
Alan menjatuhkan seluruh barang yang ada di meja kerjanya. Dia marah dengan perkataan dari Auri. Dia tidak menyangkan sahabatnya itu dengan terang-terang menolak pertemuan lagi. Hanya karena pria yang bernama marcello. Dia tidak terima ada pria lain yang lebih penting darinya di hidup Auri.
“Sialan kalau saja aku tidak telat bertemu dengan Auri. Mungkin aku yang sudah menjadi nomor satu di hidup Auri. Aku pastikan akan mendapatkan hatimu lagi.” Gumam Alan sebelum dia memilih duduk di kursi kebesarannya.
Tidak berapa lama bawahannya datang untuk membereskan ruangan yang telah dihancurkan Alan. Sedangkan Alan memilih menyandarkan kepalanya sambil mengingat kejadian beberapa tahun yang membuat dirinya harus meninggalkan Auri bertahun-tahun. Bannyak yang terjadi begitu cepat pada saat itu dia sudah berniat untuk menyatakan perasaannya pada sahabatnya.
Apalagi Aura dengan senang hati membantunya untuk mendapatkan hati seorang Auri. Dia mendapatkan dukungan dari adik kembar wanita yang dicintainya. Bukankah hal itu memudahkannya untuk bisa memiliki Auri. Sayangnya takdir berkata lain.
Saat itu ayahnya jatuh sakit yang menyebabkan dia harus pergi ke luar negeri untuk melakukan operasi. Saat itu Alan yang menjadi satu-satu anak dari ayahnya itu. Tidak hanya itu Alan juga pewaris dari seluruh kekayaan dan perusahana ayahnya. Harus ikut menemani ayahnya dan mengurusi beberapa perusahaan.
Waktu untuk dirinya bisa benar-benar menangani perusahaan ayahnya tidak sebentar. Bertahun-tahun telah berlalu, Alan harus mengembalika perusahaan ayahnya yang sempat mengalami kolep. Tapi sekarang perusahaan itu sama besarnya seperti yang dimiliki oleh suami Auri.
Tentu saja hal itu yang membuatnya tidak akan takut bersaing dengan Marcello. Karena dia juga sama berpengaruhnya seperti pria itu. Kekuatan mereka berada di posisi yang sama. Sayangnya Alan belum menyadari kalau Auri sudah berbeda dengan Auri yang dulu.
Sekarang prioritas utama Auri adalah Marcello bukan lagi Alan. Alan tidak ingin menyadari hal itu. Karena dia masih marah dengan pilihan yang dipilih di masa lalu dengan melepaskan wanita yang dicintainya. Seharusnya waktu itu dirinya memberikan pesan pada Auri yang membuat wanita itu memilih menunggunya saja.
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, Auri dan marcello baru saja tiba di rumahnya. Keduanya sudah berbaikkan. Seperti kejadian tadi hanya sebuah angin lalu saja. Marcello memang sangat percaya pada istrinya. Sedangkan Auri adalah wanita yang tidak suka menyebunyikan kebohongan pada suaminya walaupun hal itu menyakitkan.
“Jadi kapan tamu kamu itu pergi.” Goda Marcello yang sekarang sedang tiduran di atas paha sang istrinya yang memilih mengelus kepalannya dnegan lembut. Sedangkan matanya menatap acara Tv yang sedang berlangsung.
“Mungkin beberapa hari lagi, sabar ya.” Ucap Auri yang membuat marcello memilih memeluk perut sang istrinya.
“Kalau kamu lelah tidur saja, nanti aku bangun kalau Edgar sudah datang.” Ucap Auri yang masih fokus dengan acara yang disukainya itu. Marcello tidak suka wanitanya tidak menatapnya. Dia menarik badan Auri yang sekarang sudah berada di dalam pelukannya.
“aku lebih suka tidur bersamamu saja.” Ucap marcello yang membuat Auri tersenyum. Selalu saja suaminya bisa memperlakukan hal manis padannya.
“Tidurlah, hari ini sudah banyak yang terjadi.” Ucap Marcello dengan elusan di kepala Auri yang perlahan membuat istrinya terlelap. Marcello gemas sendiri dengan istrinya yang sangat muda terlelap saat dielus kepalannya dengan lembut.
