
Malam ini Auri dan Marcello memang berencana untuk makan di salah satu restaurant yang ada di dekat resort. Tempatnya memberikan pengunjungannya keindahan tempat ini dari sudut indah. Tidak hanya itu Auri juga terkagum-kagum saat melihat matahari yang mulai terbenam. Sungguh pemandangan yang memanjakan matanya.
Tidak berapa lama datang Alan bersama Nathasia tanpa mereka sadari. Sedangkan Auri dan marcello sedang berbicara banyak hal tentang kesehariannya atau masa lalu mereka.
“hai Auri.” Sapa Alan yang langsung mendatangi sahabatnya. Sedangkan Nathasia langsung mendekati Marcello.
“hai marcello.” Sapa Nathasia pada suami Auri.
Kedua orang yang disapa tidak membalas sapaanya. Bahkan wajah keduanya jauh dari kata baik. Sungguh mereka sangat mengganggu waktu berdua milik Auri.
“kenapa kalian ada di sini?”tanya marcello dengan wajah sinis. Dia menghepaskan tangan Nathasia yang hampir saja menyentuhnya itu. Wajah Auri sudah berubah sangat buruk saat melihat perlakuan wanita itu pada suaminya.
“Bisakan anda menjaga tanganmu dari suami saya.” Ucap Auri dengan nada sinis yang membuat Alan maupun Nathasia mersakan kesal.
“kita ingin makan malam juga, bagaimana kalau kita makan bersama. Kita sudah lama tidak makan bersama bukan Auri.” Ucap Alan yang mencoba melupakan perasaan cemburunya saat mendengar perkataan wanitanya pada nathasia. Sungguh dia tidak suka saat melihat Auri sangat marah ada wanita lain yang menggoda suaminya itu.
Bukankah hal itu menunjukkan rasa cinta dari wanita di depannya pada sang suaminya. Sehingga dia tidak suka ada wanita lain yang mendekati suaminya itu. Sedangkan marcello sedang tersenyum bangga sambil menatapa mengejek pada Alan yang sekarang menatapnya kesal.
“Alan entah harus bagaimana lagi aku mengatakannya padamu. Aku sudah menikah jadi pahamilah kalau kita tidak bisa seperti dulu. Jadi aku akan menolak ajakanmu itu. Selain itu kalian bisa memesan meja lain. Bukankah banyak meja kosong di tempat ini.” Ucap Auri yang membuat wajah Alan berubah menjadi sedih. Tapi Auri tidak memperdulikannya. Dia harus tegas pada pria ini dan wanita yang sedang gencar mendekati suaminya itu.
“Aku harap kamu mengerti itu, Alan. Kamu adalah sahabatku bukankah seorang sahabat akan bahagia saat melihat sahabatnya bahagia. Aku harap kamu seperti itu. Dan kamu wanita yang gatel ingin mendekati suamiku. Sadarlah marcello tidak akan pernah melirik kamu. Pergi menjauh dari suamiku. Bukankah aku sudah memberikan peringatan kemarin. Sebaiknya kamu mematuhinya atau kamu akan menyesal. Aku bukan wanita lemah yang hanya akan menangis jika suamiku bersama wanita lain.” Ucap Auri yang langsung berdiri dari posisi duduknya. Mood makannya sudah hilang. Dia menarik tangan suaminya untuk pergi dari restauran init. Marcello tidak banyak mengatakan apapun.
__ADS_1
“Ayo kita makan di kamar saja, aku sudah tidak memiliki nafsu makan lagi.” Ucap Auri yang langsung dianggukkan oleh marcello. Tidak lupa dia melemparkan senyuma mengejek kepada Alan yang sedang menatap tajam padannya.
Rasanya Alan ingin sekali menghilangkan pria itu dari dunia ini. Sehingga dia bisa dengan mudah mendekati wanitanya dengan mudah.
“sialan, kamu mengganggu rencanaku untuk kesekian kalinya Nathasia.” Ucap Alan sebelum meninggalkan wanita itu. Sedangkan Nathasia semakin saja membenci keberadaan Auri yang membuat kedua pria itu saling merebutkan Auri.
