Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 100 Mama Nancy Merindukan Dikta


__ADS_3

Malam berganti, kelamnya langit kini mulai terisi tatkala mentari tersenyum tipis di ufuk timur, Monita sejak tadi sudah berkutat di dapur. Seperti biasa dia menyiapkan sarapan untuk suaminya dan juga mengurusi putranya.


Setiap pagi Ilham selalu disuguhkan pemandangan yang menenangkan kala melihat istrinya menyiapkan sarapan untuknya dan juga menyiapkan segala keperluannya ke kantor. Ilham sudah melarang Monita agar tidak memasak, tapi wanita itu tetap kekeh ingin memasak karena ia merasa sebagai istri itu sudah jadi kewajibannya untuk melayani suami.


“Sayang.” Ilham melingkarkan lengannya ke pinggang Monita.


Begitu Ilham memeluknya mata Monita sontak menoleh ke arah bi’ Rani selaku pelayan baru mereka di sana yang sedang menundukkan wajah karena malu harus menyaksikan adegan mesra itu.


“Mas, ada bi’ Rani, gimana sih kamu.” Keluh Monita seraya melepas pelukan Ilham dari pingganya namun Ilham tak semudah itu melepasnya. Pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


Bi’ Rani yang tengah sibuk memindahkan makanan di piring sontak menoleh begitu Ilham memanggilnya.


“Iya tuan.” Sahut bi’ Rani sembari menunduk.


“Ke belakang sekarang, saya masih hanya ingin berdua dengan istri saya.”


“Baik tuan.” Bi’ Rani segera berlalu dan hal itu membuat Monita mendelik ke arah suaminya yang suka memerintah seenak jidat.


“Nah sekarang tinggal kita berdua.”


“Terus kamu mau apa mas? Awas aku mau menyajikan sarapan ini.” Ujar Monita seraya menepuk tangan suaminya yang mulai nakal menelisik tubuhnya.


“Sebentar saja ya.”


“Kan tadi malam sudah mas.” Ucap Monita yang tak habis pikir dengan tingkah suaminya yang seakan mengajak untuk berkeringat bersama.


“Itu bedah lagi sayang.” Ilham mulai mengikis jarak di antara mereka, hingga deru nafas yang beraroma mint itu mulai menyeruak ke dalam indera penciuman Monita.


Ilham mulai meraih tengkuk Monita untuk melakukan aksinya namun terpaksa harus terhenti karena suara tangis Dikta.


“Mas Dikta menangis.”


“Tapi sayang aku-“

__ADS_1


“Aduh sudah sudah, aku mau ke kamar Dikta dulu, tugas kamu sekarang bantu aku untuk menyajikan makanan-makanan ini di atas meja ok!” seru Monita sembari menepuk pundak suaminya kemudian langsung berlalu meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung.


Di saat Ilham dan Monita tengah bahagia dengan kehidupan rumah tangga mereka, berbeda halnya dengan Naomi. Wanita itu melempar ponselnya ke tembok karena sejak tadi nomor Ilham tidak diangkat begitu ia hubungi berkali-kali.


“Aaaarrggghhh!!” Teriak Naomi sembari menjambak rambutnya sendiri dengan derai air mata, perlahan tubuhnya merosot ke lantai. Bahunya bergetar, ia meratapi nasibnya yang harus tersingkir karena kehadiran Monita.


“Semua gara-gara kamu Monita. Kamu sudah merebut kebahagiaanku dan kamu juga merebut suamiku. Dasar ******! Penipu! Kamu sudah menerima uang kami tapi kamu malah melanggar kesepakatan kita!” geram Naomi seraya mengacak-ngacak ranjangnya hingga seprei yang tadinya tertata rapi kini terlihat berantakan bak kapal pecah akibat ulahnya.


Bi’ Ratih yang mendengar kekacauan itu segera menitih anak tangga dan mengetuk pintu kamar utama karena khawatir dengan keadaan Naomi yang berteriak histeris sejak tadi.


“Nyonya… buka pintunya nyonya, jangan berbuat macam-macam, bibi’ takut nya.” Bi’ Ratih nengetuk pintu kamarnya karena panik.