Setelah puasa menikmati wajah Auri, Marcello memilih keluar dari kamar. Dia keluar dari kamar bersamaan dengan Edgar datang dengan tumpukan dokumen yang dibawanya.
“Bagus kamu datang di waktu yang tepat, kamu juga panggil Oskar. Ada yang harus dia lakukan saat ini.” Ucap marcello yang melanjutkan jalannya menuju ruang kerjanya. Edgar menatap atasannya itu terlihat dalam mood yang buruk. Tentu saja dia satu penyebabnya. Siapa lagi kalau bukan pria yang datang ke toko milik kekasihnya itu.
__ADS_1
Edgar mengantarkan laporan perusahaan Marcello pada tuannya. Setelah itu dia mengambil teleponnnya untuk menghubungi Oskar yang baru saja kembali tadi siang bersama dengan mahlika.
“Hallo.” Ucap Oskar yang terlihat malas dan kesal karena di ganggu oleh temannya. Dia baru saja kembali dari indonesia sudah mendapatkan panggilan dari Edgar.
“Datang ke mansion tuan marcello sekarang.” Cuap Edgar sebelum menutup panggilannya yang membuat Oskar menggerutu kesal. Tidak tuannya, tidak tangan kanannya sama saja menyebalkan. Dia baru kembali sudah mendapatkan tugas saja. Walaupun dia sudah menduganya pasti hal yang membuat tuannya marah.
Beberapa saat kemudia Oskar sudah dan Edgar sudah ada di ruang kerja Marcello. Sedangkan mahlika sudah bersama dengan Auri. Tentu saja hal itu membuat Marcello kesalah pada sahabatnya yang malah membawa nenek lampir menyebalkan itu. Tapi dia tidak berniat perotes ketika melihat senyuman dari wajah sang istrinya.
“Kalian tahu Alan dari perusahaan Fulbert itu, dia sudah dengan berani mengangkat berdera perang untuk merebut suamiku. Aku tidak tahu rencana yang akan dilakukan olehnya. Tapi satu hal pasti dia tetap musuh kita di dalam bisnis. Tentu saja dia akan mencoba menghancurkan perusahaanku. Jadi sebelum hal itu terjadi sebaiknya kalian memastikan perusahaanya dalam keadaan kritis.” Ucap Marcello dengan nada dinginnya yang membuat kedua pria di hadapannya bergidig takut. Sudah lama untuk Edgar dan Oskar melihat amarah tuannya itu.
Padahal setelah marcello bersama dengan Auri. Dia tidak lagi menunjukkan taringnya pada perusahana musuh. Marcello terlihat lebih tenang dan tidak berniat menghancurkan perusahaan orang lain yang mengganggunya. Mungkin hanya sedikit hukuman sebentar saja seperti membuat nilai sahamnya turun dalam waktu seminggu.
“Oskar pastikan untuk menjaga keamanan Auri walaupun aku tahu istriku bisa menjaga dirinya. Tapi aku merasa akan terjadi hal buruk di masa depan yang menimpa keluargaku ini.” Ucap marcello yang dianggukkan oleh Oskar. Sebenarnya tanpa disuruh oleh marcello. Edgar selalu memastikan sekitar tuannya dan nyonya dalam keadaan baik-baik saja.
Sayangnya kemarin dia sudah lengah hingga memberikan celah untuk Alan menemui Auri. Ada rasa penyesalan pada hati Oskar karena telah gagal.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu berkecil hati, Hari ini aku juga sudah lengah membiarkan Alan menemui Auri. Tapi aku juga senang karena dengan pertemuan Auri dan Alan. Istriku bisa menunjukkan kepada pria itu seberapa berharganya diriku di matanya.” Ucap Marcello dnegan senyuma lebar yang merekah tapi terasa menggelikan di mata kedua pria itu. Mungkin mereka juga akan merasakan hal itu jika wanitanya melakukan hal yang sama seperti Auri. Jadi kedua pria itu tidak berniat untuk mengomentari tingkah sang sahabat. Karena mereka menduga cepat atua lambat oskar maupun Edgar akan mengalami keadaan budak cinta seperti atasannya itu.