“Dia pikir aku akan peduli dengan ancamannya. Sejak awal hanya seorang Nathasia yang pantas bersanding di samping seorang marcello. Bukan wanita seperti kamu Auri. Lihatlah aku akan memberikan pembalasan atas ini semua. Tentu saja merebut Marcello darimu.” Ucap Nathasia dalam hatinya dengan tatapan tajam jatuh pada Auri.
“Kamu ingin kita pergi kemana sebelum kembali ke rumah?”tanya Marcello pada istrinya yang sepertinya dalam mood yang sangat buruk. Tapi juga dia juga seperti itu. Kedatangan dua orang penggangu di makan malam mereka.
“Mungkin kita bisa ke pantai dulu, kau ingin menikmati ombak. Rasanya aku lelah marcello. Kedua orang itu semakin saja mengganggu kita.” Ucap Auri yang sekarang sudah menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
Karena dia tahu seberapa kaya pria itu. Bisa dibilang Alan berada di nomer kedua setelah suaminya. Tentu saja dia tidak sulit untuk menemukan keberadaan mereka. Hal itu yang membuat Auri lelah dengan sahabatnya itu.
Apakah Alan tidak sadar kalau usahannya akan berakhir dengan sia-sia. Karena hati Auri sudah benar-benar menjadi miliknya. Jadi pria itu tidak mungkin bisa mengisinya lagi.
Auri yang sekarang sedang melamun tidak sadar sudah tidak berpelukan dengan suaminya. Dia tidak sadar kalau suaminya sudah berjalan menuju pesisir pantai. Dengan sekali hempasan tanganny cipratan air mengenai Auri.
“plas.”
“Marcello.” Teriak Auri pada suaminya yang sudah membuat baju Auri basah.
__ADS_1
“hehehhe kamu melamun terus sih.” Ucap marcello bersamaan cipratan air laut untuk keduanya. Auri yang tidak mau kalau menyiprati suaminya sama. Keduanya sekarang sudah saling basah.
“Kejar aku marcello.” Ucap Auri yang berlari menjauh dari suaminya. Marcello mengejar badan kecil istrinya yang sangat lincah. Dia senang melihat wajah istrinya sudah kembali cerah. Dia tidak suka saat melihat Auri murung seperti tadi. Tentu saja dia tahu alasan istrinya melamun tadi.
Apalagi kalau bukan tentang Alan yang selalu mengejar Auri. Tentu saja hal itu mengganggu Auri. Istrinya itu masih menganggap Alan sebagai sahabatnya karena itu dia merasa tidak bisa benar-benar mengusir pria itu dari sampingnya.
“hahahhaha, marcello kejar aku. Kamu lambat sekali.” Ucap Auri yang membuat marcello menambah kecepatan larinya. Tentu saja hal itu membuatnya bisa menarik badan istrinya kedalam pelukannya. Mereka saling tertawa dan merasakan kebahagiaan malam itu.
“kamu ketangkap.” Ucap Marcello yang membuat Auri malah tertawa medengarnya.
“kamu memang selalu bisa menangkapku. Jangan pernah lepaskan aku ya.” Ucap Auri yang sekarang sedang menatap wajah suami tampannya itu. Sungguh dia tidak ingin berpisah dengan suaminya ini.
“Tentu saja aku tidak pernah melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku. Terutama kamu Auri. Keberadaanmu lebih berharga dari apapun yang aku miliku di dunia ini. Jadi jangan pernah berpikir untuk berpaling kehati lain.” Ucap marcello pada sang istrinya. Pada akhirnya sebuah kecupan mendarat di dahi sang istrinya.
“aku mencintaimu.”
“Aku lebih mencintaimu sayang.” Ucap Marcello yang mendekati bibir pink milik istrinya. Keduannya saling menyalurkan perasaan cinta mereka.
Tanpa mereka berdua sadari ada seorang pria yang menatap marah melihat keduannya bermesraan. Mereka tidak bisa menerima hal itu. Siapa lagi kalau bukan alan yang sedang menatap cemburu pada Auri.
“Sialan kamu marcello, aku pastikan setelah ini tidak ada lagi kesempatanmu untuk bisa bersama dengan Auri.” Ucap Alan dengan senyum tipis di wajah tampannya. Entah rencana apa yang sudah dibuatnya itu.
__ADS_1