
Hari ini adalah hari terakhir untuk Auri dan marcello menghabiskan waktu mereka untuk bulan madu. Tidak menyangka waktu sebulan berjalan dengan sangat cepat. Apalagi suaminya itu hampir lebih banyak mengurungnya di dalam kamar dibandingkan berkeliaran melihat pulau ini. Tentu saja suaminya itu masih berambisi untuk membuatnya hamil.
Sedangkan Auri hanya akan berharap saja, untuk hasinya dia serahkan saja pada sang pencipta. Kalau memang bukan takdir setiap kegiatannya tetap tidak akan membuat anaknya munculkan. Tapi beberapa hari dia juga merasakan badannya kurang enak badan. Beruntungnya marcello tidak menyadarinya. Sayangnya pagi ini dia tidak bisa menutupinya kalau badanya mulai melemah.
Auri bangun dari tidurnya dan langsung berlari ke kamarnya. Dia merasa sangat mual dan pusing di waktu bersamaan. Marcello yang merasakan pergerakan dari tempat tidur langsung mengejar sang istrinya. Apalagi dia mendengar suara istrinya yang sedang mengeluarkan seisi perutnya.
Saat dia tiba ke dalam kamar dia melihat badan istrinya yang merosot bersamana kesadaraanya yang menghilang. Hal itu membuat marcello terkejut melihatnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membopong badan istrinya ke tempat tidur. Sebelum itu dia mengelep bibir Auri dengan tisu. Lalu dia panggil Edgar untuk mencarikan dokter.
Sekarang dia duduk di samping Auri dengan kedua tangan memegang tangan istrinya yang terasa sangat dingin. Auri tidak kunjungan bangun padahal dia sudah mengoleskan minyak kayu putih yang selalu dibawa oleh istrinya itu.
Perasaan khawatir semakin melingkupi perasaan marcello yang tidak menentu. Pikirannya berkeliaran kemanapun. Dia takut kalau istrinya memiliki penyakit yang disembunyikan padanya. Dia marah saat melihat kondisi Auri seperti saat ini. Karena selama ini marcello selalu melihat istrinya sehat dan hampir tidak pernah sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama, Edgar datang dengan doktor wanita yang memang sengaja olehnya dibawa. Jika terjadi hal yang tidak diharapkan seperti ini Edgar tidak akan kelimpungan. Apalagi di pulau ini tidak ada rumah sakit dan jauh dari pulau besar. Jadi dia harus mengantisipasi sesuatu yang buruk saat berada di tempat ini.
“Kenapa kamu lama sekali Edgar?”tanya Marcello pada sahabatnya tanpa kedua tangannya lepas dari istrinya itu. Dia seakan tidak rela melepaskan tanganya. Tapi dia ingat kalau istrinya harus diperiksa.
Dokter wanita yang sudah tidak muda itu mengecek keadaan nyonyanya itu. Dia memang selalu mengawasi kesehatan wanita yang sedang terbaling lemah di hadapannya.Sebuah senyuman muncul di wajah wanita tua itu.
__ADS_1
“Tuan ini hanya baru dugaan saya saja, kalau nyonya sepertinya sedang hamil. Mungkin kandungannya sekarang sudah berusia 2 minggu. Kita tetap harus melakukan pengecekan untuk memastikan kalau dugaan saya ini benar atau tidak. Untuk sekarang nona mungkin mengalami morning sickness yang membuatnya pingsan sepertin. Kalau lihat seperti keadaan nyonya memang sedikit lebih parah. Nanti saya akan meresep vitamin tuan.” Ucap dokter wanita itu yang membuat senyuman di wajah pria muda itu muncul. Tentu saja orang yang paling bahagia adalah marcello. Dia tidak menyangka sebentar lagi dirinya menjadi seorang ayah.
Auri merasakan cahaya silau yang masuk ke dalam ruangannya. Die mengejabkan beberapa kali matanya. Dia masih merasakan pusing di kepalanya. Dia terkejut saat melihat Edgar dan seorang dokter wanita yang sudah tidak muda lagi.
Dia bingung dengan ekspresi bahagia yang ditunjukkan oleh suaminya. Bahkan saat dia bangun suaminya langsung memberikan kecupan di dahinya. Hal itu membuat wanita tua itu ikut senang melihat kebahagian tuannya.
