
Setelah kejadian marcello dan Mahlika yang tidak ingin mengalah untuk menjaga Auri. Ternyata hal itu tidak untuk terakhir kalinya. Pagi hari Auri yang ingin pergi ke kamar kecil harus menahan emosi karena kedua orang itu malah berdebat panjang.
“Aku yang akan membantu Auri kamu pergi saja sana kerja.” Ucap mahlika.
“Tidak, kamu saja yang pergi dari sini. Aku bisa mengurus gadis kecilku.” Bantah Marcello.
Sungguh Auri sudah tidak bisa menahan dirinya untuk pergi ke kamar mandi. Tapi dia juga sulit untuk berjalan karena luka di kakinya. Jika dipaksakan bisa-bisa lukanya terbuka.
Beruntungnya Edgar datang ke ruangannya. Tanpa menunggu kedua orang yang masih berdebat itu. Auri langsung memanggilnya dan meminta bantuan pada manta pancar adiknya.
“Edgar bantu aku ke kamar mandi.” Ucap Auri dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh Edgar. Sedangkan marcello dan Mahlika tidak mendengar karena mereka terlalu fokus dengan perdebatan mereka.
“Baik nona.” Ucap Edgar.
Saat Edgar sudah mengangkut badan Auri. Marcello yang tidak sengaja melihat langsung menatap tajam pada Edgar. Pria itu meninggalkan mahlika dan langsung merebut Auri kedalam pelukannya.
“Tunggu hukumanmu nanti Edgar.” Ucap marcello pada tangan kanan.
Edgar hanya bisa membuang nafas kasar. Dia sudah bisa menduga akan berakhir seperti ini. Tapi Edgar juga tidak tega melihat wajah Auri yang sudah tidak menahan masalah pribadinya itu. Sedangkan bossnya malah masih fokus dengan perdebatannya.
Marcello menurunkan Auri tepat ke depat keloset. Pria itu tidak berniat untuk keluar dari kamar mandi. Sekarang marcello hanya memutar badannya saja.
“Marcello keluar dari sini.”
“aku akan menunggu kamu di sini. Jadi saat kamu butuh bantuan aku bisa membantumu.” Ucap marcello dengan santai.
__ADS_1
“KAMU GILA .” teriak auri dan mahlika yang sudah datang di depan pintu.
Mahlika langsung berjalan menuju Marcello dan mendorong badan pria itu keluar dari kamar mandi. Sayangnya badan pria itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
“keluar marcello. Jangan membantah atau aku akan marah.” Ucap Auri yang membuat pria itu akhirnya memilih mengalah. Kalau dipikir-pikir juga dia tidak semestinya seperti pada Auri.
“baiklah, kalau sudah selesai panggil aku.” Ucap marcello yang berjalan keluar dari kamar mandi. Sedangkan mahlika berada di kamar mandi membantu sahabatnya.
“sudah aku bisa sendiri. Kamu juga tunggu di luar ajah mahlika.” Ucap auri. Mahlika tanpa bantahan mengikuti ucapan sahabatnya.
“huh mereka sangat merepotkan kalau di satukan. Sudah cukup mahlika dan Lyra yang sering membuat kepalaku pusing. Sekarang malah marcello dengan mahlika yang berulah.” Ucap Auri dalam hati.
Akhirnya kamar inap Auri sepi juga saat marcello harus pergi ke kantornya. Meskipun auri harus membujuk pria yang sekarang menjadi kekasihnya. Marcello tidak ingin berjauhan dengan Auri. Hal itu membuat Edgar maupun Auri dibuat pusing.
Setidaknya hanya tersisa sahabatnya yang sedikit lebih tenang. Hal itu membuat Auri bisa sedikit istirahat sesaat. Karena Auri menduga beberapa jam kedepan akan ada keributan kembali.
“Tidak.” Ucap mahlika dengan nada yang tegas. Auri membuang nafas karena akan sulit membuat sahabat keras kepalanya ini berdamai dengan Marcello. Dia saja sangat sulit dengan Lyra yang sering mengalah padanya. Sekarang lawannya adalah marcello yang sama sekali suka mengalah pada orang lain.
“Ayolah mahlika aku bisa mati muda kalau kalian bertengkar terus.” Ucap Auri yang sudah hampir frustasi. Padahal belum satu hari dirinya berada di kamar inapnya.
