Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 114


__ADS_3

Auri terdiam melihat pemandangan di depannya. Sebuah hamparan bunga yang mengelilingi sebuah meja di tengahnya. Tidak hanya itu saja cahaya yang berasal dari lampu-lampu kecil yang dihias begitu indah. Sungguh pemandangan yang sangat menggungah mata. Ditambah view kota pada saat malam. Keindahan langit malam yang betaburan dengan bintang membuat Auri sangat terpesona.


Tiba-tiba lampu mati dan Auri sulit untuk melihat sekelilingnya. Hanya cahaya bulan saja yang membantunya untuk melihat tempat itu. Tiba-tiba cahaya kembali muncul mengarahkannya pada Marcello yang sedang berdiri dengan sebuah rangkaian bunga.


Auri tidak bisa menahan air matanya. Dia sangat terharu dengan malam ini. Kekasihnya benar-benar memberikan kenangan yang tidak akan pernah dirinya bisa lupakannya. Sebuah musik muncul membuat suasana menjadi semakin indah saja.


Marcello berjalan mendekati kekasihnya. Senyuman di wajahnya tidak pernah hilang. Hal itu membuat wajahnya semakin tampan saja dengan sinar bulan yang menyinarinya. Sedangkan Auri sudah menangis terharu dengan hal yang disiapkan oleh kekasihnya.


“Will you marry me?”tanya Marcello yang membuat Auri tidak bisa menahan senyuman dan air mata. Sungguh sebuah lamaran yang sangat romantis.


Tidak hanya Auri saja yang terharu dengan tindakan Marcello. Beberapa orang yang membantu kesuksesan acara lamaran dari seorang marcello juga ikut terharu. Bahkan mahlika menatap tajam tunagannya. Karena dia tidak mendapatkan lamaran seindah sahabatnya.


Kembali lagi pada Marcello yang masih dengan posisi bertekuk lutut. Dengan buket bunga yang diarahkan pada kekasihnya. Pada tengah buket bunga itu terdapat sebuah cincin indah yang memiliki batu berlian kecil di tengahnya. Auri masih menatap wajah kekasihnya. Sedangkan marcello menahan kesal karena wanitanya belum juga menjawabnya.


“apakah kamu tidak akan menerima lamaranku?”tanya Marcello dengan wajah polosnya. Sedangkan Auri tidak bisa menahan melihat wajah kesal bercampur polos dan cemas. Dia ingin sekali mengabadikan wajah kekasihnya. Tapi Auri berpikir bukan lebih baik hanya dirinya saja yang mengingat wajah gugup kekasihnya.


“Tidak…” ucap Auri terpotong denga marcello. Pria itu langsung berdiri saat mendengar penolakan kekasihnya. Sedangkan Auri menahan kesal pada kekasihnya yang tidak membiarkannya menyelesaikan ucapannya.


“Kenapa kamu menolakku? Apakah lamaranku kurang romantis.” Ucap marcello yang membuat Auri ingin sekali menyetil otak pintar kekasihnya yang berubah menjadi bodoh pikirnya.


“kamu tidak membiarkan aku menyelesaikan perkataanku.” Ucap Auri yang membuat marcello kembali berlutut pada posisi awalnya. Dia seperti menunggu jawaban kekasihnya.

__ADS_1


Sedangkan orang yang menonton tingkah konyol dari kedua orang itu. Tidak habis pikir dengan tingkah marcello. Pria itu terlalu tidak sabar. Selain itu kenapa dia kembali berlutut. Auri juga berpikir sama dengan empat orang lain.


Sebenarnya dia sangat gemas dengan tingkah kekasihnya yang sedang menatapnya dengan pupy eyes. Sedang menanti jawabannya. Auri yang sudah tidak tega membuat kekasihnya menunggu. Akhirnya mengutarakan jawabannya untuk lamaran kekasihnya yang sangat dicintainya.


Pria pertama yang bisa membuat dunianya berubah. Pria yang memberikannya kenangan indah. Pria yang membuatnya sadar untuk hidup sendiri itu terlalu menyeramkan dan menakutkan.


Auri baru pertama kali ketakutan saat hidup tanpa orang lain. Pertama kali untuknya merasa hidup tanpa pria itu sebuah penyiksaan untuknya. Karena itu dia tidak ingin hal itu terjadi. Auri ingin menghabiska sisa waktunya bersama pria di depannya hingga sang pencipta memanggilnya kemabali.


“Aku tidak mungkin bisa menolakmu.” Ucap Auri yang membuat senyuman indah kembali terbit di wajah tampan Marcello. Pria itu langsung memeluk badan kekasihnya. Dia memutar badan Auri sangat tinggi. Tawa keduanya bergumam membuat semua orang ikut bahagia karena keduanya.


