
Hari ini Marcello dan Auri akan kembali ke amerika. Hanya Edgar dan Lyra saja yang ikut sedangkan mahlika harus menyelesaikan masalah keluarganya sambil diteman sang kekasih. Tentu saja terjadi drama sebelum keduanya pergi yaitu kedua ibu mereka yang secara terang-terang meminta marcello dan Auri tinggal di Indonesi.
Sayangnya hal itu tidak bisa dilakukan meskipun hati kecil Auri ingin tinggal di negara asalnya. Bagaimanapun perusahaan marcello yang berada di amerika tidak bisa dengan mudah dipindahkan begitu saja. Mungkin butuh beberapa tahun hingga pusat pengendalian bisnisnya berada di negara asalnya.
“Kamu sedih sayang?”tanya marcello melihat wajah murung dari sang istrinya. Setelah tangisan bombay dari kedua ibunya itu. Auri jadi terbawa dengan perasaan ibu-ibu itu.
“Aku hanya merasa bersalah karena tidak bisa berlama dengan mami dan mom.” Ucap Auri dengan wajah yang ditekuk. Dia masih ingat maminya dan mertuannya yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu menangis dengan kencang saat mereka pergi.
“Kamu tidak perlu memperdulikan mom, kamu tahu setiap aku pergi selalu seperti itu.” Ucap marcello yang sebenarnya sudah bosan dengan akting sang ibu. Momnya itu baru bisa reda dengan bayaran liburan selama satu bulan di tempat yang dia inginkan. Tentu saja semuanya dibayari oleh anaknya.
Paling juga hal itu akan terjadi setelah dia mendarat di bandara. Sayangnya istrinya belum tahu sikap licik dari sang ibunya itu. Jadi dia anggap maklum saja. Nanti juga terbiasa.
“Kamu tahu mom terkadang lebih licik dari rubah. Jadi jangan mudah percaya dengan ucapan mom.” Ucap marcello yang berakhir mendapatkan pukulan oleh sang istrinya. Bagaimana bisa suaminya malah mengajarkan hal yang tidak benar pada sang istrinya.
Tentu saja sedingin apapun Auri dia tidak sedurhaka suaminya itu. Bagaimana bisa menjelekkan orang tuannya sendiri. Apalagi dihadapan sang istrinya yang harusnya memiliki hubungan yang baik dengan istri dari suaminya ini.
“Kamu tuh kalau ngomong disaring napa. Orang yang sedang kamu bicarakan itu ibu kamu sendiri masa ngomongnya kaya gitu.” Ucap Auri yang masih dalam model macan galak. Sedangkan marcello hanya terkekeh melihatnya. Dia tidak akan marah atau takut dengan mode marah istrinya ini.
__ADS_1
“Lihat saja nanti pas pesawat mendarat mom pasti akan meneponku dan mengatakan niatnya dari tangisan tadi. Kalau mami mungkin benar-benar sedih tapi berbeda dengan mertuamu itu. Dad saja sudah tidak memperdulikan kalau mom tiba-tiba menangis.” Ucap Marcello dengan santai mengelus kepala sang istrinya.
Auri kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu sebelum mereka lepas landas. Apa yang diucapkan marcello memang sepenuhnya tidak salah. Berbeda dengan papinya yang tadi mencoba menenangkan sang mami. Sedangkan ayah mertuannya malah terlihat tidak peduli dengan istrinya yang menangis sampai duduk dilantai. Sedikit berlebih kalau diingat lagi. Tapi dia tidak ingin berpandangan buruk terhadap wanita yang telah melahirkan suaminya itu.
“Tetap saja kamu harusnya tidak seperti itu.” Ucap Auri yang hanya dianggukkan marcello. Dia sekarang hanya harus mengikuti wejangan sang istri. Biarkan nanti setelah pesawat mendarat sang istri melihat kelakuan mertuanya sendiri yang seperti anak-anak licik suka memanfaat orangtuanya.
Auri dan marcello mendarat denga selamat di bandara. Belum juga keluar dari bandara. Handphone milik marcello langsung berbunyi saat baru saja dinyalakan. Marcello tersenyum lebar saat melihat nama yang tertera.