“Jangan buat aku mati konyol hanya karena kalian berdua.”
“kalau begitu kamu putus saja dengan pria itu. Dia tidak baik untukmu.” Ucap mahlika yang masih fokus dengan hpnya. Dia sedang asik menonton oppa koreanya. Karena itu mahlika bisa sedikit lebih tenang.
“Mahlika.”
__ADS_1
“apa Auri? Aku tidak salah bukan. Marcello itu ketua mafia. Kamu tidak akan hidup dengan tenang. Aku bukan tanpa alasan tidak menyutujui hubunganmu dengan pria itu.” Ucap mahlika yang sekarang sudah meletakkan hpnya. Dia berjalan menuju kursi di samping sahabatnya.
Auri terdiam dia bingung untuk menjawab ucapan sahabatnya. Apa yang diucapkan Mahlika tidak ada yang salah. Berhubungan dengan Marcello tidak hanya berbahaya untuknya tapi juga orang sekitarnya.
Dia sudah bertemu dengan musuh kekasihnya yang selalu membuat orang sekitar marcello terluka. Hal itu akan membuat marcello hancur dengan lebih cepat. Tapi Auri tidak bisa kembali membohongi hatinya.
“Aku tidak ingin kamu bernasib sama dengan Aura. Kamu pikir aku tidak tahu alasan kematian adik kembarmu. Semua itu karena pacarnya berhubungan dengan marcello.” Jelas Mahlika yang sekarang memegang tangan Auri.
“Cukup hal itu terjadi pada Aura. Aku tidak ingin kehilanganmu Auri. Kamu tahu aku tidak punya siapapun di dunia ini selain kamu dan Lyra. Jadi jangan tinggalkan aku sendirian.” Ucap Mahlika yang mulai menitihkan air mata.
Air mata yang sudah ditahannya beberapa jam lalu. Melihat kondisi sahabatnya sudha membuat hati mahlika sakit. Auri sudah seperti kakak sekaligus adik untuknya. Keberadaan wanita itu bahkan lebih penting dari nyawanya.
“Mahlika lihat aku sekarang.” Ucap Auri sambil menarik dagu sahabatnya agar bisa menatapnya.
Auri sangat mengerti perasaan sahabatnya. Mahlika memang menyandarkan hidupnya padanya. Dia tahu tentang semua rahasia wanita itu. Karena itu Auri tidak ingin mengakhiri hidupnya karena keberadaan gadis di depannya.
Mahlika memang terlihat lebih ceria dibandingkannya. Tapi semua itu hanya cara mahlika untuk menutupi semua lukannya. Mahlika adalah sahabat yang paling mengerti Auri. Dia jarang menetang keinginan Auri. Bahkan saat Auri mengatakan niatnya untuk masuk ke dunia hitam. Mahlika tidak mempermasalahkannya.
Tapi dia tidak menyangka sahabatnya tidak menyukai hubungannya bersama marcello. Pria yang tidak membutuhkan waktu lama untuk mencuri hatinya itu. Sayangnya sahabatnya tidak menyukai kekasihnya. Hidupnya memang rumit sekali.
“Dengarkan aku, Aku tahu kalau menjadi kekasih Marcello tidak akan selancar seperti dengan pria lain. Tapi aku hanya bisa merasakan perasaan itu bersamanya. Jadi aku berharap kamu bisa mengerti aku.” Ucap Auri pada sahabatnya.
Mahlika membuang nafas kasar. Ternyata dugaanya benar. Kalau sahabatnya sudah jatuh cinta pada marcello. Sepertinya tidak ada cara lagi untuk membuat hubungan meraka terputus.
“Baiklah, tapi janji padaku tidak akan kejadian seperti ini lagi. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini Auri.”
__ADS_1
“Aku berjanji akan melindungi Auri dengan seluruh nyawaku mahlika.” Ucap seorang pria yang baru masuk. Orang itu adalah marcello. Pria itu sejak beberapa saat sudah berada di depan pintu kamar Auri. Dia mendengar semua pembincangan kedua wanita itu.
Sekarang marcello sadar kalau alasan mahlika tidak menyukainya berdekatan dengan sahabatnya karena dia adalah ketua mafia. Sekarang marcello juga baru merasa menyesal dengan bisnisnya itu. Setelah melihat wanita yang dicintainya terluka sudah membuat marcello sadar kalau dia tidak bisa terus dalam bisnis gelap itu.