Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 33 : Serangan


__ADS_3

Auri menatap tajam pria yang sedang asik menikmati makan malam. Sedangkan dia sama sekali tidak menyentuh makanan di depannya. Marcello sangat tahu tatapan kesal dari gadis kecil di depannya. Tapi dia tidak ingin menghilaukannya. Bukan sangat menggemaskan Auri saat ini.


“Apakah aku sangat tampan sehingga kamu lebih bernafsu melihatku dibandingkan makanan di depanmu.” Goda marcello.


“hey apa maksudmu? Aku tidak bernaf*su dengan pria sepertimu.” Ucap Auri yang mulai menyendokkan makanan kemulutnya.


Dia makan dengan kesal yang menumpuk. Auri menatap kesal karena kejadian tadi sore yang dilakuakn oleh marcello padanya. Rasanya dia tidak terima pipinya di kecup oleh pria seperti marcello.


“Lalu kamu akan bernafsu dengan pria seperti apa nona Auri?” tanya marcello. Dia langsung menghentikan makannya. Sepertinya mendengarkan auri lebih membuatnya kenyang.


“Kamu tidak perlu tahu.” Ucap Auri yang kembali menyuapkan sanduk berisi lauk pauk.


Marcello tidak menyangka Auri akan secepat itu makan ketika sedang kesal. Auri sudah menyelesaikan makannya padahal baru beberapa menit saja. Tidak ada makan ala wanita alim pada Auri. Gadis kecil itu seperti tidak malu makan dengan marcello. Tapi hal itu malah membuat marcello kembali suka pada karakter yang berbeda pada gadis di depannya dibandingkan wanita yang pernah dirinya temui akhir-akhir ini.


Mereka hanya wanita membosankan dan pecinta uang. Wanita-wanita itu akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatiannya. Tapi tidak ada yang bisa membuat seorang marcello menatap mereka. Berbeda dengan Auri yang sama sekali berniat untuk mencari perhatian marcello.Tapi semua yang ada pada Auri membuat seorang ketua mafia itu tertarik.


“Jadi kamu tidak akan memberikan aku hukum karena kita akan bekerja sama bukan mencari pelaku pembunuhan Aura. Jadi besok aku bisa kembali ke rumahku kan?” tanya Auri setelah mengelap bibirnya dengan tisu.


Tanpa Auri sadari marcello menatap kegiatannya saat mengelap bibirnya. Dia merasa ingin melakukan dengan jarinya dan menempelkan kedua bibir mereka. Marcello untuk pertama kali harus menelan ludahnya sendiri karena Auri.


“kamu tetap aku hukum karena sudah berani mencuri barangku.”


“Bukankah aku bilang kalau kamu menginkan sampah itu. Aku akan mengembalikannya. Jadi tidak ada hukumankan.” Ucap Auri dengan sangat santai. Dia seperti tidak merasa ada kesalahan yang diperbuatnya. Marcello gemas sendiri dengan Auri.


Kamu sangat menggemaskan. Rasanya ingin aku bawa kamu ke dalam kamar dan tidak akan memperlihatkan pada siapun.

__ADS_1


“kamu akan mulai tinggal di sini. Kamu akan dihukum dengan bekerja di kelompok mafiaku. Tapi bukan sebagai pembunuh bayaran atau pencuri. Kamu jago dalam meretaskan?” tanya marcello dengan kedua tangannya menahan dagu pria itu.


“Aku tidak berniat bekerja pada mafiamu tuan marcello.” Ucap Auri dengan wajah sinisnya.


“hahahha kamu tidak bisa menolak atau sahabatmu akan dalam bahaya. Mahlika dan Lyra bukan sahabatmu yang sejak beberapa minggu ini selalu mengawasi kediamanku.” Ucap marcello yang membuat Auri keringat dingin. Bagaimana bisa mahlika sampai ketahuan oleh marcello.


Ditempat lain, kedua wanita saling bertatapan. Mereka mendengar semua pembicaraan marcello dengan auri.


“Kamu melakukan kesalahan mahlika sehingga kita ketahuan oleh marcello.” Ucap Lyra.


“Sepertinya mengulang kesalahan yang selalu membuat Auri marah.” Ucap mahlika lirih yang langsung mendapatkan pukulan dari Lyra.


Lyra tidak habis pikir dengan mahlika. Dia salah melakukan keselahan di titik yang sama. Padahal beberapa kali Auri sudah memarahinya karena kesalahannya sangat kecil tapi fatal. Rasanya dia ingin menengelamkan kepala mahlika kedalam bak mandi.


