
Meskipun penampilan Auri tidak se-sexy tadi. Tapi Marcello merasa penampilan kekasihnya tetap menggoda iman. Dia rasanya ingin membatalkan rencana diner mereka. Auri sekarang menggunakna dress yang sedikit lebih panjang dengan tangan panjang dan tidak begitu membentuk badan. Meskipun begitu penampilannya tetap terlihat elegan.
“Kenapa kamu selalu cantik menggunakan apapun, aku jadi tidak ingin membawamu pergi diner. Aku tidak suka ada pria lain yang melihatmu meskipun itu hanya seorang pelayan saja.” Ucap Marcello dengan wajah cemberut yang membuat Auri sangat jengah. Dia tidak menyangka kekasihnya sama menyebalkan dengan papi dan kakaknya.
Kenapa dia harus dikelilingi oleh para pria yang sangat possesif padanya. Meskipun dia sangat bersyukur mengingat kepedulian mereka padanya. Dia tahu semua itu demi kebaikannya sendiri. Walaupun dia terkadang sangat kesal.
“Aku juga berpikir seperti itu, anak gadisku ini selalu cantik menggunakan apapun, Karena itu kamu harus menjaganya. Kamu harus tahu seberapa terkenalnya anak gadisku ini di mata para pria.” Ucap papi Auri yang langsung dianggukan oleh marcello.
Tentu saja dia akan menjaga Auri agar tidak ada soerang priapun yang bisa merebutnya. Sejak awal kekasihnya hanya menjadi miliknya tidak ada pria lain yang boleh memilikinya. Mereka harus melewati mayatnya dulu kalau mau merebut wanitanya.
“Tentu saja papi, Auri tidak akan pernah biarkan ada pria lain yang merebutnya dariku.” Ucap Marcello yang langsung diacungi jempol oleh papi Auri. Sedangkan Auri dan maminya menatap jengah dengan kedua pria itu.
“Mau sampai kapan kita di sini terus, bukankah kita harusnya segera pergi.’ Sindir Auri yang membuat senyum menggoda muncul di wajah marcello.
“Sepertinya kamu sudah tidak sabar ya, aku pastikan kamu akan suka dengan hadiah yang sudah aku siapkan.” Ucap Marcello pada kekasihnya. Dia berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya. Auri langsung menggegam tangan kekasihnya.
“Semoga saja.” Ucap Auri pelan yang hanya bisa di dengar oleh marcello dan dirinya. Sedangkan pria itu memberikan respon senyuman lebar. Dia tidak akan pernah mengecewakan kekasihnya. Sebuah hadiah yang sudah dipersiapkan sejak lama. Tidak mungkin hal itu mengecewakan kekasihnya.
“mami,papi Auri pergi dulu.” Ucap Auri pada kedua orang tuannya.
__ADS_1
“kamu tidak pamit pada kakakmu?”tanya Antara yang tidak diperdulikan oleh Auri. Wanita itu segera menarik kekasihnya setelah marcello pamit pada kedua orang tuannya.
“Saya pinjam Auri dulu, saya pastikan akan mengembalikannya dalam keadaan seperti semula dan penuh kebahagian.” Ucap Marcello yang dianggukkan oleh mami dan papi. Sedangkan Antara mendengus kesal karena kedua orang tidak menganggap keberadaanya.
“makanya kamu segera mencari wanita sana.” Ucap mami pada anak sulungnya yang membuat Antara melotot pada orang tuannya. Dia mencoba mencari bantuan dari papinya sayangnya semua itu hanya keinginannya saja. Papinya juga sama seperti maminya.
“Benar kata mamimu itu. Kamu masa kalah dengan marcello. Jangan bilang kamu impoten.” Ucap papi yang membuat Antara melotot lebar mendengarnya. Enak saja dia dianggap impoten. Kalau dia berniatnya juga sekarang dia bisa memberikan cucu untuk kedua orang tuannya.
“Antara tidak impoten.”sanggah Antara yang membuat senyuman mengejek di wajah sang papi.
