Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 51


__ADS_3

Mahlika berdiri dari posisi duduknya. Dia berjalan menuju lift. Kedua sahabatnya menatap mahlika yang sedang marah karena posisinya digantikan oleh Marcello. Entah apa yang akan dia lakukan. Tidak mungkin dia berniat mendatangi marcello dan memarahinya. Jika itu terjadi Auri dan Lyra akan bertepuk tangan dengan keberanian wanita itu.


“Kamu mau kemana ?” tanya Lyra.


“Tentu saja menemui orang yang berniat menggantikan posisiku.” Ucap mahlika yang tidak sadar perkataanya akan membuatnya menyesal saat kesadaran kembali.


“KAMU GILA.” Teriak Lyra yang tidak habis pikir dengan mahlika.


Mahlika memang bukan orang yang sedang jika posisinya direbut oleh siapun. Hal itu kenapa wanita yang terlalu mencintai uang lebih rela menangis di depan Auri. Dibandingkan dia harus memberikan uangnya pada sahabatnya.


“Aku gak gila pria itu yang gila.” Ucap mahlika bersamaan pintu lift tertutup.


Wajah Lyra berubah pucat melihat kenekatan mahlika. Dia menatap Auri yang sedang duduk santai di sofa bed mahlika. Sepertinya Auri tidak berniat mengejar sang sahabat. Lyra tidak habis pikir dengan dua sahabat gilanya ini. Apakah hanya dirinya saja yang benar-benar waras.


“apakah kamu tidak berniat mengejar Mahlika? Pria yang dia ajak ribut adalah seorang ketua mafia.” Ucap Lyra pada Auri yang malah dengan santainya menyalakan TV dan menikmati acara kartun di depannya.


“AURI.” Panggil Lyra dengan nada tinggi. Dia tidak habis pikir dengan Auri yang terlihat santai bahkan tidak peduli dengan nasib mahlika.


“hmm.”


Lyra semakin frustasi dengan jawaban Auri yang hanya gumam saja. Sungguh dia sudah tidak kuat lagi dengan kedua sahabatnya. Kesabaran dan kewarasanya makin hari makin terkikis dengan tingkah menyebalkan Auri dan mahlika. Apakah mereka tidak sadar kalau nyawa Lyra juga menjadi taruhannya jika kedua wanita itu membuat masalah dengan marcello.


Marcello sangat terkenal di kota ini. Orang yang paling suka diganggu dan siapapun yang berani mengganggunya akan berakhir dengan kematian. Kematian dan kesengsaraan akan mengenai keluarga dan orang terdekatnya.


“Tenanglah, bentar lagi juga mahlika balik.” Ucap Auri dengan kedua matanya tetap fokus dengan acara kesukaannya. Rasanya sudah lama dia tidak menonton animasi ini.

__ADS_1


Bersamaan bunyi lift terdengar. Lyra langsung berdiri dan melihat kondisi sang sahabat. Tapi tidak ada luka yang terlihat bersarang di badan sahabatnya.


Sedangkan mahlika langsung berlari menuju Auri. Dia menangis kencang dan membuat Auri kesal karena sahabatnya mengganggu konsentrasinya. Dasar mahlika yang tidak akan pernah peka padahal wajah sahabatnya sudah berubah kesal dengan tingkahnya.


“Bisa gak kamu lepaskan pelukanmu dan berhenti menangis sekara atau kamu aku benar-benar menarik seluruh uangmu dari atm. Tidak sulit aku mengambil seluruh uangmu.” Ucap Auri yang langsung membuat mahlika terdiam.


Tangisannya berhenti karena takut dengan ancaman sahabatnya. Mahlika menatap Lyra dengan wajah sedih. Sedangkan Lyra menatap jijik dengan ekspresi mahlika yang minta dikasihani.


“Auri aku tidak mau kalau digantikan oleh marcello.” Protes mahlika.


“Terus kamu sudah bilang sama si marcello itu.” Ucap Auri yang masih fokus dengan kartunnya. Mahlika menjawab dengan anggukkan kepala.


Lihatlah pemandangan di depannya Lyra. Kedua orang itu sangat lucu. Dimana Mahlika seperti anjing yang sedang menganggukkan kepala di depan majikannya. Sedangkan majikannya tidak memperdulikannya.


“Lalu hasilnya apa?” tanya Auri pada mahlika.


