Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 47


__ADS_3

Auri memang harusnya tidak terlalu berharap lebih pada marcello. Tidak ada cara lain untuk mengetahui obat yang dikomsumsi oleh selena. Hanya ada satu cara yaitu bertanya pada selena secara langsung.


“Aku besok akan memulai rencanaku. Besok jam 8, oskar kamu bawa badan selena di sebuah gang yang berjarak 4 blok dari toko roti. Aku akan biarkan badan selena di sana. Jangan sampai telat.” Ucap Auri.


“kamu akan melakukan rencana itu?” tanya marcello.


“ya mau bagaimana lagi. Kita hanya bisa turun langsung bukan. Apalagi kamu sudah menghabiskan ke lima orang itu.”


“Aku hanya memotong lidangnya saja.” Ucap marcello dengan santai.


Apakah pria di sampingnya tidak sadar perlakuannya sangat kejam. Mungkin kalau marcello mengatakann mahlika, wanita itu akan tertarik dan senang. Tapi tidak untuk Auri. Sekejam apapun Auri dia tidak pernah berniat menyiksa korbannya. Hanya memberikan dua hal mati secara perlahan atau mati saat itu juga.


“Kamu tidak sadar kalau perlakuanmu terlalu kejam.”


“Kamu juga sama kejamnya denganku saat membius Oskar dengan dosis untuk membuat seekor singa pingsan.” Ucap marcello yang tidak mau kalah.


“Aku hanya memastikan kalau oskar pingsan. Semakin seorang kuat akan menurunkan efektivitas biusnya. Apalagi oskar pasti sudah kebal dengan bius biasa bukan?” Ucapan Auri dijawab dengan anggukan oleh oskar.


Oskar memang sudah kebal dengan racun dan obat bius. Hal itu dia lakukan untuk memastikan tidak ada musuh yang bisa mengalahkannya. Dia sudah mengomsumsi racun dan obat bius sejak masuk dalam kelompok marcello. Tepatnya sudah 8 tahun sejak pertama kali dia mengomsumsi racun.


Sekarang badannya sudah bisa menahan segala racun. Sekarang Oskar jadi sulit untuk dijatuhkan dengan racun dan obat bius. Tapi Oskar tidak menyangka akan langsung pingsan saat Auri memberikan bius dengan dosis tinggi.


“Jadi jangan menghalangi aku untuk melaksanakan rencana kita. Aku tidak bisa lebih lama membiarkan pelaku pembunuhan Aura bebas begitu saja.” Ucap Auri dengan aura yang sangat tidak nyaman untuk Oskar.

__ADS_1


Marcello mengelus punggung Auri untuk meredakan amarah yang sempat muncul. Dia sangat paham yang dirasakan wanita di sampingnya. Bohong kalau marcello tidak cemas dengan Auri. Marcello hanya tidak ingin terjadi hal buruk pada gadis kecilnya.


“Baiklah tapi aku akan menggantikan mahlika. Tidak ada penolakan lagi.” Ucap marcello yang membuat Auri membuang nafas dengan kasar.


Usulan marcello tidak buruk. Jika bersama mahlika sebenarnya sedikit berbahaya. Bukan tidak mempercayai keahlian mahlika. Hanya saja sahabatnya sangat ceroboh dan sedikit berbahaya jika Auri ketahuan karena kesalahan kecil dari mahlika.


“baiklah. Kalian bisa pulang aku akan tidur di rumahku malam ini.” Ucap Auri.


“Oskar pulanglah.” Ucap Marcello yang sama sekali berniat meninggalkan Auri.


“kamu juga pulang hey tuan marcello menyebalkan.” Ucap Auri kesal harus bersabar dengan setiap tingkah pria ini.


Batas kesabaran sudah berada di titik puncak. Jangan membuatnya harus mengeluarkan amarah karena tingkah egois marcello. Auri menatap tajam pada marcello. Pria itu malam membalas dengan senyuman manis. Bahkan dengan beraninya marcello mencium bibir Auri di depan oskar.


BRak


“Sayang.” Teriak marcello karena jatuh akibat dorongan Auri. Apalagi sekarang posisinya kepala dibawah dengan kakinya menggantung ke sofa. Auri bahkan sudah tertawa keras melihat posisi marcello yang sangat memalukan.


