
Mahlika menatap tajam pada oskar. Dia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria di sampingnya. Selain itu dengan tidak tahu dirinya Oskar mengecup pipinya.
“Apakah kamu suka dengan kecupanku?” goda Oskar.
Mungkin kalau wanita lain yang diperlakukan oleh oskar akan sangat senang. Tapi berbeda dengan mahlika wanita yang paling tidak suka berdekatan dengan pria. Apalagi pria macam Oskar. Dia sangat ingin membunuh pria di sampingnya karena dengan beraninya mengecupnya.
“kamu bosan hidup?”
“Aku tidak akan pernah bosan kalau bersama denganmu.” Ucap Oskar dengan senyuman manis sambil sesekali melihat mahlika di sampingnya.
Pria itu tidak tahu kalau wanita disampingnya sedang menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak. Oskar harusnya berhati-hati dengan Mahlika kalau dalam seperti ini. Tapi oskar tidak tahu seberapa nekat mahlika jika emosinya yang lebih mendominasinya.
“Kamu berani mengecup pipiku bukankah kamu harus mendapatkan hukum karena perbuatanmu.” Ucap mahlika dengan tatapan dingin pada pria di sampingnya.
“Aku menerima apapun hukuman dari kamu bahkan jika kamu ingin kita menikah hari ini.” Ucap Oskar.
Mobil Oskar berhenti di apartement mahlika. Bagaimana pria itu tahu tempat tinggal mahlika. Tentu saja dia dengan meretas handphone wanita di sampingnya. Sejak Auri di bawa oleh marcello kekediamannya. Oskar selalu menghabiskan waktu hanya duduk di dalam mobil menunggu Mahlika keluar dari rumahnya.
Tapi Mahlika tidak pernah keluar. Setelah menunggu beberapa hari wanita itu keluar dari apartement. Akhinya dia memilih untuk kembali ke markasnya dan memantau wanitanya dari gedgetnya.
Mahlika langsung turun saat tahu kalau mobil oskar berhenti di depan apartemennya. Dia tidak terkejut karena oskar mengetahui alamat rumahnya. Mahlika sudah sadar kalau pria itu pasti mencari informasi mengenai dirinya karena berhubungan dengan Auri.
“Kamu bilang menerima hukuman dariku bukan?” ucap mahlika sambil berjalan mendekati Oskar. Pria itu tidak berhenti tersenyum. Oskar tidak sadar dengan apa yang dipegang oleh mahlika. Pria itu terlalu menyepelekan mahlika.
Walaupun mahlika tidak memiliki kemampuan bela diri. Tapi wanita itu sama berbahaya dengan Auri. Hanya Auri yang tahu rahasia sahabatnya. Alasan Mahlika memilih menjauh dari dunia dan bersembunyi di tempat ini sendirian.
Hanya Auri yang tahu bahkan Aura dan Lyra tidak ada yang tahu. Kalau Mahlika memiliki gangguan kepribadian yang sangat ditakuti oleh masyarakat umum. Mahlika seorang psikopat walaupun dia bisa menahan hasratnya dalam membunuh orang dan menyiksa. Tapi hasrat itu tidak bisa ditahan kalau amarahnya tidak bisa dikendalikan.
Seperti saat ini Oskar tidak sadar sedang berhadapan dengan Mahlika yang sangat berhasrat melukai pria di depannya. Sebuah senyuman muncul di wajah mahlika. Oskar terpesona dengan senyuman mahlika.
__ADS_1
“Aku akan memberikan hukuman untuk orang yang sudah mengganggu hidupku.” Ucap Mahlika dengan suara pelannya.
Auri yang masih berada di dalam mobil bersama Marcello. Wanita itu baru sadar kalau meninggalkan sahabatnya. Dia harus memastikan penyakitnya tidak kambu. Hal itu akan berbahaya.
“Marcello, kita harus putar balik sekarang juga.”
“Kenapa?” tanya marcello pada Auri.
Marcello menatap aneh pada Auri. Kenapa tiba-tiba Auri terlihat sangat khawatir. Padahal tadi wanita itu sedang marah karena dirinya menggodanya.
“Mahlika pergi bersama oskar bukan?” tanya Auri yang memastikan kalau pria yang pergi bersama mahlika sedikit bisa dihandalkan. Setidaknya Oskar tidak akan mudah mati karena sahabatnya.
“Sepertinya, kenapa?”
“Oskar dalam bahaya jadi kita sebaiknya mencari Oskar dan mahlika. Sahabatku tidak suka berdekatan dengan seorang pria. Selain itu mahlika tidak boleh dipancing karena dia akan marah.” Ucap Auri yang tidak mudah dipahami oleh marcello.
Marcello hanya dapat memahami situasi kalau bawahannya dalam bahaya. Auri tahu pelaku yang membuat oskar dalam bahaya. Kenapa orang-orang disekeliling gadis kecilnya sangat misterius.
