
Marcello tidak bisa menahan air matanya melihat kondisi gadisnya. Sungguh Dia menyesal dengan pilihannya membawa Auri. Padahal dia sudah tahu kalau gadisnya akan dalam bahaya jika ikut bersamanya. Tapi Marcello tetap mengikuti perkataan Auri.
Auri merasakan sebuah air yang menetes di kulitnya. Langsung mengangkat kepalanya dengan susah payah. Tubuhnya sudah sangat lemas untuk digerakkan. Bahkan dia sudah tidak merasakan luka yang bersalang di badannya. Sepertinya Auri pernah merasakan perasaan seperti ini.
Tapi saat ini ada seorang pria yang menangis di depannya. Rasanya aneh melihat pria menyebalkan itu menangis. Padahal dia biasanya mengancamnya dengan berbagai hal yang membuat Auri tidak bisa berkutik.
“Kenapa anda menangis tuan marcello.” Tanya Auri yang masih bisa tersenyum.
Saat ini marcello ingin mengabadikan senyuman tulus yang diberikan oleh wanita di depannya. Aneh bukannya dia segera membawa badan Auri. Marcello malah menikmati pemandangan yang mungkin hanya saat ini saja dirinya bisa melihatnya.
“Bukankah aku sudah bilang untuk kabur jika keadaan mulai berbahaya untukmu Auri. Kenapa kamu tidak pernah bisa mendengarkan perintahku bankan saat seperti tadi?” Ucap marcello yang membawa badan gadis kecilnya kedalam pelukannya.
Auri merasakan perasaan hangat yang telah hilang sejak kepergian Aura. Rasanya Auri tidak ingin melepaskan dekapan Marcello. Dia sangat merindukan perasaan ini. Bolehkah saat ini Auri egois untuk sesaat saja. Auri ingin merasakan pelukan hangan marcello.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu marcello.”
“Kenapa?” Tanya marcello yang melepaskan pelukannya. Sekarang Marcello menatap mata Auri. Bolehkah sekarang dia mendapatkan jawaban yang selama ini dinantinya.
“Tidak ada alasan.” Ucap Auri dengan sebuah senyuman yang mengiringi. Setelah itu tubuh Auri pingsan di dalam pelukan marcello.
Oskar dan Edgar sudah memanggil ambulan untuk membawa Auri. Tanpa diperintah oleh tuannya. Mereka sudah tahu telah terjadi hal buruk saat mendengar suara tembakan yang terjadi beberapa saat setelah Auri berteriak.
“Tuan Ambulan telah datang.” Ucap Edgar.
Marcello langsung membwa badan Auri menuju ambulan yang telah dipanggil oleh Edgar. Sebanarnya ambulan itu sudah berjaga di sekitar markasnya. Jadi mereka tidak membutuhkan waktu yang lama.
Marcello duduk di samping Auri yang terbaring. Kedua tangannya memegang tangan Auri yang tidak ada terkena tembakan. Beruntungnya Auri bisa menghindari tembakan dari pria bertopeng itu. Sehingga lukanya tidak begitu parah.
Tidak membutuhkan waktu lama menuju rumah sakit. Karena Marcello memang membangun sebuah rumah sakit yang tidak begitu jauh dari markasnya. Alasanya untuk meminimalis kejadian seperti saat ini. Setidaknya bawahannya dapat segera mendapatkan perawatan jika jaraknya tidak begitu jauh.
__ADS_1
Marcello duduk di kursi yang berada di depan ruang operasi. Auri harus melakukan operasi untuk mengambil peluru yang bersarang di badannya. Selai itu luka di perutnya ternyata cukup dalam walaupun tidak mengernai organ pentingnya.
“Tenanglah marcello, Auri pasti akan baik-baik saja.” Ucap Edgar yang baru saja tiba bersama dengan Oskar.
Kedua pria itu tidak menyangka luka yang diderita Auri cukup parah dengan dua tembakan dan satu tusukan di perutnya. Sepertinya kalau orang itu bukan Auri mungkin dia akan mendapatkan luka yang lebih parah.
“Apakah kita harus memberitahu kedua sahabat Auri?” tanya Oskar.
“Kamu bisa menghubungi mereka.” Ucap marcello.
“Kamu tidak takut mahlika marah padamu oskar?” tanya Edgar yang sudah tahu kalau sahabatnya sedang mengejar sahabat Auri.
“Bukankah lebih baik memberi tahu mereka dibandingkan menyimpan rahasia yang akan memberikan hukuman yang lebih besar.” Ucap oskar.
