Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 58


__ADS_3

Mahlika dan Marcello saling menatap tajam. Sedangkan Auri hanya bisa membuang nafas kasar melihat kelakuan dari sahabatnya dan pria yang telah mencuri hatinya. Rasanya menggelikan kalau mengingat kata-kata itu. Bagaimana bisa seorang Auri sangat agresif pada marcello.


“Auri kamu harusnya tidak melakukan itu sebelum menikah.” Ucap mahlika yang membuat orang-orang yang berada di ruangan itu terkejut.


Sungguh mahlika adalah wanita yang sangat kolot dan berbudaya. Padahal Auri juga memegang prinsip yang sama dengan sahabatnya. Tapi bodohnya ia malah tergoda dengan perlakuan marcello.


“Terima kasih kamu telah mengingatkanku.” Ucap Auri yang membuat marcello semakin menatap tajam pada sahabat kekasihnya. Sedangkan mahlika malah tersenyum lebar.


Auri memang orang yang keras kepala. Tapi mahlika jagonya untuk membuat sahabatnya luruh dan mengikuti ucapannya. Kamu pikir bisa merebut sahabatnya dengan mudah tuan marcello.


“Sialan wanita ini.” Ucap marcello dalam hati.


Sedangkan Oskar dan Edgar tidak bisa menahan tawa melihat nasib bossnya. Mungkin mulai saat ini bosnya akan sering uring-uringan. Tapi biarkan mereka bahagia melihat keadaan sahabat yang menyedihkan itu.


“Tapi sayang masa aku tidak kecup bibir kamu. Aw.” Ucap marcello bersamaan pukulan yang diberikan oleh Auri maupun mahlika.


“walaupun aku bukan orang solehah tapi aku harus tetap mengikuti ajaran agamaku.” Ucap Auri dengan mangga yang langsung dianggukan oleh mahlika.


Kedua wanita itu memang buka muslimah yang solehah. Tapi keduanya selalu mencoba untuk mengikuti ajaran agama mereka. Walaupun mereka melakukan dosa yang sangat besar.


“cih kalian sekarang bilangnya ajah begitu. Tapi masih suka berbuat jahat.” Ucap Lyra.


“Enak ajah aku dan Auri tidak membunuh orang lain. Karena membunuh orang itu dosanya besar.” Ucap mahlika dengan senyum bangga.


Sedangkan ketiga pria yang berada di ruangan itu seperti terkenal pukulan telak. Mereka memang tidak mempercayai tuhan seperti ketiga gadis. Mereka jauh dari ajaran tuhan.


Sebenarnya dari ketiga pria itu. Hanya Edgar yang sudah memeluk agama Islam. Awal dirinya berpacaran dengan Aura di mulai sadar dengan kesalahan selama ini. Dia mulai mengurangi hal-hal yang dilarang oleh agama. Tapi setelah kematian gadisnya semuanya kembali hancur.


Sedangkan Marcello dan Oskar mereka tidak pernah mengenal kepercayaan. Walaupun orang tua marcello sudah memeluk agama islam beberapa tahun lalu. Tapi dia lebih memilih untuk tidak mempercayai sang penciptanya.


Sekarang dia bertemu dengan gadis yang selalu mencoba taat dengan ajaran agamanya. Sedangkan dirinya tidak pernah percaya dengan tuhan.

__ADS_1


“Ya kamu memang tidak membunuh tapi mencuri data orang lain memang tidak dosa.” Ucap Lyra yang membuat mahlika malah tersenyum sambil menggaruk lehernya.


“Tapi kamu juga masih belum melakukan perintah loh buat nutup aurat.” Ucap Mahlika pada Lyra yang tidak mau kalah.


Sedangkan Auri sudah malas mendengarkan perdepatan kedua sahabatnya. Tidak akan pernah selasai. Keduanya seperti banyak hal yang bisa di debatkan.


“Kamu juga belum melakukannya.” Ucap Lyra.


“Aku sedang menuju.”


“menuju ke mana heh?” tanya Lyra.


“Menuju hatimu beb” ucap Mahlika yang malah membuat Oskar tertawa gemas dengan ucapan menyebalkan gadis yang diincarnya.


Sedangkan Lyra menatap sebal pada sahabatnya. Dia memang tidak akan pernah bisa menang melawan mahlika. Selalu saja tahu bagaimana mengeles dan melawan ucapannya.


“Sudahlah kalian akan berdebat terus? Aku lelah mendengarnya.” Ucap Auri yang menatap sebal pada kedua sahabatnya.