“Oskar jangan tertawa.” Ucap marcello yang melihat bawahannya sedang menahan tawa. Sungguh marcello sangat malu. Kenapa dia jatuh dengan posisi yang sangat memalukan. Apalagi Auri malah menertawakannya.


Pada akhirnya Auri dengan inisiatif membantu marcello. Saat itu marcello tersenyum jail. Dia menemukan cara untuk memberikan balasan pada gadis kecilnya.


Saat Auri menyodorkan tangannya untuk membantu Marcello berdiri. Pria itu malah menarik badan Auri yang membuat wanita itu mengecup bibir marcello. Pria itu tersenyum dengan senang karena Auri yang pertama kali melakukannya.

__ADS_1


“Sepertinya kamu sangat suka dengan bibirku bukan sayang?” tanya marcello dengan nada sedikit menggoda.


Auri tersipu malu karena dia tidak bisa menahan tubuhnya. Sehingga malah jatuh ke atas badan marcello. Bibirnya malah menempel dengan pria itu. Sekarang Auri ingin menghilang saja.


“Lihatlah pipimu sangat merah. Kamu sangat menggemaskan sayang.” Ucap marcello dengan nada menggoda tidak lupa sebuah kedipan mata dari pria itu. Auri yang tidak bisa mengatur jantungnya yang bekerja beberapa kali lebih cepat dari biasanya.


Auri langsung mendorong badan marcello untuk kedua kalinya. Sekarang tubuh marcello terlentang di lantai. Sedangkan Auri berjalan menuju kamarnya. Dia sudah tidak bisa bertahan untuk satu ruangan dengan marcello.


Marcello tersenyum bahagia karena bisa membalas Auri. Tidak hanya itu dia menatap Oskar. Marcello mengejek bawahannya yang belum bisa melakukannya dengan wanitanya.


“Sabarlah oskar.” Ucap marcello yang sudah berdiri dari posisi terlentangnya.


Oskar mendengus sebal dengan marcello. Dia sangat iri dengan marcello yang bisa berdekatan dengan Auri. Sedangkannya entahlah kapan mahlika bisa tersipu malu karena godaanya. Oskar baru sadar sejak mahlika di dalam mobil wanita itu sama sekali tidak tersipu malu. Wanita itu malah sednag menahan amarahnya.


Apakah benar oskar hanya bisa bermimpi untuk bisa memiliki Mahlika. Wanita yang sejak pertemuan pertama memberikan kesan untuk Oskar. Bahkan dirinya saja bingung bisa tertarik dengan mahlika.


Tapi wanita itu seperti memiliki sesuatu yang menariknya. Dia selalu penasaran tiap hari. Rasanya ingin selalu ada di sekitar gadis misterius itu. Sayangnya Oskar harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat mendapatkannya. Bukan hanya perasaannya, oskar harus membuat mahlika terbiasa dengan keberadaanya.


“Semangatlah. Setidaknya wanita itu tidak akan berdekatan dengan pria lain. Jadi peluangmu masih lebih besar untuk mendapatkannya. Selain itu Oskar aku ingin kamu mengawasi toko roti itu. Sepertinya akan yang terjadi pada tempat itu.” Ucap marcello sebelum Oskar pergi meninggalkannya.


Marcello memang tidak berniat untuk meninggalkan rumah Auri. Dia berjalan menuju ketiga pintu yang salah satunya adalah kamar tidur. Marcello masuk ke dalam ruangan yang paling kanan. Bukan pintu yang dimasuki oleh Auri tadi.


Hal yang pertama yang dilihat marcello adalah sebuah ruangan yang memiliki teknologi canggih. Ternyata ruangan itu tidak kecil. Terdapat banyak senjata yang terpasang.

__ADS_1


Semua senjata yang tertata di dinding adalah rakitan dari Auri. Marcello dapat menduganya dari desain berbeda dengan yang dipasaran. Bentuknya sangat menarik dan indah pikir marcello. Saat marcello berniat menyentuhnya suara seseorang menahannya.


“jangan sentuh. Apakah kamu tidak tahu sopan satun. Dilarang masuk ke dalam ruangan tanpa izin pemilik rumah.” Ucap Auri yang menatap tajam.


__ADS_2