Pencuri Hati Ketua Mafia

Pencuri Hati Ketua Mafia
Chapter 23: Auri vs Edgar


__ADS_3

Mahlika kesal saat tiba-tiba sebuah mobil muncul. Beruntungnya dia sempat menginjak rem sehingga tidak terjadi tabrakan. Jendela disampingnya diturunkan. Mahlika mengeluarkan kepalanya.


“KAMU GILA. KALAU TIDAK BISA NAIK MOBIL GAK USAH NAIK MOBIL.” Teriak mahlika yang membuat orang yang berada di mobil yang hampir saja bertabrakannya keluar.


Ternyata pengemudi mobil itu adalah seorang pria. Mahlika juga ikut keluar dia ingin sekali memberikan pelajaran yang hampir saja membuatnya celaka. Bisa-bisanya mobil itu keluar tiba-tiba. Apa dia tidak lihat kalau mobilnya sedang melintas.


“Nona bukannya anda harusnya intropeksi diri. Anda mengendari mobil dengan ugal-ugalan. Anda yang hampir saja membuat saya kecelakaan.”


“Saya berada di jalan lulus. Sedangkan anda tiba-tiba keluar. Tentu saja anda yang salah.” Ucap mahlika yang tidak mau kalah.


Kalau seorang mahlika sedang emosi. Jangan ditanya otak logikannya dimana. Mahlika tidak akan menggunakan akal sehat. Emosinya yang akan bekerjaa seperti saat ini.


“Saya sudah mengendari mobil sesuai atura. Bukankah anda yang sudah melanggar kecepatan maximum.” Ucap pria yang tidak ingin kalah dengan wanita di depannya.


“Apa? Kamu gila. Sudah aku katakan anda yang salah kenapa anda jadi menyalahkanku. Dasar pria gila tidak bisa pakai otakmu.”


“Anda tidak usah menghina saya. Saya bisa menuntut anda atas pencemaran nama baik.”


“Apaan pake lapor kaya anak kecil saja anda.” Prote mahlika yang tidak suka karena dia akan dilaporkan oleh pria di depannya pada polisi.


“Anda yang kekanakan. Lihatlah anda sudah membuat mobil saya lecet.” Ucap pria itu.


Mahlika berniat untuk protes harus mengurungkan niatnya saat sebuah pesan masuk dari Lyra. Saat itu mahlika sadar ada yang lebih penting dari berdebat dengan pria gila. Dia langsung meninggalkan pria itu.


“Hey nona anda belum tanggung jawab.” Teriak pria yang tidak habis pikir wanita itu membuat kerusakan pada mobilnya. Tapi dia tidak merasa bersalah malah menyalahkannya.


“Tidak ada waktu berdebat dengan anda. Dasar pria gila.” Ucap mahlika sebelum meninggalkan pria yang hampir di tabraknya.


Mahlika kesal pada pria yang membuatnya terhambat untuk menyelamatkan Auri. Dia sangat berharap mahlika masih sempat menyelamatkan Auri. Semoga saja semua yang dibayangkannya tidak terjadi.

__ADS_1


“Aku mohon Auri kamu baik-baik saja. Semoga penerima bunga itu bukan pria yang mengincarmu. Aku tidak membayangkan kalau kamu harus meninggalkan kita. Bagaimana keluarga kamu kalau tahu kamu pergi untuk selamanya.” Gumam mahlika sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan beberapa kali dia menerobos lampu merah. Dia tidak peduli jika hal itu dapat membuatnya bermasalah dengan pihak polis. Sekarang keselamatan sang sahabat lebih utama.


Ditempat lain, Auri terkejut saat melihat pria di depannya. Dia masih mengingat jelas pria yang ditemuinya di ruang saata dirinya melaksanakan tugasnya. Bagaimana bisa dia bisa sebodoh ini hingga tidak sadar.


“Kamu tidak akan bisa kabur pencuri kecil. Kamu harus mendapatkan hukuman karena sudah berani menyusup ke dalam rumahku. Sebelum itu apakah kamu senang dengan benda yang kamu curi.” Ucap marcello dengan senyum mengejek pada Auri.


Auri kesal saat tahu pria di depannya memang menipunya. Dia ingat sekali benda yang dicuri dengan mempertaruhkan nyawanya itu berisi video senonoh. Auri menatap tajam pada marcello.


Sekarang dia tidak membawa senjatanya untuk melindungi diri. Bukan berarti dia tidak bisa melindungi diri. Mungkin Marcello sudah menemukannya tapi dia masih bisa kabur. Dia mencoba menenangkan diri sambil memikirkan langkah untuk kabur.


“Otak kecilmu sedang memikirkan cara kabur benarkan? Tapi lupakan rencana itu. Kamu sudah masuk kedalam perangkapku. Kamu tidak akan bisa kabur kecuali meloncat dari lantai 20. Tentu saja kamu akan langsung mati saat kamu mendarat.” Ucap marcello yang berdiri dari posisi duduknya.


Dia berjalan mendekati Auri. Tapi Auri mundur beberapa langkah. Sekarang Auri sangat terdesak. Dibelakangnya dia melihat pria yang dikalahkannya waktu itu sedangkan di depannya seorang marcello. Dia dalam posisi kuda-kuda yang siap menyerang siapapun yang mendekatinya.


Marcello terhibur melihat posisi Auri saat ini. Walaupun Auri sadar kalau dia sangat sulit kabur. Tapi dia tidak menyerah. Hal itu yang membuat marcello semakin tertarik.


