Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 105 Larangan Mutlak Mama Nancy


__ADS_3

“Mas.”


Monita meraba-raba tempat tidur di sampingnya, namun tidak ada Ilham di sana. Merasa tempat tidur di sebelahnya kosong, Monita berdecak kesal. Kini ia sudah beranjak dari tempat tidur tanpa dirapikan lebih dulu.


Tidak sempat mandi, ia hanya menggosok gigi dan cuci muka, lalu masuk ke kamar putranya yang hanya di samping kamar mereka demi mengecek apa putranya sudah bangun atau belum. Pemandangan indah yang setiap pagi Monita saksikan, Monita menarik sudut bibirnya kala melihat, si kecil masih terlelap dengan damainya. Ia mengecup singkat pipi gembul putranya kemudian berlalu mencari keberadaan suaminya.


Langkahnya mengikuti aroma masakan di dapur, yang dapat dia tebak begitu lezatnya.


“Mas?”


“Sayang. Kamu sudah bangun?” Tanya Ilham menoleh sedikit ke arah istrinya kemudian kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.


“Masak apa mas?”


“Nasi goreng sayang, seperti yang kamu minta kemarin.”


Rasanya Monita ingin bersorak gembira, pasalnya dia sudah menginginkan nasi goreng itu sejak kemarin pagi, hanya saja belum terpenuhi karena Ilham ada meeting jam 06.30 pagi dengan salah satu kliennya. Jika saja Ilham belum bangun, mungkin saat ini ia masih bergumul dalam selimut seraya memeluk Ilham.


Ilham menghampirinya sembari membawakan maha karyanya, nasi goreng dengan telur setengah matang, sesuai permintaan Monita. Bagaimana tidak, Monita pernah mencicipi nasi goreng buatan suaminya dan katanya itu enak, jadi dia ingin suaminya membuatkannya lagi.


Aktivitas di dapur itu cukup menguras tenaga, jika sampai istrinya kecewa Ilham akan menangis sepanjang hari.


“Masih mengantuk? Ini sudah siap loh sayang.” Ilham menepikan anak rambut istrinya, mata Monita menjelaskan kalau dia masih sangat mengantuk.


“Mas jago masak, aku selalu ketagihan nasi goreng buatan mas. Tapi baru dikabulkan sekarang.”


Sebenarnya Ilham bisa, hanya saja karena kesibukkannya kemarin dia tidak sempat, takutnya dia tidak akan fokus dan akan merusak cita rasa yang tercipta.


“Sedikit jago sayang.”


Ilham tersenyum, jika dilihat dari ekspresi Monita, sepertinya nasi goreng itu sangat enak, dia tampak lahap bahkan belum apa-apa nasi gorengnya sudah berkurang setengah porsi. Ilham hanya menatap istrinya lekat sembari menopang dagu.


“Pelan-pelan makannya, itu memang untukmu Monita.”


Betapa lahapnya sang istri makan, sarapan tapi sudah seperti makan siang. Itu doyan atau lapar, pikir Ilham heran. Bahkan saking lahapnya, ia tak menggubris ucapan Ilham, baginya nasi goreng ini lebih nikmat dari nasi goreng abang-abang.


“Enak?” Tanya Ilham sembari mengambil alih gelas yang sudah kosong isinya. Dia senang kalau istrinya suka.


“Hmmm lumayan.” Jawab Monita singkat padat dan jelas, membuat penciptanya kecewa.

__ADS_1


“Kok lumayan? Padahal kamu makannya lahap begitu, lumayan bagaimana.”


Pria itu tak puas dengan jawaban singkat istrinya, pengakuan Monita tidak sesuai keinginannya. Ilham sudah berusaha bangun pagi menyiapkan semuanya secara spesial.


“Hahaha bercanda. Pokoknya enak deh, bang Agus saja kalah.”


Berbicara soal bang Agus Monita mendadak terdiam, tunggu, dia punya hutang nasi goreng dua porsi tepatnya 5 bulan yang lalu. Waktu itu dia dan Eden mampir makan di sana.


“Kenapa diam? Apa ada yang salah?”


“Gawat mas!!”


Monita sontak membulatkan matanya sembari menggenggam jemari Ilham. Sebenarnya dia malu mengatakan ini pada suaminya, tapi sepertinya dia harus menyampaikannya.


“Apanya yang gawat sayang? Ada masalah apa?” Tanya Ilham ikut panik, dia khawatir sekali. Pantang sekali pagi mereka benar-benar tenang, selalu ada saja hal yang membuat Ilham panik seketika.


Monita menggeleng, dia hanya terkejut saja. Pasalnya dia punya hutang yang sudah lumayan lama dan itu hampir ia lupakan.


“Monita lupa mas, lima bulan lalu Monita punya hutang sama bang Agus. Kita temui dia hari ini ya.” Ilham pikir apa, jika hanya hutang puluhan ribu kenapa harus seheboh ini. Hampir saja dia jantungan.