“hehehe maaf Auri, Btw kalau kamu pacaran dengan marcello. Kamu tidak takut dengan kak Antara?” ucap Lyra yang sedikit ambigu.


Sebenarnya seberapa kejam sahabatnya itu menguji Edgar. Sekarang dia tidak membayangkan ujian apa yang akan diberikan Antara padanya. Tentu akan lebih sulit dibandingkan pada tangan kananya.


“Biarlah itu urusan marcello. Dia pasti sudah tahu bagaimana menghadapi kak antara.” Ucap Auri dengan santai.


“Ya sudah Auri aku pulang dulu.” Ucap Lyra pada Auri yang dijawab anggukan kepala.


Sedangkan mahlika sama sekali tidak berniat untuk pulang. Hingga Lyra malah menariknya. Tentu saja Mahlika tidak tinggal diam. Dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya bersama marcello. Bisa-bisa sahabatnya bisa di sosor lagi.


“ngapain sih kamu narik aku. Aku bakal nemenin Auri di sini. Biar mereka saja yang pulang.”


“Sudah kamu ikut aku ajah sih jangan banyak protes.” Ucap Lyra yang sedikit kesulitan menarik mahlika yang memiliki tenaga yang cukup besar.

__ADS_1


“Gak , Auri dalam bahaya kalau hanya berdua dengan singa gila itu.” Ucap Mahlika yang tidak sadar sudah mengumpat pada Marcello.


Edgar dan Oskar tidak menyangka akan ada orang lain yang berani mengumpat bosnya. Beruntungnya mahlika sahabat Auri. Sehingga bosnya tidak akan berani marah padanya.


“Bukankah dia terlalu berani untuk membuat bos marah.” Ucap Oskar pada Edgar.


“ya kamu benar, tapi wanita itukan incaranmu. Bagaimana kalau kamu bawa dia?” tanya Edgar.


Entah kemana sikap dingin pria itu. Tanpa sadar Lyra sesekali melihat pada Edgar. Pada dasarnya hati sudah beku jadi kepekaanya kurang. Oskar saja sadar dengan tatapan yang diberikan oleh sahabat Auri itu.


“Kalau aku bisa melakukannya sudah aku lakukan.” Ucap Oskar sedih mengingat kondisi mental Mahlika yang tidak mungkin untuknya bersentuhan dengan Mahlika.


“Sudahlah kamu pulang saja sana. Jangan ganggu aku dengan kekasihku.” Ucap Marcello yang membuat kedua sahabatnya kembali terkejut. Sejak kapan bosnya akan seperti anak kecil yang memperebutkan mainan. Lihatlah Marcello sekarang malah memeluk badan Auri seperti takut di bawa oleh mahlika.


“Hey jangan peluk sahabat aku. Belum nikah gak boleh bersentuhan.” Ucap mahlika yang mencari alasan untuk membuat Auri menjauh dari kekasihnya.


Benar saja Auri saja seperti perkiraan mahlika. Gadis itu langsung melepaskan pelukan marcello yang membuat pria itu cemberut. Sedangkan Auri sama sekali tidak terpengaruh dengan wajah kekasihnya.


“hahahhahahha.” Tawa Oskar dan Edgar yang sudah tidak bisa menahan tawa meliha nasib sahabatnya itu.


“kalian berani menertawakanku.” Ucap Marcello dengan tatapan tajam yang membuat kedua pria itu berhenti tertawa. Sedangkan Mahlika tersenyum senang dan bangga karena marcello tidak akan bisa berdekatan dengan sahabatnya.


“Sayang.” Rajuk marcello.


Auri membuang wajahnya. Dia tidak ingin menatap marcello karena takut akan luruh. Sedangkan Oskar dan Edgar harus menahan tawa melihat adegan di depannya.


“marcello sebaiknya kamu pulang saja, Mahlika akan menemaniku.” Ucap Auri pada marcello yang membuat pria itu terkejut dan tidak percaya menatap gadis kecilnya.


“Sialan, sepertinya aku harus memberikan hukuman pada sahabat Auri itu. Kenapa dia suka sekali menggangguku.” Ucap marcello dalam hati.


“Sayang aku tidak akan meninggalkanmu.” Protes marcello.

__ADS_1


Auri sebenarnya ingin tidur karena efek obatnya sudah mulai terasa tapi mereka semua tidak sadar dengan kondisinya saat ini. Kenapa dia harus dikelilingin orang yang menyebalkan dan tidak peka. Mau itu sahabat atau kekasihnya.


“Baiklah tapi mahlika tetap di sini. Aku takut hilap jika berduan denganmu terus.” Ucap Auri yang membuat mahlika tersenyum lebar.


__ADS_2