Pria itu berjalan menjauh tuannya dan sahabatnya. Dia berniat menghubungi mahlika. Bagaimana Oskar bisa mendapatkan nomor sahabat Auri. Tentu saja dengan meretas data pribadi wanita itu. Tidak sulitnya untuk mendapatkan data mahlika.
“hallo ada apa Auri kamu memanggilku? Tidak bisakah kamu memberi waktu untukku tidur walau hanya satu menit.” Ucap mahlika yang malah tertidur lagi dengan hp yang masih terhubung dengan oskar.
Oskar yang tidak bisa menahan tawa akhirnya tertawa. Hal itu membuat mahlika bangun dari tidurnya. Dia ingat kalau Auri tidak mungkin tertawa seperti itu. Berarti orang yang sedang menghubunginya bukan sang sahabat. Tapi siapa,mahlika tidak punya teman selain kedua sahabat wanitanya.
Akhirnya mahlika menjauhkan hpnya dan melihat nomor dari orang yang menghubunginya. Dia baru berniat untuk mematikan panggilan jail itu. Hingga suara yang sangat dia kenali membuat mahlika semakin saja berniat untuk memutuskan panggilan.
“Jangan di putuskan panggilannya.” Ucap Oskar tapi mahlika sudah berniat untuk memutuskan hingga dia mengatakan sesuatu mengenai sahabatnya.
“Ini tentang Auri.”
“Ada apa dengan Auri?” dengan suara yang khawatir.
Mahlika langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menuju lift. Hpnya masih berada di telinga kanan untuk mendengar ucapan pria asing itu.
__ADS_1
“Auri sedang berada di rumah sakit. Dia sedang terluka.” Ucap Oskar yang membuat hp mahlika terjatuh begitu saja.
Wanita itu terkejut mendengarnya. Perasaan cemas mulai bermunculan di otaknya. Lamunannya berhenti saat pintunya berbunyi di lantia tempat Auri tinggal. Mahlika langsung mengambil hpnya lagi. Dia mencoba untuk tidak percaya dengan ucapan pria itu.
“kamu sedang berbohong. Auri pasti ada di rumah.” Ucap mahlika yang baru saja masuk kedalam kamar. Tapi ruangan itu sepi. Tidak ada Auri di dalamnya.
Air mata mahlika muli berjatuhan. Dia sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya sekarang. Dia ingin terjadi hal buruk pada orang yang disayangnya lagi. Hanya Auri saja orang yang sangat berarti untuknya.
“Kamu bisa datang ke alamat yang aku kirimkan.” Ucap Oskar sebelum menutup panggilan.
Mahlika langsung pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya. Dia sudah tidak peduli penampilannya yang masih menggunakan baju tidur bergambar panda. Sekarang hal utama yang harus dirinya lakukan adalah melihat kondisi sahabatnya.
Mobil mahlika melaju dengan kecepatan tinggi membelah malam. Dia tidak peduli dengan beberapa kali mendapatkan kelaksonan dan teriakan karena dia mengendarain dengan ugal-ugalan. Sekarang hal terpenting adalah Auri.
Mobilnya berhenti di depan rumah sakit. Seorang satpam menghadangnya dan menyuruh untuk memakirkan mobilnya di parkiran. Tapi mahlika tidak berniat dia malah melemparkan kunci mobilnya pada sang satpam.
“Biarkan saya yang mengurusnya pak.” Ucap oskar yang baru saja datang dan melihat mahlika yang sangat kacau.
Beberapa saat kemudia bawahannya oskar datang. Oskar memberikan kunci mobil mahlika. Dia kembali mengejar mahlika yang terlihat sangat kacau. Ternyata di depan ruang operasi sudah ada Lyra yang telah datang lebih dulu.
Mahlika malah mendatangi marcello. Dia tarik kerah baju pria itu. Hal itu membuat orang-orang yang disekitarnya terkejut dengan keberanian wanita itu.
“Apa yang telah kamu lakukan hingga sahabatku seperti ini?” tanya mahlika dengan tatapan tajamnya.
“mahlika lepaska.”ucap Lyra sambil menarik tangan sahabatnya yang berada di kerah marcello.
“Lepas Lyra, Aku memang takut padanya. Tapi kalau dia berani membuat Auri terluka aku tidak peduli lagi.” Ucap Mahlika yang sekarang memberikan banyak pukulan pada marcello.
Pria itu tidak berniat menghindar dari pukulan mahlika. Marcello juga merasa bersalah sudah membawa Auri dalam bahaya. Bukankah pukulan ini belum seberapa dengan luka yang di dapatkan oleh Auri saat ini.
__ADS_1