“Kenapa kamu memukulku. Aku tidak sepenuhnya salah. Coba saja kamu bisa melakukan sepertiku setidak kamu bisa mengetahui kesalahanku.” Ucap mahlika yang tidak di salahkan.


Keduanya mulai beradu mulut. Padahal beberapa hari keduanya sangat akur. Selalu saja ada yang membuat mereka menjadi seperti saat ini. Sayangnya sekarang tidak ada Auri yang menengahi mereka.


Kembali ke meja makan  yang terisi Auri dan marcello yang saling hadap-hadapan. Auri mengigit bibirnya saat sadar dirinya sedang di pojokkan. Auri tidak sadar tindakannya membawanya dalam bahaya. Marcello menatap Auri dengan pandangan yang mulai menggelap.


“Jangan gigit bibirmu itu Atau bibirmu akan habis di makanku.” Ucap marcello dengan suara beratnya.


Hal itu menyadarkan Auri kalau di depannya adalah singa kelaparan yang bisa kapan saja menerkamnya. Ternyata pria sama saja mudah tegoda dengan hal- hal aneh. Pikir Auri yang memang tidak memiliki pengalaman berhubungan dengan pria sebelumnya.


“Enyahkan pikiran kotormu itu.” Ucap Auri dengan suara sedikit keras. Tanpa sadar dia melemparkan tisu bekas mengelap bibirnya ke depan marcello. Anehnya pria itu tidak marah malah menggunakannya untuk mengelap bibirnya.

__ADS_1


“Kamu gila, itu tisu kotor.”


“Bukankah secara tidak langsung kita berciuman.” Goda marcello yang membuat Auri semakin kesal.


“HEY HARUSNYA KAMU ELAP OTAK KAMU BIAR BERSIH SANA. DASAR PRIA MESUM.” Teriak Auri.


Setelah itu Auri berdiri dan berniat meninggalkan marcello yang sedang tersenyum. Auri sangat menggemaskan jika tersipu malu atau marah seperti saat ini.


Baru saja Auri berjalan beberapa langkah. Dia membalikkan jalan menuju marcello yang membuat pria itu sedikit terkejut. Tapi wajah Auri sekarang sedang sangat serius.


Marcello mencoba memahami maksud dari tatapan Auri. Wanita itu berjalan sangat cepat lalu menarik tubuh marcello. Marcello bingung dengan perlakuan Auri.


“Aku merasakan sesuatu yang aneh. Sepertinya rumahmu disusupi oleh seseorang. Kita harus bersembunyi dan membuat rencana.” Ucap Auri.


Tadi saat dia berniat kembali kekamarnya. Dia melihat pergerakan yang mencurigakan dari taman. Mereka berpakaian baju hitam dan membawa pistol. Wajah mereka tertutup kain.


Kenapa Auri bisa melihatnya. Karena selama 1 tahun dia sudah bekerja dalam beberapa misi. Walaupun kebanyakannya adalah pembunuh bayaran dan pencurian barang antik. Penampilan dari beberapa orang yang mencoba membuka pintu penghubung rumah dan taman. Beruntungnya tadi ana berada di sisi gelap yang sulit mereka lihat.


“Kamu memmiliki senjata yang bisa digunakan?” tanya Auri ketika mereka sudah menemukan tempat untuk bersembunyi. Mereka sekarang bersembunyi di dapur. Beruntungnya ada dinding yang membuat para penyusup akan sulit melihat Auri dan marcello. Tapi berbeda dengan Auri yang masih bisa melihat dari sini.


“Seluruh senjata ada di kamar dan ruang kerja.” Ucap marcello.


Auri melihat sekitar dapur, ternyata dia menemukan beberapa set pisau dapur yang bisa digunakan mereka untuk melindungi diri. Auri memberikan pisau itu pada marcello.


“Aku sudah menghubungi Edgar. Dia akan bergerak. Kamu jangan jauh-jauh dariku.” Ucap marcello.

__ADS_1


“Sekarang kita harus menyerang mereka bukan?” tanya Auri yang tidak mengikuti ucapan marcello.


Marcello menghela nafas kasar. Dia sadar kalau Auri bukan wanita yang mudah di atur. Tak apa kalau wanita itu tidak terluka. Marcello sangat tahu kekuatan Auri.


__ADS_2