
Akhirnya topeng silikonnya sudah selesai. Walaupun beberapa kali Auri hampir melakukan kesalahan karena marcello yang menatapnnya terus. Jujur Auri merasa gugup karena tatapan marcello.
“sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan?” tanya marcello yang sangat penasaran yang dilakukan oleh gadis kecilnya.
“Topeng silikon.”
“Buat apa kamu membuat itu?” tanya marcello.
Auri menatap lelah pada marcello. Apakah pria itu lupa dengan rencananya. Tidak mungkin dia menyamar Selena yang memiliki bentuk wajah berbeda tanpa menggunakan topeng. Bisa-bisa penyamarannya langsung terbongkar.
“Kamu lupa kalau mulai besok aku akan menyamar menjadi Selena.”
“oh kamu benar juga. Berarti orangku bisa menggantikanmu karena topeng itu membantunya memiliki wajah yang sama dengan wanita itu bukan?” tanya marcello yang masih mencoba membatalkan rencana Auri.
Auri menatap tajam marcello. Bukankah pembahasan ini sudah terjadi beberapa kali. Pria itu tahu apa hasil dari pembicaraan tentang rencannya.
“Aku sudah malas berdebat tentang ini marcello.” Ucap Auri yang sekarang menatap marcello. Tidak ada wajah memerah karena saat ini Auri dalam mode kesal pada pria di depannya.
“baiklah, tapi kamu jangan berdekatan dengan pria lain di sana. Kalau kamu melakukannya aku pastikan langsung menyerang markas mereka.” Ancam marcello.
“kamu lupa kalau Selena dekat dengan tangan kanan ketua kelompok tiger.”
“kalau begitu sebaiknya kamu tidak usah pergi. “ ucap marcello dengan wajah cemberut. Pria itu merajuk pada Auri. Sayangnya Auri tidak mudah terketuk hatinya. Sahabatnya saja sudah tidak bisa membuat Auri membatalakan rencananya apalagi marcello.
“MARCELLO.” Panggil Auri dengan setiap hurufnya ditekan.
“iya sayang.”
Auri membuang nafas kasar. Dia lelah berbicara dengan marcello. Auri lebih memilih berjalan keluar ruang pribadinya. Marcello mengikuti di belakang Auri. Senyum pria itu muncul saat melihat wajah kesal Auri.
__ADS_1
Auri mengambil es cream yang ada di kulkas. Mungkin dia harus mendinginkan otaknnya sebelum ada perdebatan dari marcello. Dia harus lebih banyak sabar dari pria di depannya.
“buat aku mana?” tanya marcello.
Auri meberikan satu kotak kecil es cream. Setelah itu Auri berjalan emnuju ruang tamu yang tersedia tv. Dia menekat tombol on pada remotenya. Sambil menonton dia menikmati es cream rasa coklat. Marcello juga ikut duduk di sebelahnya.
Saat Auri berniat untuk menyuapkan satu sendok es cream. Marcello dengan tidak tahu dirinya malah menarik tangan Auri dan mengarahkan ke mulutnya. Auri menatap kesal pada marcello.
Selalu saja tingkah menyebal yang dilakukan marcello. Kenapa dia merebut miliknya ketika dia mempunyai es cream dengan rasanya yang sama.
“Jangan ganggu aku napa sih. Kamu jugakan punya sendiri.” Ucap Auri sambil menujuk kotak es cream yang memiliki rasa yang sama dengannya.
“lebih enak kalau kita makan bersama.” Ucap marcello bersamaan menyendokkan es creamnya pada mulut Auri yang baru saja berniat menjawab pria itu.
Perlakuan marcello sangat manis dan romantis. Tapi tidak untuk Auri yang kesal karena telah mengganggu kenikmatannya. Tanpa mereka sadari ada dua wanita yang menatap sebal adegan di depan meraka.
Siapa lagi kalau bukan mahlika dan Lyra. Mahlika baru saja keluar dari kamar tidur sahabatnya saat merasakan air matanya sudah berhenti. Berniat untuk mengajak makan bersama dengan Auri. Tapi mahlika harus menjadi penonton gratis melihat adegan romantis.
