalau ada bawahan marcello yang menjaganya dari jauh. Orang yang bertugas untuk melindungi Auri adalah Oskar. Pria yang beberapa kali membuat mahlika marah saat berniat menyelamatkan Auri.


Mungkin Auri tidak sadar tapi berbeda dengan mahlika yang bisa melihatnya dari cctv. Mahlika sedikit aneh melihat ada pria menyebalkan itu yang sedang menatap sahabatnya.


“Auri ada pria yang sedang memperhatikanmu tidak jauh dari tempatmu.” Ucap Auri yang membuat wanita itu menengakkan badannya. Dia melihat sekelilingnya tampa memberikan gerakan yang mencurigakan bagi pria itu. Saat tahu tempat orang itu, Auri secara cepat menembakkan jarum yang mengandung bius pada Oskar.


Oskar yang tidak tahu kalau Auri sudah menembakkan jarum bius. Saat dia sudah merasakan badannya sedikit lemah. Oskar baru sadar kalau sudah terkena obat bius. Saat itu juga Auri sudah berada di depan Oskar.


“Apa motifmu mengikutiku?” tanya Auri.


“marcello menyuruhku.”


“Benarkah?” tanya Auri saat bersamaan tubuh Oskar terjatuh namun ditahan oleh Auri.

__ADS_1


__ADS_2