“yakin, papi tidak pernah melihat kamu bersama dengan wanita manapun. Segeralah mencari wanita sebagai teman hidup kamu. Masa kamu kalah dengan adikmu yang cuek itu. Padahal kamu suka tebar pesona tapi tidak ada yang kepincut satupun.” Ucap papi Auri sebelum meninggalkan Antara. Sedangkan maminya hanya menertawakannya dan mengikuti papinya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
“Kita akan kemana?”tanya Auri pada kekasihnya. Dia sangat penasaran akan di bawa kemana. Apalagi mobil yang dikendarai marcello mengarah menuju keluar kota. Sebenarnya mereka akan pergi kemana.
“Rahasia, satu hal yang pasti kamu akan menyukai tempatnya.” Ucap marcello yang membuat wajah Auri cemberut. Dia sangat penasaran dengan mobil yang membawanya menjauhi dari kota tempatnya tinggal.
Tapi Auri sudah malah bertanya pada kekasihnya yang akan berahir dengan jawaban yang sama. Pada akhirnya dia menghabiskan waktunya sambil menatap pemandangan di luar mobil. Ternyata malam ini langit tidak berawan sehingga bulan dan hamparan bintang terlihat jelas.
Beberapa saat mobil Marcello membelah jalan malam. Hingga mobil itu berhenti di sebuah tempat yang jauh dari kota. Seperti sebuah hutan yang sangat rindang. Tidak mungkinkan kekasihnya berniat untuk membunuhnya di sini.
__ADS_1
“kamu tidak sedang merencanakan hal buruk padaku.” Ucap Auri yang membuat marcello mengenyit dahinya. Kenapa akhir-akhir ini kekasihnya berubah menjadi wanita bodoh. Tidak mungkin dia menyuruh kekasihnya berdandan cantik kalau di berniat berbuat buruk. Bukankah dia dengan mudah tertangkap.
Sepertinya Auri harus di jauhkan dari mahlika. Sahabat kekasihnya itu memberikan banyak dampak buruk pada Auri. Terlihat dari cara pikiran Auri yang semakin berubah.
“hachim.”Mahlika merasa hidungnya sangat gatal. Dia kesal sudah menunggu waktu lama di sebuah taman yang sudah dihias menjadi tempat indah. Kalau bukan demi sahabatnya dia pasti tidak ingin melakukannya. Harus berada di tempat dengan hawa dingin dan banyak nyamuk yang menggigitnya.
“Awas kamu marcello aku pastikan akan meminta bayaran yang besar karena sudah menyiksaku.” Ucap Mahlika yang tidak pernah berhenti menggerutu sejak tadi. Sedangkan Oskar malah gemas dengan tingkah kekasihnya. Kenapa setiap hal yang dilakukan oleh mahlik selalu membuatnya gemas. Tentu saja hal itu hanya berlaku pada Oskar tidka pada pria lain seperti marcello dan Edgar.
Kedua pria itu malah sangat ingin melempar mahlika ke afrika. Karena wanita itu lebih banyak membawa dampak buruk pada kekasih mereka. Apalagi kata-kata muslihatnya yang bisa mencuci pikiran Auri maupun Lyra.
“Sabarlah, mereka sudah datang.” Ucap Oskar sambil mengelus kepala kekasihnya. Auri tersenyum saat mendapatkan perlakuan itu dari kekasihnya.
Sedangkan Lyra geli sendiri melihat tingkah sahabatnya itu. Ternyata hal itu juga terjadi pada Edgar. Keduanya saling melempar pandangan. Pada akhirnya hanya bisa membuang nafas kasar.
“Kita harus bersabar sebentar lagi, setelah itu kita perlu bertemu mereka lagi saja.” Ucap Edgar yang langsung dianggukan oleh Lyra. Dia juga muak dengan sikap menggelikan Mahlika.
“Iri bilang ajah.” Ucap Mahlika yang mendengar ucapan dari kekasih sahabatnya itu. Kenapa tidak ada yang suka dengannya dan Oskar. Mereka memang sahabat yang menyebalkan. Tidak ada yang mendukung mereka sama sekali.
“Sabar sayang, mereka hanya iri karena tidak bisa seperti kita.” Ucap Oskar yang sama kesal dengan Edgar dan marcello. Kedua sahabatnya itu selalu memandanganya dengan tatapan jijik jika dia sedang bermanja dengan Mahlika.
__ADS_1