Lyra sampai tidak menyangkan seorang Auri seperti saat ini. Sahabatnya itu sangat dingin pada pria selain kakak Antara. Tapi lihatlah interaksinya sangat manis. Walaupun Auri terlihat sangat kesal.
“Apakah dia Auri sahabat kita?” ucap Lyra pada mahlika yang baru saja keluar dari kamar tidur Auri.
“Entahlah rasanya aneh juga melihat Auri seperti itu.”
“Bukankah lebih aneh lagi tuan marcello. Dia seorang ketua mafia yang terkenal kejam. Tapi lihat pria itu sangat manja pada Auri.”
“ya kamu benar, apalagi dia bisa bertahan dengan sikap dingin Auri. Sebuah hal yang luar biasa.” Ucap mahlika.
“Mau sampai kapan kalian berdiri di situ.” Ucap Auri yang sudah sadar saat mendengar suara langkah di belakangnya. Hanya saja dia terlalu malas melihat siapa orangnya.
__ADS_1
Seperti dugaanya suara itu berasaan dari kedua sahabatnya. Senyum marcello berubah menjadi wajah datar yang sangat menyeramkan bagi mahlika maupun Lyra. Kedua sahabat Auri duduk tepat di hadapan Auri dan Marcello. Pasangan yang terlihat lagi hangat-hangatnya.
Lyra dan mahlika menyesal karena tidak segera kabur saat melihat adegan sahabatnya. Lihatlah tatapan seperti bersiap menelannya bulat-bulat dari marcello. Sepertinya pria itu merasa terganggu dengan keberadaan kedua sahabat Auri.
Tatapannya saja tajam sekali. Mahlika harus beberapa kali menelan ludahnya dengan kasar. Sedangkan Lyra merasakan keringat dingin yang mulai bercucuran di tubuhnya.
“Ada apa kamu datang Lyra?” tanya Auri yang matanya masih fokus dengan acara Tv. Sedangkan marcello memberikan tatapan pada kedua wanita itu untuk segera pergi.
Auri selamatkan kita, singamu seperti sedang bersiap menerkam kita. Jinakkan peliharaanmu itu.
Auri sadarlah kalaua pria di sampingmu sedang bersiap memakan kita.
“Aku membawa makanan kesuakaan kalian. Karena tadi siang kalian pergi dengan mood yang buruk.” Jelas Lyra.
“Wah kamu tahu saja kalau aku lapar.” Ucap mahlika yang sudah tidak memperdulikan lagi tatapn tajam dari marcello. Urusan makan adalah nomor satu untuknya. Tentang nyawanya yang akan selamat atau tidak itu urusan terakhir.
Auri langsung bergerak membuka kotak makan yang dibawa Lyra. Sedangkan Lyra merasa bersalah karena hanya membawa 3 kotak saja. Dia tidak menduga akan ada tuan marcello di apartement sahabatnya.
“Maaf tuan marcello saya hanya membeli 3 kotak saja.” Ucap Lyra.
Marcello tersenyum sangat tipis tapi pesonanya tidak sama sekali berkurang. Pria itu menemukan ide untuk bisa membuat Auri menyuapinya. Sepertinya sekarang marcello yang berhutang pada sahabat gadis kecil.
Aku akan memberikan kamu hadiah karena sudah membuatku bisa makan bersama Auri.
“karena hanya ada tiga kotak, bukankah Auri bisa makan bersamaku.” Ucap marcello dengan senyuman lebar pada Auri.
Sedangkan Auri menatap sebal. Sudah dia duga saat melihat senyum tipis muncul di wajah pria di sampingnya. Pasti Marcello sudah menemukan ide untuk seorang Auri kesal.
Auri yang tidak ingin sahabatnya mendapatkan hukuman dari marcello karena tidak membelikannya makanan. Dengan setengah hati Auri menyuapi marcello sesekali sendok itu masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Sedangkan kedua wanita di depan Auri melongo dengan tindakan Auri. Mereka merasa Auri sedang dirasuki oleh seorang wanita yang tergila-gila oleh marcello. Sejak kapan sahabatnya dengan mudah menuruti perintah orang lain.
“Apakah kamu tidak kesurupan Auri?” tanya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Lyra maupun Auri. Sedangkan marcello tidak memahami dengan ucapan sahabatnya Auri.