Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 22 : Menemukanmu pencuri kecil


__ADS_3

Hari ini toko bunga Lyra tidak seramai biasanya. Mungkin hanya Auri yang senang dengan keadaan itu. Sedangkan Lyra sedikit kesal karena tidak berdatangan pria-pria yang selalu membeli bunga Auri.


“Sudahlah, Lyra meski hari ini sepi juga kamu tidak akan gulung tikar.” Ucap mahlika yang kesal melihat Lyra yang sejak tadi menggerutu karena pembelinya tidak sebanyak biasanya. Walaupun Auri hari ini bekerja.


“Kamu benar Mahlika. Aku senang saat pria-pria itu tidak datang lagi.” Ucap Auri yang sekarang sedang menikmati coklat hangat di tempat duduk favoritenya.


“Hey kalian kok begitu sih. Bagaimana kalau masalahnya ada saingan yang membuat toko kita tidak laku.” Ucap Lyra yang kesal melihat kedua sahabatnya yang malah bersantai-santai.


“Kamu tahu penjualan bungaku dalam 1 bulan ini. mungkin bisa membuat kamu membuka cabang lain.” Ucap Auri yang membuat Lyra terdiam Apa yang dibicarakan temannya memang benar. Penjualan dalam satu bulan ini sudah lebih dari 5 kali penjualan normal.


“Sekarang kita hanya harus menikmati waktu senggang yang tidak pernah datang sejak pelanggan yang membeludak.” Ucap mahlika yang mendapatkan tatapan tajam dari Lyra.


Bagaimana tidak selama mahlika bekerja, Dia hanya bisa membuat onar. Dari membuat beberapa bunganya rusak hingga membuat pelanggan kesal karena rangkaian yang dibuatnya. Mahlika memang tidak pintar dalam segala hal. Dia hanya handal membuat orang lain kesal dengan seribu tingkah tak tahu dirinya.


“Itu cocok untukku dan Auri tapi berbeda denganmu. Karyawan yang memakan gaji buta. Kamu lebih banyak membuat rugi dari pada untung.” Ucap Lyra yang membuat Auri tertawa kecil.


Tapi hal itu tidak lepas dari Lyra dan mahlika yang sekarang terkejut dengan Auri. Dia memang sangat jarang tertawa. Tertawa dan tersenyum pada Auri adalah hal langka yang bagi kedua sahabatnya itu. Tanpa sadar keduanya senang bisa membuat Auri bisa tertawa kembali.


Padahal dulu hanya Aura saja yang bisa memunculkan seluruh ekspresi Auri. Setelah kepergian sang adik Auri semakin sulit untuk mengekpresikan diri. Bahkan saat marah saja dia tidak seperti orang yang marah. Hanya nada dingin dan tatapan tajam yang menandakan saat itu Auri sedang marah.


Tersenyum mungkin saat Auri mendapatkan tugas yang membuatnya tertarik Tapi itu juga bukan senyum sebuah kebahagian. Mahlika yang sangat mengenal Auri seperti Aura. Kesulitan untuk mengembalikan serpihan kaca menjadi kaca yang utuh.


“Kalian kenapa menatapku?” tanya Auri yang sudah berhenti tertawa.


Saat itu sebuah bunyi telepon menyadarkan Lyra. Dia berjalan menuju telepon tokonya dan benar saja itu panggilan dari seorang pelanggan. Lyra menatap Auri sesaat. Auri menatap balik Lyra. Pasti pembicaraan itu berhubungan dengan Auri karena Lyra langsung menatapnya.


“Ada apa Lyra?” Tanya Auri setelah Lyra menutup teleponnya.


“Biasa pesanan buket dan dia ingin kamu buat.”

__ADS_1


Auri segera berdiri dan berjalan menuju meja yang selalu digunakannya untuk membuat buket bunga. Sebelum itu dia menatap Lyra. Lyra mengerti tatapan sang sahabat.


“Buket untuk menunjukkan kekaguman pada wanita yang sangat kuat.” Ucap Lyra.


Itulah kata-kata yang disebutkan oleh pelanggannya. Sedikit aneh karena terlalu detail. Biasanya mereka hanya mengatakan kalau bunga untuk wanita yang dikagum atau yang dicintai. Tapi hal itu tidak sulit untuk Auri merangkainya.


“Auri, kamu juga harus mengantarkannya. Itu permintaan dari pelanggan kita.” Ucap Lyra yang dijawabkan anggukan oleh Auri.


“Mana alamatnya, aku antarkan sekarang. Kalian kalau menitip sesuatu langsung chat aja.”


Lyra menyondorkan kertas yang sudah berisi alamat yang diberikan oleh pelanggan. Auri sedikit mengenyitkan dahi saat melihat tempat yang ditujunya. Rasanya sedikit aneh mengantarkan sebuah buket bunga ke kantor. Apalagi itu tertulis CEO.