Tentu saja Auri sudah menduga hasilnya. Mahlika memang keras kepala tapi marcello lebih keras kepala dan tidak tahu diri. Jadi  hasil dari protes mahlika pasti berujung dengan ancaman pada sahabatnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Auri bisa memahami cara pikir orang lain. Dia sudah tahu kalau hasilnya tetap berada di tangan si marcello. Jadi buat apa Auri harus mengejar mahlika kalau hasilnya saja sudah dirinya bisa tebak. Selain Auri ingin memberikan sedikit hukuman karena sudah membuatnya malu di depan pria itu.


“Hey berhenti menangis. Kamu sudah bukan anak kecil. Ingat tahun ini umurmu 25 tahun tapi kelakuanmu lebih cocok seperti anak Tk. “ ucap Lyra yang membuat mahlika berhenti menangis.


Mahlika berjalan mendekati sahabatnya. Kedua tangannya langsung menarik rambut Lyra. Mahlika sangat kesal dengan sahabatnya yang tidak mengerti perasaanya. Dia tidak tahu kalau mahlika sedang sedih.


Kalau sekarang posisinya dengan mudah direbut oleh marcello. Lalu perkerjaan selanjutnya bisa-bisa dia tidak bisa bekerja sama dengan Auri. Bagaimana dia bisa menghasilkan banyak uang jika tidak bersama Auri.

__ADS_1


Hanya bersama Auri, mahlika bisa tenang dan menikmati uang yang berlimpah. Sekarang pekerjaannya sedang direbut oleh pria bernama marcello yang merupakan ketua mafia. Apa pria itu tidak tahu diri merebut pekerjaan receh sepertinya.


Mahlika memang memiliki pemikiran sempit dan isi otak gadis itu hanya tentang uang dan makan. Jadi berada di sisi Auri adalah caranya untuk mempertahankan hidupnya.


“Hey kenapa kamu tarik rambutku?” teriak Lyra yang tidak terima rambutnya tiba-tiba ditarik oleh mahlika.


Karena mahlika tidak mau melepaskan tarikan dari rambutnya. Lyra ikut menarik rambut mahlika. Mereka berdua saling tarik menarik dan sesekali mencakar wajah mereka dengan kuku panjangnya. Bahkan rambut mereka sudah acak-acakkan dengan muka yang penuh cakaran.


Sedangkan Auri yang malas memisahkan kedua sahabatnya memilih kembali ke rumahnya. Walaupun di dalam rumahnya ada satu orang yang membuatnya malas untuk kembali. Tapi dibandingkan harus melihat kedua sahabatnya bertengkar. Auri lebih memilih kembali ke rumahnya dan menikmati acara kesuakaanya.


“Kalian jangan terlalu lama bertengkah. Jangan sampai saling membunuh.” Ucap Auri sebelum liftnya tertutup.


Lyra dan mahlika yang mendengar ucapan Auri langsung menghentikan kegiatan mereka. Sungguh kedua wanita itu kesal dengan Auri yang memilih meninggalkan mereka dibandingkan memisahkan Lyra dan Mahlika.


“Sudahlah kita tidak harus bertengkar.” Ucap mahlika yang merasa tidak bersalah. Padahal awal mulanya karena perbuatan mahlika.


Sedangkan Lyra menatap sebal pada mahlika. Memang sulit menjinakkan si mahlika. Hanya Auri saja yang bisa membuat mahlika ketar ketir. Mungkin sekarang bertama satu orang yang membuat mahlika pergi tanpa ada pemberontakan. Orang itu adalah marcello.


“jadi tadi dia bilang apa padamu?” tanya Lyra yang mengalihkan pembicaraan.


“Tuan menyebalkan itu mengancam akan mengambil seluruh uangku karena sudah berani meretas cctv rumahnya. Tidak hanya itu saja dia juga memiliki bukti kejahatanku.” Jelas mahlika yang sekarang menyandarkan badannya di sofa.


“ah, sekarang aku tahu kenapa kamu tidak bisa berkutik melawannya. Selain itu Auri pasti lebih senang bersama tuan marcello dibandingkamu.”


“apa maksudmu Lyra?” tanya mahlika dengan tatapan tajam pada sahabatnya. Dia tidak suka denga perkataan Lyra yang seperti menyudutkannya.

__ADS_1


“kamu tahu sendiri alasannya.” Ucap Lyra yang berdiri dan meninggalkan Mahlika tanpa pamit. Rasanya dia ingin merebahkan badannya. Lelah sekali hari ini banyak hal yang terjadi padannya dan kedua sahabatnya.


__ADS_2