“mainanku memang berbeda.”ucap marcello dalam hati.


Saat itu Edgar menyerang Auri dari belakang tapi dengan mudah ditangkis olehnya. Dia mundur beberapa langkah sehingga terdapat jarak antara Edgar dan Auri.


Sedangkan marcello, dia mengambil bunga yang dibawa oleh Auri. Menghirup aroma bunga hasil rangkaian Auri. Dia akui rangkaian Auri selalu membuatnya menarik. Ternyata tidak hanya orangnya saja tapi bakat yang dimiliki Auri membuatnya sangat ingin bermain dengan mainannya.


Sedangkan Auri mencoba menghindari setiap serangan yang dilayangkan Edgar. Sebenarnya Auri sedikit kesusahan melawan Edgar. Pria itu terlalu lincah dan kuat. Tapi bukan Auri jika tidak menang dengan menggunakan otak cerdik.


Dia memang tidak sekuat Edgar. Tapi otak cerdik yang seperti kancil tidak akan ada yang bisa mengalahkan. Saat Edgar terus menerus menyerang. Auri menemukan celah untuknya menyerang. Di saat yang tepat, Auri memberikan tendangan dengan sepenuh tenaga. Saat itu Edgar terhuyung kebelakang.


Edgar terkejut untuk kedua kalinya. Kekuatan Auri memang tidak begitu kuat. Tapi wanita di depannya sangat pintar menemukan titik lemah dari lawannya. Hal itu membuat Edgar semakin semangat untuk mengalahkan Auri. Dia tidak akan membiarkan dirinya kalah untuk kedua kalinya dengan kakak dari pacarnya itu.


Walaupun Edgar sudah mengetahui kalau wanita di depannya adalah kakak kembar dari Aura. Tidak ada niatnya untuk memberikan belas kasih. Edgar memang cocok dengan panggilan ajing gila. Dia sudah merasa tertantang bertarung dengan Auri.

__ADS_1


Selain itu marcello tidak memberhentikannya. Jadi tidak ada alasannya untuk bertarung setengah hati. Ternyata tidak hanya Edgar yang terpancing. Auri juga sama seperti pria di depannya. Tujuannya sekarang adalah membuat pria itu kalah dan dirinya bisa kabur setelahnya.


Marcello semakin tertarik dengan Auri. Dia tidak menyangka gadis kecil itu bisa menemukan kelemahan serangan Edgar. Selama ini hanya dirinya yang tahu kalau ada titik kelemahan saat tangan kananya menyerang dengan membabi buta.


“Kamu semakin menarik. Aku menunggu semua pertunjukkanmu.” Ucap marcello dalam hati.


Sekarang Auri yang menyerang Edgar secara membabi buta. Dia tidak sama sekali memberikan celah Edgar untuk menyerang baik. Edgar tidak menyangka wanita di depannya memiliki kecapatan dan keakuratan yang tinggi dari setiap serangannya. Dia seperti melihat marcello saat bertarung.


Perbedaanya tenaga Auri tidak sekuat marcello. Seperti yang diperkirakan marcello. Edgar tersungkur saat sebuah tendangan mengarah dadanya. Tangan kanan marcello memegang dadanya terasa sakit. Walaupun tidak keras tapi Edgar sulit untuk bernafas.


Marcello bertepuk tangan melihat aksi Auri. Dia sangat kagum wanita itu ternyata bisa mengalahkan tangan kanan. Pencuri kecil itu memang tidak bisa dianggap sebelah mata.


Saat tahu ada kesempatan untuk kabur. Auri berlari menuju pintu namun tidak bisa dikunci. Auri langsung menatap tajam pada marcello. Pria itu tersenyum sinis pada Auri.


“Sudah aku katakan kamu tidak bisa kabur.” Ucap marcello yang berjalan mendekati Auri.


Auri menatap tajam pada pria di depannya. Sekarang hanya satu cara untuk kabur adalah dengan meloncat dari lantai 20. Tapi itu rencana yang sangat bodoh dan berbahaya.


“Kamu tidak akan melakukan hal gila itu.” Ucap Marcello.


Sekarang Auri hanya satu hal yang bisa lakukan adalah mengalahkan marcello. Dia begerak menyerang marcello. Pria itu dengan mudah menghindari semua serangan Auri. Saat menemukan celah dari serangan wanita di depannya. Marcello memukul leher Auri yang menyebabkan wanita itu pingsan.


Marcello langsung menangkap tubuh Auri yang pingsan. Edgar sudah bisa mengontrol pernafasannya. Serangan Auri memang tidak menyebabkan luka tapi membuatnya sulit bergerak dalam beberapa waktu.


“Kita kembali kediamanku. Siapkan mobil sekarang Edgar.” Ucap marcello.


Edgar langsung keluar dari ruangan marcello. Tapi beberapa langkah pria itu membalikkan badan.


“Tuan biarkan saya yang membawa wanita itu.” Tawar Edgar tapi yang didapatkan pria tatapan tajam dari atasanya.

__ADS_1


Edgar mengurungkan niatnya untuk membantu marcello. Dia sedikit terkejut dengan perbuatan atasannya. Biasanya bersentuhan dengan wanita saja tidak suka. Sekarang marcello dengan senang hati mengangkat tubuh seorang wanita.


“Sepertinya dunia sudah hampir kiamat.” Gumam Edgar saat berjalan di belakang atasanya yang sedang membawa tubuh Auri.


__ADS_2