“Pergi! Jangan ganggu aku! Biarkan aku sendiri bi’ tolong pergi!!!” Hardik Naomi dan sontak membuat bi’ Ratih tersentak.


“Baik nyonya, tapi nyonya jangan melakukan sesuatu yang berbahaya, janji ya nya.” Ujar wanita paruh baya itu khawatir dengan majikannya. Bi’ Ratih berani berkata seperti itu karena dirinya sudah mengabdi lama di keluarga Adhitama.


Naomi tak menggubrisnya, wanita itu merebahkan tubuhnya di lantai yang dingin dalam keadaan yang sudah berantakan. Lingkar hitam di matanya semakin terlihat, dia tidak bisa tidur semenjak Monita kembali ke pelukan suaminya.


“Ya sudah bibi’ pergi ya nya.” Masih tak ada jawaban, akhirnya dengan langkah ragu bi’ Ratih turun ke bawah untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


Drrrt drrt drrrtt


Ponsel Ilham berbunyi dengan menampilkan nama “mama” di layar ponselnya. Lalu dengan segera Ilham menggeser icon hijau itu.


“Ya ma.”


“Ilham, tolong dong kamu bawa cucu mama ke sini, mama rindu, tadi malam mama belum puas bermain-main dengannya.” Rengek Nancy dari balik telpon.


Mendengar itu Ilham menarik sudut bibirnya. Lampu hijau dari sang mama pelan-pelan akan segera ia dapatkan.


“Ilham, kamu dengar mama kan?” Tanya mama Nancy membuyarkan lamunan Ilham.


“Iya ma, Ilham dengar. Ya sudah Ilham bawa Dikta ke rumah mama ya.”

__ADS_1


“Sekarang!”


“Iya iya sekarang, Ilham tutup dulu telponnya.”


“Ok!” Sambungan telepon pun berakhir.


Namun makanan belum disajikan, Ilham segera memanggil bi’Rani untuk menyajikan makanan tersebut di atas meja sesuai permintaan istrinya, lalu dengan wajah sumringah dia menapaki anak tangga untuk segera menemui Monita.


“Sayang.” Panggil Ilham begitu dia sudah sampai di kamar Dikta yang kala itu tengah menyusu.


“Kenapa mas?”


“Mama ajak kalian ke rumah mama pagi ini juga.” Imbuhnya dengan binar di wajahnya.


Di saat Ilham senang, Monita justru gugup, pasalnya sejak rahasia Ilham dan Naomi terbongkar, dia jadi merasa tidak enak pada mertuanya itu.


“Kenapa sayang? Kamu tidak senang?” Tanya Ilham melihat perubahan wajah istrinya.


“Tidak mas, aku senang kok, ya sudah aku dan Dikta siap-siap dulu. Tapi, apa kamu tidak ke kantor mas?” Tanya Monita dengan dahi berkerut karena suaminya sudah rapi begini tapi malah mengajaknya ke rumah mama Nancy.


“Itu urusan nanti, itu kantorku sayang, jadi tidak apa-apa kalau terlambat.”


“Ya sudah Monita siap-siap dulu kamu tunggu di bawah.” Ujar Monita kemudian langsung memandikan Dikta dan mengganti pakaiannya. Selesai dengan itu, ia segera menuju kamarnya untuk siap-siap juga. Begitu ia berlalu ke kamarnya, Ilham mengikuti langkahnya dari belakang.


Ilham yang masih tetap berdiri di tempatnya memandangi istrinya dengan intens.


“Mas, kenapa masih di situ?”


“Aku mau lihat kamu ganti baju.” Jawab Ilham seakan tanpa beban. Ia malah berdiri dan bersandar di meja rias istrinya seraya memasukkan tangannya ke saku celana.


“Aku tidak nyaman mas.”


“Aku suami kamu sayang, jangan kan melihatnya, merasakannya juga aku sering, kenapa harus malu?”

__ADS_1


“Ayo ganti bajunya.” Titah Ilham lagi dengan santainya.


Akhirnya mau tidak mau Monita pun mengalah, ia yang sudah mandi sejak tadi, kini ia mengganti pakaian di depan Ilham yang kala itu tengah memperhatikannya dengan seksama.


__ADS_2