Marcello hanya kalau Mahlika dan Auri berteman baik. Walaupun Auri sangat menyebalkan pada sahabatnya tapi gadis kecilnya sangat sayang pada mahlika. Mahlika sama seperti Auri. Keduanya seperti memiliki kenangan buruk yang sama di masa lalu.
“Baiklah.”
Marcello segera menghubungi Edgar untuk memintanya mendeteksi keberadaan Oskar. Panggilannya langsung diangkat setelah dering kedua.
“Edgar deteksi keberadaan Oskar saat ini dan kirimkan tempatnya saat ini.” Ucap marcello sebelum menutup panggilan.
Tidak membutuhkan waktu lama. Lokasi Oskar langsung muncul dari layar mobilnya keberadaan bawahannya. Ternyata oskar berada di dekat sini. Lebih tepatnya oskar sedang berada di apartement Auri dan mahlika.
“Kamu harus menjelaskan apa yang terjadi saat ini?” tanya Marcello yang melihat wajah cemas Auri.
__ADS_1
“mahlika memiliki gangguan kepribadian. Sebenarnya sudah sangat lama hasrat psikopatnya muncul. Hanya saat dia dikendalikan oleh amarahnya. Masalahnya oskar adalah seorang pria dan mahlika benci berinteraksi dengan seorang pria.”
“Tenanglah oskar pasti bisa menyelesaikannya. Lagi pula mahlika tidak memiliki kemampuan bela diri bukan? Dia tidak akan semerepotkanmu.”ucap marcello yang mencoba menenangkan wanita di sampingnya.
Mobil Marcello terparkir tepat di depan mobil Oskar. Auri langsung keluar dari mobil tanpa menunggu marcello. Dia sudah sangat khawatir dengan sahabatnya. Dia tidak membayangkan jika hasrat psikopat mahlika kembali.
Auri terdiam saat melihat Auri sudah membuat Oskar terluka. Walaupun tidak begitu parah hanya tangan kanan yang mengeluarkan darah karena pisau mahlika. Selain itu pipi oskar juga tergores oleh pisau mahlika.
“marcello sebaiknya kamu membawa Oskar sekarang. Aku bisa menenangkannya.” Ucap Auri.
“kenapa kamu menyerangku?” tanya Oskar yang sudah mundur beberapa langkah dari mahlika.
Dia tidak menyangka saat wanita itu tiba-tiba menggoreskan pisau pada wajahnya. Saat ingin mengambil pisau yang dipegang mahlika. Pisau itu malah menggores tangannya. Wanita di depannya seperti bukan mahlika yang ditemuinya beberapa waktu lalu.
“Aku sudah peringatkan kalau kamu akan mendapatkan hukuman karena telah mengganggu ketenanganku.” Ucap Mahlika dengan senyuman tipis. Mahlika menjelit darah yang ada di pisaunya.Oskar terkejut melihatnya. Mahlika tidak takut jika pisaunya melukai lidahnya sendiri.
“Mahlika…” ucapan oskar terhenti saat Auri memanggil namanya. Dia terkejut dengan keberadaan Auri dan bossnya. Bukankah mereka sedang menuju ke mansion.
“Oskar ikut dengan marcello. Jangan mendekati mahlika.” Ucap Auri yang sedang berjalan mendekati mahlika.
Auri sangat ingat saat pertama kali penyakit mahlika kambu. Wanita itu tidak bisa mengenali siapapun di depannya. Bahkan Auri harus mendapatkan luka pada perutnya karena mahlika menusuknya. Beruntungnya Auri masih bisa diberikan kesempatan hidup.
Sejak saat itu mahlika selalu menjauhi Auri. Tapi Auri tahu kalau sahabatnya tidak benar-benar ingin melukainya. Mahlika bahkan menangis dan melukai dirinya sendiri karena telah menyakiti sahabatnya.
“mahlika tenanglah aku ada di sini. Jatuhkan pisaumu.” Ucap Auri yang berjalan mendekati mahlika. Entah sejak kapan air mata mahlika keluar. Sekarang mahlika terlihat seperti orang yang sangat lemah.
“Auri aku..aku melukai orang lain lagi.” Ucap Mahlika yang sudah kembali sadar.
Wanita menangis karena telah hampir membunuh oskar. Walaupun mahlika kesal pada oskar tapi tidak ada niat untuk mengambil nyawa pria itu. Mahlika selalu seperti ini jika hasratnya kambuh.
__ADS_1
Hanya dengan suara Auri. Mahlika bisa sadar kembali. Alasannya karena Aurilah yang membantu wanita itu dalam menyembuhkannya dari hasrat psikopatnya. wAalupun mahlika tidak sepenuhnya bisa bebas dari hasrat gilanya. Tapi wanita itu bisa menahannya tidak seperti dulu yang akan menggila dan tidak bisa terkendali jika belum diberikan obat penenang.
Auri langsung membawa tubuh mahlika kedalam pelukannya. Dia sangat tahu kondisi mahlika. Pasti kenangan di masa lalu muncul dan membuatnya sulit mengendalikan hasratnya. Auri mengelus punggu mahlika hingga sahabatnya terlelap dalam pelukannya.