“Untuk Marcello Damon Fellardo?” tanya Auri yang dijawab anggukan kepala.


Auri segera keluar dari toko. Dia menggunakan motor yang disediakan toko khusus untuk mengantar bunga. Saat auri sudah melajukan motornya meninggalkan toko. Mahlika berdiri dengan wajah yang sangat pucat.


“Lyra tadi bunga itu harus diantarkan pada siapa?” tanya mahlika dengan perasaan yang sangat tidak enak.


“Marcello Damon Fellardo. Dari pelanggannya mengatakan kalau dia adalah CEO dari Fellardo. Auri harus mengantarkannya secara langsung pada CEO yang bernama Marcello.” Ucap Lyra bersamaan mahlika menjatuhkan hpnya.


“Auri dalam bahaya.” Ucap Mahlika yang membuat Lyra bingung.


“Dia tidak boleh bertemu dengan marcello Damon Fellardo.”


“Kenapa?”


“Orang itu adalah target auri beberapa minggu yang sekarang sedang mengincar Auri. Karena Auri sudah membuat seorang ketua mafia dari kelompok black knife marah dan orang itu adalah marcello.” Ucap mahlika yang membuat Lyra terkejut.


Dia segera menghubungi hp Auri. Tapi sebuah deringan mengisi toko bunga Lyra. Auri tidak membawa hpnya. Mahlika dan Lyra saling tatap-tatapan. Mahlika langsung berjalan keluar.

__ADS_1


“Aku akan menyusul Auri. Kita harus mencegah Auri bertemu marcello. Aku takut pria itu mengenali Auri. Kalau sampai itu terjadi Auri bisa dalam bahaya.” Ucap Mahlika yang keluar meninggalkan toko bunga Lyra.


Mahlika berlari ke mobilnya yang terparkir. Dia menancapkan gasnya berharap masih dapat menyusul Auri. Mobil itu melaju dengan kecepatan yang sangat cepat. Sekarang yang harus dirinya lakukan ada menyelamatkan Auri dari kematian yang menanti sahabatnya.


Dia sangat tahu kalau Auri tertangkap oleh ketua mafia itu. Tidak ada lagi kesempatan untuk sahabatnya hidup lagi. Mahlika lebih baik mengorbankan dirinya untuk Auri. Karena dia sudah menganggap Auri sebagai keluarganya sendiri.


Sedangkan Auri baru saja memarkirkan motornya di parkiran perusahaan Fellardo. Dia menatap gedung di depannya. Sangat besar dan indah mungkin pemiliknya sangat menyukai arsitektur yang unik. Saat masuk dia disuguhkan interior yang sangat elegan.


“Sepertinya perusahaan ini sangat besar dan berpengaruh di kota ini.” Gumam Auri.


Dia berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan letak ruangan CEO. Karena permintaan dari pelanggannya bunga itu harus diantarkan pada penerima langsung.


“Permisi nona saya dari Toko bunga Lyra Flower. Ada buket bunga yang harus saya antarkan pada Pak Marcello Damon Fellardo.” Ucap Auri.


“Anda bisa naik menggunakan lift ruangan pak marcello berada di lantai 20. Ruangannya berada di depan pintu lift.” Jelas wanita yang berada di meja resepsionis. Sebelumnya dia sudah diberi tahu oleh tangan kanan CEOnya tentang rangkaian bunga yang harus diantarkan oleh pegawai dari tokonya.


“Terima kasih nona.” Ucap Auri.


Dia berjalan menuju lift yang tidak jauh dari meja resepsionis. Entah mengapa dia merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Rasanya akan terjadi hal yang tidak diinginkan setelah ini. Tapi Auri mencoba berpikir positif. Mungkin dia sedang banyak pikiran karena dia belum bisa mendapatkan petunjuk kematian Aura.


Tanpa sadar lift yang dinaiki Auri sampai di lantai yang di tujunya. Auri Keluar dari lift. Ada seorang wanita yang mungkin lebih tua dari beberapa tahun.


“Nona sudah di tunggu. Silahkan masuk.” Ucap wanita itu.


Auri masuk kedalam ruangan CEO. Sebenarnya dia sedikit aneh karena harus mengantarkan rangkaian bunga sampai ke tempat ini. Bukankah biasanya barang hanya boleh diantarkan sampai meja resepsionis. Mungkin karena dia ingin tidak ingin buket dari orang tersayangnya berpindah dari banyak tangan. Auri tidak sadar dengan pria yang sedang menatapnya sejak datang. Dia terlalu tenggelam dalam pikirannya.


“Permisi saya mengantarkan buket bunga ini.” Ucap Auri yang masih melihat orang di depannya.


Dia baru meletakkan buket bunga sebuah suara membuatnya secara refleks melihat pria di depannya. Terkejut sekali saat tahu pria di depannya.

__ADS_1


“Aku menemukanmu pencuri kecil.” Ucap Marcello dengan senyum tipisnya.


__ADS_2