Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 64


__ADS_3

Mahlika baru saja menyelesaikan ujian sekolahnya. Setelah memasukan seluruh barangnya ke dalam tas. Gadis muda itu langsung meninggalkan sekolah. Dia tidak berniat langsung pulang kerumah.


Selama sebulan ini rutinitasnya setelah pulang sekolah adalah menemani ibunya yang terbaring lemah karena penyakit kanker yang diidapnya. Ayahnya sudah jarang menemani sang ibu. Bahkan selama satu bulan ini mahlika tidak pernah melihat batang hidung ayahnya saat di rumah maupun di rumah sakit.


Dia sudah membelikan sebuah buket bunga kesukaan sang ibu. Saat sudah hampir sampai ruang inap ibunya. Mahlika melihat pria yang selama satu bulan ini menghilang. Pria itu adalah ayahnya.


“Ayah.” Panggil mahlika yang berjalan mendekati sang ayahnya.


“Mahlika kamu disini?” tanya ayahnya yang melihat sang anaknya. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak melihat anaknya.


“Ayah kemana saja? Satu bulan ini ayah tidak pulang ke rumah atau berkunjung menemui ibu.” Tanya mahlika pada ayahnya.


Pria tua yang berdiri di depan mahlika itu terlihat pucat pasih. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya keheningan yang menelan mereka. Mahlika yang sebal karena sang ayah tidak menjawab pertanyaannya.


“Ayah kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Mahlika pad ayahnya dengan wajah cemberutnya. Pria tua itu tertawa melihat tingkah anaknya.


Sebenarnya ada hal yang dirinya sembunyikan dari anak sematawayangnya. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya. Dia hanya mengelus rambut anaknya yang selalu dipotong pendek karena mahlika malas untuk mengurus rambutnya.


“Kamu tahu kalau ayah banyak pekerjaankan. Satu bulan ini ayah harus pergi ke luar kota untuk mengecek bisnis ayah.” Ucap ayahnya mahlika yang membuat gadis di depannya berO ria.


“ayah kenapa tidak masuk ke dalam kamar inap ibu?” tanya mahlika.


“ayah sudah bertemu dengan ibu, ayah harus kemabli ke kantor. Kamu jangan terlalu malam di sini segera pulang. Bukankah besok kamu masih ada ujian.” Ucap ayah mahlika yang dijawab dengan gerakan hormat pasukan tentara. Ayah mahlika tersenyum melihat tingkah konyol anaknya.


“Ya sudah ayah pergi dulu.” Ucap pria tua itu yang dijawab dengan anggukan kepala oleh mahlika.


Mahlika kembali berjalan menuju ruang inap ibunya. Saat dia masuk, mahlika melihat wajah ibunya yang penuh air mata. Dia langsung mendekati sang ibu yang membuat wanita tua itu cepat-cepat mengelap air matanya.

__ADS_1


“ibu kenapa menangis?” tanya mahlika pada ibunya yang hanya memberikannya sebuah senyuman. Senyuman yang membuat mahlika selalu merasa tenang.


“Ibu jangan hanya tersenyum saja.” Protes mahlika yang membuat wanita tua itu tertawa melihat tingkah anaknya.


Wanita tua itu tidak bisa membayangkan reaksi anak gadisnya saat tahu pembicaraannya dengan sang suami. Dia pun masih bisa menerima keadaan keluarganya. Pria yang dia pikir akan selalu mencintainya. Apapun keadanya ternyata semua itu hanya angan-angannya saja.


Ayah dari anaknya memilih wanita lain dibandingkan dirinya yang sudah sakit-sakitan. Apalagi dia tidak tahu sampai kapan hidupnya bertahan. Penyakit ganas yang menggerogotinya sudah tidak bisa disembuhkan lagi.


Sekarang hanya satu orang dikhawatirkan oleh wanita tua itu. Siapa lagi kalau bukan anaknya. Mahlika mungkin akan marah besar pada ayahnya saat tahu tentang pilihan sang suami yang sebantar lagi akan berubah menjadi mantan.


“Ibu hanya merindukan kamu jadi menangis.” Ucap wanita tua itu sambil mengelus kepala anaknya.


“Ibu bohong.”


“kamu tahu saja kalau ibu bohong nak.” Ucap wanita tua itu sambil menarik hidung anaknya.  Tindakannya membuat mahlika berteriak karena rasa sakit yang dirasakannya.


Ibu dan Anak itu saling bercengkraman. Mahlika menceritakan kesehariannya dan ibunya mendengarkan dengan baik. Keduanya menikmati kegiatan berbincang yang mungkin akan dirindukan oleh gadis muda itu di masa lalu.