Dia langsung menarik sang istri. Auri hanya mengikuti suaminya saja.Beberapa saat dirinya terkejut dengan isi pesan dari ibu mertuannya. Ternyata yang diucapkan oleh suaminya tidak sepenuhnya salah. Tidak bukan masalah memberikan kebahagian bagi orangtua yang selalu merawatnya
Mom
Itulah isi pesan dari ibu mertuannya. Ternyata maminya ikut serta dalam acara memalak sang suami. Benar-benar sangat pintar sang mertua dalam menguras uang anaknya sendiri.
Auri tidak mempermaslaahkannya. Karena uang yang dihasilkan oleh marcello juga harus juga dibagikan kepada kedua orang tua suminya. Dia memang tidak begitu tergila-gila uang. Auri berpikir uang itu dengan mudah dicari yang sulit adalah kenyamanan dan keluarga.
“Kamu tidak masalah bukan aku membayarkan kedua ibu kita ini?”tanya marcello pada sang istri yang langsung dianggukkan.
__ADS_1
“Tentu saja, kamu bebas menggunakannya marcello. Kamu sudah bekerja keras untuk menghasilkan seluruh hartamu. Jadi kamu tidak perlu izinku untuk menggunakannya. Tapi berbeda kalau kamu menggunakanya untuk wanita lain. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja.” Ancam Auri pada sanga suami yang berakhir dengan senyuman lebar di wajah marcello.
Tentu saja dia tidak mungkin bisa berparing pada wanita lain kalau istrinya saja sesempurna ini. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi istrinya. Hanya Auri saja yang akan menjadi istrinya hingga nyawanya diambil kembali.
“Aku tidak tertarik dengan wanita lain. Sudah cukup kamu saja yang menjadiku tidak akan abis hingga umurku terputus.” Ucap Marcello yang membuat wajah Auri berbunga-bunga. Memang dia tidak salah dalam memilih marcello menjadi pasangannya.
“Kamu juga harus menjaga diri agar tidak ada satu pria yang mendekatimu sayang atau kamu tahu akibatnya. Mungkin pria itu akan mati dengan tragis.” Ucap Marcello pada sang istri.
“Aku tidak tertarik menambah suami. Kamu saja sudah mengekangku seperti di dalam penjara. Apalagi tambah satu lagi seprtinya aku tidak bisa merasakan hidup lagi.” Ucap Auri dengan asal yang berakhir dengan geraman dari sang suami.
“Kenapa kamu marah?”tanya Aur bingung dengan suaminya yang malah terlihat kesal. Padahal niat untuk membuat pria itu cemburu.
“Jadi kalau ada pria yang tidak mengekangmu kamu mau menjadikannya suamimu.” Ucap Marcello yang membuat wajah Auri terdiam. Apakah suaminya itu tidak mengerti maksud dari perkataanya.
“Ayolah aku tidak tertarik dengan pria lain. Kamu tahu bagaimana aku hidup selama ini. Aku belum pernah berhubungan dengan siapapun selain kamu jadi jangan berpikir macam-macam.” Ucap Auri yang memilih meninggalkan sang suaminya.
Marcello mengejar istrinya dan langsung mengangkut badan Auri seperti karung beras. Sungguh dia sangat malu karena seluruh orang di bandara melihatnya. Dia tidak ingin terkenal karena hal memalukan seperti ini.
__ADS_1
“Marcello turunkan aku sekarang, kita menjadi pusat perhatian.” Ucap Auri dengan pelan tapi tidak diperdulikan oleh marcello.
“Bukankah bagus jadi para pria di luar sana tidak ada yang berani mendekatimu karena tahu siapa pemiliknya. Mungkin orang yang berani sudah siap dengan bayaran sudah mengganggu istri dari seorang marcello. Kamu jangan berharap bisa menambah pria lain di luar sana.” Ucap marcello yang membuat Auri jengah dengan sikap menyebalkan sang suaminya ini. Selalu saja berpikir negatif tentangnya.