“Nyonya tadi pagi sepertinya mengalami morning sickness, untuk memastikan dugaan saya kalau anda sedang hamil. Nyonya bisa mengetesnya menggunakan ini.” Ucap dokter itu sambil memberikan test pack. Auri sekarang mengerti kenapa suaminya sangat bahagia tadi. Dia juga sangat berharap hal itu benar adanya.
Dia menerima test pack itu. Marcello mengangkat badan istrinya menuju kamar mandi. Karena dia bisa melihat kalau badan istrinya masih sangat lemah. Setelah dia mendudukan istrinya di atas kloset duduk.
Marcello memilih untuk keluar, dia memberikan privasi pada istrinya. Dia tidak ingin membuat Auri tidak nyaman. Setelah menunggu beberapa menit. Sebuah teriakan yang membuat marcello langsung berlari kedalam.
“Tidak apa sayang kalau hasilnya negatif, mungkin kita belum diberikan kepercayaan untuk menjaga anak kita.” Ucap marcello sambil mengelus air mata yang berjatuh dari mata cantik istrinya. Dia sudah bisa berlapang dada jika hasinya itu mengecewakan. Bukan seorang manusia hanya bisa berjuang saja. Untuk hasilnya kita hanya bisa berserah pada sang pencipta saja.
Auri menggelengkan kepala, dia memeluk badan suaminya dengan tangisan tidak kunjung berhenti. Dia membisik sesuatu yang membuat marcello terkejut. Bahkan dia langsung mendorong badan istrinya perlahan. Dia ingin melihat wajah istrinya yang sekarang tersenyum.
“Kamu benarkan sayang?”tanya marcello pada istrinya yang diberikan jawaban anggukan kepala. Dia tidak bisa menahan kebahagiannya saat mendengar perkataan istrinya.
__ADS_1
Dia mengangkat badan istrinya dan memutar karena senang. Dia benar-benar akan menjadi seoran ayah. Sungguh dia tidak menyangka akan diberikan secepat ini. Dia lebih bahagia dibandingkan mendapatkan tender yang memberikan keuntungan triliunan dollar.
“makasih sayang kamu sudah memberikan berbagai kebahagian di hidupku.” Ucap Marcelli yang sekarang sedang memeluk badan istrinya. Dia masih tidak menyangka tentang hal itu.
Edgar dan dokter wanita yang sedang berdiri di luar ikut lega saat mendengar ucapan marcello. Mereka pikir hasilnya negatif yang membuat Auri tadi berteriak. Ternyata hasilnya sesuai dengan perkiraan dokter itu.
“Tuan edgar, saya akan resepkan beberapa obat dan vitamin untuk nonya nanti anda bisa mengambilnya di ruangan saya.” Ucap dokter itu sebelum berpamitan pada Edgar. Pria itu menganggukkan kepala.
Pria itu keluar dari ruangan atasannya setelah melihat keadaan sudah kondusif kembali. Tidak lupa dia harus mengurusi beberapa keperluan nyonya yang sekarang sedang hamil muda. Tentu saja tuannya dan nyonya harus menunda beberapa minggu untuk kembali. Karena tidak baik untuk kandungan yang masih muda untuk melakukan penerbangan.
Sepertinya Edgar dan Oskar harus lebih bersabar untuk mengurusi pekerjaan tuannya. Karena liburan tuannya harus diperpanjang lagi. Beruntungnya tuannya masih bisa diajak kompromi. Sesekali tuannya itu akan pergi untuk mengunjungi rapat walaupun dia akan kembali ke pulau ini apabila semua urusan pekerjaanya selesai.
“Jadi Auri hamil?”tanya Lyra pada kekasihnya. Sebulan ini Lyra bertugas menemani sahabatnya jika Marcello harus pergi untuk mengurusi pekerjanya.
“ya.”
“wow sebentar lagi aku akan menjadi seorang tante. Aku tidak sabar melihat anak Auri semoga dia seperti Aura saja. Auri dan marcello terlalu dingin.” Ucap Lyra yang membuat Edgar gemas sendiri pada tunagannya ini. Keduannya sudah resmi bertunangan. Edgar melamar kekasihnya di pulau ini atas izin kedua majikannya itu.
__ADS_1
Keduannya sepertinya harus menunda acara pernikahannya lebih lama karena kondisi Auri. Tentu saja Edgar harus mengurusi beberapa pekerjaan tuannya. Sedangkan kekaihnya harusnya menemani Auri dalam waktu dekat ini.