Satu minggu berlalu, mahlika belum bisa pergi mengunjungi sang ibu. Alasannya adalah dia harus pergi untuk mengurus kuliahnya. Awalnya mahlika khawatir dengan sang ibu. Bagaimanapun kondisi ibunya semakin hari mengalami penurunan.


Saat mahlika sedang berjalan-jalan di sebuah mall di kota B tempat dia akan berkuliah. Dia melihat pria yang sangat dirinya sayangi sedang bercengkraman dengan wanita lain. Mahlika tidak menyangka melihat pemandangan di depannya.


Kenapa ayahnya berada di kota ini. Padahal mahlika sudah bilang untuk menjaga ibu selama satu minggu ini. Karena dia harus pergi keluar kota.


Tidak hanya sampai di situ saja. Mahlika melihat keduanya bersentuhan layaknya seorang sepasang kekasih. Kenapa ayahnya melakukan hal seperti ini. Padahal istrinya sedang terbaring lemah di rumah sakit. Istrinya sedang berjuang untuk tetap bisa bertahan. Tapi ayahnya malah menghabiskan waktu bersama wanita lain.


Mahlika berjalan mendekati kedua orang yang sedang makan sambil sesekali bercanda gurau. Mereka tidak sadar kalau ada seorang gadis yang menatap kecewa pada ayahnya.

__ADS_1


“Ayah.” Panggil mahlika yang membuat pria tua itu terkejut saat melihat anak gadisnya berada di depannya.


“mahlika kenapa kamu ada di sini?” tanya pria tua itu.


“bukankah harusnya yang bertanya seperti itu adalah mahlika. Kenapa ayah ada di kota ini bersama dengan wanita lain? Bukankah ayah harusnya menjaga ibu.” Ucap mahlika yang menatap tidak suka pada wanita yang berdiri di samping ayahnya.


“Ayah bisa jelaskan mahlika, wanita ini adalah rekan kerja ayah.” Ucap pria itu yang mencoba mencari alasan pada anaknya.


“benarkah, tapi ayah terlihat bersama dengan wanita itu.” Ucap mahlika yang membuat ayahnya semakin bingung untuk mencari alasan.


Wanita yang berada di samping ayahnya mahlika menatap tidak suka pada suaminya. Wanita itu sudah menikah dengan ayah mahlika secara diam-diam di belakang anak dari suami barunya itu. Dia tidak suka karena suaminya mengatakan hanya rekan kerja.Bukankah dia adalah nyonya baru Oriathi.


Wanita tua yang masih terlihat canti dengan pakaian bermerek dan rambut yang bergelombang indah. Penampilannya masih sangat cantik untuk wanita yang sudah menginjak kepala empat.


Wanita itu berjalan mendekati mahlika. Dia menyodorkan tangannya pada anak suaminya. Dengan santainya dia mengenalkan dirinya. Hal itu membuat mahlika naik pitam dan marah pada ayahnya.


“Saya adalah Griela  Cathin Oriathi, istri baru ayah kamu.” Ucap wanita tua itu dengan bangga.


“Ayah menduakan ibu?” tanya mahlika yang membuat wajah pria itu semakin pucat pasih. Dia tidak menyangka hubungannya akan terbongkar pada anaknya. Awalnya dia berniat untuk mengenalkan istrinya dengan anaknya secara baik-baik tidak seperti saat ini.


“Oh ya, ibu kamu dan suami saya sudah bercerai. Jadi aku harap kamu jangan memaksa ayah kamu untuk menemani ibu kamu yang sakit-sakitan itu.” Ucap wanita tua itu yang membuat mahlika tidak bisa menahan amarahnya lagi. Rasanya kecewa dari pria yang selama ini dipercayanya sebagai suami dan ayah terbaik sudah hancur. Ternyata ayahnya hanya pria tidak bisa menerima kondisi ibunya.


PLAK.


Tamparan melayang ke wajah wanita tua itu yang membuat ayahnya terkejut. Tapi tidak sampai di situ saja. Ayah mahlika ternyata menampar balik anaknya yang membuat wanita tua itu tersenyum senang.


PLAK.

__ADS_1


“Ayah menamparku.” Ucap mahlika yang menyandarkan kesalahan pria tua itu. Dia tidak menyangka telah melukai anak gadisnya. Saat dia ingin menjelaskan pada anaknya. Mahlika lebih memilih meninggalkan ayahnya. Dia tidak ingin melihat pria bajingan yang sayangnya adalah ayahnya sendiri.


__ADS_2