“Terima kasih sayang.” Ucap marcello sambil memasangkan cincin ke jari kekasihnya. Setelah dia memberikan kecupan di dahinya. Auri meresapi kecupan dari kekasihnya yang memberikannya cinta yang begitu besar.


“Terima kasih karena sudah mencintaiku selama ini.” Ucap Auri pada kekasihnya. Kedua mata mereka bertemu saling memancarkan rasa cinta mereka.


Dia merasa sangat berharga dimata pria di depannya. Dia sangat bahagia bisa dicintai sebesar ini. Auri memeluk badan kekasihnya. Dia tidak bisa mengatakan apapun satu hal yang dirinya rasakan saat ini adalah kebahagian. Dia berharap semua ini bertahan selamanya.


“Sebaiknya kita makan dulu bukan.” Ucap marcello pada kekasihnya. Pria itu menuntun Auri ke meja yang memberikan pemandangan malam kota yang penuh dengan lampu dan langit dengan tebaran bintang. View yang sangat memanjakan mata.


“Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Ucap marcello bersamaan seorang pelayan datang membawakan seluruh makanan kesukaan Auri. Wanita itu tidak pernah bisa berhenti tersenyum mendapatkan perlakuan istemewah dari tunangannya.


Sedangkan Mahlika dan kawan-kawan sudah meninggalkan Auri dan marcello. Tugas mereka sudah selesai. Mereka berniat untuk membiarkan pasangan itu menikmati waktu berdua.

__ADS_1


Mahlika sejak tadi menunjukkan wajah cemberut. Sedangkan Lyra malah senang melihat sahabatnya kesal. Dia memang selalu bahagia saat melihat mahlika bersedih atau kesal.


“kamu iri bukan dengan Auri, makanya jangan buru-buru sih.” Sindir Lyra yang langsung masuk ke dalam mobil Edgar. Dia tidak inginn mendapatkan lemparan sepatu karena amarah dari sahabatnya.


“Ih nyebelin banget.” Ucap mahlika sedangkan oskar tersenyum karena gemas.


Dia memilih menuntun kekasihnya ke dalam mobil. Sedangkan mahlika menatap tajam Oskar. Apakah tunangannya tidak peka dengan perasaannya. Rasanya nasibnya sangat menyedihkan karena memiliki kekasihnya yang tidak peka.


Sayangnya itu hanya pikiran mahlika. Oskar sudah sadar kalau kekasihnya sedang dilanda perasaan iri karena lamaran mereka terjadi begitu saja. Tentu saja dia tidak akan membiarkan itu saja. Oskar sudah menyiapkan kejutan untuk kekasihnya yang sedang marah. Biarlah dia berpikir oskar belum menyiapkan apapun. Agar mahlika akan senang saat nanti melihatnya.


“kamu sangat menyebalkan, masa tidak peka sih.” Sindir Mahlika pada kekasihnya yang malah fokus menyetir mobil. Dia tidak memperdulikan kekasihnya yang sedang marah.


Mobil yang dikendarai mereka melaju kesebuah tempat. Sedangkan mahlika tidak sadar kalau mobil yang mereka tumpangi tidak menuju rumah pribadinya. Mobil mengarah ke sebuah café yang berada di samping sebuah danau.


Mobil itu berhenti. Mahlika baru sadar kalau mereka tidak menuju rumahnya. Karena amarahnya belum reda. Dia malah menatap tajam pada kekasihnya. Tapi Oskar yang sangat sabar dengan setiap sikap kekasihnya hanya memberikan senyuman tipis.


“Ayo turun, kamu pasti senang.” Ucap Oskar pada mahlika.


Mahlika tidak banyak protes lagi. Dia turun dari mobil oskar. Pria itu langsung menggandeng kekasihnya ke dalam café. Saat itu mahlika terkejut melihat isi café yang sudah di dekor sedemikian rupa. Hingga terlihat cantik tapi bukan itu yang utama dari kejutan oskar.


Mahlika dan Oskar terus berjalan menuju kebelakang café. Saat itu mahlika tidak bisa menahan tangisannya karena terharu. Sebuah meja yang memberikan pemandangan samping danau yang telah dihias dengan indah. Saat itu dia langsung memeluk badan kekasihnya.

__ADS_1


“Terima kasih sayang.”ucap mahlika.


“aku tidak mungkin mengecewakanmu sayang.” Ucap oskar yang membuat wajah mahlika bersemu merah dengan senyuman yang semakin lebar. Menunjukkan kalau dia sangat bahagia saat ini.


__ADS_2