“Iya sekalian kita ke rumah utama ya sayang, kemarin Naomi memintaku pulang tapi aku tidak bisa kalau kesana sendiri, aku tidak ingin kamu kepikiran jadi kita kesana sama-sama ya.” jelas Ilham panjang lebar.


“Kenapa harus bersama aku mas? Kalau mbak Naomi marah bagaimana.”


“Tidak sayang, dia tidak akan marah. Bahkan dia sendiri yang minta agar aku membawa kamu dan Dikta.” Bohong sekali, demi mempersingkat waktu dan agar istrinya tidak banyak bertanya, lebih baik dia berbohong saja. Dari pada nanti dia ketemu Naomi sendiri dan Monita jadi sakit hati lebih baik dia bawa saja Monita dan Dikta sekalian.


Ragu sebenarnya dia, sampai saat ini dia masih belum menerima jika harus berbaikan dengan wanita itu, mengingat apa yang dia lakukan terakhir kali.


“Kalau kamu tidak siap tidak apa sayang, kita tidak usah kesana.”


Pria itu paham kalau istrinya tak bisa berhadapan dengan Naomi walau hanya sebentar saja. Sorot mata Monita mengutarakan kalau dendam masih menyelimuti hatinya. Namun jika Naomi yang meminta, mau tidak mau dia harus mencoba, mana tau rivalnya itu sudah mulai menerima dirinya.


“Maaf ya sayang, semua jadi rumit gara-gara aku.”


“Tidak mas, bukan salah mas. Wajar jika mas mau menemui mbak Naomi, dia kan istri pertama mas, Monita tidak pantas melarang mas untuk tidak menemuinya. Kalau mbak Naomi yang minta, Monita ikut saja deh kalau begitu.”


Dia memang masih mewanti-wanti jika terpaksa harus bertemu Naomi, tapi dia merasa tidak berhak saja kalau harus melarang Ilham dan lagi pula menurutnya tidak baik jika terus menyimpan benci selama itu pada seseorang. Ilham sudah sebulan ini bersamanya, rasanya akan sangat egois jika dia tidak membiarkan Ilham untuk menemui Naomi.


“Ayo mas.” ajak Monita kala dia dan Dikta sudah selesai bersiap.

__ADS_1


“Ya sudah ayo.” begitu Ilham membukakan pintu samping kemudi untuk istrinya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Drrtt drrtt drrrtt


“Bentar ya sayang.” ujar Ilham begitu melihat nama “mama” di balik layar ponselnya.


“Iya mas.” jawab Monita singkat.


“Halo ma.”


“Ilham kamu di mana?” tanya sang mama dari balik telpon.


“Di rumah mau ke rumah utama, ada apa ma?”


“Ke rumah utama? Untuk apa?” Tanya mama Nancy mulai gusar. Dia menajamkan alisnya.


“Menemui Naomi ma, memangnya kenapa?” Tanya Ilham heran.


“Halah tidak usah ke sana, kamu ke sana sendirian?”


“Loh kenapa ma? Aku bawa Monita dan Dikta kok ma.”


“Lebih baik, kamu bawa mereka ketemu mama sekarang di rumah mama. Mama ada agenda hari ini mau ajak Monita sama Dikta ke mall.”


“Tapi kan ma, Ilham sudah janji sama Naomi.


“Bodo amat lah, suru siapa kamu janji janji segala. Lebih baik kamu ke kantor dan antar Monita sama Dikta ke rumah.”


“Kenapa mama jadi ketus begitu ke Naomi? Naomi kan istri Ilham juga ma.” imbuhnya mulai heran dengan mamanya. Padahal Naomi itu menantu kesayangannya, kenapa tiba-tiba berubah. Apa karena sandiwara yang sudah ketahuan itu, tapi itu kan sudah lumayan lama berlalu, Ilham saja sudah berbaikan dengan mama Nancy. Ada apa sebenarnya? Pikir pria itu.


“Pokoknya kamu jangan temui dia di rumah itu lagi, lebih baik sekarang kamu ke kantor dan urus pekerjaan kamu di sana. Awas ya kalau kamu langgar dan nekat ke sana menemui dia.” larang Nancy tak terbantahkan. Jika Nancy sudah melarang makanya larangan itu mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.


“Ada apa mas?” Tanya Monita begitu suaminya masuk ke dalam mobil dengan wajah masam.


“Kata mama, kamu sama Dikta ke rumah mama sekarang, mama mau ajak kalian ke mall.” jawab Ilham dengan lembut. Segusar-gusarnya dia, tidak mungkin dia berani menjawab pertanyaan istrinya dengan ketus.


“Kenapa mas? Bukan kah mbak Naomi sudah menunggu?”


“Kata mama kalian berdua ketemu mama dulu hari ini, nanti kalau ada waktu lagi kita ke rumah utama ya.”

__ADS_1


Monita pun mengangguk tanda mengerti, dia heran sebenarnya kenapa mertuanya seakan tak mengizinkan mereka bertemu Naomi. Namun Monita tidak mau terlalu memusingkannya, mungkin mertuanya rindu dan ingin bertemu mereka.


__ADS_2